
Billy membawa tubuh berkeringatnya menuju kamar Milly. Begitu pula dengan sang mertua lelakinya. Keduanya berpisah usai kembali dari lari santai tadi untuk membersihkan diri masing-masing.
Keceriaan tampak menghiasi wajah dua pria itu. Entah apa yang mereka perbincangkan saat kebersamaan keduanya tadi, yang jelas pembicaraan itu berimbas baik pada kedekatan mereka.
Billy membuka pintu kamar itu dengan perlahan. Pertama-tama hanya kepalanya yang menyembul masuk, lantas menoleh ke kanan dan kiri untuk menyisir keadaan seluruh ruangan.
Tak ada pergerakan apapun di sana. Dan pria itu hanya menggeleng samar sambil tersenyum heran. Pasalnya sang istri tercinta masih begitu nyaman bergulung di bawah selimut.
Billy melangkah mendekati ranjang dengan pelan, lantas berdiri tepat di sisi Milly dengan posisi tubuh tegap. Pria itu bersedekap dada selagi memindai sosok Milly yang tampak masih pulas. Meski rambutnya berantakan, namun wajah gadis itu tetap saja sedap untuk dipandang.
Berbalik badan, saudara Brian itu lantas membuka gorden di belakangnya. Menyibaknya dengan hati-hati dan menyisakan kain tirai tipis pelapis gorden itu.
Ia membiarkan cahaya matahari masuk melalui jendela, menerobos menembus tirai dan menerpa langsung wajah istrinya. Gerah badan yang semakin terasa tidak nyaman membuatnya bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Entah beberapa lama Billy berada di dalam sana, hingga pria itu keluar dengan keadaan sudah rapi.
Ia berhenti di depan pintu, dan hanya bisa geleng kepala menatap tubuh istrinya yang masih terlelap.
Tak lama kemudian, tubuh mungil yang masih meringkuk itu mulai menunjukkan pergerakannya. Meski masih terpejam, tapi kening gadis itu mulai berkerut hingga membentuk beberapa lapisan saat cahaya matahari menerpa langsung ke wajahnya.
Bukannya bangun, ia malah tarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh. Tapi tak lama kemudian gadis itu nampak bergolek ke kiri dan kanan, menggeliat untuk meregangkan otot sebelum kemudian Milly menyibak selimutnya hingga sebatas pinggang.
Entah apa yang dipikirkan gadis itu, Milly bahkan bicara sendiri usai terseyum kepada Billy. Apa ia belum benar-benar bangun, hingga kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya. Sampai-sampai menganggap sosok Billy itu hanyalah sebuah bayangan saja.
Tak hanya sampai di situ saja. Milly malah kembali menarik selimut, lalu berguling-guling dan cekikikan di bawah sana.
Billy berdecak sambil geleng kepala, lantas menepuk dahi sendiri berulang-ulang sebelum kemudian beranjak pergi dari kamar.
Saat berjalan menuruni anak tangga, Billy berpapasan dengan mertua wanitanya yang sedang berjalan menuju entah kemana.
Wanita paruh baya itu menghentikan langkah dan menatap Billy dengan kening yang berkerut. "Milly mana? Apa dia belum bangun?" tanyanya sambil celingukan mencari sosok putrinya.
Billy terseyum lalu menggeleng samar. "Sudah, Bu. Tapi dia masih belum mau beranjak dari kasur."
"Ah, anak itu." Laksmi menggeram kesal pada putrinya. Sesaat kemudian matanya tampak berbinar, dan melirik Billy dengan sorot penuh arti. "Apa karena dia masih kelelahan akibat semalam?"
"Hah?" Billy mengernyitkan dahi. Jujur, ia tak mengerti dengan kelelahan yang dimaksudkan ibu mertuanya.
"Kenapa malah bingung? Bukankah kalian sudah melakukannya semalaman?"
Billy semakin tak mengerti. Seingatnya, semalam sang istri justru tidur seperti mati, lalu apa yang telah mereka lakukan?
"Baik, Ibu mengerti." Laksmi menyela Billy yang hampir saja membuka mulut untuk menjelaskan. "Ayah ada di taman belakang, jika kau ingin menemuinya," lanjutnya sambil menunjuk ke suatu arah.
