Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Parfum cabai


__ADS_3

"Kenapa kau malah menolong nya sayang! Kenapa tidak kau biarkan saja dia mati dengan mengenaskan terjatuh dari balkon!" Brian yang tampak geram mengungkapkan protes kerasnya terhadap sikap sabg istri.


Lelaki itu terlihat sangat kesal dan marah setelah mendengar cerita Mayang hingga mengepalkan tangannya meski dia tengah memeluk sang istri.


"Sayang tidak baik bicara seperti itu! Kejahatan tidak harus di balas dengan kejahatan juga kan ,,,? Lagipula dia itu ayahmu. Ayah mertua mu." ucap Mayang sembari melirik ke belakang, menatap Brian yang tengah mengecup pundaknya dengan lembut.


"Tapi dia bukan lagi mertua ku. Ayah mu lah mertua ku yang sebenarnya." gumam Brian sembari menggigit kecil bahu Mayang hingga istrinya itu berjingkat.


"Sayang sakit!" geram Mayang sembari mencubit paha Brian yang mengapit tubuhnya. Dan kini Brian lah yang meringis kesakitan.


"Lalu dari mana luka ini kau dapatkan?" tanya Brian sembari menunjuk luka kecil di tangan Mayang.


"Tergores tepian balkon saat aku mencoba menarik Ayah mu sayang, ini hanya luka kecil. Tak perlu di permasalahkan ya." Mayang pada Brian dengan penuh harap. Bibirnya pun menghadiahkan kecupan lembut di punggung tangan Brian.


Brian hanya tersenyum sembari menatap istrinya yang tampak malu - malu. Mayang terlihat gusar saat pandangan mereka beradu. "Kenapa menatap ku seperti itu?" tanyanya kemudian dengan salah tingkah. "Apa aku terlihat aneh?"


"Tidak," sahut Brian santai. "Aku hanya sedang berpikir, dari mana kau mendapatkan ide membuat parfum cabe itu? Apa kau gunakan juga untuk makan?" goda Brian sembari terkekeh.


"Itu cuma cairan bubuk cabai! Bukan sambal!" Mayang berteriak kesal. "Ide itu ku dapatkan sejak aku kuliah sayang. Karena aku anak kost - kostan, jadi aku perlu senjata mungil untuk melindungi diri saat aku tak bisa menggunakan ilmu bela diri sebagai perlawanan sayang. Aku melihatnya dari televisi dan coba ku praktekkan. Dan ternyata berhasil. Aku juga mengajarkan hal ini pada teman - teman ku juga." jelas Mayang dengan wajah riang.


"Jadi parfum yang ku lihat di tas mu itu adalah parfum cabe? Untung saja aku tak pernah berkeinginan untuk mencoba menciumnya." Brian berdecih.


"Haha entah apa yang akan terjadi dengan hidung mu jika kau benar - benar menciumnya sayang." Mayang terkekeh saat membayangkan hidung Brian yang kepedasan .


"Hey apa yang sedang kau bayangkan hah?" Brian bertanya sembari mencubit hidung sang istri gemas. Seolah bisa mengerti apa yang ada pikiran sang istri. "Kau pasti sedang membayangkan hidungku yang kepedasan kan??"


"Maaf sayang," ucap Mayang sembari mengusap ujung hidungnya. "Sayang berendam nya sudahan yuk, airnya mulai dingin." ajak Mayang sembari berusaha melepaskan diri dari pelukan Brian. Namun sia - sia karena sepertinya lelaki itu masih enggan melepas sang istri dan beranjak dari sana. "Sayang ,,,!" rengek Mayang setengah kesal.


"Sayang, bagaimana kalau kita me-," ucapan Brian terhenti karena Mayang tiba - tiba memotongnya.


"Sayang kumohon jangan sekarang ya," pinta Mayang dengan halus. "Kau bisa menghabiskan waktu berjam - jam untuk melakukan hal itu. Sementara kita berendam sudah sejak tadi sayang, aku sudah mulai kedinginan. Lain kali saja ya ...," bujuk Mayang setengah memohon.


Brian pun terkekeh melihat tingkah istrinya yang tampak takut - takut itu. Alhasil dirinya pun mendapat hadiah cubitan kecil lagi untuk yang kedua kali di pangkal pahanya.


"Sayang," panggil Brian sembari menyandarkan kepalanya pada tepi bathtub pada Mayang yang tengah mengenakan handuk piyamanya.


"Iya," secara spontan Mayang pun menoleh ke arah Brian.


