Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Patah hati


__ADS_3

Mayang duduk di sofa sembari menunggu Brian yang tengah berendam di kamar mandi. Sedikit putus asa karena usaha keras yang ia lakukan seharian ini tak berhasil, namun tak membuatnya menyerah begitu saja.


Di raihnya ponselnya yang tergeletak di meja, lalu di bukanya satu aplikasi di ponselnya. Si mbah yang super tahu, di ketik nya 'seribu satu cara mendapatkan hati suami kembali', lalu berputar lah mesin pencarian dan muncul lah beberapa pilihan.


Mayang tersenyum saat membaca tulisan yang muncul di layar ponselnya. Dia telah memilih satu cara yang akan ia praktek kan malam ini.


Pintu terdengar di buka dari dalam. Brian muncul dengan piyama tidurnya. Dia masih terlihat acuh, tak membalas senyum yang Mayang lemparkan dan mengabaikannya begitu saja sembari melangkah menuju ranjang.


"Sayang sudah mau tidur?" Tanya Mayang pelan sembari mengekori langkah sang suami dengan pandangannya.


"Belum. Mau nonton bola di TV sebentar." Jawab Brian singkat dan tanpa senyum keramahan. Sudah mirip sebongkah es batu saja, namun Mayang berusaha mengabaikan. Karena ini salahnya.


Di pandangi nya dang suami yang tengah mengangkat kaki untuk naik ke ranjang. Tangan nya bergerak meraih remote control di nakas dan menekan tombol sehingga layar kaca berukuran lebar yang menempel di dinding itu pun menyala.


Brian tersenyum saat latar kaca itu menyajikan siaran langsung pertandingan sepak bola. Dia memang berubah, di bukan lah Brian yang ia kenal kemarin.


Jika sebelumnya Brian tak pernah ingin melewatkan waktu berlalu tanpa Mayang, kini ia bahkan sama sekali tak mempedulikan keberadaan istrinya itu.


Namun Mayang tak ingin menyerah begitu saja. Ia ingin merebut kembali kasih sayang itu dari Brian. Mengembalikan lagi kehangatan nya. Dan memaksa lelaki itu kembali mencintainya.


Mayang bangkit dari duduk lalu mengayunkan langkahnya menuju pintu ruang pakaian dan masuk kedalam nya. Hal yang tanpa ia sadari, ternyata Brian mengiringi langkah nya dengan pandangan matanya yang nampak sedih tanpa di buat - buat hingga istrinya menghilang di balik pintu.


Selang beberapa lama Mayang pun keluar dengan mengenakan lingerie dua lapis berwarna merah. Bahan kain tidak transparan namun sangat nyaman di pakai di badan.


Mayang mengayunkan langkahnya menuju meja rias. Di ambil nya salah satu botol lotion yang berjejer di sana. Ia mengangkat satu kakinya dan menaruhnya do atas kursi rias.


Di tuang nya lotion itu di telapak tangan dan mengusapnya dengan lembut ke seluruh permukaan kulit kaki dengan paha putihnya yang terlihat jelas. Sambil di liriknya sang suami yang tampak tak mengalihkan pandangannya sama sekali dari layar TV.


"Sayang, siapa yang menang?" Mayang pura - pura bertanya untuk memancing sang suami agar menggerakkan lehernya untuk menoleh sedikit saja kearahnya.


Sembari kembali mengoleskan lotion itu lagi hingga kakinya yang sudah menggunakan lotion tampak terlihat klimis dan licin akibat pemakaian lotion yang berulang - ulang namun Brian tak kunjung menoleh juga.


Brian malah menyuruhnya melihat skor pertandingan itu sendiri dari layar Televisi.


Gumam - gumam kesal Mayang jadinya, mata nya pun melirik tajam penuh ancaman terhadap suaminya.


Mayang melangkah menuju ranjang dan duduk tepat di depan Brian. "Sayang bisa oleskan lotion ini ke punggungku?" Mayang menurunkan lapisan luar lingerie nya merosot dan tersangkut di lengan nya, sehingga memperlihatkan punggung putih nya. " Aku tak sampai."


Brian yang merasa terusik karena tubuh Mayang yang menghalangi pandangan nya menonton TV pun bereaksi tak suka.


