
"Aku tidak mau!" sahut Mayang dengan keras dan tiba-tiba seraya mengentakkan kepalanya ke samping dengan sengaja hingga membentur pada kepala Alex dengan keras. Kepala mereka beradu sangat keras, dan tentu saja mengakibatkan rasa sakit yang teramat bagi Mayang. Namun hanya itu yang bisa ia lakukan sebagai bentuk penolakan ketika anggota tubuh yang lain tak bisa berupaya.
Alex yang terkejut segera mengangkat kepalanya. Ia mengarahkan pandangannya pada Mayang penuh kekhawatiran. Gadis itu meringis seolah tengah menahan sakit, sementara sudut matanya tampak tetesan bulir bening mengalir di sana. Mayang menangis.
"Kau, kau menangis?" tanya Alex yang mulai panik. Tangannya bergerak meraba wajah dan kepala Mayang. "Di mana yang sakit, Sayang, di mana? Apa di sini?" tanyanya kemudian saat tangannya berhenti di tempat di mana Mayang membenturkan kepalanya.
"Berhenti bersikap seolah-olah kau baik terhadapku! Aku benci kamu! Aku benci!" Mayang berteriak di sela sedu sedannya. Istri Brian itu meraung penuh kebencian sambil menangis sejadi-jadinya.
Alex yang panik pun menjadi semakin panik. Ia menatap Mayang dengan ekspresi kebingungan. Ia lantas membelai lembut kepala Mayang itu penuh kasih sayang, seolah tengah menenangkan wanita itu dari kesakitan.
"Berhenti Alex! Enyahkan tanganmu dari kepalaku! Aku muak melihatmu!" Mayang berteriak dan menatap Alex dengan sinis. Ia diam sejenak, seolah tengah mempersiapkan diri sebelum mengatakan suatu hal. Ia sudah terhimpit dan tak bisa bergerak, maka hanya ada satu harapan terakhirnya untuk melindungi diri. Menelan salivanya berat, ia pun kemudian berucap, "Jika kau ingin membebaskan ku dari kesakitan, maka beranjaklah dari sana dan biarkan aku bebas! Kau menindih perutku, Alex, kau melukai bayiku!"
Alex seketika terperangah. Ia mengerutkan keningnya hingga membentuk beberapa lapisan, kemudian menatap Mayang dengan penuh tanda tanya.
"Ya, aku hamil, Alex. Aku hamil! Di perutku ini telah bersemayam buah cinta kami. Buah cintaku dengan suamiku!" Mayang berteriak di depan wajah Alex seolah tahu apa yang sedang dipikirkan lelaki itu.
__ADS_1
Bagai petir di siang bolong saat Alex mendengarkan pengakuan mengejutkan Mayang itu. Ia sontak menggulingkan tubuhnya dari atas tubuh Mayang dan terduduk dengan wajah pucat di sisi istri Brian itu.
Lelaki itu didera keterkejutan yang luar biasa. Tak disangkanya pernikahan Brian dan Mayang telah menghasilkan janin di perut Mayang. Wajah putih itu seketika memerah padam, memancarkan hawa panas penuh kemarahan.
Tangannya mengepal kuat, sementara rahangnya pun mengetat. Dadanya naik turun dengan napas terengah-engah. Perasaan kecewa, benci dan cemburu berkecamuk jadi satu. Ia terlihat frustasi seolah tak memiliki harapan lagi.
Mayang bergerak perlahan bangkit dari pembaringan. Ia tampak meringis seolah tengah menahan rasa nyeri yang sejak tadi telah menjalari. Tangannya tampak memegangi perutnya yang setengah membuncit hingga ia terduduk dengan punggung bersandar kepala ranjang.
Menatap ekspresi Mayang itu, entah mengapa rasa iba kembali merasuki pikiran Alex. Ia tak tega melihat Mayang kesakitan. Ia tak bisa melihat Mayang terluka dan meneteskan air mata.
Tiba-tiba dadanya terasa sesak, seolah sesuatu tak kasat mata telah meremas jantungnya di dalam sana. Tanpa disadari, riak-riak bening tampak melapisi manik mata hitam itu dan hampir-hampir meluap dari kelopaknya.
"Jangan dekati aku. Jangan sentuh aku," lirih Mayang penuh permohonan seraya memejamkan mata. Bulir bening pun masih tampak menetes membasahi pipinya.
Seketika Alex menarik tangannya yang sudah setengah terulur lantas mengepalkan jemarinya penuh kekecewaan. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti keinginan Mayang sebagai bentuk rasa cintanya.
__ADS_1
"Biar kupanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu." Alex berucap penuh kesungguhan.
"Aku tidak butuh dokter. Aku hanya butuh suamiku!" balas Mayang penuh penekanan.
Mendengar nama itu kembali disebut membuat Alex terpicu kemarahan. Ia menggemertakkan giginya jengkel dengan amarah yang kembali membuncah. "Jangan sebut lagi nama itu di depanku!" teriaknya kemudian.
"Memangnya kenapa! Dia suamiku, jadi tidak ada salahnya meski aku menyebutkannya hingga ribuan kali." Mayang memberanikan diri berucap dengan sisa-sisa keberanian yang dimilikinya.
"Mulai sekarang, biasakan diri untuk tidak menyebutnya. Mulailah belajar untuk melupakannya karena aku yang akan menggantikan peran Brian menjadi suami serta ayah dari bayimu." Alex berucap tenang penuh kesungguhan dan bernada memaksa. Matanya menatap Mayang begitu lekat dan penuh tuntutan.
"Kau benar-benar gila," desis Mayang sambil menggelengkan kepalanya.
Alex yang baru akan membuka mulut untuk berbicara, harus terhenti saat mendengar suara ketukan pintu yang berasal dari luar sana. Kedua orang itu lantas menoleh ke arah pintu secara bersamaan dengan ekspresi penuh tanda tanya.
Alex mengusap wajahnya kasar karena kesal. Entah siapa yang berani mengganggunya di saat sedang tegang seperti ini. Padahal selama ini seluruh anak buahnya tak pernah membantah apapun perintahnya. Lalu kenapa ada orang yang berani mengetuk pintu dan mengganggu dirinya.
__ADS_1
Namun karena rasa penasarannya, iapun segera bangkit dan bergegas mengayinkan langkahnya menuju pintu berniat untuk membukanya.
Bersambung