Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Sebuah ledakan


__ADS_3

"Hebat! Kau benar-benar hebat, penghianat!" Suara Alex yang terdengar lantang di sela tepukan tangannya itu ditujukan pada Rezi. Kaki panjangnya pun melangkah tenang mendekat ke arah Mayang dan Rezi dengan bibir menyunggingkan seringai jahat.


Ekspresi Mayang seketika menegang. Namun berbeda dengan Rezi yang nampak jauh lebih tenang dan penuh kesiapan. Pria dengan style rambut cepak itu bergerak sigap melindungi Mayang dengan langsung pasang badan. Ia menjadikan badan lebar dan tegapnya itu sebagai tameng untuk menutupi wanita di belakangnya dengan penuh antispasi.


Tak nampak sedikitpun gurat ketakutan di wajah sangar pemuda itu kala berhadapan dengan Alex yang notabenenya adalah sang bos besar.


"Menyingkirlah dari sana jika kau masih ingin menghirup udara dengan nyaman, Rezi! Ini bukanlah urusanmu. Jadi, jangan coba-coba untuk ikut campur dengan berlagak menjadi pahlawan kesiangan." Alex mendesis penuh peringatan, sementara matanya menyorot dengan nyalang tajam.


"Menjadi urusanku jika ini menyangkut Nyonya Mayang, Tuan Alex yang terhormat." Rezi dengan lantang menyahut tanpa takut.


"Kau memang tidak tahu diri. Penghianat sepertimu benar-benar tidak pantas untuk dikasihani, dan kau pantas untuk mati!" Alex berseru penuh kemarahan. Rasa benci serta jijik menyelubung kuat di wajahnya yang memerah padam akibat penghianatan yang telah Rezi lakukan.


Rezi hanya menarik sudut kiri bibirnya hingga membentuk sebuah seringaian. Sebagai intelijen terpilih, tentu dia sudah sangat terlatih hingga membuatnya mampu menghadapi segala hal dengan pembawaannya yang tenang. Termasuk saat Alex merogoh sesuatu dari balik jas dan kemudian mengeluarkan tangan dengan memegangi sepucuk senjata.


Kondisi Rezi yang apa adanya tanpa sebuah senjata itu tentu saja membuat Mayang yang berlindung di balik tubuhnya langsung disergap ketakutan hebat. Terlebih dari sisi lain lorong itu terdengar derap langkah banyak orang yang semakin mendekat. Wanita itu pun tanpa sadar mengeratkan cengkeramannya pada pakaian yang Rezi kenakan.


"Tenanglah, Nyonya. Semua akan baik-baik saja." Rezi berucap lirih untuk menenangkan Mayang di belakangnya.


"Dalam keadaan mau mati begini kau masih sempat-sempatnya memintaku untuk tenang." Mayang menggerutu kesal dengan nada setengah membisik.


"Saya yakin kita belum akan mati sekarang, Nyonya," balas Rezi pula untuk meyakinkan.


Mayang mendesah kasar. Ia pun mengatupkan bibirnya untuk diam. Berdebat sekarang pun percuma. Terlebih dengan tatapan Alex yang berkilat penuh ancaman, membuatnya harus bersembunyi di belakang punggung Rezi demi untuk menghindarinya.


Rezi memasang kuda-kuda saat posisi Alex semakin mendekat. Ia tampak berpikir keras untuk menemukan cara agar bisa merebut senjata itu dari tangan Alex.


Dengan gerakan tiba-tiba, Rezi melayangkan sebuah tendangan ke arah tangan Alex dengan trik khusus, dan rupanya itu berhasil melepaskan senjata itu hingga terlempar jauh. Rezi memang pintar memanfaatkan kesempatan di saat Alex tengah lengah. Alex yang terpesona dengan Mayang tampak tak fokus dengan sesuatu yang dipegang.

__ADS_1


"Kurang ajar!" Alex menggeram penuh kemarahan pada Rezi yang tengah menyunggingkan senyuman. Hingga pada akhirnya perkelahian pun tak terelakkan. Rezi dan Alex saling menyerang, memukul dan menendang dengan kekuatan yang mereka miliki.


