
Mayang masih duduk termenung di sofa teras samping rumah mertuanya. Sembari mengingat kenangan beberapa waktu lalu, saat ia dan Brian berebut ponsel miliknya.
Rasa nya seperti baru kemarin saja hal itu terjadi. Dimana hatinya tengah berbunga - bunga setiap kali melihat adanya cinta yang nampak di mata Brian. Rasa rindu yang membara manakala mereka tak jumpa.
Entah mengapa Mayang merasa dirinya seperti terjebak di dalam lingkaran cinta yang rumit. Dirinya dulu yang datang tanpa adanya pegangan. Seperti terombang -ambing di lautan yang bahkan Mayang sendiri pun tak tahu sedalam apa.
Brian yang hadir sebagai manusia bengis dalam wujud mengerikan, kemudian bermetamorfosa menjadi lelaki tampan seperti malaikat yang mengentaskan nya ke permukaan dengan memberikan sejuta cinta dan harapan.
Namun begitu Mayang telah benar - benar telah jatuh cinta serta menggantungkan hidup hanya padanya, Brian justru kembali menenggelamkan nya semakin ke dasar. Meninggalkan nya dalam kesunyian. Tanpa perasaan. Tanpa cinta sebagai penyokong agar ia bisa bernafas untuk bertahan hidup.
Di tinggal pas sayang - sayang nya. Ketika sedang dalam - dalam rasa cinta. Hati siapa yang tak kan luka. Dan rasa perih di hati ini ternyata memicu air mata Mayang untuk terjun bebas membasahi pipi.
"Mayang," Suara panggilan Ratih membuyarkan lamunan Mayang. Segera Mayang menyeka airmata nya sebelum sang mertua melihat nya.
"Iya Bu," Mayang kemudian bangkit dan melangkah mendekati Ratih.
Ratih tersenyum saat Mayang mendekat. "Apa yang sedang kau lakukan disini?" Bertanya dengan suara lembut.
"Tidak ada bu, aku hanya sedang bersantai."
"Hari sudah mulai gelap, lebih baik kau masuk dan bersantai di dalam." Ratih tersenyum saat menunjukkan perhatiannya. "Apa Brian tidak menjemput mu?" Tanya nya kemudian.
"Tidak tahu Bu, dia juga tidak memberi ku kabar."
"Oh," mengangguk - angguk sembari menatap prihatin wajah menantunya yang tampak khawatir. "Jangan terlalu di pikirkan, mungkin Brian sedang sangat sibuk." Ratih mencoba menenangkan dengan mengusap lembut bahu menantunya.
Mayang hanya tersenyum sembari mengangguk.
Saat mereka tengah terdiam, tiba - tiba sorot lampu mobil tampak muncul dari arah gerbang. Mobil itu tampak mendekat.
" Itu mungkin Brian." Ratih menunjuk sembari tersenyum. Keduanya mengarahkan pandangan mereka pada mobil yang baru datang itu.
Namun seketika guratan kekecewaan muncul di wajah Mayang saat tau Billy lah yang keluar dari mobil itu. Ia mengikuti langkah Billy yang berjalan mendekat dengan pandangannya.
"Selamat sore nyonya," Billy menyapa dengan membungkuk sopan.
"Sore Billy," Ratih menjawab. "Dimana Brian?"
"Tuan muda sedang ada urusan. Jadi beliau menyuruh saya untuk menjemput nyonya muda." Billy menggeser pandangannya pada Mayang yang terlihat lesu.
"Aku akan mengambil tas sebentar." Ucap Mayang sebelum ia melangkah meninggalkan Ratih dan Billy.
* * *
Di dalam mobil, Mayang hanya diam sembari menatap ke luar menembus kaca mobil. Namun pandangan nya tampak kosong dengan pikiran yang sedang berkelana entah kemana.
" Nyonya, apa anda baik - baik saja?" Lagi - lagi Billy bertanya untuk memastikan. Ada gurat kekhawatiran terselip di wajahnya.
