
Brian tampak menghela nafas dalam sepeninggalnya pelayan itu sembari berfikir. Sepertinya ia harus menunda lagi niat nya untuk memberi tahu sang istri mengenai rencananya.
Tangan Brian lantas bergerak untuk menutup kembali pintu kamar itu pelan tanpa bersuara.
Di tatapnya pula sang istri yang tampak menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.
"Ayah sudah sadar dari komanya." Ujar Brian seolah menjawab rasa penasaran yang tengah dirasakan Mayang. Gadis itu tampak menghela nafas lega setelah mendengarnya.
"Aku akan turun kebawah sebentar, dan saat aku kembali kau sudah harus siap."
"Siap? Siap untuk apa?" Mayang bertanya bingung karena Brian tidak menguraikan maksudnya secara jelas.
"Segeralah berkemas karena aku akan mengantar mu pulang malam ini juga."
"Aku tidak mau." rajuk Mayang cepat.
Di tatapnya wajah sang suami itu sembari mengangkat dagu seperti menantang.
Brian mengerutkan keningnya begitu melihat reaksi sang istri. Ia masih belum mengerti dengan motivasi Mayang yang bersikeras menolak pulang dan memilih untuk tinggal di rumah ini.
"Kau pasti hanya akan mengantar ku pulang dan kemudian meninggalkan ku sendirian saja di rumah bukan?" Lagi-lagi Mayang berbicara dengan sok tahunya tanpa mau mengerti alasan sang suami yang sesungguhnya.
Brian setengah berlari menuruni tangga setelah tak berhasil membujuk Mayang yang tetap bersikeras ingin tetap tinggal disini.
Ia langkahkan kakinya menuju kamar perawatan sang mertua setelah pelayan memanggilnya untuk yang kedua kali atas perintah dokter.
Mayang pun tak tinggal diam. Ia segera beranjak dan berlari menuju ruang pakaian untuk mengganti gain yang ia kenakan dengan piyama tidurnya.
Ia tak ingin melewatkan satu kejadian apapun disini, hingga ia menuruni anak tangga secara tergesa - gesa menuju kamar tempat dimana Hans dirawat.
Pintu yang terbuka membuat Mayang tak segan untuk masuk kedalam kamar. Pandangannya tertuju pada lelaki yang tengah terbaring dengan tangan yang sedang Brian genggam dengan erat sebagai bentuk dukungannya.
Perlahan Mayang melangkah mendekati Brian. Hati kecilnya bergetar iba saat dilihatnya Hans yang dengan mata terbuka dan sudut bibirnya yang tertarik miring.
"Ayah," Lirih Mayang menyapa saat pandangan mereka beradu.
Hans dengan kondisinya yang seperti itu berusaha keras untuk berbicara walaupun terlihat sangat sulit dan dengan suaranya yang tidak jelas. Namun Mayang bisa mengerti maksud Hans yang sedang mengatakan bahwa dirinya terserang stroke.
Mayang bisa memahami kesedihan yang Hans rasakan saat ini. Dalam kesakitan nya ia harus melewati hari - harinya dalam kesendirian tanpa keluarga yang menemani.
Mayang memutuskan untuk mengikuti saran dokter. Barangkali dengan keberadaan dirinya bisa mempercepat Hans pulih dan kembali seperti sedia kala.
Selama beberapa hari di sana, Mayang dengan tulus merawat Hans seperti layaknya ayah sendiri. Dengan dibantu oleh dua orang perawat yang secara khusus di tugaskan untuk merawat Hans.
Mayang bahkan mengabaikan keberadaan Karla yang selalu mencari cara untuk mendekati suaminya.
Malam itu entah mengapa Mayang yang sudah masuk kedalam kamar untuk beristirahat tiba - tiba merasa perutnya lapar. Matanya yang belum mengantuk dan di tambah lagi Brian yang belum kembali dari kantor membuatnya ingi turun dan mengambil beberapa potong buah untuk mengisi perutnya.
Mayang terkejut saat mendengar suara tawa yang terbahak dari arah kamar Hans. Rasa penasaran mendorongnya untuk melangkah perlahan menuju kesana.
Namun Mayang di buat terbelalak saat melihat sosok Hans yang tampak berjalan dengan tubuhnya yang tegap melalui celah pintu yang tertutup tak sempurna. Dia terlihat baik - baik saja.
Hans tampak sedang berbicara dengan seseorang di dalam sana. Ia menyerahkan sesuatu pada lawan bicaranya yang entah itu siapa.