Billy terseyum samar lalu mengangguk penuh wibawa. "Baik, Bu. Saya akan menemuinya."
Laksmi mengekori langkah menantunya melalui pandangan hingga menghilang di balik pintu. Wanita itu mendesah pelan lalu menggeleng heran.
"Milly benar-benar keterlaluan. Masa iya jam segini masih di atas kasur sementara suaminya sudah rapi begitu. Kita lihat ya, Ibu guyur, kalau kamu belum bangun juga," geram wanita itu sambil menyingsingkan lengan bajunya selagi berjalan ke arah kamar Milly.
__ADS_1
Namun, Laksmi yang geram itu langsung kembali melembut saat tak lagi mendapati putrinya di atas ranjang. Suara gemercik air di kamar mandi itu membuatnya yakin jika Milly tengah mandi. Laksmi pun menghela napas lega, lantas beranjak pergi meninggalkan kamar itu.
***
"Sudah selesai, mandinya?" Laksmi menyambut kedatangan Milly di dapur dengan sebuah pertanyaan. Wanita itu sedang mengaduk sayur, lantas mencicipi kuahnya dengan menggunakan sendok kecil.
"He'emm." Gadis itu mengangguk selagi melangkah mendekati Laksmi. Berdiri di sisi ibunya, Milly lantas melongok menatap isi wajan. "Masak apa, Bu?"
"Makanan kesukaan suamimu apa?" Mengabaikan pertanyaan Milly, Laksmi justru balik bertanya.
"Suami?" Alis Milly bertaut bingung selagi menggumam. "Maksud Ibu?"
Seketika Laksmi menoleh dan menatap Milly dengan wajah heran. "Di tanya kok malah balik nanya, sih?" Laksmi mendesah pelan, lantas menepuk lembut bahu putrinya. "Ibu tinggal dulu sebentar, ya. Nanti kalau sayurnya mendidih, matikan kompornya."
Laksmi lantas pergi meninggalkan dapur setelah Milly menganggukkan kepala. Milly sendiri tampak mengikuti langkah Ibunya melalui pandangan, lantas terbengong di sana sambil berpikir dengan tubuh bersandar pada meja pantry, dan tangan berpegangan pada tepian meja.
"Kok Ibu nanyain tentang makanan kesukaan suami sama aku? Bukannya yang punya suami itu dia?" gumamnya heran.
"Ah sudahlah. Makin dipikirin bikin aku makin pusing." Milly mengibas tangannya berusaha mengabaikan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya. Ia berbalik badan untuk melihat isi wajan. Kebetulan, sayur itu sudah mendidih. Dan sesuai pesanan ibunya, gadis itu mematikan kompor kemudian menuang sayur ke dalam mangkuk besar.
Sambil berjalan menuju meja makan, ia menghirup aroma sedap dari sayur itu sambil memejamkan mata lalu tersenyum. "Ibu kalau urusan masak memang the best, deh. Rasanya pasti enak banget. Apa lagi dibumbui dengan cinta. Nggak tanggung-tanggung lho, bahkan ngiris wortelnya aja di bentuk lope-lope biar semakin menjiwai. Tapi kok tumben amat, ya?" gumam Milly pelan sambil mengernyitkan dahinya.
Rupanya Laksmi tengah berada di ruang makan dan sedang menyiapkan peralatan makan. Wanita paruh baya itu tersenyum melihat kedatangan putrinya, lantas segera menyambut mangkuk sayur itu.
Milly menarik salah satu kursi lalu duduk dan memperhatikan dengan seksama bagaimana sang ibu mengatur meja makan itu hingga sedemikian rupa. Bermacam-macam makanan serta lauk yang sudah tersaji di meja di hari yang masih sebegitu pagi. Padahal sebelumnya tak pernah seperti ini.
"Bu," lirih Milly sambil menatap ibunya. Sementara sang ibu hanya menyahuti dengan gumaman tanpa menghentikan gerakan tangannya yang masih menuangkan air putih ke dalam masing-masing gelas.
Laksmi langsung menoleh dan menatap heran pada putrinya. "Maksud kamu?"
"Hidangan pagi ini terlalu banyak untuk kita makan bertiga. Ini tidak seperti biasanya. Apa Ibu sengaja masak banyak untuk perayaan?"
"Bertiga kau bilang?"
"Iya, kan?"
