
"Kau benar-benar pria mengerikan," balas Mayang seraya menjauhkan wajahnya dari Alex. Tatapan intens lelaki benar-benar membuatnya jengah. "Kau berani mengatakan hal itu di depan istri dari seseorang yang sedang kau bicarakan. Kau sengaja atau lupa, dia bisa saja menghabisimu kapan saja karena telah berani mencuri sesuatu milik dia."
"Mencuri, kau bilang?" tawa Alex menggelegar membahana di ruangan itu. Sebuah tawa yang bernada mencemooh. Sontak hal itu membuat tangan Mayang terkepal kuat penuh kemarahan. Jelas saja ia tak terima jika ada orang lain menjelekkan suaminya. Namun ia berusaha menahan diri agar tak terpancing emosi, dan bersikap tenang selagi menunggu sikap Alex selanjutnya.
"Kenapa? Kenapa tertawamu seperti itu?Mengambil sesuatu milik orang lain tanpa izin itu kan namanya mencuri, bukan? Meskipun sesuatu yang kau ambil itu adalah seorang manusia," terang Mayang berusaha di menjelaskan.
"Justru aku hanya mengambil milikku yang pernah dicurinya, itu saja!" tegas Alex dengan seringai jahat tersungging di bibirnya. Entah mengapa tangannya seolah tak bisa menahan hasrat untuk menyentuh paras cantik itu, hingga tanpa sadar ia menggerakkannya mendekati wajah Mayang. Namun sebelum ia berhasil melakukannya, tepisan keras tangan Mayang sudah terlebih dulu mendarat di lengannya untuk menunjukkan sikap penolakan.
Bukannya marah, Alex justru terlihat begitu senang semakin tertantang. Namun menatap ekspresi Mayang yang terlihat tak bersahabat itu, Alex terkekeh sambil menggelengkan kepalanya seolah tak habis pikir. Setelah menghentikan tawa, Alex memperhatikan Mayang dengan mata menyipit seolah tengah menyelidik. Kemudian ia pun berucap dengan nada meragukan.
"Aku heran kepadamu. Dalam kondisi yang tidak bahagia ini, kau masih berusaha membela Brian mati-matian dan bersikap seolah kau sangat mencintainya. Apa kau lupa bagaimana dia menyakitimu waktu itu! Dia bahkan terang-terangan menggandeng wanita lain di depanmu. Mengurungmu layaknya seorang tawanan tanpa sekalipun memperkenalkan mu pada khalayak ramai."
Alex tampak menggebu saat meluapkan perasaan di hatinya. Ia menatap lekat pada Mayang yang masih terpaku tak percaya. Tangannya bergerak meraih jemari Mayang lantas menggenggamnya dengan penuh perasaan, mengabaikan bumbu yang melekat dan mengotori melumuri jemari lentik itu.
"Kumohon, menikahlah denganku dan hiduplah bersamaku. Aku berjanji akan membuatmu bahagia dengan segala cara yang aku bisa. Percayalah padaku. Aku akan berusaha menjadi apa yang inginkan. Aku akan melakukan apapun yang kau mau. Tapi kumohon, tetaplah di sini bersamaku," Alex berucap dengan nada penuh permohonan, sementara sorot matanya menatap penuh iba kepada Mayang. Ia bahkan semakin mengeratkan genggaman tangannya dan membawa tangan Mayang merapat pada dada bidangnya.
__ADS_1
Mayang sendiri tampak membelalakkan matanya seolah tak percaya. Merasa tak habis pikir bagaimana bisa ada lelaki yang secara terang-terangan menyatakan ketertarikannya pada wanita yang telah bersuami. Jika memang benar-benar masih waras, Alex tak mungkin melakukan hal ini.
Mayang menggelengkan kepalanya cepat-celat. Lantas ia pun berucap dengan bibir yang gemetar. "Kau gila Alex. Lepaskan!" hardiknya penuh ancaman. Ia berusaha menarik tangannya, namun Alex tampaknya bersikeras mempertahankan tangan Mayang di dadanya, hingga terjadi tarik menarik antara dirinya dengan pria arogan itu. "Alex, lepaskan! Kau akan benar-benar mati jika sampai suamiku tahu!"
Pada akhirnya Alex pun menyerah dan melepaskan tangan Mayang saat menyadari gadis itu menatapnya dengan sorot penuh kebencian. Namun mendengar kata terakhir Mayang, seulas senyum pun tak urung tersungging di bibir saat dia mengartikan adanya nada penuh kecemasan dari ucapan Mayang tersebut. Dia ingin aku melepaskan karena tidak ingin aku mati oleh suaminya. Benarkah dia terlalu mengkhawatirkan ku hingga sedemikian rupa? batinnya dalam hati.