"Kau campurkan saja cairan itu ke dalam makanan nya, maka kau akan melihat reaksinya."
Suara Hans menggema di rongga telinga Mayang ketika gadis itu mengetahui fakta yang mencengangkan ini. Jantung nya berdebar seketika. Timbul rasa takut dihatinya karena ia merasa dirinya dan suami berada dalam bahaya di rumah ini.
Tapi dengan siapa dia sedang berbicara? Dan cairan apa yang dia maksud? Apa yang sedang mereka rencanakan?
Kening Mayang berkerut mencoba menelaah apa yang sedang ia dengar dan ia lihat kali ini. Apa Hans sedang menipu semua orang? Lantas untuk apa dia melakukan semua itu?
Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di benaknya. Berputar - putar seperti menari mengelilingi kepalanya hingga membuatnya merasa pusing saat mencoba memahaminya. Namun ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Ayah bisa percayakan hal ini pada ku."
Mayang kembali memasang dengan betul - betul indera pendengarannya saat mendengar suara seorang wanita yang berbicara dengan Hans.
Mayang segera berlari mencari tempat persembunyian saat mendengar suara wanita itu tengah berpamitan. Karena jika ia berlari menaiki tangga menuju kamar nya itu sepertinya tak mungkin. Namun jika sampai ia ketahuan tentu akan berakibat fatal.
Mayang memutuskan untuk bersembunyi di balik guci besar yang terletak tak jauh dari kamar perawatan Hans. Mulut nya ternganga dengan matanya yang melebar saat melihat siapa wanita yang keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Mayang merasa nyawa suaminya sedang terancam saat ini. Ia segera berlari menuju kamarnya saat merasa keadaan sudah aman. Tergesa - gesa ia meraih ponsel nya dan segera menghubungi Brian, hinggga berkali - kali namun tak ada jawaban dari suaminya itu.
Perasaan gelisah dan was - was pun menguasai dirinya hingga merasa tak tenang sepanjang waktu. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa berharap tak terpejam saat suaminya datang.
Namun mata yang sudah mengantuk benar - benar tak bisa diajak kompromi hingga ia tertidur di sofa itu dengan posisi setengah terduduk.
* * *
Mayang mengerjapkan mata saat wajahnya diterpa oleh sinar matahari yang menyemburat masuk melalui jendela kaca yang tampak berkilau keemasan.
Gorden yang telah terbuka membuatnya bebas masuk menembus ruang kamar yang sedang Mayang tempati. Mayang menggeliat untuk meregangkan otot - otot tubuhnya yang terasa kaku.
Seketika terperanjat lalu terduduk saat menyadari bahwa hari sudah siang. Ia segera menyingkap selimut hangat yang menutupi tubuhnya. Ia kembali terkejut saat menyadari dirinya ternyata tidur di ranjang dan berselimut pula.
Bukankah semalam aku sedang duduk di sofa? Lalu bagaimana bisa tanpa sadar aku berpindah ke atas ranjang?
Suami ku? Di mana suami ku?!
Mayang segera berlari keluar dan menuruni anak tangga. Sampai di ruang makan ia melihat Brian yang sedang bersiap untuk sarapan bersama Karla. Gadis itu sedang mengoleskan selai di permukaan roti dan menyajikannya pada Brian.
Mayang yang masih berdiri terpaku pun membelalakkan mata. Ia segera berhambur kearah meja makan dan menyambar roti yang sudah akan Brian santap.
Brian yang terkejut karena roti di tangannya telah raib pun segera melempar pandangannya ke arah sang istri dengan pandangan bingung.
"Ee - aku lapar sekali. Ini untukku saja ya?" Ucapnya sembari pura - pura akan menyantap.
Karla yang sudah akan menyuapkan roti ke mulutnya pun segera bangkit. " Biar ku buatkan yang baru lagi untukmu," ucap nya sembari tersenyum pada Brian. Lalu meraih roti yang baru dan hendak mengoleskan selai.
"Tidak!" Mayang tiba - tiba menyambar roti itu dari tangan Karla. "Biar aku saja yang melayani suami ku, aku istrinya. Dan bukan kau." Mayang berucap dengan tenang namun penuh penekanan di setiap kata. Ia bahkan melirik sinis pada Karla yang tengah menyeringai puas.
"Sayang, makanlah." ucap Mayang sembari menyajikan roti itu pada Brian.
"Terimakasih." Ucap Brian sembari meraih gelas jus dan hendak meminumnya.