Laksmi mendesah lalu menggeleng heran. "Kau pikir siapa yang sudah mengantarmu pulang sampai menidurkanmu di atas ranjang?" Laksmi menggeleng tak percaya melihat putrinya yang masih terbengong kebingungan. Wanita itu lalu pergi meninggalkan Milly di sana.
Milly sontak membulatkan mata, lalu menepuk jidatnya. Benar juga. Bagaimana aku bisa melupakan hal itu? Yang kuingat Pak Billy mengantarku pulang setelah turun dari atap gedung. Tapi setelah itu aku tidak ingat apapun lagi. Astaga. Apa yang sudah terjadi? Milly memijat pelipisnya yang seketika terasa pening. Gadis itu bertopang dagu sambil berusaha mengingat-ingat lagi kejadian yang sudah terjadi.
Milly mengelengkan kepala lalu menangkup wajahnya. Sekeras apapun berusaha mengingatnya, ia tetap tidak bisa. Yang ia tahu, semalam hanya bermimpi berpelukan di bawah selimut dengan Billy. Tapi itu kan cuma mimpi. Meskipun ia merasa hal itu seperti nyata. Andai itu benar-benar terjadi, tentu ia akan malu sendiri.
Masih dalam keadaan setengah melamun, Milly meraih gelas yang terletak di sebelah kanan sebelum kemudian meminumnya. Ia memain-mainkan gelas di tangan dengan pipi menggembung menampung air. Masih dengan pikiran yang melanglang buana entah kemana.
Tiba-tiba saja sebuah pergerakan yang datangnya dari arah belakang berhasil membuat gadis itu terusik. Milly tertegun sambil menatap sebuah lengan yang menempel di tepian meja, sedangkan tubuh bagian belakangnya merasakan hangat saat seseorang yang entah siapa itu merapatkan diri dari belakang dengan begitu lancangnya.
Kurang ajar. Siapa yang berani memelukku dari belakang! batin Milly geram. Ia sontak bangkit dan berbalik badan dengan ekspresi marah bukan kepalang. Sampai-sampai gigi taring serta tanduk di kepalanya hampir saja keluar.
__ADS_1
Namun pemandangan yang tersaji di depannya justru lebih mencengangkan. Wajah tampan yang belakangan ini selalu hadir dalam mimpi kini bahkan tersaji nyata di depan mata. Bahkan begitu dekat dengan wajahnya.
Karena saking terkejutnya, Milly bahkan membelalakkan mata. Ia bahkan berteriak memanggil sang ibu dan melupakan tampungan air di dalam mulutnya. Alhasil, bukanlah suara teriakan yang keluar dari mulutnya, melainkan semburan air bah yang langsung mengenai wajah sang suami.
Milly sontak membungkam mulutnya yang ternganga, sementara Billy sedikit memalingkan wajahnya yang basah sambil menatap Milly dengan mata terpejam sebelah.
Di saat bersamaan, Laksmi muncul dari dapur dan tanpa sengaja menyaksikan putrinya yang mendadak berubah menjadi naga air dan menyemburkan bisanya pada Billy. Sontak saja wanita paruh baya itu tak terima putrinya berlaku kurang ajar pada suaminya.
"Milly!" teriaknya sambil melotot menatap sang putri. Ia lantas tergopoh mendekati dan menaruh piring yang ia pegang ke atas meja. Berdiri mengambil posisi di tengah-tengah, ia lantas memegangi wajah basah Billy dengan penuh sesal. "Ya, Tuhan, apa yang terjadi dengan menantu Ibu. Wajahmu jadi basah begini, Nak," gumamnya dengan nada tak enak hati. Lantas segera meraih tisu sebelum kemudian mengusapkannya pada wajah Billy. Dan anehnya pria itu justru terlihat senang mendapatkan perhatian dari Laksmi. Billy bahkan membiarkan sang mertua menyentuh wajahnya, bahkan senyum-senyum sambil mencondongkan wajah.
Sontak saja Milly tercengang. Bukankah kemarin sang ibu masih membenci suami sirinya, lalu kenapa hari ini mendadak baik sudah seperti ibu kandung saja? Aneh, mantra apa yang ia gunakan, hingga semudah itu membalikkan hati seseorang?
"Milly."