Alex menatap wajah Mayang dengan begitu terpesona, membuat Mayang yang saat itu tengah mengusap-usap tangannya--di mana tepat Alex memegangnta tadi--mengerutkan kening, menatap Alex dengan ekspresi kebingungan. Sedikit meningkatkan kewaspadaan, ia bergerak mendorong kursi yang didudukinya hingga bergerak mundur, seolah tengah menciptakan jarak aman di antara mereka.
"Apa kau takut padaku?" seolah bisa membaca gerak-gerik Mayang, Alex bertanya dengan nada pelan agar tidak semakin membuat gadis itu ketakutan. Senyuman penuh kebahagiaan itu bahkan masih terpatri di wajahnya, dan semakin membuat Mayang merasa jengkel karena sikap misteriusnya yang membuat gadis itu bingung.
Alex tersenyum sambil meraih kain putih polos di atas meja. "Aku percaya. Dan aku juga tahu kau begitu mencemaskanku," ucap Alex seraya mengusap sudut bibir Mayang yang nampak bercak sisa makanan dengan kain di tangannya.
Mayang terperanjat seketika, dan itu membuat Alex tertawa gemas. Salah tingkah, Mayang kembali mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangannya yang masih bersih. Sementara matanya menatap Alex penuh peringatan. Ia benar-benar tidak suka lelaki itu mencari-cari kesempatan untuk menyentuhnya.
"Mencemaskanmu bagaimana? Siapa yang mencemaskanmu!" Mayang berucap dengan nada panik, sementara tubuhnya bergerak penuh kecemasan. Bagaimanapun ia tak ingin Brian yang berada jauh di sana dan kemungkinan mendengarkan percakapan ini salah faham dan menaruh curiga terhadapnya. "Kau salah faham, Alex. Maksudku tidak seperti itu!" tegasnya penuh penekanan.
__ADS_1
"Sudahlah Mayang, kau tidak perlu mengelak lagi. Aku sudah cukup tahu perasaanmu terhadapku."
Mulut Mayang ternganga tak percaya. Ia kehabisan kata-kata untuk menjelaskan, dan semakin jengkel oleh sikap sok tahu dan cenderung tak mau tahu lelaki itu. Ini benar-benar berbahaya! batinnya.
Mayang benar-benar sudah tidak tahan. Ia tak mau semakin lama berada satu ruangan bahkan bertukar udara untuk bernapas dengan pria tidak waras di depannya ini. Maka ia berpikir keras mencari cara agar sandiwara ini tidak berkepanjangan dan segera berakhir.
Mengabaikan suara instruksi yang berasal dari anting dan menggema di telinganya itu, Mayang menangkupkan dua tangannya. Menjatuhkan harga diri dan menatap Alex dengan sorot mengiba dan penuh permohonan. "Kumohon lepaskan aku Alex. Aku ingin pulang, aku tidak bisa terus menerus berada di sini. Aku memiliki keluarga dan aku harus selalu berada di tengah-tengah mereka. Aku mencintai suamiku, Alex ,,, kumohon lepaskan aku ...."
"Tidak bisa!" Alex menjawab cepat dengan emosi yang mendadak meledak. Wajahnya terlihat merah padam, sementara rahangnya mengeras, seolah tengah menahan amarah. Lelaki itu bangkit dari duduknya. Memposisikan tubuh membungkuk dengan wajah condong ke arah wajah Mayang. Sangat dekat.
Mayang yang terkejut dengan gerakan tiba-tiba Alex itu berupaya menarik kepalanya mundur namun terlambat, sebab tangan Alex sudah bergerak cekatan mencengkeram dagu Mayang sebelum gadis itu bergerak menghindar. Kontak mata serta pertukaran embusan napas pun tak terelakkan.
"Sekali kau sudah berada di tanganku, maka selamanya kau akan menjadi milikku. Camkan itu!" tandasnya penuh penekanan dengan sorot mata mendelik tajam. Lantas dilepaskannya cengkeraman tangan itu dari dagu Mayang dengan kasar sebelum kemudian berdiri tegak dan berbalik badan dengan ekspresi penuh kemarahan. "Urus dia dan bawa ke kamarku sekarang juga!" perintahnya pada sang anak buah sebelum Alex pergi meninggalkan tempat itu dengan tergesa.
Bersambung
__ADS_1