"Minggir!" Ucap Brian dengan suara keras sembari mendorong tubuh istrinya. Tidak terlalu kuat memang, karena tak sampai membuat Mayang tergeser dari tempatnya.


Namun karena Mayang masih tak beranjak, akhirnya Brian lah yang mengalah beringsut dan menggeser duduknya. Namun wajahnya sudah terlihat sangat kesal.


"Sayang, apa bola yang di perebut kan itu memang lebih menarik dariku?!" Desak Mayang dengan raut wajah yang mulai kesal pula. Ia bahkan sampai mendudukkan tubuhnya di pangkuan Brian dengan dada yang sengaja ia condong kan pada sang suami.


"Iya! Memang nya kenapa?!" Jawaban Brian sangat menohok dan itu di luar dugaan Mayang. Timbul rasa malu di hatinya karena ia sampai mengemis seperti ini demi mendapatkan kembali cinta sang suami yang sudah hilang entah kemana.


"Turun!" Perintah Brian.


"Tidak mau!" Mayang tak mau kalah.


"Aku bilang turun dari pangkuan ku!"


"Aku bilang tidak mau!"


"Oke!" Ucap Brian sembari beranjak turun dari ranjang namun dengan membawa Mayang ikut serta kedalam gendongannya. Mayang menipiskan bibirnya sembari membenamkan bibirnya di ceruk leher Brian dengan tangannya yang melingkar di leher suami.


Namun Mayang membulatkan mata seketika saat mengetahui ternyata Brian justru membawanya keluar dari kamar. Brian lantas menurunkan tubuh Mayang secara paksa untuk lepas dari pelukannya.


"Tidurlah di kamar lain dan jangan ganggu au malam ini!" Ucap Brian tegas dengan nada perintah. Lelaki itu kemudian masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintu itu dengan rapat.


Mayang bisa mendengar dengan jelas suara kunci yang di putar pertanda suaminya tak menginginkan dirinya berada di kamar itu. Rasanya jantung Mayang berdesir perih saat ini.


Sebuah penolakan nyata yang dilakukan seorang suami pada istrinya kini benar - benar ia alami. Brian menolak dirinya mentah - mentah. Hal itu sungguh membuat harga dirinya sebagai istri seperti di injak - injak.


Tapi Mayang tak mau berpikiran buruk terhadap suaminya. Mungkin suaminya benar, ulahnya membuat sang suami merasa terganggu. Mayang lantas berjalan menuju kamar yang ia tempati sebelum menikah dengan Brian.


"Coba saja tak ku ikuti saran mbah yang sok tau itu. Pasti tak akan begini jadinya! Bukannya di bawa naik ke atas ranjang, aku malah di tendang keluar dari kamar!" Gerutu Mayang setelah membanting tubuhnya di atas ranjang.


Mayang menarik selimut hingga menutup sampai lehernya. "Lebih baik aku tidur. Seharian ini aku seperti kehabisan tenaga karena terlalu sibuk mengejar cinta dari suami ku sendiri."


* * *


"Sayang, apa tidak sebaiknya nanti saja." Ucap Malik yang sedang menyetir mobil sembari melirik Ratih yang duduk di sampingnya. "Ini masih terlalu pagi untuk berkunjung ke rumah orang."


Malik berusaha memperingatkan Ratih yang memaksa ingin datang ke rumah Brian di pagi buta begini. Bahkan ayam jago saja belum berkokok.


"Kita hanya akan mengunjungi putra kita, apa itu salah?"


Keduanya sudah berada di depan kamar Brian. Ratih sudah akan memutar handle pintu namun Malik melarangnya.


"Ketuk saja." Ucapnya pada sang istri yang terlihat cemberut karena larangan nya.


Tok tok tok!


"Brian! Mayang!" Panggil Ratih setelah mengetuk pintu. "Apa kalian belum bangun?!" Ratih diam sejenak untuk mendengar kan, namun tak ada sahutan dari dalam.


"Mereka belum bangun." Bisik Ratih Pada Malik. "Aku penasaran bagaimana posisi mereka saat tidur." Ratih terkekeh sembari memutar handle pintu dan membuka nya. Di abaikan nya Malik yang sudah melarang keras untuk masuk.


Namun Ratih terkejut saat di lihatnya Brian hanya seorang diri tidur di kamar nya. Hal itu membuat Ratih naik darah seketika. Diraihnya selimut yang menutupi tubuh Brian dan kemudian ia tarik dengan kasar.