Pertanyaan Billy mengusik lamunan Mayang hingga membuatnya menoleh kearah lelski di balik kemudi itu. "Apa aku terlihat sedang tidak dalam kondisi baik?" Mayang malah balik bertanya. Membuat Billy mengernyitkan dahinya.
"Saya kurang tau nyonya, makanya saya bertanya."
Mayang kembali mengarahkan pandangannya ke luar jendela. "Apa dia terlalu sibuk sehingga tidak bisa menjemput ku?" Tanya nya merujuk pada suaminya.
"Tuan memang sedang sangat sibuk nyonya."
"Bukan karena sedang menghindari ku?" Sindir Mayang sembari menatap punggung Billy dengan tatapan sinis.
"Bukan."
Mayang tertawa getir. "Aku tau sesibuk apa dia, jadi aku takkan mengganggu nya." Ungkap Mayang dengan nada kecewa.
"Saya yang menjamin bahwa Tuan tak akan pernah berpaling dari anda."
"Ya ya, aku percaya,,, tapi aku tidak percaya pada Karla."
Billy terkejut dengan ucapan Mayang. "Maksud nyonya?" Tanya Billy penasaran.
"Aku tahu Karla lah yang menggodanya lebih dulu kan!" Tebakak Mayang setengah Berteriak. "Kenapa kau membiarkan nya Sekretaris Billy,,, kenapa tidak kau cegah?!" Desak Mayang dengan suara yang tersekat karena menahan tangis. Ia memajukan tubuhnya dengan tangan yang mencengkeram bahu Billy.
Billy tak bergeming. Hal itu membuat Mayang frustasi. Ia menarik tubuhnya dan menghempaskan kembali punggungnya pada sandaran kursi mobil.
Billy hanya terdiam tak dapat menjawab. Brian telah memberinya instruksi untuk tidak membocorkan rahasia ini pada siapapun. Meskipun itu terhadap Mayang.
"Aku tak masalah jika memang Tuan Brian ingin meninggalkan ku. Tapi aku tidak rela jika suamiku jatuh ke pelukan wanita itu." Ucap Mayang dengan suara tenang. Namun air mata tampak mengucur dari sudut matanya.
Tuan, mengapa anda memilih jalan yang rumit ini? Apa anda tidak sadar dengan jalan yang anda tempuh ini akan menguras banyak air mata orang yang anda cintai. Billy.
* * *
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, namun belum ada tanda - tanda kepulangan Brian. Mayang masih belum bisa memejamkan matanya. Tubuhnya hanya bisa berguling - guling di kasur dengan hati yang masih gelisah.
Entah sudah ke berapa kalinya ia melirik ponsel yang tak berbunyi sama sekali sejak tadi. Rasa lelah yang mendominasi tubuhnya karena kejadian hari ini yang menguras energi sungguh membuat Mayang benar - benar mengantuk. Dan akhirnya ia terlelap dalam dingin dan sunyinya malam.
* * *
Mayang mengerjapkan mata saat ia mulai terbangun di pagi hari. Suara dengkuran halus Brian memaksanya untuk menoleh dan seketika ia pun terduduk.
Ada kelegaan dihatinya. Setidaknya ia masih ingat rumah dan kamarnya. Walaupun tak memeluk dirinya.
Melihat nya tidur dengan wajah polos tanpa dosa begitu entah mengapa membuat Mayang tak tahan untuk ingin menyentuhnya.
Mayang beringsut menggeser tubuhnya untuk mendekat. Di alih nya bantal guling yang menjadi pembatas antara dia dan suaminya. Di rebahkan nya tubuhnya dengan posisi miring supaya dia bisa berhadapan dengan Brian.
Mayang menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipi Brian. Di usap nya lembut pipi itu dengan penuh kerinduan. Mayang hampir saja menitikkan air mata mengingat apa yang telah suaminya itu lakukan padanya.
Namun dengan hanya bisa menyentuh suaminya saat dia sedang terlelap begini bisa sedikit mengurangi kerinduannya. Mayang tersenyum lega.