"Katakan, kau ingin aku melakukan apa pada Hans?" Tanya Brian dengan wajah serius.


"Maafkan dia dengan hati mu." jawab Mayang sebelum berlalu meninggalkan Brian yang masih belum beranjak dari bathtub.


Tidak semudah itu sayang. Setiap orang yang bersalah harus menerima ganjarannya. Apa lagi jika itu menyangkut dirimu. gumam Brian dalam hati dengan ekspresi wajah penuh ancaman.


Mayang sudah menyiapkan pakaian rumahan saat Brian keluar dari kamar mandi. Wanita yang sudah lengkap dengan pakaiannya itu pun tersenyum menyambut kemunculan suaminya.


"Kau terlihat sangat bahagia sayang. Tidak terlihat seperti wanita yang baru saja mengalami kejadian menakutkan." Puji Brian saat melihat senyuman sang istri.

__ADS_1


"Semua sudah terlewati sayang, dan sekarang aku sangat bahagia karena bisa bersama lagi dengan mu tanpa harus sembunyi - sembunyi lagi. Ibu mencari ku tidak ya?"


Dan disaat bersamaan keduanya pun melotot bersamaan saat teringat pada sang Ibu.


"Sayang kita bahkan belum nenghubungi Ibu untuk memberi kabar! Bagaimana ini?!" Ucap Mayang yang mulai terlihat panik. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana khawatirnya ibu!"


"Tenangkan dirimu sayang, aku akan menelpon ibu dan memberi tahu padanya sekarang ya," Brian lantas menelpon Ratih sembari merangkul Mayang dan menenangkan istrinya itu.


"Bagaimana?" Mayang bertanya khawatir karena Ratih belum juga mengangkat telepon Brian.


"Tidak ada jawaban sayang." Brian juga terlihat mulai khawatir. Namun ia masih terus mencoba menghubungi nomor ponsel ibu nya.


Di saat bersamaan suara pintu di ketuk dari luar pun terdengar. Mayang yang merasa terkejut pun menoleh seketika ke arah pintu. Sementara Brian tampak acuh dan tetap fokus pada ponselnya.


"Sayang, aku buka pintu dulu ya. Entah siapa yang berada di depan pintu kamar kita." pamit Mayang sembari melepaskan diri dari rangkulan Brian, lantas berhambur menuju pintu dan membukanya perlahan.


Namun gadis itu terbelalak kaget begitu dia membuka pintu dan melihat siapa yang berdiri di hadapannya.


"I-Ibu." Lirihnya dengan suara terbata. Di tatapnya Ratih dan Brian yang tengah membekakangi mereka secara bergantian. Ia pun mengurungkan niatnya untuk memanggil sang suami karena Ratih telah memberinya isyarat untuk diam.


Ratih lantas merogoh tas nya untuk mengambil ponselnya dari sana yang memang sudah sejak tadi bergetar. Lantas menekan satu yombol berwarna hijau untuk mengangkat panggilan puteranya itu.


"Halo ibu, kenapa tidak menganggkat telepon ku? Ibu dari mana saja?!" Brian sudah mencecar ibunya dengan pertanyaan bahkan sebelum sang ibu berbicara.


Dengan tatapan geram Ratih pun melangkah pelan mendekati Brian yang tengah berkacak pinggang sembari menelepon nya. Tangannya pun bergerak meraih dan menarik telinga Brian hingga lelaki itu memekik karena terkejut.


Dan lebih terkejut lagi begitu tau bahwa sang ibu lah yang telah menarik telinganya dengan sorot mata kesal.


"Ibu maafkan puteramu Bu, lepaskan tanganmu. Kalau telinganya putus bagaimana?!" Ucap Brian memohon.


"Biar kau rasakan! Kau memang selalu membuat Ibumu cemas!"


"Ibu maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


Ratih pun kemudian melepaskan telinga puteranya dan melangkah mendekati Mayang yang tampak tertegun bingun. Di peluknya menantu perempuan nya itu dengan sangat erat dan penuh syukur.


Sementara Brian tampak mengusap daun telinganya yang kini berwarna kemerahan sembari menjatuhkan tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang.


"Ibu kalau lagi marah kira - kira dong! Masa iya aku di jewer di depan mata istriku?! Mau di taruh dimana muka ku Ibu?!" protes Brian dengan nada kesal.