"Brian bangun!!!" Suara teriakan Ratih sudah seperti suara petir yang tiba - tiba menggelegar di siang hari, membuat Brian seketika berjingkat dan terbangun karena terkejut.


Brian menarik tubuhnya untuk bersandar di sandaran ranjang lalu kemudian mengerjapkan mata. Ia berharap ini hanya mimpi, namun saat melihat Ratih tengah menatapnya dengan wajah penuh kemarahan membuat ia tersadar bahwa dia sedang tidak bermimpi.


Brian meraih jam weker kecil di nakas untuk memastikan waktu pukul berapa sekarang ini. Mata nya terbelalak saat di lihatnya jam baru menunjukkan pukul lima subuh.

__ADS_1


"Ayah, Ibu! Sepagi ini kalian sudah berada disini? Ada apa ini?"


"Mana istrimu?" Ratih mengabaikan pertanyaan Brian. "Kau suruh tidur dimana menantu ku?!" Teriak Ratih penuh emosi.


Hah sial! Kenapa momen nya pas sekali! Ibu datang di saat aku mengusir Mayang dari kamar! Habis lah aku. Harusnya aku tak lupa kalau ibu suka sekali melakukan inspeksi mendadak seperti ini! Hah sial sial sial!!


"Ibu kenapa marah - marah begitu?"


"Bagaimana ibu tidak marah! Menantu ibu mana?!"


"Ayah, Ibu." Suara lembut terdengar dari arah belakang Malik dan Ratih. Mayang muncul dari pintu dengan membawa secangkir kopi panas di tangannya.


"Ayah sama Ibu mau kopi juga?" Tanya Mayang sembari menunjukkan cangkir kopi yang di bawa nya. "Maaf saya hanya membuat satu, saya tidak tau kalau Ibu dan Ayah datang sepagi ini."


"Ah tidak, terimakasih. Ibu hanya ingin mampir sebentar." Jawab Ratih lalu menaruh kembali selimut Brian yang tadi sempat di tariknya. "Mayang, Apa kalian pisah kamar?" Tanya Ratih kemudian, wajahnya memperlihatkan sedikit keraguan.


"Tidak bu, aku bangun lebih awal lalu meninggalkan kamar untuk pergi ke dapur," Mayang mencoba meyakinkan. Mayang lantas menggerakkan lehernya untuk menoleh sang suami.


"Sayang kau ingin minum kopinya sekarang?" Ucapnya sembari melangkah mendekati Brian. Menaruh nampan di nakas dan menyerahkan cangkir itu pada Brian.


"Terimakasih kasih sayang." Ucap nya tulus pada sang istri saat menerima cangkir kopi itu. Di pandang nya sang istri lekat dengan wajah penuh penyesalan. Mayang hanya membalasnya dengan senyuman singkat.


"Kenapa ibu berfikir kami pisah kamar?" Tanya Mayang sembari melangkah mendekati ibu mertuanya.


"Ibu hanya terkejut saat melihat Brian tidur sendirian, makanya ibu pikir kalian pisah kamar."


"Jadi karena itu ibu marah - marah tidak jelas padaku?" Sahut Brian dengan nada tak terima.


"Maaf, ibu hanya reflek dengan apa yang ibu lihat." Ratih membela diri.


Yang ibu lihat itu tidak salah ibu, putra mu telah mengusirku dari kamar nya. Gumam Mayang dalam hati.


"Sebaiknya kita pulang sekarang saja ya," Malik merangkul istrinya. " Ku pikir kau masih mengantuk sayang, jadi yang kau lihat itu tak seperti kenyataan nya." Gurau nya dengan di iringi tawa kecil agar Ratih tak tersinggung.


"Siapa bilang aku masih mengantuk, aku bahkan bangun dengan sangat bersemangat pagi ini."


"Iya, saking semangatnya sampai - sampai ibu mengganggu orang yang sedang tidur," timpal Brian yang langsung membuat ibunya terkekeh.


"Baiklah - baiklah ibu akan pulang. Tapi siang ini ibu pinjam Mayang untuk makan siang bersama ibu. Ibu rindu menantu ibu," Ratih Meraih jemari Mayang dan mengusap lembut punggung tangan nya.