Namun ia terbelalak seketika saat Brian bereaksi dengan menangkap pergelangan tangan nya dan mencengkeram nya kuat. Mayang tak bisa melepaskan tangan nya.
Dan seketika mata yang tadinya terpejam itu kini telah terbuka dengan lebar dan tengah menatap Mayang dengan lekat.
Aku tertangkap basah. Bagaimana ini? Mayang membatin khawatir.
"Selamat pagi sayang?" Sapa Mayang lembut. Tak bisa berbuat yang lain lagi karena Brian masih menggenggam tangan nya.
Sekilas Mayang bisa melihat gurat senyum di bibir Brian. Namun di detik lain, senyuman itu berubah menjadi wajah dingin tanpa keramahan. Alih - alih menjawab sapaan. Brian malah melepaskan tangan Mayang seketika lalu berbalik dan menepi hendak turun dari ranjang.
Sakit? Tentu saja hati Mayang terasa sakit. Namun ia mengabaikan nya. Karena cinta yang besar pada suaminya.
"Segera bersihkan dirimu dan berkemas." Ucap Brian yang masih duduk di bibir ranjang dengan posisi membelakangi istrinya. "Aku akan membawamu pergi ke suatu tempat.
Mayang membelalakan mata tak percaya. Wajah nya masih terlihat marah namun Brian ingin membawanya ke suatu tempat?
"Kemana?" Tanya Mayang dengan rasa ingin tahu.
"Aku menyuruh mu untuk segera berkemas, bukan bertanya." Jawab Brian dengan nada dingin yang membuat lidah Mayang membeku seketika. Dengan langkah gontai ia ia melangkah menuju kamar mandi.
Kenapa rasanya sesakit ini? Sikap dingin Brian benar - benar menyakiti perasaan Mayang. Hati yang sebelum nya serasa terbelah kini terasa semakin sakit seperti di remas. Mayang tak pernah merasakan sakit yang teramat dalam bercinta.
__ADS_1
Beginikah rasanya patah hati?
Saat berdandan Mayang sengaja menyapukan make - up sedikit lebih tebal di area mata, untuk menyamarkan mata sembab nya. Karena pagi ini terasa mengharu biru baginya.
Brian keluar dari ruang pakaian dengan penampilan nya yang rapi seperti biasa. Mayang bisa melihatnya dari pantulan cermin.
"Bawa juga beberapa pakaian mu, kita akan menginap untuk beberapa hari disana." Dia bahkan tidak menoleh saat berbicara.
Mayang hanya mengangguk tanda mengerti.
"Baju mana yang ingin kau bawa?" Tanya Mayang sembari memasukkan pakaian nya kedalam koper berukuran sedang.
"Tidak perlu."
"Apa?!" Mayang memastikan kalau pendengaran nya masih berfungsi dengan baik.
Kau bilang kita akan menginap beberapa hari. Tapi kau sendiri tak butuh baju ganti. Apa kau ingin membuang ku?
Brian mengabaikan pertanyaan Mayang dan memilih untuk lebih dulu keluar dari kamar. Mayang menatap nanar pada pintu kamar yang sudah tertutup itu. Ia menghentikan kegiatan nya yang sudah setengah jalan.
Matanya kembali berkabut oleh air mata yang lagi - lagi seperti sudah siap berlomba untuk meluncur. Mayang menghela nafas dalam agar hatinya merasa tenang.
Mayang di kejutkan dengan suara pintu kamar yang terbuka. Ia segera menoleh ke arahnya dan mendapati Brian tengah melangkah kearahnya. Mayang menatap lelaki itu dengan ekspresi wajah penuh rasa ingin tahu.
"Pakai ini." Brian menyodorkan sesuatu dari tangannya saat ia sudah berdiri di hadapan sang istri. Mayang menatap bingung pada benda kecil di tangan Brian yang ternyata adalah sebuah kalung.
Di tatapnya wajah sang suami untuk memastikan bahwa benda itu adalah untuknya sebelum ia menadah kan tangan untuk menerimanya.
