Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Penculikan


__ADS_3

Mobil yang mengantarkan Mayang telah melaju meninggalkan rumah dengan kecepatan sedang. Ia tampak begitu bahagia saat Brian mengizinkannya untuk berkunjung ke rumah sang ibu mertua. Gadis itu nampak begitu bersemangat, sebab akhirnya ia bisa melihat dunia luar setelah lebih dari seminggu hanya terkurung di dalam rumah.


Sebelumnya perjalanan berjalan lancar seperti biasa, hingga pada akhirnya mobil yang Mayang tumpangi mengalami gangguan hingga sopir menepikan mobil dan menghentikan perjalanan mereka.


"Apa yang terjadi?" Tanya Mayang dengan kepala menyembul keluar pada lelaki muda yang tengah memeriksa ban mobil bagian depan.


Mendengar sang nyonya bertanya, lelaki itu pun melangkah menghadap Mayang. "Ban nya tiba-tiba kempes Nyonya, sepertinya kita tak bisa melanjutkan perjalanan hingga pengawal lain menjemput anda." Ucap sopir itu memberikan laporan. "Apakah anda ingin saya antar Nyonya menggunakan jasa taksi online saja?" Tanya lelaki yang tengah berdiri tegap di sisi pintu penumpang tempat Mayang duduk.


"Emm bagaimana ya?" Mayang diam sejenak untuk berpikir. "Kalau memesan taksi apa akan memakan waktu yang lama?"


"Saya akan coba mencari informasi Nyonya." Ucap pengawal itu sambil menggerakkan tangannya hendak merogoh ponsel di saku jas nya. Namun belum sempat melakukannya, lelaki dengan stelan jas rapi berlogo Wahana group itu pun tampak berjingkat saat sesuatu yang mirip dengan sebuah jarum suntik tiba-tiba menancap di lekukan lehernya. Tak butuh waktu lama untuk membuat pengawal itu jatuh tersungkur dan akhirnya terbaring tak sadarkan diri.


Mayang yang didera panik dan bingung bergegas keluar dri mobil untuk melihat keadaan lelaki itu. Berjongkok, Mayang mencoba menyadarkan lelaki itu dengan mengguncang tubuhnya.


Namun tanpa sepengetahuan Mayang, tiba-tiba seseorang yang datang dari arah belakang berhasil membekap gadis itu dan menutup hidung Mayang menggunakan selembar sapu tangan. Mayang tal berhasil dalam upayanya memberontak hingga tubuh gadis itu melemah dan tak sadarkan diri.


* * *


Suara obrolan beberapa orang wanita yang terdengar menggema berhasil mengusik Mayang yang masih berada di bawah alam sadarnya. Meski matanya masih terasa berat untuk terbuka, namun telinganya yang masih normal tentu bisa menangkap dengan jelas dan mampu membedakan dan memahami suara yang ia dengar. Suara itu terasa asing saat menggema di rongga telinganya.


Rasa pusing yang mendera kepalanya pun menuntun tangannya bergerak untuk memijat pelipisnya. Tanpa ia duga sebuah benda keras terasa menempel di pelipisnya di susul pula suara wanita yang membuatnya terkejut hingga ia berjingkat.


"Bangun juga lo akhirnya!"


Baru saja membuka mata, Mayang sudah dibuat ketakutan oleh todongan pistol serta bentakan dari seorang gadis cantik dengan pakaian seksi dan terbuka yang melekat di tubuhnya.


Dengan satu lututnya berada di atas ranjang, gadis itu tengah mengintimidasi Mayang hingga dirinya tak bisa berkutik untuk melakukan perlawanan, bahkan nafasnya pun tiba-tiba terasa sesak.


Di dera rasa takut yang mendominasinya membuat tubuh Mayang begetar hebat. Sekelebat bayangan buruk pun menghantui pikirannya manakala sadar dirinya berada di bawah ancaman senjata mematikan yang bisa saja merenggut nyawanya hanya dalam satu tarikan pelatuk.

__ADS_1


Menelan slavinanya dengan susah payah, Mayang yang tersudut dan menghimpit pada sandaran ranjang berukuran king itu pun memberanikan diri untuk bertanya. "A-apa yang kau mau?"


"Guys!" Teriak gadis itu pada teman-temannya untuk meminta perhatian. "Dia nanya gue mau apa sama dia?!" Gelak tawa pun menggema memenuhi ruang kamar yang mirip dengan kamar hotel berbintang nan mewah. Dan kemudian beberapa wanita yang lainnya tampak mendekat dan mengelilingi Mayang yang terlihat ketakutan.


"Buruan lo ganti baju gih!" Seseorang melempar sebuah kain yang ternyata adalah lingerie tepat mengenai wajah Mayang. "Bentar lagi bos gue datang, dan sebelum itu lo harus sudah siap untuk melayaninya." Seringai di bibir gadis itu pun muncul saat Mayang terlihat terkejut.


"Bos?! Bos siapa yang kalian maksud?! Siapa yang menyuruh kalian menculik saya?!" Mengabaikan rentetan pertanyaan Mayang yang setengah berteriak, tiga gadis itu malah tertawa terbahak-bahak.


Gadis dengan pistol di tangannya itu pun kembali membidik Mayang dengan pistolnya. "Lo ikuti semua perintah gue kalau lo nggak ingin nyawa Lo yang hanya satu itu melayang di tangan gue." Desisnya dengan nada penuh ancaman.