Mendengar mertua mengatakan hal itu, mata Mayang tampak berbinar bahagia. " Mayang pasti datang ibu."


* * *


Mayang dan Brian melambaikan tangannya saat mobil Malik mulai melaju meninggalkan mereka. Keduanya masih mengiringi mobil itu dengan pandangan hingga menghilang saat keluar dari gerbang.


Mayang menepis kasar tangan Brian yang melingkar di pinggangnya. Si pemilik tangan pun tampak terkejut melihat reaksi Mayang yang sepertinya ingin menunjukkan kekesalannya. Di diikutinya sang istri yang telah lebih dulu masuk kedalam rumah.


"Sayang, kau masih marah?" tanya Brian setelah berhasil menyusul sang istri. Ia berjalan mundur agar bisa berhadapan dengan Mayang yang tetap melangkah dan tak menghiraukan panggilan nya.


Brian mencegat Mayang saat mereka sampai di pintu kamar. Di tatap nya sang istri yang tengah menatapnya dengan sorot mata tajam.


"Kau pikir saja sendiri!" teriak Mayang kesal sembari mendorong tubuh Brian lalu menutup pintu kamar serta menguncinya dan membiarkan Brian tetap berada di luar.


"Sayang buka pintunya!" Teriakan Brian di iringi gedoran pintu dari luar. "Hari ini aku harus berangkat pagi ke kantor, biarkan aku mandi!"


"Mandi saja di kamar lain!" Seru Mayang dari dalam. Tanpa menghiraukan Brian yang masih berteriak - teriak di sana ia pun pergi ke kamar mandi.


Mayang mandi lebih cepat dari biasanya hari ini. Mengenakan pakaiannya dengan cepat lalu keluar dari ruang pakaian. Saat ia sedang menyisir rambutnya, tiba - tiba terdengar lagi suara Brian yang memanggil.


"Sayang buka pintu! Pakaian ku ada di dalam semua!" Kemudian suara hening. Sepertinya Brian menunggu Mayang menjawabnya. "Oke! Kau ingin aku mendobrak pintu ini hah!"


Mayang bergeming mendengar ancaman Brian. Ia tak ingin laki - laki itu merusak apapun disini. Mayang segera berlari ke arah pintu dan cepat - cepat membukanya.


Saat pintu terbuka, nampak Brian tengah menyeringai dengan tubuh yang hanya terlilit handuk saja. Rambut dan tubuhnya tampak basah dengan air. Mayang pun spontan menunduk dengan wajah yang bersemu malu.


Brian membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya di pipi Mayang. "Sayang, terimakasih telah menyelamatkan ku dari omelan ibu," bisik Brian di telinga Mayang.


Mayang sontak menatap wajah Brian yang tengah tersenyum padanya. Kemudian dengan santai nya Brian melangkah menuju ruang pakaian.


Huh sadar kan sekarang! Sekesal - kesal nya aku pada mu! Semarah - marahnya aku, tapi aku tetap dirimu terlihat baik di mata orang tua mu! Makanya bersikap baiklah pada istrimu, karena sebenarnya istrimu lah dewi penyelamat mu!


* * *


"Tuan, anda serius dengan keputusan anda?" Tanya Billy ragu. Ia perlu memastikan kembali keputusan yang telah Brian ambil, Karena hal ini akan berbuntut panjang nantinya jika sampai Mayang tahu.


"Iya, aku akan memulainya. Semakin cepat akan semakin baik." Jawab Brian dengan sangat yakin. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?"


"Mengerti Tuan." Keduanya lantas memasuki lift untuk turun menuju lantai dasar kantor Wahana Group. Lift pun berdenting dan pintu terbuka. Brian dan Billy bisa melihat dengan jelas Karla yang sedang menunggunya di lobi.


Saat menyadari kehadiran Brian, Karla terlihat menyunggingkan senyumnya. Ia segera beranjak dan melangkah menyongsong Brian yang tengah berjalan ke arahnya.


"Kau sudah siap?" Brian bertanya dengan tersenyum manis. Hal yang sebelumnya tak pernah ia lakukan terhadap gadis di hadapannya itu.


Karla tampak mengerjapkan mata seperti tengah memastikan apa yang baru saja ia lihat.


Brian tersenyum padaku? Benarkah? Sudah ku duga brian, kau pasti akan bertekuk lutut padaku. Karla membatin dalam hati.


