
Milly masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Dengan napas terengah-engah, ia kemudian menyandarkan tubuhnya pada daun pintu itu.
"Ah, sial. Kenapa jantungku berdebar-debar seperti ini?" desahnya pelan sambil berulang kali membenturkan belakang kepalanya pada pintu. Ia kemudian memejamkan mata agar hatinya merasa sedikit lebih tenang.
Baru juga sebentar ingin istirahat, tiba-tiba ia dikejutkan oleh dering ponselnya hingga tubuh mungil itu berjingkat.
Buru-buru gadis itu mengambil ponsel dari nakas untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"Ibu?" gumamnya bertanya-tanya. Gadis itu mengernyitkan kening seolah-olah sedang berpikir. "Untuk apa Ibu meneleponku? Biasanya juga tinggal teriak kalau lagi perlu. Ah, daripada penasaran, bukankah lebih baik aku angkat."
Milly menggeser icon warna biru di ponselnya, lalu mendekatkan pada telinga. "Iya, Bu. Ada apa?"
"Ibu cuma mau bilang, yang akur dengan suamimu, ya. Layani dia dengan baik. Ibu dan Ayah sedang ada urusan," tutur Laksmi dari seberang telepon.
Milly sontak membulatkan mata. "Ada urusan? Urusan apa, Ibu ... kenapa mendadak begini!"
"Ayah mengajak Ibu untuk nengok pabrik. Awas ya, kalau sampai kamu memperlakukan dia dengan buruk--"
"Apa?" Milly memotong ucapan ibunya. "Ibu akan menghukumku dengan apa?"
"Ibu akan pecat kamu jadi anak."
"Apa!" teriak Milly penuh keterkejutan. "Kenapa Ibu jadi galak gini, sih? Sejak kapan Ibu jadi begini? Bukannya kemarin sampai sakit-sakitan gara-gara aku tinggalkan? Tapi sekarang seenaknya mau main pecat-pecat anak!"
__ADS_1
"Sejak Ibu punya putra bernama Billy ... hahaha!" Suara gelak tawa membahana di ujung sana, sebelum kemudian berganti dengan suara putus sambungan.
"Bb-Bu ... Ibu!" Milly berteriak-teriak dengan mimik kesal, lantas mengguncang-guncang ponselnya seperti hendak melemparkan. Namun karena mengingat itu adalah ponsel baru, akhirnya niat itupun urung Milly lakukan. Sayang kalau sampai rusak, batinnya.
Milly menyeret langkahnya menuju ranjang, lalu mengempaskan tubuhnya di sana. Ia kemudian menggeletakkan ponselnya di kasur begitu saja. Gadis bersurai panjang lantas mendengkus.
"Kenapa tingkah Ibu mendadak aneh begini? Sejak kapan pula jadi ikut-ikut Ayah pergi ke pabrik. Biasanya juga lebih milih diam di rumah. Masa iya pakai ngancam aku mau dipecat jadi anak. Ini pemaksaan namanya. Mana mungkin aku milih dipecat, sedangkan keluarga lain tidak punya. Suami juga tidak jelas begini. Kalau aku nekad membangkang, lalu nanti aku akan ikut siapa? Dihapus dari kartu keluarga, ditinggalkan suami, pula." Tiba-tiba Milly jadi bergidik ngeri membayangkan hal itu.
Tak ingin yang menghantuinya menjadi nyata, ia lantas segera bangun dan merapikan penampilan. "Oke, aku akan menemaninya. Tapi ini demi masih tercantumnya namaku di kartu keluarga, dan bukan demi dia." Milly berucap penuh tekad.
Setelah berkeliling rumah guna mencari sosok suaminya, pada akhirnya Milly menemukan Billy tengah berdiri di sisi kanan rumah itu. Sambil bersedekap dada, entah apa yang pria itu lakukan dengan diam berdiri di sana.
Kasihan juga. Bagaimanapun dia adalah tamu, masa iya dibiarkan sendirian seperti itu. Aku benar-benar tidak punya etika sebagai tuan rumah, sesal Milly dalam hati.
