Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Tiga lelaki dewasa


__ADS_3

Setelah jam kerja di Wahana Group telah usai, Billy dan Brian tak lantas kembali ke kediaman mereka masing-masing seperti biasanya saat pulang bekerja.


Sebaliknya mereka bertolak menuju kediaman orang tua Brian dengan mengendarai mobil masing-masing. Ada masalah penting yang harus mereka bicarakan dengan Malik saat ini juga.


Setelah menempuh setengah jam perjalanan, akhirnya dua lelaki dewasa itu sampai di rumah besar milik Malik. Rumah yang sudah berdiri sejak ia belum lahir. Tempatnya bermain diwaktu kecil, melewati tangis dan tawa, dan keluar dari sini setelah bertemu dengan istri tercinta.


Rumah kokoh yang selalu orang tuanya rawat, karena memang ini rumah peninggalan sang kakek, dan mengalami benerapa kali renovasi dengan desain yang semakin indah dipandang mata.


Turun dari mobil, keduanya beriringan memasuki rumah itu melalui pintu utama. Tampak di ruang keluarga Malik yang sedang bersantai dengan ditemani secangkir kopi hitam dan sepiring kue kering.


Melempar senyum pada keduanya, Malik memang sudah menantikan kedatangan Brian dan Billy sejak mereka sepakat bertemu.


"Apa kabar, Ayah." Sapa Brian selagi mencium punggung tangan sang ayah.


"Baik, kau sendiri?" Malik melempar pertanyaan yang sama terhadap putranya.


"Sangat baik, Ayah." Balas Brian singkat sambil membenamkan pantat di sofa panjang di seberang ayahnya.


"Bagaimana kabar menantu Ayah?"


"Istriku semakin terlihat sehat sekarang. Dan pipinya juga semakin tembam." Brian terkekeh lucu saat menceritakan keadaan Mayang. "Hobinya sekarang makan, jadi tidak heran kalau berat badannya tiba-tiba melonjak akhir-akhir ini."


"Baguslah. Ayah senang mendengarnya." Balas sang ayah terdengar bahagia. "Dan kau Bill," tanya Malik saat Billy mencium punggung tangannya. Belum sempat yang ditanya memberikan jawaban, tawa meledek meledak dari bibir Brian, membuat Billy seketika melirik tajam pada Brian. Lelaki yang lantas duduk di sisi Brian itu mengerti akan maksud tawa mengejek bosnya itu.


"Apa Ayah tahu, dia bukan lagi pria lajang sekarang. Tapi Billy sudah menikah, Ayah."


Terkejut, Malik melebarkan mata, menatap Brian dan Billy bergantian seolah tak percaya. Lelaki yang semula duduk menyandarkan punggung dengan santai itu, kini bahkan mencondongkan tubuhnya ke depan penuh rasa ingin tahu. "Ah yang benar saja, kapan kau menikah Bill?! Hal sepenting ini kau bahkan tidak memberitahu ku. Kau tidak menganggap ku sebagai Ayah lagi?"


Melirik sinis pada Brian, Billy pun menjawab kesal. "Tuan tanyakan saja pada putra kesayangan anda."


"Brian." Tegas Malik mencari kepastian.


"Hahaha." Brian tergelak sebelum menjawab. "Aku yang menikahkan Billy, Ayah." Jawabnya santai, lalu meraih kue kering dari piring dan melahapnya dengan nikmat.


"Bagaimana bisa?! Kalian anggap Ayah ini apa hah?!" Protes Malik tak terima.


"Keadaannya terlalu mendesak, Ayah. Dia menyentuh anak gadis orang, malah ketahuan sama bapaknya." Jelas Brian sambil terpingkal. Terang saja Billy geram tak terima hingga lelaki yang belum genap sehari menikah itu mengarahkan tinjuannya yang ternyata berhasil ditangkis oleh Brian.


