
Suara desahan nafas Mayang yang mulai terdengar lembut dan teratur membuat Brian meyakini bahwa sang istri sudah benar-benar pulas dalam buaian mimpi. Lelaki itu menundukkan kepala untuk memastikan bahwa sang istri sudah memejamkan matanya dengan rapat. Sambil tersenyum Brian menggerakkan tangannya menyentuh rambut sang istri yang menutupi wajah ayunya, lantas menyelipkannya ke belakang telinga.
Tak ingin mengulur waktu lebih lama, ia pun segera berusaha melepaskan tubuh sang istri yang menempel rapat pada tubuhnya. Dengan berhati-hati sekali ia merebahkan tubuh Mayang di sisinya dengan posisi senyaman mungkin. Brian segera bangkit dari posisi rebahannya, lantas terduduk.
Namun pergerakan yang ia timbulkan itu rupanya mengusik kenyamanan Mayang, hingga suara lenguhan pelan lolos dari bibir mungilnya, membuat Brian yang sudah hendak turun pun membeliak dan menoleh pada Mayang yang ia pikir sedang mengigau.
Namun Brian pun mengernyitkan keningnya saat di tatapnya sang istri yang tampak merintih sambil meringis seolah sedang menahan rasa sakit. Mendadak Brian merasakan desiran perih di ulu hati tatkala membayangkan rasa sakit yang kini dirasakan sang istri. Bahkan meski dalam keadaan tertidur pulas pun ia masih saja merasakan sakit.
Tersenyum getir, seketika tangan Brian pun terkepal kuat dan rahangnya pun mengeras menahan amarah saat wajah Alex tiba-tiba terlintas di kepalanya. Dengan kilatan penuh ancaman, ia benar-benar tak akan melepaskan siapapun yang mencoba menyakiti istrinya. Meski ia harus mencari dan memburu hingga ujung dunia sekalipun.
Meski dalam keadaan mata terpejam rapat, jemari lentik Mayang pun bergerak meraba-raba tempat kosong di sisinya seolah sedang mencari sesuatu di sana.
Tak ingin sang istri terbangun karena kehilangan dirinya, Tangan Brian semula terkepal pun seketika melemah dan segera meraih jemari Mayang lalu menggenggamnya dengan erat. Ringis di wajah Mayang pun memudar setelah menemukan sesuatu yang ia cari, dan dengan seenaknya Mayang pun menarik tangan Brian sambil merubah posisi baringnya menjadi miring dan menjadikan telapak tangan hangat sang suami sebagai alas pipi kirinya. Seolah menemukan kenyaman dari sesuatu yang ia jadikan ganjalan, gadis itu pun kembali terlelap dalam tidurnya.
Sontak saja hal itu membuat Brian menggeram kesal karena sang istri sudah berhasil membelenggunya. Namun ia juga merasa gemas melihat tingkah alamiah sang istri. Meski dalam keadaan terlelap pun sang istri seolah tak bisa jauh dari dirinya. Merasa bangga sebab sang istri benar-benar membutuhkan dirinya.
Rupanya kemesraan yang mereka bangun dan lewati selama ini menimbulkan candu tersendiri. Sebab Brian sendiri pun tak bisa berjauhan dari sang istri.
Namun misi besar untuk balas dendam yang sudah ia rancang sedemikian rupa membuat Brian harus mengesampingkan dan meninggalkan sang istri untuk sementara waktu.
Sejak nama Alex lah yang Billy sebut sebagai dalang atas penculikan sang istri, membuat Brian seolah kehabisan rasa yang disebut sabar. Nuraninya seketika menggelap karena dibutakan rasa dendam yang sejak dulu menggelayut di hatinya kini semakin memuncak.
Bagaikan pemantik yang menyulut ke dalam bara, kejahatan Alex kali ini benar-benar membuat api dendam di hati Brian semakin berkobar di dalam dada. Hingga tidak ada kata maaf untuk sebuah seorang penjahat seperti dia. Meski ia harus mengingkari janjinya terhadap sang istri.
Helaan nafas dalam lolos dari bibir Brian tatkala pandangannya tertuju kembali pada seonggok daging bernyawa yang terkulai lemas di hadapannya. Meskipun wajah ayu nya masih nampak begitu pucat, namun sedikitpun tak menutupi rona bahagia yang terpancar dari sana.