"Silahkan tuan," Billy mempersilahkan Brian untuk berjalan terlebih dulu.


"Eh tunggu," Karla menarik tangan Brian yang membuat lelaki itu spontan menghentikan langkahnya.


"Ada apa Karla?" Seketika Brian pun bertanya.


"Apa kita juga akan bersama Billy juga?" Mimik wajah Karla tampak berubah saat bertanya.


"Tentu saja, bukankah kau tahu aku dan Billy bagaikan gula dan semut bukan?" Brian menyeringai lalu melangkah mendahului Karla yang tampak kecewa.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Karla sama sekali tak melepaskan tangannya dari lengan Brian. Kepalanya pun bersandar di pundak Brian dengan nyaman nya. Tangan nya dengan sengaja bergerak menarik rok mini yang ia kenakan hingga memperlihatkan paha putihnya.


Karla terlihat sangat bahagia akhirnya Brian menerima ajakannya untuk ngopi di sebuah kafe yang tengah hits di kalangan anak muda saat ini. Senyumnya tak henti - henti nya terkembang.


Sampai di kafe, Brian memilih duduk di kursi dekat dengan jendela dan berbaur dengan para pengunjung lain. Dia juga tak memilih ruangan VIP seperti biasanya.


Brian melakukan ini bukan lah tanpa alasan. Barangkali dengan mereka berada di tempat keramaian dengan harapan dapat membuat Karla merasa malu jika mendekati Brian ternyata itu tak berlaku untuk gadis ini.


Iblis betina ini malah semakin agresif dan semakin berani melakukan kontak fisik dengan Brian. Benar - benar tak menghiraukan Brian yang terlihat tidak nyaman.


* * *


"Silahkan nyonya." Sopir membukakan pintu mobil untuk Mayang dan mempersilahkan dengan sopamln


"Terimakasih." Ucap Mayang sembari bergegas masuk.


Mobil pun segera melaju meninggalkan rumah.


"Jangan kencang - kencang bawa mobilnya ya, aku ingin menikmati perjalanan ini." Mayang agak memajukan tubuhnya saat berbicara, agar sopir sekaligus bodyguard itu mendengar dengan jelas.


"Baik nyonya." Jawabnya patuh.


Mayang kembali menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Lantas mengarahkan pandangan nya keluar jendela. Hari ini untuk pertama kalinya ia keluar rumah setelah kejadian racun itu. Itulah sebab dia ingin menikmati perjalanan ini.


Setelah beberapa lama perjalanan, tiba - tiba mayang memajukan tubuhnya agar lebih mendekat pada kaca mobil. Ia tampak terkejut dengan apa yang ia lihat.


"Eh sebentar!" Mayang menepuk - nepuk jok di depan nya membuat sopir itu bereaksi seketika.


"Iya nyonya," menatap wajah Mayang melalui kaca spion di depan nya.


"Bisa mundur kan mobil ini sedikit? Aku seperti melihat mobil Tuan," Ucap Mayang dengan wajah sedikit ragu.


"Baik nyonya." Sopir segera melakukan tugasnya.


Mayang kembali memfokuskan pandangannya untuk memperhatikan area parkir itu dari mobil yang masih bergerak mundur.


"Ah iya benar, itu mobil sekretaris Billy yang di pakai tadi untuk ke kantor kan?" Mayang menunjuk mobil yang terparkir di area parkir sebuah kafe.


"Seperti nya begitu nyonya," sopir yang masih muda itu menjawab dengan pasti. " Tapi bisa jadi bukan nyonya, sekarang sudah banyak orang yang memiliki mobil seperti itu."


"Tapi aku yakin itu mobil Sekretaris Billy. Izinkan aku memastikannya sebentar ya?"


"Jangan nyonya!"


Mayang segera keluar dari mobil dan mengabaikan larangan dari sopir. Ia segera melangkah menuju kafe itu dengan langkah cepat dan terlihat bersemangat.


Rasanya ia sudah tak sabar melihat reaksi Brian jika dirinya tiba - tiba muncul dihadapannya. Melihat keterkejutannya, ah kenapa jantungnya tiba - tiba berdebar begini.


Senyum Mayang terkembang saat dirinya melihat Billy yang tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon nya.


Itu benar - benar sekretaris Billy, aku yakin suamiku ada di dalam.


