Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Bikin Adonan


__ADS_3

"Kenapa hanya diam?"


Milly hanya menggeleng samar menanggapi pertanyaan Billy. Kepalanya menunduk. Bibirnya terkatup rapat. Sementara mata dan tangan bekerja sama merawat luka sang suami dengan penuh kehati-hatian.


Andai bisa menyembunyikan wajahnya yang semerah tomat, tentunya akan langsung ia lakukan. Namun, sayangnya hal itu lebih dulu terlihat oleh suaminya, hingga ia pun tak bisa melakukan apa-apa selain menundukkan kepala.


"Sudah selesai." Milly berucap tanpa memandang wajah. Setelahnya ia bangkit untuk mengembalikan kotak obat ke tempatnya semula.


Sementara Billy, tampak tersenyum selagi menatap perban tangannya yang telah digantikan dengan penuh kasih sayang. Kemudian mengalihkan pandangan, menatap punggung ramping istrinya yang bergerak menjauh menuju nakas. Ketika gadis itu berbalik badan, Milly tampak mengerutkan kening melihat Billy hanya bergeming.


"Sudah selesai, Pak. Silahkan keluar dari kamar saya," usir Milly dengan halus.


"Kenapa aku harus keluar dari sini?"


"Ya karena ini kamar saya," jelas Milly.


"Apa kamu lupa, semenjak rumah ini kubeli, secara otomatis kamar ini juga menjadi kamarku. Beserta pemilik awalnya." Billy mengucapkan kalimat terakhirnya dengan penuh penekanan. Alih-alih pergi menuruti keinginan Milly, ia justru duduk dengan kaki menyilang. Sementara tangan yang bertumpu pada lengan sofa, begitu santai menyangga pelipisnya. Pemuda itu menyeringai nakal melihat Milly yang gelagapan.


"Kalau begitu saya yang keluar." Tanpa menatap Billy, Milly bergegas menghampiri pintu dan berniat untuk keluar. Sayangnya, pintu seperti terkunci dari luar hingga ia kesulitan membukanya.


Panik, Milly sontak membulatkan mata, menatap Billy penuh curiga sebelum akhirnya menggedor pintu dan berteriak.


"Hey, siapa yang berani mengunci pintu dari luar? Cepat buka!"


Tak menyerah begitu saja, Milly tetap berusaha menarik kenop pintu, menggedor dan berteriak. Namun, nihil. Tak ada orang yang mendengarnya.


Menyadari jika di belakangnya ada seseorang, ia langsung berbalik badan dan melotot mendapati Billy tengah berkacak pinggang. Mendadak ia bergidik ngeri. Pikiran liar langsung menjalar. Lobus frontalnya meneriakkan alarm kewaspadaan. Yang ada di benaknya, sosok kekar Billy layaknya harimau ganas yang siap menerkam kapan saja. Terlebih ia hanyalah gadis lemah tanpa kekuatan.


Langsung terbayang andai pria ini benar-benar menyerangnya. Mencabik-cabik dengan brutal sebelum kemudian memakannya tanpa perasaan. Tak sanggup membayangkan itu semua, mendadak kepalanya terasa sangat pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Ia mengerjapkan matanya sambil menggeleng kuat-kuat demi menghalau pusing kepala yang menyerangnya dengan hebat. Namun, sayangnya itu tak berhasil. Hingga kemudian semuanya terasa gelap, dan ia kehilangan kesadaran sepenuhnya.


***


Aroma minyak kayu putih yang menusuk indera penciuman, memaksa Milly membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar berwarna putih. Ia hapal betul ini kamarnya.


Gadis itu kemudian menggeliat kecil. Rasa pusing yang masih terasa memaksanya kembali memejamkan mata. Saat itulah ia berusaha mengumpulkan kesadaran dan mengingatkan bagaimana ia ada di sana. Seketika itu ia teringat akan makhluk buas yang nyaris menerkamnya, dan sontak membuat tubuhnya kembali menegang.


Baru hendak bangkit dari pembaringan, sosok Billy ternyata sudah lebih dulu menahannya. Dengan jarak jarak yang hanya beberapa senti saja, Milly bahkan bisa merasakan embusan napas Billy yang menerpa langsung permukaan kulitnya. Sejuk, tapi hangat. Untuk sejenak bahkan ia sempat terlena oleh ketampanan pria di depannya.


Namun, di detik lain kesadaran Milly mulai bekerja. Alarm bahaya kembali meneriakinya hingga sontak tubuhnya memberontak.


