
Mayang berhambur memeluk tubuh suaminya dengan erat saat wajah Brian yang tengah tersenyum nampak di balik buket bunga indah itu.
Brian membalas pelukan itu dengan mengecup puncak kepala Mayang dengan penuh kasih sayang.
Agak lama Brian membiarkan sang istri memeluknya. Meresapi kehangatan tubuhnya. Tanpa peduli dengan pandangan orang disekitar yang melihat mereka dengan memperlihatkan beragam reaksi.
Ada yang nyinyir dengan mengatakan tak tau tempat, ada yang berbisik dengan teman di sampingnya. Namun tak sedikit pula yang memuji keduanya dengan mengatakan mereka adalah pasangan yang romantis.
Brian hanya tersenyum menanggapi itu semua. Dan tetap berdiri dengan teguh memberikan dada bidangnya sepenuhnya sebagai sandaran sang istri.
Tangan kanan Brian bergerak membelai rambut sang istri dengan lembut. Sedang tangan kirinya masih merengkuh buket bunga yang belum sempat Mayang terima.
"Sayang ,,," bisik Brian di telinga Mayang. "Banyak orang yang memperhatikan kita, kau tidak malu?" goda Brian sembari tersenyum. Mayang yang tersadar pun segera melepas pelukannya.
Dan benar saja, saat Mayang mengarahkan pandangan ke sekelilingnya, ternyata begitu banyak pasang mata yang sedang memperhatikan mereka.
"Cie - cie ... Yang merasa dunia milik berdua...
Pengantin baru ya kak?!" Gurau segerombol gadis - gadis remaja yang tampak sedang menikmati sore itu dengan hunting makanan.
"Iya, lagi anget - anget nya." Brian menyahuti sembari merangkul Mayang yang tampak merona malu dengan sangat mesra.
"Sayang lepaskan ...! Malu di lihatin orang ...!" Geram Mayang dengan pandangan melototi Brian seperti mengancam.
Namun bukannya melepaskan, Brian justru semakin mengeratkan pelukannya. Matanya menatap lekat sang istri, dan dengan seringai yang tampak di bibirnya seperti menuntut lebih dari sekedar pelukan.
"A-apa yang kau lihat?" Tanya Mayang gugup. Dan dirinya pun terlihat kikuk. Sembari meronta mencoba melepaskan diri dari sang suami namun sia - sia. Padahal hanya satu tangan Brian saja yang merangkul pinggangnya.
"Sayang kenapa menatap ku seperti itu?!" Geram Mayang mulai kesal.
"Bibir mu sayang ,,, bibir mu sangat menggemaskan. Rasanya aku ingin selalu bibirmu yang kenyal itu." ucap Brian dengan nada nakal. Tatapannya semakin liar menjelajahi wajah sang istri.
Brian mendorong kepalanya semakin mendekati wajah Mayang. Untuk mendekatkan bibirnya pada sang istri. Namun, belum sampai kedua bibir itu bersentuhan, tiba - tiba tangan Mayang bergerak membungkam bibir Brian dengan jemarinya dengan cepat sehingga menggagalkan Brian yang sudah hampir menciumnya.
Brian menggeleng - gelengkan kepalanya agar tangan Mayang terlepas. "Apa - apaan ini sayang?! Kenapa kau menolakku?!" Brian menggeram kesal.
"Sayang, lihat - lihat tempat dong kalau mau cium! Ini di tempat umum."
"Masa bodoh! Bagiku memang dunia milik kita berdua! Mereka cuma numpang sayang, jadi abaikan saja ...!"
"Ya ampun kak! So sweet banget si ...! Jadi pengen punya suami deh!" Seru anak - anak ABG itu lagi. Ternyata mereka masih memperhatikan pasangan yang sedang di mabuk cinta itu.
* * *
Mayang dan Brian sudah duduk di kursi sembari menunggu bakso pesanan mereka datang. Dan di meja lain tak jauh dari mereka di tempati oleh anak - anak ABG yang sepertinya sengaja mengikuti mereka.
Brian menaruh buket bunga itu di meja. "Diam disini ya buket sayang, tunggu sampai ada yang meminang mu." ucap Brian sembari mengelus sayang buket itu dengan wajah cemberut. "Istri ku nolak kamu mentah - mentah!" tambahnya lagi sembari melirik sinis pada Mayang.
Ish nggak peka banget si! Minta maaf kek! Udah bikin aku hampir nangis, eh malah dia yang marah - marah! Aneh! Mayang menggerutu dalam hati.
"Buat aku aja gimana kak?" Lagi - lagi gadis - gadis itu menggoda Brian.
"Oh boleh," Brian sudah akan menyerahkan buket itu namun Mayang buru - buru menyambarnya dari tangan Brian.
"Enak saja, ini milikku!" ucap Mayang setelah mendapatkankan nya. Lantas di peluknya buket itu erat seperti sedang mempertahankan sesuatu miliknya yang sangat berharga.
"Tadi kau tidak mau kan?"
"Tapi sekarang aku mau!"
"Dasar aneh." Brian mencubit pipi Mayang gemas.