"Jangan kau lepas sebelum aku memintanya." Ucap Brian sebelum kemudian ia melangkah menuju pintu kamar.
"Kenapa tidak kau saja yang memakaikannya?!" Ucap Mayang dengan nada seperti menantang sembari menegakkan dagu nya. Menatap Brian dengan penuh keberanian.
Brian seketika menghentikan langkahnya. Memasukkan jemari ke saku celananya. "Kau terlalu banyak mau." Tersenyum penuh ironi kemudian pergi begitu saja meninggalkan Mayang dalam kekecewaan.
Mobil Brian sudah memasuki sebuah rumah yang juga berukuran besar yang belum pernah Mayang datangi sebelumnya nya. Meski merasa bingung dengan begitu banyak tanda tanya yang memenuhi kepalanya, namun Mayang tetap turun dari mobil mengikuti Brian yang sudah terlebih dulu.
Mayang melangkah ke arah belakang mobil dan mendekati Brian yang tengah mengeluarkan koper nya dari sana.
Mayang menatap wajah tanpa ekspresi itu sembari meremas jemarinya. Mencoba memantapkan hati hanya sekedar untuk bertanya dan membunuh rasa penasaran yang mengganggu pikiran nya.
"Sayang," tanya Mayang lalu menggigit bibirnya khawatir.
"Hemmm," Brian menjawab pendek tanpa menoleh karena ia sedang sibuk dengan bagasinya. Namun jawaban itu sudah bisa melelehkan hati Mayang yang sempat beku.
"Ini rumah siapa?" Mayang bertanya dengan sangat hati - hati.
"Ayah Hans."
Glek.
Mayang menelan ludah nya dengan susah payah.
*****
Meski terasa berat saat melangkahkan kakinya, namun Mayang tetap patuh dan menurut saat Brian menarik koper dan menggandeng tangannya melangkah memasuki rumah itu.
Begitu banyak firasat buruk yang berkecamuk di benak Mayang sehingga membuat jantungnya berdebar - debar tak karuan. Bahkan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Brian sepertinya menyadari kegelisahan yang saat ini Mayang rasakan. Ia mengeratkan tautan jemari mereka sebagai bentuk dukungan untuk menyemangati istrinya.
Mayang menatap bingung pada Brian yang tetap membawanya melangkah meski telah melewati ruang tamu dan ruang keluarga.
Langkah keduanya berhenti di depan sebuah pintu yang tertutup rapat. Brian menggerakkan tangan nya untuk mengetuk pintu itu.
Dan tak lama setelahnya terdengar pintu di buka dari dalam ruangan dan muncul seorang wanita berpakaian perawat mempersilahkan keduanya untuk masuk.
Belum berhenti di situ kebingungan Mayang, kini ia kembali di suguhkan pula dengan pemandangan di dalam kamar yang sudah mirip ruang perawatan intensif di rumah sakit.
Tampak seseorang tengah terbaring tak berdaya di atas ranjang dengan menempel di tubuhnya beberapa alat penunjang kehidupan dari tim medis untuk mendukung nya agar tetap bertahan hidup.
Hans? Dia sakit parah?
Seketika pikiran - pikiran negatif yang memenuhi otaknya kini berjatuhan tanpa sisa. Yang ada sekarang hanyalah rasa iba saat melihat tubuh tua ini terbaring tak berdaya dan bahkan memerlukan bantuan oksigen hanya untuk bernafas saja.
"Apa yang terjadi padanya?" Dengan suara lirih, Mayang memberanikan diri untuk bertanya. Wajahnya terlihat sangat khawatir tanpa manipulasi.
"Pelayan bilang dia terjatuh dari tangga." Brian terdiam setelah itu. Menatap tubuh lunglai itu dengan rasa iba. Ia lantas menghela nafas dalam. Di tatapnya manik mata sang istri lekat. "Kau mau kan berada disini sampai ayah pulih?" Brian bertanya dengan pandangan mata penuh permohonan.