"Pak tolong lepaskan saya! Saya mohon jangan makan saya ...!" pekik Milly mengiba. Gadis itu bahkan hampir menangis karena saking takutnya.


Billy yang tak mengerti dengan kata-kata Milly hanya bisa terdiam selagi menahan tubuh istrinya. Ia lantas berusaha menelaah akan arti perkataan Milly barusan. Karena masih belum mengerti juga, ia pun memutuskan untuk bertanya.


"Milly ... sadar, Sayang. Siapa yang mau memakanmu, katakan!" tegasnya sambil menepuk-nepuk pipi Milly, berusaha menyadarkan. Setiap kali Milly mulai berontak, Billy dengan sabar berusaha menenangkan.


Di situlah, pada akhirnya Milly menyadari jika Billy tak semenyeramkan yang ia pikir. Pria itu masih memiliki sisi lembut yang mampu membuatnya nyaman di balik sikap tegas yang selama ini ditunjukkan. Lagi-lagi Milly terpesona. Ia bahkan sama sekali tak berkedip saat kedua netra saling menyapa.


"Apa kau masih pusing?" tanya Billy hati-hati setelah cukup lama keduanya terjebak dalam keheningan.


Milly sontak mengerjapkan mata. Buru-buru mengalihkan pandangan usai pulih dari jerat pesona Billy.

__ADS_1


"Sa–saya baik-baik saja," jawabnya kikuk tanpa memandang wajah Billy. Posisi mereka kini masih sama. Billy duduk setengah membungkuk, menahan tubuh Milly yang terbaring agar tidak kabur.


"Bisa lepaskan saya?" tanya Milly kemudian.


Billy melihat Milly kini lebih tenang dari sebelumnya. Maka itu ia mengangguk, kemudian membebaskan istrinya dari kungkungan. Ia bahkan membantu Milly, membukakan selimut tebal yang menutup tubuh istrinya hingga sebatas dada.


Milly tak langsung bangkit. Ia melirik ke sisi kiri, dan mendapati botol minyak kayu putih yang menyisakan setengahnya dengan tutup masih terbuka. Tangannya bergerak hendak meraihnya. Namun, Billy yang melihat itu segera tanggap dan mendahului mengambil botol itu.


"Apa kau masih pusing? Biar kubantu balurkan minyak ini. Katakan di mana?"


"Ah tidak perlu," tolak Milly.


"Tidak perlu malu. Kau ini istriku!"


"Tidak, Pak." Meski masih lemah, tetapi Milly berusaha menepis tangan Billy. Alhasil, botol yang masih terbuka itu memuncratkan isinya tepat ke dada Milly. Tak hanya itu, percikannya juga tak luput mengenai mata. Bisa dibayangkan, mata gadis itu keperihan.


"Aaa, perih!" pekik Milly sambil spontan menutup tangannya.


Billy panik, hingga mulutnya sedikit ternganga.


"Astaga. Milly kau tidak apa-apa?"


Terang saja pertanyaan retoris Billy itu membuat Milly kesal. Milly menggeram, kemudian ngomel sekena-kenanya.


"Perih, Pak. Perih!"


"Maaf aku nggak sengaja."


"Enggak ...!"


"Asal Bapak tau, ya. Saya mau ngambil botol minyak itu karena mau nutup botolnya! Bukan karena mau balurin lagi. Tubuh saya bahkan sudah kepanasan, Bapak ...! Bermandikan minyak kayu putih sekujur badan! Bapak pasti mau balas dendam, kan? Sampai-sampai siram mata saya pakai minyak kayu putih!" tuduh Milly masih dengan tangan menutup mata.


Billy menggeleng cepat sebagai bentuk sangkalan. "Itu nggak benar! Aku cuma mau bantu kamu!"


"Bohong!"


"Sumpah!" sahut Billy meyakinkan, lantas kembali melanjutkan ucapannya. "Aku ini suami kamu, mana ada suami yang ingin mencelakakan istrinya sendiri."


Mendengar penjelasan Billy, Milly hanya bergeming. Namun, tak bisa memungkiri jika ada yang menghangat di hatinya.


"Sayang ... katakan aku harus bagaimana untuk menolongmu dari kepedihan?" lirih Billy penuh kesedihan. Ia bahkan berbisik di telinga Milly, membuat Milly berjingkat saking terkejutnya.


Milly menggeleng lemah. Ia sendiri tak tahu inginnya bagaimana. Hanya bisa mengeluh tentang apa yang saat ini ia rasakan.