Namun lagi - lagi Mayang menyambar gelas itu dari tangan Brian hingga lelaki itu kembali dibuat heran dan bingung oleh tingkah istrinya pagi ini.
"Ini untukku saja ya, kau yang ini," ucapnya sembari menuangkan jus baru di gelas yang baru pula. Lalu memberikannya pada Brian yang kini tampak kesal.
"Sebenarnya kau ini kenapa?!" Brian yang merasa istrinya tampak aneh pun tak bisa menahan dirinya untuk bertanya.
"Kau tau, kau sudah melenyapkan nafsu makan ku!" Brian menggerutu. "Jangan - jangan kau sedang mengigau dan mimpi berjalan sampai kesini. Lebih baik kau bangun dan segeralah mandi."
"Aku tidak mengigau! Aku sudah bangun!" Kekeuh Mayang sembari menunjukkan matanya yang ia buka lebar - lebar.
Brian lantas beranjak dari duduknya lalu berdiri.
"Kau mau kemana?" Mayang menyambar Brian dengan pertanyaan karena terkejut.
"Ke kantor lah." Brian menjawab Acuh sembari melangkah.
"Tapi kau belum sarapan!" Mayang mengikuti Brian yang tampak melangkah keluar.
"Selera makan ku sudah hilang sejak tadi."
"Kau bisa sakit perut kalau tidak sarapan!"
"Aku bisa sarapan di kantor nanti." Brian menghentikan langkahnya saat sudah sampai di teras depan. Mayang pun berdiri di sisinya menghadap pada Brian dan menatap lelaki yang tampak acuh terhadapnya itu.
Pandangan Mayang teralih kan pada sosok Karla yang tampak berjalan mendekat kearah mereka.
"Lau sudah siap?" Brian bertanya pada Karla yang sudah berada di sisinya sembari tersenyum.
"Sudah." Karla yang menjawab pun tersenyum tak kalah manis.
Mayang terbelalak melihat kedekatan keduanya. Ia hampir lupa kalau mereka akan tetap bertemu di kantor nanti, bahkan mekskukan apapun yang mereka mau tanpa sepengetahuannya.
Mayang menatap kedua orang dihadapan nya itu secara bergantian. "Kalian tidak berangkat bersama ke kantor kan?" Tanya nya dengan nada khawatir.
"Tujuan kami itu sama, jadi sekalian saja." Brian sengaja melirik istrinya saat menjawab. Untuk melihat bagaimana reaksi sang istri terhadapnya.
"Satu mobil?!"
__ADS_1
"Iya lah."
Mayang membelalakkan mata seketika. "Aku ikut!" Rengeknya kesal sembari meraih lengan Brian lantas merangkul nya dengan sangat erat seolah tak ingin melepasnya lagi.
"Ikut kemana?"
"Kantor lah!"
"Ngapain kekantor? Buruan mandi gih. Bau asem juga." Ucap Brian sembari melepaskan rangkulan Mayang dari lengannya. Kemudian melangkah menuju mobilnya di ikuti oleh Karla.
"Aaaaaaaa ikut ...!" Mayang menggedor - gedor pintu mobil Brian yang telah tertutup rapat. Kaca mobil tampak bergerak turun setelahnya lalu kepala Brian yang tampak menggunakan kaca mata hitam pun muncul dari sana.
"Nggak bisa sayang,,, di rumah saja ya." Ucap Brian lembut seperti membujuk anak nya yang tengah meraju karena ingin ikut. "Aku nggak lama kok."
"Benarkah?" Mayang merasa tak yakin. Ia memanyun kan bibirnya sebagai bentuk protesnya.
"Iya." Brian kembali meyakinkan sembari tersenyum. Lalu kaca pintu mobil pun bergerak naik dan mobil melaju meninggalkan Mayang yang masih cemberut disana.
* * *
"Nyonya, apa anda mendengar yang saya katakan?" Perawat itu membuyarkan lamunan Mayang. Ia sedang berpikir keras untuk membuka kedok lelaki bermuka dua ini dihadapan suaminya. Tapi bagaimana caranya?
"Eh maaf. Kau bilang apa tadi?" Mayang menanyakan kembali ucapan perawat yang terabaikan olehnya tadi.
"Nyonya bisa mengajak tuan besar untuk jalan - jalan sembari berjemur. Sinar matahari pagi bagus untuk membantu proses penyembuhan Tuan besar."
"Oh baiklah."