Mayang membalas tatapan itu dengan kehangatan. "iya, aku mau." Mayang menjawab dengan penuh keyakinan. Selain sebagai bentuk empati nya terhadap sesama manusia, Mayang juga bergarap dengan cara ini bisa membuat Brian kembali seperti sedia kala.
"Kau yakin?"
"Yakin." Jawabnya sembari mengangguk dan tersenyum.
Brian meraih jamari Mayang lalu menaut kan nya dengan jemarinya. "Mari ku tunjukkan kamar tidur kita." Ucapnya sembari menarik tangan Mayang agar mengikuti langkahnya.
Brian membawa Mayang menaiki satu per satu anak tangga menuju ke lantai dua rumah itu. Sampai di depan sebuah pintu, Brian lantas membukanya dan menarik Mayang masuk kedalam nya.
"Kau bisa tidur di kamar ini." Ucap Brian tanpa menoleh pada Mayang. Sementara tangan nya sedang sibuk menekan tombol sebuah remot kontrol untuk membuka gorden yang masih tertutup rapat dan menimbulkan nuansa remang - remang karena pencahayaan yang minim.
Sinar matahari tampak langsung menyemburat masuk kedalam kamar menembus kaca jendela yang tampak bening. Sehingga kamar yang tadinya seperti mati karena tak berpenghuni kini tampak menunjukkan kehidupan nya kembali.
"Lalu kau?" Tanya Mayang merujuk pada tempat tidur yang akan Brian gunakan. Sebagai manusia normal tentu saja Mayang bisa menelaah maksud dari perkataan Brian sebelumnya yang hanya mengatakan kau dan bukan kita untuk tidur di kamar ini.
"Aku bisa tidur dimana pun aku suka. Mungkin aku akan tidur bersama ayah di bawah atau dimana pun. Aku juga bisa tidur di sofa." Brian berucap seolah dirinya tak membutuhkan Mayang lagi di sisinya.
"Kalau begitu keluarlah dari kamarku sekarang juga." Usir Mayang dengan kalimat yang gamblang seketika.
Brian yang terkejut lantas menoleh kearah Mayang saat itu juga.
"Semalam aku tak bisa tidur dengan baik membuat mataku masih mengantuk sekarang. Aku ingin tidur untuk beberapa saat lagi." Ucapnya sembari melangkah menuju pintu.
Ia menggerakkan tangan nya untuk memegang gagang pintu seolah sudah siap untuk menutup nya. Di tatapnya wajah Brian dengan wajah yang seperti sudah tak sabar menunggu lelaki itu keluar.
"Ini masih pagi dan kau ingin tidur lagi?" Bertanya dengan pandangan ragu.
"Aku bisa tertidur kapan pun aku mau. Sekarang keluar lah." Usir Mayang dengan di bubuhi isyarat melalui pandangan matanya yang terlihat jengah.
Tanpa pikir panjang Brian pun segera melangkah lebar meninggalkan tempat itu. Mayang segera menutup pintu itu setengah membanting nya hingga menimbulkan suara yang agak nyaring.
Mayang segera menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan meraih bantal untuk ia peluk. Tangan nya mencengkeram kuat ujung bantal dan meremas nya. Bulir - bulir bening tampak menetes dari sudut mata nya yang sendu.
Ua memejamkan matanya rapat - rapat berharap ia segera segera tertidur walau dirinya kini tidak benar - benar sedang mengantuk. Karena hanya saat tidur lah dia bisa melupakan kepedihan hati yang tengah ia rasakan kini.
* * *
Mayang menuruni anak tangga saat pelayan memanggilnya untuk makan malam. Namun pada saat ia sampai di ruang makan, Mayang tak mendapati ada siapa pun di sana.
"Maaf, apa kau tau dimana suamiku berada?" Mayang bertanya seorang pelayan yang sedang melayaninya di ruang makan.
__ADS_1
"Mungkin sedang di ruangan lain nyonya, saya tadi melihat Tuan Brian ada kok." Jawab pelayan itu dengan ramah.