Berada di bawah ancaman membuat Mayang tak memiliki pilihan lain. Ia hanya bisa pasrah saat gadis dengan riasan menor itu menarik lengannya dengan kasar agar Mayang bangkit dan beranjak dari tempatnya.


Masih menodongkan pistolnya, gadis itu menggiring Mayang melangkah menuju toilet agar membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang ia berikan.


Menghentikan langkah di ambang pintu, Mayang memberanikan diri menoleh pada gadis itu. Menatapnya dengan penuh keberanian meski tangannya yang gemetar meremas lingerie yang ia pegang, Mayang memaksakan bibirnya yang bergetar untuk bicara. "Kau tidak berniat untuk masuk dan melihat ku tanpa pakaian bukan?"


Gadis itu berdecak. "Kalau kau berpikir bisa kabur dari sini maka ketahuilah bahwa itu hanya mimpi." Ucapnya dengan nada ancaman.


"Bagus jika kau mengerti." Ucap gadis itu sambil menyandarkan bahunya pada tembok dengan kaki yang menyilang. Pandangannya tajam mengawasi Mayang yang melangkah masuk hingga tak nampak di balik pintu.


Di dalam toilet, Mayang segera mengunci pintu itu rapat dengan tangannya yang gemetar. Kaki yang bergetar tak mampu lagi untuk berpijak hingga tubuh lemas itu merosot bersandar pada pintu itu.


Mayang terisak dengan tangan meremas liontin pemberian sang suami. "Sayang tolong aku, aku takut ...." Lirihnya sambil mengecup liontin itu dengan penuh pengharapan.


Mayang mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Tak ada jendela ataupun sekedar ventilasi udara. Bahkan lubang tikus sekalipun. Sungguh tak ada celah untuk melarikan diri dari sana.


Entah di mana kini dirinya berada, Mayang benar-benar tak mengetahuinya. Membuatnya tidak sadar lalu membawa ke tempat asing, mereka benar-benar menggunakan cara yang licik untuk menculik Mayang. Sambil mendekap lututnya, ia hanya bisa tergugu pilu dalam kesendirian dan ketakutan.


Suara pintu yang tendang dari luar yang di susul teriakan ancaman gadis itu benar-benar mengejutkannya. Mayang bergegas bangkit dan melakukan perintah gadis itu demi keselamatannya.

__ADS_1


Dengan tubuh yang sudah berbalut kimono lingerie, Mayang membuka pintu toilet itu dan melangkah keluar menemui gadis dengan iris berwarna biru itu.


Seringai lebar penuh kepuasan muncul dari bibir gadis berambut pirang itu usai mengamati penampilan Mayang dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia memutar-mutar pistol di tangannya seolah itu hanya mainan anak-anak saja.


"Lo bisa dandan kan?!" Tanyanya kemudian dengan wajah tak bersahabat.


Menatap gadis itu dengan sorot tajam, Mayang lantas menggelengkan kepala. "Tidak." Jawabnya kemudian dengan datar. "Aku tidak perlu berdandan untuk lelaki lain selain suamiku."


"Kurang ajar." Geram gadis itu sembari menarik rambut panjang Mayang dan menjambaknya dengan kasar. "Lo berani melawan gue! Lo benar-benar ingin mati di tangan gue!" Bentaknya dengan nada yang arogan sembari lagi-lagi menggunakan senjata di tangannya untuk mengancam.


Dua gadis lainnya yang sebelumnya tampak duduk bersantai bergegas bangkit dan menghampiri keduanya setelah mendengar keributan.


"Bianca lepaskan dia!" Kata gadis yang mengenakan dress warna biru malam sambil berusaha melepaskan tangan Bianca yang mencengkeram rambut Mayang. Dan tanpa aba-aba, ia lantas merebut paksa pistol itu dari tangan Bianca. Terjadi tarik menarik saat berusaha memisahkan hingga membuat tubuh Mayang tersungkur dan terjatuh di lantai akibat Bianca yang dengan sengaja mendorongnya.


"Lo tau kan, sedikit saja tubuh gadis ini tergores maka kita yang akan mati!" Imbuhnya dengan nada memperingatkan.


"Habis gue kesel sama dia!" Umpat Bianca sembari menudingkan telunjuknya ke arah Mayang yang tengah bersimpuh di lantai. "Susah diajak kerja sama!"


"Biar gue yang urus." Sahut gadis lain yang mengenakan celana jeans berpadu dengan atasan cropped top serta dilengkapi dengan jaket kulit. Pakaiannya yang serba hitam semakin membuatnya semakin terlihat garang.


Namun ternyata gadis itu tak segarang penampilannya, sebab ia memperlakukan Mayang dengan baik saat membimbingnya menuju meja rias. Tangannya dengan cekatan segera bergerak memoles wajah Mayang yang hanya diam mematung tanpa perlawanan.


"Kau sangat beruntung karena terpilih menjadi wanita bos kami." Ucap gadis itu sambil menatap iri pada Mayang.


"Tapi aku tidak suka keberuntungan semacam ini." Mayang hanya menjawab dingin tanpa menoleh pada lawan bicaranya.


"Hemm, kau cadas juga." Gadis itu menggerakkan jemarinya membelai pipi Mayang yang sudah sempurna dengan riasan. "Pantas saja bos kami tergila-gila padamu."


"Siapa bos kalian?!" Desak Mayang sembari meraih tangan gadis itu dan meremasnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2