"Kamu yang nggak kira - kira!" sahut Ratih setelah mengurai pelukannya pada Mayang lalu menatap sebal ke arah Brian. "Kamu siksa ibu dalam kebingungan! Kamu bawa menantu Ibu tanpa bilang - bilang."


"Ibu maafkan Mayang karena pergi tanpa pamit pada Ibu. Mayang yang salah Bu." Mayang berucap untuk menengahi. Ia menatap Ratih dengan wajah penuh penyesalan membuat mertuanya itu mengusap pundaknya karena terharu.


"Lain kali pikirkan keselamatan dirimu sebelum melakukan apapun Mayang." ucap Ratih sembari tersenyum tulus.


"Mayang hanya menuruti kata hati saat akan pergi Ibu."

__ADS_1


Ratih hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Wanita paruh baya itu terlihat sangat lega saat mengetahui menantunya dalam kondisi baik - baik saja.


"Ibu makan malam disini kan? Ayah dimana Bu?" tanya Mayang begitu ingat sosok mertua lelakinya itu tak muncul bersama mertua perempuannya.


"Ayah mu ada di bawah."


"Ayo kita turun Bu, aku ingin menyapa Ayah." ajak Mayang pada Ratih untuk mengalihkan sang suami dari kemarahan mertuanya.


Brian tersenyum sembari mengekori langkah dua wanita tercintanya dengan pandangan. Hingga keduanya tak nampak di balik pintu yang tertutup.


Brian kembali meraih ponselnya dan menghubungi seseorang di seberang sana.


"Aku ingin besok kau membawakan barang yang aku minta dan antarkan ke rumah." Perintahnya pada seseorang di seberang sana dengan mata yang berbinar senang. Ia tersenyum setwlah menutup sambungan teleponnya, seolah tak sabar menunggu hari esok tiba.


* * *


Pagi hari yang cerah, Mayang sudah bangun dengan semangat menyambut hari dan rasa syukur dengan kebahagian yang tuhan beri hari ini.


Di abaikannya tubuhnya yang terasa pegal akibat Brian bermain lebih liar dari biasanya malam tadi. Bayangan kejadian manis semalam masih membekas dalam ingatannya, hingga senyuman swlalu menghiasi wajahnya manakala bayangan itu selalu muncul di tengah - tengah dirinya beraktifitas.


Mayang bahkan tak memperhatikan sepasang mata yang mengawasinya sejak tadi dengan tatapan heran. Hingga sesosok tubuh kekar memeluknya dari belakang dan mengecup pipinya dengan lembut.


"Pagi sayang, sudah bangun?" Mayang menyapa Brian dengan lembut dan tak merasa terkejut.


"Kau terlihat bahagia sekali pagi ini, sampai - sampai senyum - senyum sendiri. Siapa yang telah membuatmu sebahagia ini?!" tanya Brian dengan nada curiga.


"Memangnya siapa lagi kalau bukan dirimu sayang," Mayang tersenyum senang. Lalu mendorong kepanya dan menghadiahi kecupan lembut di pipi Brian yang menyandarkan dagunya di pundak Mayang.


Lelaki itu mengeratkan pelukannya untuk menghalau rasa dingin saat udara pagi membelai lembut permukaan kulit mereka.


"Sayang kok belum berkemas. Kau tidak masuk kantor hari ini?" Mayang pun bertanya saat dilihatnya Brian yang masih mengenakan pakaian rumahan.


"Hari ini aku libur karena ingin mengajak mu untuk berkencan sayang," bisik Brian lembut tepat di telinga Mayang.


Gadis itu seketika terbelalak senang lalu melirik pada Brian untuk memastikan. "Yang benar sayang, apa kau serius?"


"Apa tampang ku ini tampang pembohong?"


"Hemm seperti nya tidak." Jawab Mayang sembari tertawa.


* * *


"Apa itu gaun yang akan ku gunakan saat kita berkencan?" Tanya Mayang pada Brian yang tampak memegang paper bag di tangannya.


"Iya." Jawab Brian sembari tersenyum. Di tatapnya sang istri yang tampak antusias sembari menyeringai. Lantas tangannya pun bergerak menyodorkan satu paper bag pada sang istri sementara yang satu lagi miliknya sendiri.


Mayang yang semula tampak senang dan antusias, tiba - tiba saja tampak terkejut dan geran setelah membuka kantong belanja yang Brian berikan untuknya.

__ADS_1


"Sayang, ini nggak salah?" Mayang bertanya dengan mimik wajah heran. "Ini kan baju seragam SMP."


Bersambung


__ADS_2