Jawaban pelayan itu sedikit membuat Mayang merasa lega. Setidaknya Brian tidak meninggalkan dirinya merasa sendirian di tempat asing itu.
Suara langkah kaki yang terdengar mendekat memaksa Mayang untuk menoleh ke arahnya. Gadis itu tiba - tiba bangkit dari duduknya dan berdiri saat melihat Brian muncul dengan berpenampilan sangat rapi.
"Kau mau kemana?" Tanya Mayang dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran.
Belum sempat Brian menjawab pertanyaan Mayang, tiba - tiba terdengar lagi derap langkah yang terdengar seperti tergesa sedang mendekat ke arah mereka.
Karla? Dia disini juga? Dia berpenampilan sangat cantik, sebenarnya mau kemana mereka?
Mayang tak dapat menutupi keterkejutannya. " Sayang katakan kau mau kemana?!" Kembali bertanya dengan nada mendesak.
"Aku mau menghadiri acara reuni alumni SMA sekolah ku dulu." Jawab Brian dengan suara datar. " Aku mendapat kan undangannya juga mendadak, jadi belum sempat memberi tahu mu."
Flash back on
Brian tengah berdiri termenung di di balkon lantai tiga rumah Hans. Tangan nya mencengkeram kuat pagar pembatas balkon. Wajahnya yang merah padam karena berusaha menahan amarahnya.
Pengusiran yang dilakukan Mayang benar - benar telah menyinggung perasan nya. Namun hal itu membuatnya bisa merasakan betapa perih hati yang istrinya rasakan saat ini.
"Brian," Suara lembut yang terdengar dari arah belakang tak lantas membuat lelaki itu menggerakkan lehernya untuk menoleh.
"Sedang apa kau disini?" Karla mendekati Brian dan berdiri di sampingnya.
" Aku hanya sedang mencari udara segar." Jawabnya dengan wajah tersenyum.
"Aku menemui mu untuk menyampaikan ini." Karla menyodorkan sebuah undangan. Brian ragu - ragu saat menerimanya.
"Apa ini?" Bertanya sembari mengamati benda di tangannnya.
"Undangan reuni. SMA kita mengadakan reuni nanti malam. Kita datang ya."
"Maaf Karla, tapi sepertinya aku tidak bisa. Kau tau sendiri kan Ayah sedang..."
"Tak perlu risau kan Ayah. Ada perawat yang menjaganya. Lagi pula acara nya cuma sebentar kok. Nggak akan lama."
Brian terlihat berpikir keras untuk memutuskan ini. Banyak yang harus ia pertimbangkan. Selain ia tidak terlalu suka, hal ini juga tak berfaedah baginya.
Namun demi untuk melihat reaksi istrinya nanti, sepertinya Brian merasa perlu untuk mencobanya. Serta demi totalitas nya dalam menunjukkan kepura - puraan nya pada Karla.
"Baiklah, aku mau."
"Gitu dong, kau adalah bintang nya. Semua teman -teman kita pasti akan sangat senang bertemu dengan mu."
Flash back off
"Bersama dia?!" Mayang melirik sinis pada Karla yang tampak tersenyum santai.
" Iya. kita sama - sama alumni di sana."
"Dan kau mau meninggalkan ku?!" Bertanya dengan wajah sedih. Hampir - hampir menangis. Karena merasa terabaikan.
"Kau bukan alumni disana."
"Tapi aku istri mu!" Protesnya dengan suara setengah berteriak. Menggerakkan kakinya dengan cepat melangkah mendekati Brian. "Aku ikut!" Pintanya dengan nada meraju sembari melingkarkan tangan nya di lengan kokoh Brian.
Brian tersenyum geli mengamati penampilan Mayang dengan piyama berwarna hijau bergambar kartun keroppi tersebut.
"Dengan pakaian ini?" Senyum Brian terkembang saat melihat ekspresi wajah polos Mayang yang tengah mengamati dirinya sendiri.
Bulu mata lentik nya terlihat menunduk dan sesekali melirik ke arah Karla dengan penampilan sempurna nya seperti sedang membandingkan.