Sementara Mayang yang didera kepanikan masih berdiri terpaku di tempatnya. Pandangannya tertuju menyaksikan dua pria itu tengah bergelut panas mengerahkan kekuatan untuk memperebutkan dirinya dengan tujuan yang berbeda.


Pertarungan masih imbang sebab Alex dan Rezi terlihat sama kuatnya. Setidaknya membuat Mayang sedikit merasakan aman. Namun, kedatangan anak buah Alex yang dipimpin oleh Wang dari sisi lain lorong itu membuat Mayang kembali didera kecemasan. Terlebih saat semuanya berjalan ke arah Rezi dan mengepung pria itu.


Sungguh pertarungan yang tak seimbang saat Rezi yang hanya seorang diri harus melawan jumlah musuh yang tak sepadan.


Alex tertawa terbahak penuh kemenangan ketika berada di hadapan Mayang. Ekor matanya mengarah kepada Rezi yang tengah kalang kabut menghadapi anak buahnya. Seolah-olah tengah menunjukkan kepada Mayang akan kemenangan atas dirinya dan kekalahan untuk Mayang.


"Lihatlah dirimu, Sayang. Kau sendirian, sekarang." Alex berucap pelan di sela tawanya sambil melangkah dan berhenti tepat di hadapan Mayang dengan jarak sangat dekat. Mayang sendiri tak bisa bergerak menjauhi sebab dia sudah tersudut pada tembok di belakangnya.


Alex menipiskan bibir menanggapi tatapan Mayang yang memperlihatkan kebenciannya. Ia tak terlihat tersinggung ataupun marah. Justru ia semakin tertantang untuk menaklukkan hati sekeras baja wanita itu.


Alex menempelkan kedua telapak tangannya pada dinding di sisi kanan dan kiri kepala Mayang seolah-olah tengah mengurung wanita itu.


Dengan senyuman yang mengembang senang, ia lantas mendorong wajahnya perlahan untuk mendekatkan bibirnya dengan telinga Mayang dan kemudian berucap pelan, "Satu-satunya pelindungmu sebentar lagi akan mati di tangan anak buahku. Seharusnya kau sadar jika kita telah ditakdirkan untuk bersama, Sayang. Jadi, kumohon jangan buang tenagamu lagi untuk menghindariku. Karena apa? Sekeras apapun kau berusaha pergi, itu takkan pernah berhasil sebab akulah tempatmu untuk kembali."


Sialnya, bukannya terhuyung ke belakang dan membebaskan Mayang, Alex justru menyambut kedua tangan wanita itu kemudian mencekalnya dengan erat. Tatapannya yang semula masih seteduh senja kini berubah menggelap bagaikan seramnya malam.


Alex mendorong tubuh Mayang hingga menghantam dan bersandar pada dinding di belakang. Suara pekikan tertahan akibat kesakitan karena kerasnya benturan lolos begitu saja dari bibir Mayang. Namun Alex terlihat tak peduli dan tetap meluapkan amarahnya yang seketika hinggap akibat perkataan Mayang barusan.


"Sudah kubilang untuk tidak mengucapkan kata mati di depanku! Aku adalah pemilik tubuhmu! Aku yang berhak memutuskan kapan kau hidup dan kapan kau mati!" bentak Alex penuh kemarahan sambil menekan kedua tangan Mayang pada dinding di belakang.


"Kau pikir kau ini Tuhan, hah!" Mayang berteriak tepat di depan wajah Alex. Sengaja ia memancing kemarahan pria itu. Baginya lebih baik Alex melemparnya dari gedung tinggi dari pada harus patuh dan merelakan diri untuk ditiduri. Ia pun masih berupaya melepaskan tangannya dari genggaman Alex meskipun itu sia-sia.