"Apa salah ku hingga kau ingin memukul ku?!" Protes Brian dengan bola mata melebar tak terima.


"Kau yang apa-apaan! Bisa-bisanya menjadikan ini sebagai bahan guyonan!"


"Memang faktanya begitu! Kenapa? Kau malu. Kalau berani berbuat harus berani bertanggung jawab!"


"Sudah ratusan kali ku katakan kalau aku tidak berbuat!"


Seketika suasana yang semula tenang dan hangat berubah tegang saat dua lelaki muda itu saling berdebat. Sama-sama merasa benar dan tak ada yang mau mengalah.


Sedangkan Malik hanya menggeleng heran, tak berniat menengahi ataupun melerai, ia justru mengamati perdebatan dengan menikmati kue kering serta kopi hitamnya yang sedap.


"Kalau kau tidak berbuat mana mungkin si Sulaiman itu menuduh mu begitu saja."


"Aku hanya korban fitnah! Dia--" kata-kata Billy tergantung saat suara derap kaki dari arah dalam terdengar mendekat. Sesuai dugaan Billy, rupanya Ratih yang muncul dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan sepiring kue kering.


Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu menebarkan senyum hangatnya. "Putra-putra ibu sudah datang rupanya." Tukasnya seraya menyajikan kopi itu di meja, lalu mengecup puncak kepala kedua lelaki yang seketika bersikap tenang itu bergantian dengan kasih sayang. Mengambil posisi duduk di sisi suami, ia lantas bertanya. "Kenapa menantu ibu tidak turut serta? Padahal Ibu sudah sangat rindu pada Mayang." Ucapnya pula dengan nada kecewa.


"Brian belum bisa membawa Mayang keluar rumah waktu dekat ini Bu, demi kesehatan Mayang dan bayi kami." Tutur Brian pelan. Berusaha memberi pengertian terhadap sang ibu agar mau memahami keadaan.

__ADS_1


Mendesah pelan, Ratih lantas tersenyum dan mengangguk faham. "Kalau begitu ibu saja nanti yang berkunjung ke rumah kalian."


"Kau mau dengar kejutan?" Bisik Malik seraya tersenyum.


"Kejutan?" Mata Ratih berbinar senang. "Apa itu?" Tanyanya begitu antusias. Ditatapnya tiga lelaki tersayangnya penuh rasa ingin tahu. "Ayolah Sayang, aku penasaran." desaknya pada Malik.


"Kau memiliki dua mantu sekarang."


"Hah!" Histeris, Ratih spontan melempar pandangan ke arah Billy. Ditatapnya pemuda yang kini tampak tersipu malu itu penuh selidik. "Billy! Apa kau tidak menganggap ku. sebagai ibumu?!" Bentaknya dengan nada marah.


"Bukan begitu Nyo--" kata-kata Billy terpotong saat Ratih menyela.


"Lalu kenapa kau menikah diam-diam!" Omel ibu satu anak itu kesal, seolah Billy itu bocah yang bersalah.


"Keadaannya sangat mendesak, dan pernikahannya terjadi pagi tadi."


"Pagi tadi?! Astaga, aku ini nompo mantu tapi kok tidak ada persiapan apa-apa?" Ratih menepuki pahanya sendiri. Nggak tau, kalau panik suka bingung sendiri. "Lalu mantuku mana? Besan ku orang mana?"


Saling melempar pandangan, Brian dan Billy kompak menggeleng pelan dan berucap. "Tidak tahu."


"Loh, kok tidak tau! Kalian pacaran berapa lama si?"


Billy menggeleng lagi. "Baru kenal beberapa hari Nyonya, namanya juga baru tau sebelum ijab kabul dilaksanakan."


"Kok aneh, jangan bilang kamu ketangkap basah lagi dua-duaan!"


Billy mengangguk berat, membenarkan tebakan Ratih.