Milly langsung berjingkat saat mendengar sang ibu memanggilnya dengan nada tak biasa. Bahkan tatapannya terarah begitu tajam seolah sedang memberi peringatan. Salah aku apa? batinnya.
"Apa yang kau lakukan pada menantu kesayangan Ibu?" tanya Laksmi masih dengan tatapan memperingatkan.
Seolah baru tersadar, Milly langsung menggeleng cepat sambil mengibaskan tangannya. Ekspresinya juga masih terlihat tegang seolah-olah belum bisa menelaah kejadian di luar perkiraannya. "Enggak, Bu ... Milly nggak sengaja ...."
"Nggak sengaja bagaimana? Orang tadi Ibu lihat waktu kamu nyembur suamimu pakai air dari mulut, kok. Kamu pengen jadi dukun, sampai-sampai bela-belain belajar nyembur?"
Milly tertunduk sambil memberengut malu. Ia hanya bisa diam tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia benar-benar kehilangan muka di depan suaminya. Mana kutahu kalau ternyata yang memeluk dari belakang tadi dia. Coba bilang-bilang, aku pasti akan menyerahkan diriku dengan hati senang, oops.
Laksmi mendesah pelan melihat Milly yang masih terlihat gusar. Ia kemudian mencolek lembut pipi putrinya untuk menarik perhatian. "Cepat minta maaf sama suamimu," tuturnya dengan nada memerintah.
Milly mendongakkan kepala untuk menatap sang ibu. Menggeser pandangan pada Billy sebentar, lalu kemudian kembali tertunduk dalam.
Laksmi menggeleng pelan sambil tersenyum samar. Ia sebenarnya tahu jika Milly tak sengaja. Ia sengaja bersikap seperti itu untuk mencairkan suasana. Beralih mendongak menatap Billy, wanita paruh baya itu tersenyum manis lalu menepuk pelan bahu menantunya. "Maafkan putri Ibu, ya," ucapnya kemudian. "Dia memang begitu kalau lihat pria tampan. Suka nggak bisa nahan ..." lanjutnya dengan nada bercanda lalu pergi meninggalkan keduanya setelah Billy menganggukkan kepala dan terseyum.
Hanya tinggal berdua namun keadaan masih hening saja. Milly asik menunduk dan sibuk bergulat dengan pikirannya, sementara Billy sibuk mengamati istrinya sambil bersedekap dada.
"Ehemm!" Deheman keras Billy berhasil menarik perhatian Milly. Gadis itu langsung mendongak menatap dirinya. "Seperti kau memang suka sekali menjadi manekin, ya," sindirnya kemudian sambil mengalihkan pandangannya.
"Manekin? Mm-maksud Bapak?" tanya Milly dengan suara terbata. Terang saja ia tak mengerti lelaki itu mengatainya seperti itu.
"Kau seperti boneka baju yang di pajang toko-toko itu."
Mill sontak merengut tak terima Billy mengatainya. Ia menghela napas berat lalu kembali menundukkan kepala.
"Mau sampai kapan kau akan mematung seperti itu setelah jadi naga?" sindir Billy lagi dengan ketus sambil melirik pada isterinya. "Lihat diriku yang basah ini karena ulahmu tadi. Untung, cinta!"
Hah! Milly sontak mengangkat pandangannya dan menatap Billy yang tengah menatapnya juga. Ada yang langsung berbinar di sana. Mata Milly tentunya. Wajah gadis itu langsung merona begitu saja. Bahkan tubuhnya terasa ringan seperti sedang mengambang.
Apa yang dia katakan tadi? Aku tidak salah dengar, kan? Milly menatap Billy dengan penuh isyarat. Sementara yang ditatap justru mendesah kasar lalu memutar bola mata malas. Sialan. Apa dia cuma mengerjaiku saja? Aaaaa, bisa katakan sekali lagi tidak? Plis .... Milly menatap Billy dengan penuh harap sambil menggigit bibir bawahnya. Aku ingin mendengarnya lagi! Aku ingin mendengarnya lagi ...! Huaaaaa, aku ingin mendengarnya lagi ...!
Bersambung
__ADS_1
๐น๐น๐น
Maaf aku up nya kelamaan ya, kesibukan ku di dunia nyata terlalu banyak๐ญ๐ญ๐ญ tapi cuma aku liatin aja๐๐๐