"Emm sayang, di sebelah mana kau membeli buket ini?" Mayang bertanya dengan senyumnya yang manis.
"Sayang, mana ada orang jual buket bunga di sini! Kalau cilok mah banyak."
"Ih ...!" Mayang mencubit lengan Brian kesal membuat lelaki itu meringis kesakitan. "Jawabannya kenapa ngeselin gitu si!" Tambahnya geram.
"Lagian, yang benar saja dong sayang ku, cinta ku, manis ku..." Brian kembali mencubit pipi sang istri geregetan. "Tentu saja aku pesan ini khusus untuk mu sayang ,,," ucap Brian sembari merangkul sang istri dengan penuh kasih. Mengabaikan pelayan kedai yang mengantarkan pesanan bakso untuk mereka.
"Terimakasih mbak ..." ucap Mayang ramah pada pelayan itu.
"Ngapain bilang terimakasih." Brian berucap setelah pelayan itu meninggalkan mereka. "Kita bayar kok, nggak minta."
__ADS_1
"Sayang ...! Dasar nggak berperikemanusiaan! Kita ini hidup bermasyarakat!"
"Oh ya? Tapi kamu nggak pernah bilang terimakasih sama aku. Padahal udah aku kasih yang enak - enak."
"Ih gitu kan, pamrih deh ...!" Tuduh Mayang sembari cemberut. Lantas mendesah pelan. "Ya sudah, makasih untuk bakso nya ya. Buket nya juga." Ucap Mayang dengan wajah polosnya.
"Cih, bukan itu kali!"
"Trus apa?"
"Masa iya nggak tau! Entar malam aja deh aku kasih tau nya."
"Sekarang saja."
"Enggak malu tuh sama anak ABG yang lagi pada nguping?" Brian melirik pada gadis - gadis yang tiba - tiba gelagapan itu.
"Kakak, boleh nanya nggak?" Salah satu dari mereka memberanikan diri untuk bertanya.
"Boleh, Cuma mau nanya kan? Bukan pengen aku jadi pacar kamu!" Brian menjawab dengan nada nakal sembari menghadap pada gadis - gadis itu dan membelakangi istrinya.
Jelas hal itu spontan membuat Mayang terbelalak kesal. Merasa aneh. Sebab Brian suaminya tak pernah menggoda wanita lain dihadapan nya seperti itu selain sandiwara nya kepada Karla waktu lalu.
"Boleh deh jadi pacar kakak! Jadi istri kedua juga mau!" Jawab gadis imut itu sembari tertawa. "Asal duit nggak habis tujuh turunan!" Ucapnya lagi sembari tertawa terbahak - bahak dan di dukung temannya yang lain.
"Huh dasar matre." Ledek Brian dengan nada gurauan. " Kaya istri ku yang ini dong, nggak matre." Ucap Brian sembari merang tubuh Mayang dengan penuh percaya diri.
Terang saja sanjungan Brian yang secara langsung ia lontarkan itu membuat Mayang merona bahagia di tengah kekesalannya. Ia merasa seperti sedang melayang hingga ke awan.
"Kakak ini Kak Brian Presdir nya Wahana Group kan?"
"Kok tahu?" Brian pura - pura antusias.
"Tahu lah, foto kakak itu muncul di majalah - majalah bisnis besar tahu kak. Kakak punya saudara laki - laki nggak? Jadiin aku ipar kakak dong...!"
"Ada tiga di rumah. Mau?"
"Yang benar kak?" Wajah gadis itu berbinar senang.
"Ih kok tukang kebun si kak?!"
"Mau gimana lagi, aku kan anak tunggal."
"Sayang makan dulu yuk,,," ajak Mayang menyela, untuk menarik perhatian suaminya.
"Sebentar sayang, aku lagi ngobrol sama mereka." Brian mengacuhkan Mayang lagi.
Dan percakapan mereka tampak semakin akrab. Entah sengaja atau tidak, Brian telah membuat Mayang merasa cemburu.
Ih kok malah pilih ngobrol sama anak - anak ABG itu si? Aku malah di kacangi begini! Aku kan istri mu! Sebal sebal sebal! Gerutu Mayang dalam hati.
Tanpa basa - basi lagi, Mayang pun bangkit dan berdiri dari duduknya. Lantas Melangkah cepat meninggalkan Brian dengan wajah yang di tekuk.
"Sayang mau kemana? Makan dulu!" Panggil Brian namun diacuhkan begitu saja oleh Mayang. Bukannya panik atau khawatir, Brian malah tersenyum puas karena nya.
Ia mengalihkan pandangannya pada gadis - gadis kecil yang melihat tragedi tak mengenakkan itu dengan rasa bersalah.
"Makasih ya." Ucap Brian sembari tersenyum.
"Kok makasih kak?!" gadis - gadis itu saling berpandangan dengan wajah bingung. "Istri kakak cemburu tuh!"
"Sengaja. Kalian tahu prank kan? Istri kakak lagi ulang tahun."
"Oo." Mulut gadis - gadis itu kompak membentuk huruf o.
"Kalian boleh beli apapun yang kalian inginkan. Dan makan apapun yang kalian mau. Kakak yang traktir."