Gadis dengan wajah ceria, pandangannya yang teduh selalu berhasil membuai dirinya dalam kesejukkan. Memiliki kelembutan hati yang berhasil meluluh lantahkan pertahanan Brian dan memporak porandakan berbenteng keangkuhannya. Bahkan kehangatannya berhasil mencairkan batu es yang selama ini melingkup dan membelenggu hati Brian.
Kau selalu bisa membuat hatiku melunak saat aku didera amarah. Kau selalu bisa menyadarkanku saat aku bersalah. Kau juga selalu membangkitkan semangatku saat aku menyerah. Merangkul ku saat aku kalah. Berada disisi memasang badan saat aku dalam masalah. Selalu mencintai ku tanpa lelah. Meski aku selalu membuat mu susah. Sayang, maafkanlah suamimu ini yang begitu payah.
Menipiskan bibir, ibu jari Brian bergerak mengusap pipi sang istri penuh cinta.
Kau sangat menggemaskan, Sayang. Bahkan saat sedang tertidur pun wajahmu terlihat semakin manis saja. Batin Brian.
Merasa yakin sang istri sudah tertidur pulas, Brian pun kembali berusaha untuk kembali melepaskan diri. Dengan sangat hati-hati, ia mengangkat kepala Mayang dan kemudian menarik tangannya perlahan-lahan. Sembari menahan napas serta pikiran yang was-was, ia berusaha keras agar tidak mengusik lelapnya tidur sang istri.
Helaan napas lega pun lolos dari bibirnya setelah beberapa saat menunggu dan sang istri terlihat tak bereaksi. Ia pun memantapkan hati untuk segera pergi. Brian beringsut perlahan untuk turun dari ranjang yang ia tempati berdua dengan sang istri.
Sudah mengenakan sepatu dan berjalan mengendap-endap menuju pintu, tubuh Brian pun seketika membeku saat terdengar suara lemah memanggilnya dari belakang dengan sebutan sayang.
Ah sial! Kenapa ketahuan begini si! Geram Brian dalam hati.
Melepaskan tangannya dari pegangan pintu, Brian menoleh pada sang istri dengan senyuman secerah mentari menunjukkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.
"Ya Sayang," jawabnya sambil memutar tumit dan berbalik menghadap sang istri. "kau terbangun rupanya."
__ADS_1
"Ya," jawab Mayang lemah sambil meringis menahan sakit, Mayang berusaha bangun untuk duduk. "Mau pergi kemana?" Tanyanya penuh curiga.
"A-aku," terbata, Brian berpikir keras mencari-cari alasan. "Aku hanya ingin pergi ke kamar kecil sebentar, Sayang."
"Hah?" Mayang mengerjap beberapa kali untuk meyakinkan dirinya tidak sedang bermimpi. Meskipun baru saja terbangun, namun ia sudah benar-benar sadar dan bisa mengingat dengan jelas di mana letak pintu kamar kecil. Padahal jelas-jelas ia tadi melihat Brian sedang berjalan mengendap-endap seolah ingin pergi secara diam-diam. Entah mengapa gelagat aneh sang suami membuatnya merasa curiga.
"Kau benar-benar ingin pergi ke kamar kecil Sayang? Bukannya ingin pergi?" Tanyanya kemudian dengan tatapan penuh selidik.
"Iya. Aku tadinya mau ke kamar kecil, tapi terkejut saat kau panggil, bukannya ingin pergi Sayang ,,," bahasa tubuh Brian yang tampak serba salah semakin membuat Mayang yakin jika sang suami sedang berkilah.
Rupanya kau berusaha kabur ya, hemm kamu ketahuan Sayang,
"Sayang, kau salah pintu jika ingin pergi ke kamar kecil." Ucap Mayang polos namun penuh ketegasan.
"Benarkah?" Berlalagak tak tahu, Brian merutuki kebodohannya dalam hati. Menoleh pada pintu di belakangnya, ia tertawa kikuk sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Ah kau benar Sayang, ternyata aku salah pintu. Ah jangan-jangan aku bermimpi sambil berjalan." Ucapnya sambil berlalu menuju pintu kamar kecil yang sebenarnya, di ikuti tatapan penuh selidik sang istri.