Dengan penampilan nya yang seperti ini diri nya memang lah tidak layak untuk du sanding kan dengan Brian yang terlalu sempurna untuknya.
"Aku tak membawa gaun pesta satu pun di koper ku..." Ucapnya kemudian dengan nada sedih.
"Kalau begitu tunggu aku disini saja ya..."
"Tidak mau!"
Bagaimanapun cara nya aku takkan biarkan wanita itu berusaha mendekati mu!
"Aku mau ikut!" Rengek Mayang dengan suara manja yang tak di buat - buat. Wajahnya benar - benar terlihat menunjukkan kekhawatiran nya.
"Kau tidak bisa datang ke pesta dengan pakaian seperti ini, kau bisa di tendang keluar dari sana."
"Aku tidak perduli!"
* * *
Mayang tampak malu - malu saat melangkah menuruni anak tangga. Baju milik Karla memang sangat pas di tubuhnya. Namun gaun ini terlalu seksi baginya.
Karla memang tak memiliki selembar pun pakaian yang menurut Mayang sopan. Wanita itu malah meminjamkan nya dress tanpa lengan dan panjangnya di atas lutut. Bahkan cenderung memperlihatkan belahan dadanya.
Beruntung Mayang membawa blazer dengan warna senada di koper nya. Jadi ia bisa memadu padankan nya dengan dress pinjaman Karla. Entah sengaja atau apa wanita itu memilihkan gaun ini untuknya.
"Pakaian apa yang kau kenakan itu?!" Protes Brian segera begitu Mayang muncul di hadapannya dengan pakaian yang memperlihatkan keindahan tubuhnya.
"Protes saja pada Karla, dia yang meminjami ku ini!" Mayang menjawab dengan raut wajah kesal. Terlihat sekali dia terpaksa mengenakan nya.
Brian menghela nafas dalam. Ua benar - benar tak rela orang lain akan menilmati kemolekan tubuh istrinya. Tapi demi menjaga perasaan Mayang, Brian terpaksa mengizinkan nya.
Ketiganya berangkat dengan satu mobil. Tak ada percakapan yang terjadi selama perjalanan yang mereka tempuh. Namun berkali - kali Brian menggerakkan bola matanya untuk melirik sang istri yang terlihat tak nyaman dengan pakaian nya.
Berkali - kali Mayang menarik ujung dres yang dengan sendirinya terangkat dan memperlihatkan paha nya yang putih. Wajahnya tampak gelisah dan berkali - Kali menampar kaca mobil dengan pandangan nya.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat acara.
Di situ Mayang semakin mengerti Bahwa suaminya bukanlah lelaki biasa saja.
Semua teman - teman nya tampak memuliakan Brian. Namun Brian terlihat enggan menunjukkan Mayang pada teman - teman nya, karna bagi Brian menunjukkan istrinya pada teman - teman nya sama saja dengan menyodorkan istrinya untuk menjadi santapan lezat mata - mata lelaki hidung belang. Meski itu teman nya sendiri, namun Brian benar - benar merasa tak rela.
Namun berbeda persepsi denga Mayang, gadis itu malah berpikir suaminya malu untuk memperkenalkan dirinya pada teman - teman nya. Sehingga timbul rasa cemburu nya karena Karla lebih mendominasi Brian daripada dirinya.
Mayang memberanikan diri untuk mendekati suaminya. Dengan langkah nya yang percaya diri, Mayang menerobos di antara Brian dan Karla yang selalu menempel bagai kembar siam.
"Sayang," Panggilannya dengan suara lembut yang mengejutkan Brian dan semua yang berada di situ.
"Brian, siapa gadis cantik ini?"
Bersambung
Hai readers, jangan lupa kunjungi juga karya author yang lain ya,
Judulnya Amara
terimakasih
__ADS_1
beri juga dukungan kalian. jangan lupa tinggalkan jejak kalian like komentar favorit serta voting yang banyak dan rating bintang lima.