"Perih, Pak ...."


"Iya, Sayang. Aku tahu, tapi aku harus apa?"


Milly hanya menggeleng.


Di tengah kebingungan, otak Billy masih bekerja dengan normal. Pada kotak obat tadi, ia sempat melihat tetes mata meski hanya sekilas. Sontak saja ia bangkit untuk mengambil itu di tempatnya.

__ADS_1


Saat kembali ke ranjang, ia pun segera membuka tutup botolnya untuk melakukan pertolongan.


"Sayang, buka matamu. Aku kasih tetes mata biar mata kamu agak enakan, ya," bisiknya di telinga Milly.


Milly mendengarnya. Gadis itu kemudian mengangguk, pertanda memberikan izin atas tindakan Billy. Namun, karena Milly tak mengalihkan tangan dari matanya, membuat Billy kesulitan meneteskan obat itu. Billy mendesah pelan, kemudian meminta Milly untuk membuka matanya.


"Sayang ... buka dong. Kalau ditutupin gitu gimana aku bisa masukin ininya?" tanya Billy sambil mengguncang botol tetes mata di tangannya.


"Perih, Pak, perih ...!" keluh Milly penuh penekanan.


"Iya, Sayang, aku tau. Tapi gimana caranya aku masukin kalau kamu tutupin gitu?" Billy mengusap rambut Milly penuh kasih sayang, sebelum kemudian melanjutkan bujukan. "Percaya, deh. Setelah ini pasti rasanya enakan. Enggak perih lagi. Ayolah, Sayang."


Milly menyerah. Ia pun bersikap patuh dan perlahan mengalihkan tangannya dan membuka mata.


"Aaa, masih perih ...!" keluhnya sambil kembali menutup mata.


Billy tersenyum kecut.


"Iya, iya, aku tahu. Tapi percaya deh, habis ini pasti bakal enakan. Aku masukin pelan-pelan ya." Tangan kiri Billy membuka mata Milly dengan pelan, sementara tangan kanannya meneteskan obat dengan penuh kehati-hatian.


Milly mendesah, lalu mengedip-kedipkan mata, agar obatnya menjalar ke seluruh bagian.


"Bagaimana, heum?" tanya Billy memastikan.


Milly masih diam sembari merasakan reaksi obat di matanya. Ada rasa dingin yang menjalar, dan perlahan mengikis perih yang sebelumnya berdiam. Sedikit merasa nyaman, ia pun menganggukkan kepala dan berkata, "Lumayan."


"Agak enakan?" tanya Billy memastikan.


"Hu'um."


"Baguslah," ujar Billy terdengar lega.


Milly mengerjap kecil, kemudian menatap wajah Billy yang tengah tersenyum lega meski masih tampak samar karena tertutup air mata. Ia bukanlah tipe wanita yang tak bisa mengapresiasikan kebaikan orang. Maka, demi menghargai kebaikan Billy, ia pun berucap dengan penuh ketulusan.


"Terima kasih, Pak."


Billy tersenyum hangat, kemudian mengusap puncak kepala Milly. "Sama-sama," balasnya.


Tanpa mereka tahu, rupanya ada dua pasang telinga tengah menguping di balik daun pintu yang tertutup rapat. Sepasang suami istri paruh baya itu saling menatap dengan mata membola, dan si wanita kemudian membungkam mulutnya yang ternganga.


Sejurus kemudian, tangannya bergerak memukul pelan lengan si suami yang masih menempelkan telinganya pada pintu, lantas berkata, "Sudah, Yah. Malu ngupingin anak dan menantu yang lagi berduaan."


"Tapi kok Milly bilang perih, Bu?" ujar si pria dengan ekspresi gelisah.


"Halah, pengantin baru memang gitu. Biasa. Wes, yuk. Biarin mereka bikin adonan. Tugas kita sekarang adalah berdoa biar mereka cepet dapat momongan. Ayah pasti sudah kepingin nimang cucu, kan?" goda si wanita sambil menuding wajah suaminya.


"Wo, ya jelas!" tukas si pria penuh semangat. Namun, buru-buru mulutnya dibungkam oleh si istri dengan telapak tangannya. Si istri melotot, dan menatapnya penuh isyarat.


"Hust, jangan keras-keras. Nanti mereka dengar," bisik si wanita kemudian.


"Oh, iya. Lupa. Karena saking semangatnya." Si pria membungkam mulutnya menahan tawa. Keduanya pun beranjak dari sana dengan langkah mengendap-endap.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2