Mayang melangkahkan kakinya memasuki kafe. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kafe yang tampak ramai hari ini. Pandangannya menyelidik setiap kursi tang ada di sana.


Mencari sekelompok orang laki - laki yang sedang membicarakan masalah pekerjaan dengan beberapa map dan kertas - kertas di atas meja. Seperti itu lah dalam bayangan Mayang. Dan dia hanya ingin mengamati saja dari kejauhan.


Namun ternyata sulit bagi Mayang menemukan hal itu di kafe ini. Hanya pasangan kekasih yang sepertinya sengaja datang kemari.


Mayang hampir saja memutar tubuhnya untuk keluar dari kafe dan berniat menghampiri Billy yang berada di luar kafe, namun saat pandangan mata nya menangkap seseorang yang mirip dengan Brian bersama seorang wanita, rasa penasaran tiba - tiba menguasai pikiran nya.


Pelan - pelan ia mengayunkan langkahnya mendekati meja itu. pandangan nya terarah pada punggung lebar dan wanita yang tampak bersandar dengan nyaman disana.


Mayang masih mengingat dengan jelas warna jas yang di pakai Brian pagi tadi, mirip sekali dengan pakaian yang melekat pada tubuh lelaki yang hanya terlihat bagian belakang nya saja.


Semakin dekat jarak mereka, semakin kencang pula debaran jantung yang mayang rasakan. Hell yang Mayang kenakan menimbulkan suara saat dia memijakkan kaki nya dinlantai, ternyata hal itu mengundang perhatian dan membuat laki - laki itu menoleh padanya.


"Sayang,,," lirih Mayang hampir tak terdengar saat yang ia lihat benar - benar Brian, suaminya.


Untuk apa dia berduaan begini di kafe?


Sama hal nya dengan Mayang, Brian pun nampak terkejut dengan kehadiran istrinya yang begitu tiba - tiba. Ia spontan berdiri dan mulutnya tampak ternganga. Pandangan nya tampak mengedar ke arah lain mencari keberadaan Billy dengan wajah yang mulai merah padam menahan amarah.


Pandangan Mayang bergeser pada wanita yang tadi merangkul suaminya dengan mesra.


Karla!


Karla tampak acuh sembari menggerakkan tangan nya seolah sedang membetulkan pakaian nya yang sebenarnya tidak berantakan. Bibirnya menipis di bubuhi dengan seringai licik yang hanya bisa di lihat oleh Mayang.


Entah mengapa Mayang merasa hatinya terbelah saat itu juga. Merasakan penghianatan yang mereka lakukan di belakang.


Suara derap kaki yang berlari mendekat menyadarkan lamunan Mayang. Billy dan sopir yang mengantarnya tampak berlari mendekat. Pandangan Brian langsung terarah pada Billy dengan sebuah isyarat yang hanya dia dan Billy saja yang tahu.


Mayang beruntung masih bisa menguasai dirinya sehingga mampu menahan airmata yang sudah tak sabaran ingin berlomba keluar.


"Nyonya mari saya antar pulang, Tuan sedang bekerja." Ucap Billy sembari membimbing tubuh Mayang yang tiba - tiba lemas untuk melangkah keluar dari kafe.


Mayang menyempatkan menatap wajah Brian yang tampak datar dan tak memperlihatkan ekspresi apapun. Tak mengusir ataupun mempertahankan keberadaan dirinya disana.


"Nyonya, kau baik - baik saja?" Billy yang berada di balik kemudi bertanya dengan nada khawatir dengan kediaman yang Mayang tunjukkan.


"Saya baik - baik saja sekretaris Billy." Mayang bahkan menunjukkan senyumnya saat menjawab. Senyum penuh ironi.


Jadi karena ini dia tiba - tiba berubah. Aku bahkan sudah menjadi wanita yang agresif pada orang yang tak mencintai ku. Ternyata semuanya percuma. Jadi hanya aku yang mencintai nya, lalu untuk apa dia menikahi ku?


"Nyonya, saya harap anda mengerti kalau Tuan muda dengan Karla hanya sebatas atasan dan bawahan saja." Billy berucap sembari menatap Mayang dari kaca spion di depan nya.


"Haha aku tahu sekretaris Billy." Mayang tertawa garing.

__ADS_1


Aku bukan wanita bodoh Billy!


Bersambung


__ADS_2