Diam sejenak, Milly lantas berdehem kecil. "Apa yang sedang Bapak lakukan di sini?" tanyanya kemudian berlagak penasaran. Padahal hanya untuk basa-basi saja, daripada tidak ada yang bisa dibicarakan.
Masih dalam posisinya, Billy hanya melirik sedikit ke arah Milly. "Memang yang kau lihat aku ini sedang apa? Mungkinkah sedang tertidur sambil berdiri. Atau bermimpi jalan kaki sampai kemari?"
Sial. Milly mendengkus kesal sambil memalingkan muka. Aku sudah bertanya baik-baik, malah jawabannya seperti itu. Kalau begitu, kutarik lagi kata-kataku tadi. Menyesal kubilang diri ini nggak ada etika sebagai tuan rumah. Nyatanya dia yang tidak ada etika sebagai tamu di rumah orang. Benar-benar menyebalkan.
Hendak beranjak dari sana, tapi tangan Milly tertahan oleh cekalan tangan Billy, hingga mau tak mau ia pun berhenti.
"Mau ke mana?" tanya Billy tanpa melepaskan cengkeramannya, meskipun Milly menatapnya tajam penuh peringatan.
__ADS_1
"Bukan urusan Bapak," jawab Milly dengan nada sinis. Gadis itu menggerakkan tangannya berusaha melepaskan diri. Namun ia merasa kesulitan, sebab Billy tampaknya masih betah menggenggamnya. "Tolong lepaskan saya! Anda sebagai tamu harusnya bersikap sopan terhadap tuan rumah!"
"Apa?" Billy menyipitkan mata sambil mencondongkan telinganya ke arah Milly, seolah-olah tak mendengar apa yang baru saja istrinya katakan. "Bisa kau ulangi lagi? Aku tak bisa mendengarnya dengan jelas kata-katamu tadi," pintanya seraya menggosok-gosok daun telinga.
"Apa anda tuli? Saya minta, sebagai tamu seharusnya anda bersikap sopan terhadap tuan rumah!" teriak Milly tepat di telinga Billy. Nampak jahat sekali memang, sebab ia bisa saja merusak gendang telinga paling berharga sekretaris Wahana Group itu, sebab lelaki itu sontak berjingkat lalu mengusap-usap telinganya yang mendadak pengang. Tapi ini Milly lakukan demi harga dirinya sendiri.
"Apa aku tidak salah dengar? Hey Nona," Billy menarik pinggang Milly hingga bagian depan tubuh mereka saling merapat. "Sepertinya kau tidak tahu siapa di sini yang notabenenya sebagai tamu."
Milly terkesiap. Entah bagaimana bisa ia melupakan jika nasip rumah serta pabrik Ayahnya kemarin berada di ujung tanduk. Lalu sekarang ia bahkan bisa bersikap tenang dan nyaman di rumah ini seolah-olah tak terjadi apa-apa. Lalu bagaimana kelanjutan ceritanya ya? Bagaimana bisa ia tidak tahu apa-apa. Padahal ia sudah mempersiapkan diri untuk angkat kaki.
"Mm-maksud Bapak?"
Billy menunjukkan seringainya. "Sekarang aku adalah pemilik sah rumah ini. Jadi, jangan sekali-kali mengacuhkanku jika tidak ingin aku melemparmu," desisnya penuh ancaman dengan nada lambat-lambat, tepat di telinga Milly.
Lagi-lagi gadis itu terkesiap. Seketika wajahnya memerah padam. Tertunduk sambil menggigit bibir bawah, lalu membuang muka untuk menyembunyikan wajahnya yang gusar.
Bersambung
______________________________________________
Guys, baca juga karya aku yang lain ya, selagi nunggu Brian sama Billy up. Tinggal sentuh ava aku. Ceritanya dijamin seru kok,
"Ih, seru kata siapa?" Pasti kalian pada bilang gini.
__ADS_1
Ya aku jawab, "kata aku, lah"😂😂😂