Di dalam toilet, bukannya buang air Brian justru mengarahkan tinjuannya ke arah udara. Menggenggam kesal karena merasa bodoh di hadapan sang istri. Istrinya bukanlah gadis bodoh yang bisa begitu mudah percaya dengan kebohongan tak sempurna seperti yang ia buat.Seharusnya ia bisa lebih pintar untuk mencari alasan.
Brian benar-benar merasa payah. Ia memang tak cukup dalam urusan kebohongan. Bukannya membuat yang istri yakin, ia justru membuat istri merasa ilfil. Brian bisa menangkap kecurigaan yang tersirat dari tatapan sang istri saat bertanya tadi.
Mendesah kasar, Brian menghempaskan tubuhnya bersandar pada dinding. Ternyata membohongi istri itu benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Sampai-sampai ia merasa lemas karenanya.
Entah berapa lama Brian berada di dalam sana, hingga suara sang istri yang tiba-tiba terdengar memanggil membuatnya tersentak dari lamunan.
"Sayang, kenapa lama sekali? Apa kau tertidur di dalam sana? Kau tidak pingsan kan?" Suara Mayang terdengar khawatir saat memanggil.
Mengawasi Brian yang tengah melangkah mendekat padanya, Mayang tampak begitu khawatir. "Sayang sakit perut ya? Masuk angin?" Tanyanya sambil menyentuh perut Brian begitu sang suami sudah mendekapnya.
Brian menggeleng cepat. "Nggak kok." Jawabnya singkat, lalu tangannya pun bergerak mencubit gemas dagu sang istri.
"Oh," gumam Mayang lega. Namun sedetik kemudian mimik wajahnya pun terlihat berbeda saat menatap Brian. Ada sejejak kecurigaan yang tersirat di sana. Brian yang menangkap perubahan itu segera bergerak menangkup wajah sang istri.
"Terus kenapa lama-lama di kamar kecil?" Tanya Mayang penasaran sambil menahan bibir Brian yang sudah hampir menyentuh bibirnya.
Mendesah pelan, Brian tampak kesal saat gagal dalam upayanya. "Nggak lama kok, biasa aja." Brian menyentuh anakan rambut yang menghalangi wajah Mayang lalu menyelipkannya ke belakang telinga. "Segitu kangennya ya sama aku, baru di tinggal sebentar sudah kebingungan gitu?" Godanya dengan seringai nakal. Kemudian kembali berusaha menuntaskan hasratnya walau kembali menelan kegagalan, sebab sang istri lagi-lagi menghalaunya.
"Bukan gitu Sayang," jawab Mayang sambil meraih tangan nakal Brian yang sedang memainkan bibirnya. "Ku pikir kau tertidur di kamar kecil." Lanjut gadis yang mengenakan pakaian khusus pasien itu sembari nyengir.
"Mana mungkin Sayang," bantah Brian dengan diiringi gelak tawa. "Kau ini ada-ada saja."
"Kalau begitu temani aku ya," Mayang memasang wajah memelas. "Jangan pergi tinggalkan aku lagi ,,,," rengeknya manja sambil merangkul pinggang Brian yang tengah berdiri dan membenamkan wajahnya di dada sang suami.
Mengusap sayang rambut sang istri Brian pun berucap, "Iya Sayang, sekarang tidur ya. Ayo aku bantu kau berbaring." Melepaskan tangan sang istri yang melingkar di pinggangnya dan memindahkannya agar mengalung di lehernya. Ia membantu Mayang untuk berbaring dengan hati-hati. Tangan kanannya menyangga kepala sang istri dan menempatkannya tepat di bantal agar sang istri merasa nyaman.
"Masih sakit?" Tanta Brian khawatir saat Mayang tampak meringis menahan sakit. Dengan wajah kebingungan tangan Brian beegerak mengusap perut Mayang. "Apakah seperti ini bisa mengurangi rasa nyeri? Atau ku panggilkan dokter agar memeriksamu Sayang." Brian sudah mengulurkan tangan dan hampir menekan tombol untuk memanggil dokter jaga, namun Mayang menjangkau lengan Brian dan menariknya dengan gerakan lemah.
__ADS_1
"Sayang, tidak perlu. Aku baik-baik saja, okey ...."
"Tapi kau kesakitan ,,,!" Kekeuh Brian penuh kekhawatiran.
