
Ratih dan Malik yang sedang duduk menikmati makan siang.mereka merasa terkejut dengan masuk nya mayang yang berada dalam gendingan Billy ke ruangan itu.
"Mayang kamu kenapa?"Ratih terlihat panik lalu bangkit dari duduknya.Mengarahkan Billy agar menempatkan Mayang duduk di sebuah sofa panjang di ruangan itu.
"Kaki Mayang terkilir dan tuan muda menyuruh saya menggendongnya."Billy menjawab apa adanya.
"Benarkah Brian menyuruh mu begitu?"Ratih Bertanya heran sambil terkekeh.Mana mungkin anak itu membiarkan gadis yang ia cintai di sentuh oleh orang lain.Hah yang benar saja.Ratih membatin dalam hati sambil menggelengkan kepala rasa tak percaya.Lalu ia kembali fokus pada Mayang.Menelisik gadis itu,merasa khawatir padanya.
"Bagian mana yang sakit Mayang?"Ratih memeriksa kaki Mayang sembari berjongkok.
"Saya tidak apa-apa nyonya..."Mayang bicara sambil tersenyum.Ia tak ingin Ratih khawatir padanya.
"Mayang kalau sakit katakan saja sakit.jangan di tahan ya."Ratih mendesak agar Mayang mengatakan bagian mana yang sakit."Bill,apa disini ada salep oles untuk nyeri otot?"Ratih mendongakkan kepala menatap Billy yang masih berdiri di samping nya.
"Ada nyonya."Billy berjalan menuju kotak P3K yang ada di sebuah laci dan mengambil salep oles yang di maksud."Biar saya yang obati nyonya."Billy meminta agar Ratih bergeser dan memberi tempat padanya.
Ratih pun bangkit lalu duduk di samping Mayang.
Billy menekuk satu lututnya bertumpu pada lantai tepat di hadapan Mayang yang duduk di sofa.Laki-laki itu memegang kaki Mayang yang terkilir tadi.Di lepasnya heels yang masih terpasang di kaki putih itu dengan hati-hati.Lalu memijat-mijat kaki Mayang berpindah-pindah agar menemukan bagian yang sakit.
Mayang memekik kesakitan saat Billy menekan tepat di titik yang terkilir."Kamu tahan ya Mayang,aku akan memijat di bagian yang sakit ini agar tidak bengkak nanti."Billy berbicara dengan pandangan mata beradu dengan Mayang.Gadis itu hanya mengangguk.
Billy menekan kemasan salep hingga mengeluarkan krim berwarna putih.Lalu mengoleskan salep itu dengan jemari nya ke area kaki Mayang yang terkilir dengan pijatan yang mengenai tepat di otot kaki yang sakit.
Mayang memekik lagi karena kesakitan hingga jemari nya tak terasa meremas bahu Billy.Billy melirik bahunya di mana di situ terasa nyeri akibat cengkeraman tangan Mayang.Tapi lelaki itu hanya diam dan membiarkan gadis itu melakukan nya.Mungkin hal ini bisa mengurangi rasa sakit dikakinya yang sedang Billy urut.
"Coba di gerakkan Mayang."Billy menggoyang-goyangkan kaki Mayang,untuk mengetahui apakah masih sakit atau tidak.Mayang merasa kan kakinya kini lebih baikan.Hangatnya salep yang meresap di tambah dengan lembutnya pijatan Billy membuat kakinya kini merasa nyaman.
Mayang baru sadar kalau jemari nya meremas bahu Billy.Ia buru-buri menarik tangan nakal nya kebelakang sembari meminta maaf dengan menyesal.Wajah nya bersemu malu.Sedangkan Billy hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.
"Terimakasih sekretaris Billy,telah memijat kaki saya.Sudah enakan kok sekarang."Mayang bicara dengan tersipu malu.Ia merasa tersanjung di perlakukan sedemikian rupa oleh Billy.Bahkan orang yang selalu menunjukkan wajah datar itu menunjukkan senyum manis nya pada Mayang.
"Tak perlu sungkan pada saya Mayang."Billy berbicara layaknya pembicaraan terhadap sesama manusia.Tanpa bayang-bayang tuan Brian yang membuatnya terlihat kaku.Untuk beberapa saat mata mereka saling bersitatap dengan posisi Billy yang terlihat seperti sedang menyatakan cinta pada Mayang jika dilihat dari kejauhan.
"Eheemmmm.."Suara deheman keras terdengar dari pintu di ruangan itu.Membuat Billy seketika bangkit berdiri dan memberi hormat.
Tuan muda,sejak kapan anda berdiri disitu?Saya harap anda tidak salah faham terhadap saya tuan. Billy membatin khawatir.
"Brian, sejak kapan kamu berdiri di situ?"Ucap Ratih setelah memutar tubuhnya melihat siapa yang berada di pintu.Karena posisinya membelakangi pintu."Masuk dong,,,"Ratih melambaikan tangan pada putranya yang tengah berdiri di ambang pintu dengan jemari tangan yang tersembunyi di saku celananya.Tak ingin kepalan tangan nya dilihat oleh siapapun.
Brian melangkah maju memasuki ruangan itu dengan pandangan yang tak lepas dari Billy.Sorot mata memburu,mengancam karena amarah yang tertahan.Merasa kesal karena telah kehilangan momen romantis nya bersama Mayang karena kehadiran Karla di waktu yang tidak tepat.Serta rencana dadakan yang justru malah jadi bumerang baginya.Dan parahnya lagi lelaki yang sok setia padanya ini malah dengan liciknya memanfaatkan kesempatan dengan mendekati Mayang bahkan menggendongnya seperti seorang kekasih.