"Anda bisa berjalan - jalan di taman atau di kolam renang juga bisa." Perawat itu memberikan ide tempat nyang nyaman dengan ramah.
"Kita ke kolam saja ya Ayah," Ucap Mayang sembari membungkukkan badannya saat berbicara dengan Hans. Lelaki itu tampak mengangguk tipis sebagai bentuk persetujuan.
"Saya akan masuk untuk mengambil obat Tuan besar nyonya," Perawat itu mohon diri dan dijawab Anggukan oleh Mayang.
Mayang lantas mendorong kursi roda itu menuju kolam renang yang tak jauh dari tempat mereka bersantai saat ini.
Saat melihat air renang yang penuh air itu, tiba-tiba terlintas sebuah rencana dadakan di kepala Mayang.
Entah mengapa keyakinannya begitu kuat jika lelaki tua ini sedang membodohinya. Jika memang dia normal dan tidak stroke, Hans pasti akan bereaksi saat dirinya merasa terancam bukan?
Begitulah yang ada di dalam benak Mayang. Ia berharap bisa segera membuka kedok jahat lelaki paruh baya ini dan menunjukkannya pada Brian. Hans tak mungkin tinggal diam saat dirinya berada dalam bahaya ketika kursi rodanya nanti akan masuk ke dalam kolam renang.
Mayang sengaja mendorong kursi roda itu lebih cepat setengah berlari kearah kolam. Bukan bermaksud untuk benar - benar menenggelamkan nya melainkan hanya untuk menggertak saja.
Mamun jauh dari prediksi yang Mayang kira. Bukannya berlari, tubuh lelaki itu malah melenting dan melompat ke dalam air kolam itu seperti di sengaja. Namun terlihat seolah - olah dirinyalah menceburkan Hans dengan sengaja kesana.
"Ayah!" Pekik Mayang yang benar - benar terkejut karenanya. Ia sudah akan menceburkan diri ke dalam kolam, namun seseorang telah masuk kedalam nya lebih dulu untuk menolong Hans yang tampak tenggelam di dalam kolam.
Mayang menutup mulutnya yang ternganga dengan kejadian ini. Tangan nya mulai gemetar menyadari kebodohannya. Di tatapnya tubuh Hans yang telah terbaring di tepi kolam dengan tak sadarkan diri.
"Ayah ..." Lirih Mayang sembari berlutut di sisi tubuh Hans. Ia benar - benar menyesal.
"Jangan dekati dia!" Brian yang basah kuyup mendorong tubuh Mayang hingga terjerembab ke belakang.
"Aku tidak melakukan apapun ..." Lirih Mayang dengan mata yang mulai berkaca - kaca.
"Ada apa ini?" Perawat yang baru datang tampak panik segera melakukan pertolongan pada Hans. Begitu pula pengawal yang tampak berjaga pun segera mendekat.
"Ayah ..." Mayang ingin mendekat namun buru - buru ditarik oleh Brian.
"Jangan panggil dia Ayah!" Sentak Brian dengan sangat kadar. Tangannya mencengkeram erat pergelangan tangan Mayang hingga ia merasakan nyeri disana. "Karena kau bukan putrinya!"
"Pergi kau dari rumah ini dan jangan lagi mendekati Ayahku!" Brian lantas menarik paksa pergelangan tangan Mayang menjauh dari tempat itu. Brian tampak sangat marah karena menyaksikan ini di depan matanya sendiri.
"Sayang dengar kan aku dulu ..." Mayang yang berurai air mata memohon pada Brian. "Ini tak seperti yang kau lihat."
"Tak seperti yang kulihat bagaimana?!" Ucap Brian sembari menghempaskan tangan Mayang dengan kasar saat berada jauh dari kolam renang. "Aku melihatnya sendiri dengan mataku kau sedang mendorong nya! Kau sengaja Ingin melukai lelaki tua yang sudah tak berdaya seperti dia!"
"Dia sudah membodohi mu sayang, membohongi kita semua. Dia baik - baik saja! Dia tidak stroke! Kumohon percaya padaku sayang ...!" Mayang mengguncang - guncang tubuh Brian untuk meyakinkan.
Namun Brian terlihat tak bergeming.
__ADS_1
"Dan kau sengaja melakukan hal ini untuk membuktikannya begitu? Kau wanita jahat." Desis Brian dengan sorot mata penuh kebencian. "Segeralah berkemas karena Billy akan menjemput mu." Perintah Brian sembari berlalu meninggalkan Mayang yang masih terisak pilu dengan hati penuh kekecewaan.
Bersambung