Melempar senyuman termanisnya, Mayang kembali meyakinkan. "Aku tidak apa-apa, sungguh."
"Berhenti mengatakan kau baik-baik saja. Katakan sakit jika memang sakit, Sayang. Aku akan menghukum diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu buruk padamu ...!"
Kalimat yang Brian ucapkan membuat Mayang hampir-hampir meneteskan air mata. Entah dia harus senang saat sang suami berucap dengan nada ancaman. Sebab ia tahu Brian tak pernah main-main dengan ucapannya, meskipun ia berucap dengan nada gurauan.
Di sentuhnya wajah sang suami yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. "Dan aku tidak akan membiarkan mu menyakiti dirimu sendiri, Sayang." Tegasnya sambil mendekatkan wajahnya pada sang suami.
Dan secara tiba-tiba Mayang menghadiahi kecupan panas di bibir Brian membuat lelaki itu membelalak kaget. Dan tanpa berpikir panjang, Brian pun memberikan serangan balik yang jauh lebih panas. Mencurahkan rasa cinta dan kasih sayang, keduanya begitu hanyut dalam kemesraan. Meski hanya sebatas ciuman setidaknya sudah menjadi obat kerinduan mereka yang seolah tak bertepi.
"Sayang, naik ke sini." Pinta Mayang manja usai mereka melepaskan panutannya.
"Hah?" Brian menautkan alis. "Sayang, kita tidak bisa melakukannya untuk sementara ini. Kau ini sedang sakit, kau ingat kan?"
"Ish, siapa yang minta melakukan itu?!" Bertanya ketus, Mayang memanyunkan bibirnya karena kesal.
"Lalu?"
"Tidur di sisi ku dan peluk aku. Aku tak bisa tidur tanpa mu ...!" Lagi-lagi Mayang merengek manja.
"Sayang, tidak bisa. Aku harus men,--"
"Tidak mau?! Kenapa?! Kau pasti ingin kabur dan meninggalkan ku bukan?!" Cecar Mayang dengan kalimat tuduhan, bahkan sebelum Brian selesai bicara. Gadis itu merajuk dan memalingkan wajahnya.
"Tidak, bukan begitu." Brian menangkup sisi wajah sang istri, dan memaksa untuk menatapnya. "Dengarkan aku dulu." Tegasnya dengan sedikit penekanan. "Gara-gara ciumanmu tadi milikku jadi menegang. Aku laki-laki normal, Sayang. Bagaimana jika aku tidak bisa mengendalikan diriku? Jangankan memelukmu, menyentuh ujung rambutmu saja sudah cukup membuatku begitu bernafsu Sayang ...!"
Tak menjawab namun Mayang malah memasang wajah kesal. Ia kembali membuang muka setelah sempat sekilas bersitatap dengan Brian.
"Sayang ,,, lihat aku." Brian menangkup wajah Mayang berusaha membujuk. Namun dengan begitu keras kepalanya Mayang menepis tangan Brian.
"Ini bukanlah keinginanku, Sayang. Tapi bayi kita yang mau! Apa kau tidak bisa menahan hasratmu sebentar saja untuk bayi kita?!"
Astaga, masih janin saja kau sudah begitu keras kepala Sayang, bagaimana sudah besar nanti? Gumam Brian dalam hati.
Menggertakkan gigi merasa jengkel, Brian berusaha menahan hasrat yang telah bergolak. Terlebih jika harus menyentuh tubuh sang istri tanpa bisa menyalurkannya. Meski setengah terpaksa namun Brian tetap menuruti keinginan sang istri. Ia segera naik ke ranjang dan berbaring di sisi kanan ranjang.
"Sini aku peluk." Brian merengkuh tubuh Mayang dan membenamkan nya kedalam dekapan. Menempatkan tubuh sang istri dengan posisi yang nyaman. Lantas dengan kelembutan ia mengusap rambut sang istri.
"Aku sudah berada dalam dekapan mu. Jadi, sekarang tidur lah, Sayang." Turur Brian sembari memejamkan mata.
Tersenyum puas, Mayang melingkarkan tangan kirinya di perut sang suami. Lantas berucap dengan nada lembut dan manja. "Mau di puk-puk sama dinyanyiin nina bobo juga."
__ADS_1
"Hah?!"
Bersambung