"Yang benar kak?!" Gadis - gadis itu membelalak senang. Siapa si yang nggak suka traktiran.
"Kalian lihat orang yang di sana?" Brian menunjuk pada salah seorang bodyguard yang tampak berjaga dari kejauhan. Yang spontan di ikuti oleh ABG itu.
"Dia yang akan urus semuanya. Sekarang kakak pamit dulu karena kakak punya misi. Doakan misi kakak berhasil ya." Ucap Brian penuh semangat.
"Semangat ya kak! Semoga berhasil dan makasih untuk traktiran nya?!"
__ADS_1
* * *
"Sayang jalannya pelan - pelan dong ...! Aku sampai keringetan lo ngejar kamu nya." Brian pura - pura terengah saat mengejar sang istri.
"Siapa suruh godain ABG!" Geram Mayang tanpa menoleh pada sang suami.
"Aku cuma ngobrol sayang, nggak godain kok ...!"
Mayang tak menyahut saat membuka pintu rumah. Brian yang berhenti di depan pintu tampak menyeringai sembari mengawasi sang istri yang masih terlihat kesal.
Mayang membuka pintu kamar dengan kasar. Lalu dengan cepat melangkah menuju ranjang dan membenamkan tubuhnya di sana. Seketika ia pun terbelalak kaget melihat kondisi kamar mereka yang sudah rapi. Padahal saat mereka tinggalkan keadaan kamar itu sangat berantakan. Bahkan ada bercak darah di seprei.
Darah! Bercak darah?! Di mana seprei itu? Siapa yang mencuci nya! Mayang menggumam panik.
Seketika itu juga ia pun berlari keluar kamar untuk mencari keberadaan suaminya. Namun setelah mencari ia tak menemukan siapapun di lantai bawah.
Kemana lagi si dia ini?! Apa iya dia balik lagi ke stand buat nyamperin bocah - bocah itu? Enggak mungkin kan?! Kenapa mesti ngilang - ngilang gini saat aku butuh si...! Mayang menggumam jengkel.
Ua memutuskan kembali ke kamar, berniat untuk membersihkan diri. Sesampainya di kamar ia kembali terkejut dengan keberadaan kotak berisi gaun cantik berwarna merah marun. Dan hanya itu satu - satu nya gaun yang tersedia di sana sehingga mau tak mau Mayang pun mengenakannya setelah mandi.
Hari sudah mulai petang namun Brian belum juga kembali. Mayang merasa khawatir juga meski dirinya tengah kesal.
Suara ketukan pintu menyadarkan Mayang dari lamunannya. Dengan malas ia pun bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu untuk membukanya.
Mayang lagi - lagi di buat terkejut saat dirinya tak mendapati sesiapapun di depan pintu. Namun kelopak bunga Mawar merah tampak tertata rapi di lantai membentuk anak panah seperti petunjuk.
Mayang mengikuti petunjuk itu dengan melangkah hati - hati dan waspada. Takut kalau ini hanyalah jebakan. Entah mereka menghabiskan berapa ribu tangkai bunga mawar hanya untuk di hambur - hambur kan begini. Sayang sekali, gumam Mayang.
Petunjuk - petunjuk itu mengarah ke area taman belakang. Dan mayang semakin terperangah karena bukan hanya kelopak mawar yang menghiasi lantai, namun juga di terangi lilin - lilin kecil yang menyala di sepanjang jalan menuju taman.
Saat itu juga suara petikan gitar mengalun indah mengiringi suara nyanyian merdu seorang pria. Mayang dengan spontan menutup mulutnya yang ternganga karena terkejut sekaligus terharu.
Brian yang terihat sangat tampan tengah duduk di sebuah kursi. Ia benar - benar bernyanyi sembari memainkan gitar di pangkuannya.
Lagu 'Selamat ulang tahun' milik 'Gellen Martadinata' bahkan terdengar sangat indah saat Brian melantunkan nya dengan penghayatan nya yang sempurna.
*Hari ini hari ulang tahunmu
Bertambah satu tahun usiamu
Ki doakan bahagia selalu untukmu
Tercapai segala cita - cita mu
Selamat ulang tahun
Ku ucapkan untukmu
Semoga bahagia kan
Mengiringi langkah mu
Tiada yang bisa ku beri
Hanyalah doa dan rasa cinta
Yang tulus dariku
Untuk dirimu*
"Selamat ulang tahun sayang ku ..." ucap Brian yang sydah berdiri setelah selesai bernyanyi sembari merentangkan tangannya agar sang istri datang padanya.
Mayang yang sudah menitikkan air mata pun tak tahan ingin segera memeluk suaminya itu. Ia pun segera berhambur memeluk Brian dengan sangat erat.
Mayang benar - benar mencintai lelaki ini dengan segenap hatinya. Bukan karena parasnya yang menawan. Atau karena kehidupannya yang mapan. Namun karena hanya dia lah yang membuat dirinya merasa aman dan nyaman.
Bersambung
Hai readers, jangan lupa mampir juga di karya author yang lain yang berjudul Amara ya,
Dan berikan dukungan kalian untuk author.
Terimakasih🙏🙏🙏
__ADS_1