"Astaghfirullah." Ratih tersandar lemas. Yang seketika mengundang kepanikan tiga lelaki di ruangan itu hingga bangkit dan mengguncang tubuh serta memanggilnya khawatir, berusaha menyadarkan.


***


Ratih tertawa terpingkal usai mendengar cerita dari Brian. Terlebih saat menatap Billy dengan wajah memerah menahan malu bercampur kesal. Sesuatu yang lumrah saat seseorang dinikahkan tanpa dasar rasa cinta.


"Segera bawa kemari istri kamu, Ibu mau kenalan sama dia."


Billy membeliak kaget. "Untuk apa Nyonya, saya rasa itu tidak perlu."


"Tapi itu harus!" Tegas Ratih. "Ibu perlu tau karekter istrimu itu seperti apa." Imbuhnya sambil mengerlingkan mata.


Mendesah pasrah, Billy tau Perintah sang nyonya tak ingin dibantah.


"Dan satu lagi, bawa dia pulang bersamamu malam ini juga." Tambah Ratih penuh penekanan yang berhasil membuat Billy benar-benar merasa tertekan.


Keempat orang itu bercerita panjang lebar usai makan malam bersama, hingga tanpa terasa waktu bergulir cepat dan malam semakin larut.


Menilik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Malik lantas membelai puncak kepala sang istri. "Sudah malam, Sayang. Sudah waktunya kau beristirahat."


"Ini masih sore, Sayang. Aku masih ingin mengobrol dengan kalian." rengek Ratih berusaha bernegosiasi.


"Tidak bisa, Sayang. Kau harus pergi tidur sekarang." Tegas Malik setengah memaksa.


Mau tak mau, wanita yang mengenakan gaun malam panjang warna biru laut bangkit dari tempatnya saat mendapat kode keras dari sang suami. Usai memberi kecupan selamat malam pada dua putranya, Ratih pun meninggalkan tempat itu dengan helaan lembut sang suami.


Beberapa menit berlalu, Malik kembali usai mengantar sang istri, menghampiri dua pemuda yang masih setia menunggunya.


Disaat tiga pria dewasa dengan visi dan misi hidup yang sama, maka ketiganya pun larut saat terlibat dalam obrolan serius dan menimbulkan atmosfer tidak nyaman.

__ADS_1


Seketika suasana yang semula tenang pun menjadi tegang saat salah satu dari mereka tak bisa mengontrol emosinya. Siapa lagi jika bukan Brian Haris Abdullah. Lelaki itu sontak meledak-ledak saat nama sang istri disebut dalam pembicaraan.


Masih dilingkupi keterkejutan, sebab dirinya tak menyangka pertemuan yang telah Billy rencanakan itu rupanya membicarakan keterkaitan sang istri dengan mavia yang ternyata juga merupakan incaran polisi.


"Aku tidak setuju dengan rencana ini, aku tidak setuju!" Protes Brian geram dengan tangan yang sontak terkepal. Pria yang wajahnya mendadak kusut masai itu mengeraskan rahang menahan amarah. "Istriku sedang hamil Ayah, mana mungkin aku mengizinkannya ikut dalam misi konyol seperti ini!" Teriaknya frustasi.


"Brian, dengarkan Ayah dulu Nak." Tutur Malik pelan berusaha membujuk sang putra. Lelaki paruh baya itu duduk mengambil posisi di samping Brian. Menatap lelaki yang tengah membuang muka itu lekat-lekat, ia pun berucap. "Istrimu menjadi saksi kunci atas kejahatan besar yang dilakukan musuh Negara. Kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian, Nak. Kita harus bekerja sama dengan pihak berwajib ...!" Bujuk Malik berusaha meberi pengertian.


Menatap hampa ke depan sana, Brian Terdiam getir. Seri yang beberapa menit lalu itu masih terpancar kini tampak memudar berganti kilatan yang menggelap.