"Ikut aku sekarang!" bentak Alex dengan nada memerintah sambil menarik tangan Mayang dengan kuat. Entah kemana ia akan membawa, namun rupanya tak semudah itu ia membawa Mayang. Sebab Mayang menolak dan berusaha meronta sekuat tenaga.

__ADS_1


Berkat usahanya, Mayang memang bisa membuat Alex melepaskan tangannya. Namun hal itu justru membuat tubuhnya terpelanting ke belakang dan kemudian terjatuh di lantai.


Hal itu tentu saja mengundang tawa anak buah Alex yang sejak tadi menonton adegan dramatis keduanya.


"Perlu bantuan kami untuk menanganinya, Tuan?" tanya Bianca mencoba menawarkan diri di sela tawa mengejeknya. Gadis itu berdiri angkuh sambil bersedekap dada sambil menatap Mayang dengan senyum penuh kepuasan.


Mayang pun balas menatapnya dengan tajam seolah tengah memberi peringatan. Namun Bianca hanya menanggapinya santai sambil menjentikkan kuku-kuku panjangnya seolah tengah menunjukkan jika ancaman Mayang itu tak berarti apa-apa.


Melihat Alex yang membungkuk seraya mengulurkan tangan hendak membantunya bangkit, Mayang justru menepisnya dengan keras sebagai bentuk penolakan. Alex hanya tersenyum, sedangkan Mayang segera berusaha bangkit dari tempatnya.


Alex tetap bersikap tenang. Ia menyilangkan tangan di depan dada sambil mengamati Mayang yang tengah susah payah bangkit. "Kau benar-benar wanita keras kepala," gumamnya dengan bibir yang menipis menunjukkan senyuman. "Tapi tak aku, aku justru semakin menyukainya. Sekarang, cepat ikut denganku!" bentak Alex sambil menarik tangan Mayang dan membawanya beranjak. Kini ia benar-benar tak menghiraukan Mayang yang meronta berusaha melepaskan diri.


Alex menghentikan langkah dan mengentakkan tangan Mayang dengan kuat, hingga tubuh Mayang terseret ke dalam rengkuhannya. "Berhenti meronta atau kau akan menyesal selamanya!" hardiknya kemudian penuh ancaman hingga membuat Mayang terkesiap dan mengatupkan bibirnya untuk diam.


Untuk sejenak keduanya saling beradu pandang dengan sorot mata tajam hingga suara dentuman seperti ledakan yang keras terdengar dari arah luar tembok di sisi mereka.


Semua orang yang ada di sana sontak didera kepanikan, terlebih dengan Mayang dan Alex yang berada dekat dengan tembok. Tubuh keduanya terpisah dan sama-sama terpelanting ke arah yang berbeda.


Ledakan itu sendiri mengakibatkan dinding yang berdiri kokoh itu runtuh seketika, menyisakan puing-puing meterial berjatuhan dan debu pekat akibat ledakan yang spontan menutupi pandangan.


Udara di sana seketika menjadi tercemar, hingga membuat Mayang yang menghisapnya terbatuk-batuk oleh debu berpasir itu.


Keadaan yang semula begitu ricuh tak terkendali kini mendadak lumpuh tanpa pergerakan. Semua pasang mata terarah pada dinding yang berlubang, di mana terdengar suara derap langkah yang mendekat.


Benar saja, sesosok tubuh kekar yang berbalut pakaian serba hitam tampak muncul dari kegelapan. Kedatangannya yang begitu misterius seperti menebarkan aura berbahaya pada semua manusia di dalam sana.


Semua orang masih terpaku menatap sosok yang terlindung di balik debu itu hingga ia melangkahkan kaki panjangnya mendekati Mayang. Mayang yang tengah bersimpuh di lantai itu masih belum bisa menguasai diri dan terlihat syok dengan penampilan kotor akibat serpihan dinding.

__ADS_1


Namun seiring langkah berat itu mendekat, semakin terlihat jelas pula siapa sosok di baliknya hingga Mayang melebarkan matanya seolah tak percaya.


Bersambung


__ADS_2