Wajar. Tak ada suami di dunia ini yang menginginkan sang istri berada dalam bahaya. Meskipun untuk misi mengungkap kejahatan dan bekerja sama dengan pihak yang berwenang.


"Apapun alasannya aku tetap tidak bisa." Tegas lelaki yang duduk membelakangi ayahnya itu.


"Brian--" Malik yang sedang ingin berbicara pun berhenti tatkala Brian tiba-tiba bangkit.


"Aku ingin pulang." Pamitnya dingin seraya pergi meninggalkan ruangan itu.


Pergi dengan suasana hati yang sedang kalut tentu saja menimbulkan kekhawatiran dua orang yang tengah saling lempar pandang. Dengan mengangkat dagunya, Malik mengisyaratkan agar Billy beranjak mengikuti Brian.


Billy yang spontan berdiri pun segera mengangguk sopan saat berpamitan, lantas bergegas mengikuti Brian di belakang.


"Perlu ku antar?" Tanya Billy saat keduanya hampir mencapai mobil.


"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." Brian yang sudah membuka pintu mobil menjawab dingin. Lantas menatap Billy yang sudah berada disisinya dengan malas. "Lebih baik kau urus saja istrimu itu."


"Disaat seperti ini kau masih saja mengkhawatirkan orang lain. Biar ku antar."


"Tidak perlu!" Brian mendorong Billy yang memaksa menerobos masuk kedalam mobilnya tepat di belakang kemudi. "Sudah ku katakan aku bisa pulang sendiri! Kau pikir aku ini bayi yang harus terus kau awasi?!" Teriak Brian dengan getar kekecewaan.


"Aku hanya mencemaskanmu Brian!"


"Cih! Apa karena kecemasan mu yang berlebihan itu hingga kau hubungi polisi! Atau karena kau tidak bisa menyelesaikan masalah Ini sendiri!" Geram Brian hampir-hampir ia meninju sekretarisnya jika saja Malik tidak datang untuk menahannya.


"Cukup Ayah Bilang! Apa kau ingin ibumu sakit lagi karena melihat ulahmu?!" Sentak Malik memperingatkan.


Tak ingin yang ayahnya katakan itu terjadi, Brian lantas membawa tubuhnya memasuki mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan dua orang itu tanpa sepatah kata.


***


Melangkah tergesa memasuki kamar, Brian sempat terkejut saat tak menemukan sang istri di atas ranjang. Mamun lelaki yang sudah menanggalkan jas mahalnya itu menghela napas lega saat menemukan sosok sang istri tengah berbaring di sofa panjang dengan wajah yang tertutup buku. Tampaknya Mayang ketiduran saat sedang membaca.


Berlutut di samping sang istri, Brian mengangkat buku itu perlahan dan meletakkannya di atas meja. Pria yang menggulung lengan kemejanya hingga di bawah siku itu tersenyum gemas tatkala menatap wajah teduh yang istri yang tengah tertidur pulas.


Mengangkat tubuh sang istri perlahan, Brian berniat memindahkannya ke atas ranjang. Namun siapa sangka, kelopak mata yang semula tertutup rapat itu kini terbuka.


"Sayang," lenguh Mayang seraya mengalungkan tangannya dengan manja dileher suami.


"Kau terbangun rupanya, maaf telah mengusikmu." Bisik Brian lembut seraya menyunggingkan senyumnya.


"Hemmm," gumam Mayang sambil menggeleng samar.


Usai merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang, Brian lantas merebahkan diri di sisi sang istri dan memeluk tubuh ramping itu dengan hangat.


"Tidurlah Sayang. Aku akan selalu berada di sisimu dan menjagamu." Tuturnya pelan seraya mengusap lembut kepala sang istri. Tak terdengar sahutan. Namun embusan napas sang istri yang terdengar teratur menandakan jika gadis itu kembali dibuai mimpi. Di kecupnya puncak kepala sang istri sebelum membenamkannya di dada.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2