Dan sekarang dengan tanpa berdosa kau bersikap seperti biasa seolah tak terjadi apa-apa.Apa dia pikir hatiku ini terbuat dari batu!Apa kau tidak tau aku ini sedang cemburu Bill,cem-bu-ru!Rasanya aku ingin membunuh mu sekarang ini agar kau tak akan menyentuh Mayang lagi.Tapi itu juga tak mungkin karena hanya kau yang paling mengerti aku.Kenapa menyembunyikan rasa cinta itu sangatlah sulit!Andai saja Mayang lebih peka terhadap ku.. Jatuh cinta pada wanita yang tidak peka itu sungguh merepotkan sekali.
Brian berdiri tepat di hadapan Billy yang sejak Brian datang tadi langsung berdiri siaga dengan kepala yang menunduk tanpa ekspresi.Brian melipat kedua tangan nya di dada.Kini Billy terlihat mendongakkan kepalanya.Mata kedua lelak itu saling beradu tatap.Tapi tanpa berucap sepatah kata pun.
Ratih yang merasa aneh dengan ketegangan dalam diam yang terjadi antara kedua lelaki itu.Mereka terlihat sedang melakukan aksi perang dingin.
"Kalian berdua ini kenapa si?"Ratih berdiri diantara Brian dan Billy seperti sedang menengahi kedua lelaki itu."Apa kalian sedang bertengkar?Bukan nya tadi kalian baik-baik saja!"
__ADS_1
"Ada penghianat di sini bu."Brian akhirnya mengeluarkan uneg-uneg nya.
"Itu tidak benar tuan."Bantah Billy tetap dengan suara sopan.
"Bohong!"Sahut Brian cepat.
"Sudah cukup!Apapun masalah kalian,sekarang cepatlah berbaikan."
"Tidak mau."Sahut Brian cepat seraya membuang muka.
"Jangan begitu,,,"Ratih mengusap pungung Brian lembut."Kalian tidak bisa seperti ini.Kalian harus menjaga kekompakan kalian.Sekarang ibu mau kalian saling berpelukan."Ucap Ratih dengan nada memaksa.
"Tidak mau ibu..."Brian menolak halus namun dengan penuh penekanan.
"Briannn..."Ratih bicara dengan mengatup kan gigi nya serta membulatkan mata.Mengeluarkan jurus andalan untuk memaksa anaknya.Biasanya Brian tak bisa menolak jika dirinya sudah terlihat geram seperti itu.
"Ibuuuu..."Suara Brian seperti merengek.
Ibu jangan memaksa ku seperti itu bu,, Aku tidak bisa memaafkan Billy semudah itu.Aku harus memberi nya pelajaran dulu sebelum memaafkan nya!
Brian menghela nafas pelan.Melihat tatapan ibunya,ia jadi tak kuasa untuk menolak.Akhirnya ua menyerah.
"Kita baikan ya Bill."Ucap Brian seraya merengkuh tubuh Billy dan memeluknya.Billy membalas pelukan itu dengan menepuk punggung Brian.
Sungguh pemandangan lucu yang dilihat oleh Mayang.Dua pria dewasa yang berpelukan benar-benar terlihat seperti dua bocah yang baru baikan setelah bertengkar.Hal itu membuat Mayang tergelitik ingin tertawa.Mayang jadi bertanya-tanya,apa kedua lelaki ini sejak kecil memang sudah bersama.Mengapa nyonya memperlakukan Billy seperti pada putra nya sendiri.
"Ingat ya Bill,aku belum benar-benar memaafkan mu."Bisik Brian sengit di telinga Billy sebelum ia melepaskan pelukan nya.Billy hanya tersenyum menghadapi laki-laki yang sedang di landa cemburu ini.
"Ayah hentikan!"Brian menangkis tangan Ayahnya yang sudah terlanjur membuat rambutnya berantakan.Ia tak mau terlihat berantakan dimata Mayang.
"Suami ku,kau membuat putra kita terlihat jelek tau."Ratih bicara diiringi dengan tawa.Ia menyentuh kepala Brian,yang Brian fikir akan membantu merapikan nya tapi malah ikut mengacak nya juga.
"Ibu cukup."Brian meraih tangan Ratih agar berhenti mengacak rambutnya.Brian terlihat kesal karena ulah orang tuanya yang selalu menganggap nya masih seperti anak-anak.ia melirik Mayang yang terlihat menahan tawa.
Brian melangkah menuju sofa dan menjatuhkan tubuh nya tepat di samping Mayang.Gadis itu terkejut dan spontan beringsut menggeserduduk nya menjaga jarak dari Brian.Tapi Brian mslah menelusupkan tangan nya di pinggang Mayang dan menarik nya kembali merapat tubuh mayang dengan tubuh nya.
"Tuan apa yang anda lakukan?"Bisik Mayang sambil melirik kearah orang tua Brian yang ternyata tengah sibuk membantu Billy membetulkan rambutnya.
"Apa yang kau tertawakan?"Brian bertanya sambil menyandarkan tubuh nya di bahu Mayang.
"Tuan jangan begitu.."Mayang menahan tubuh Brian dengan kedua tangan nya.Tapi Brian seolah membuat tubuhnya lemas hingga Mayang tak kuat menahan nya.Kini tubuh Brian benar-benar bertumpu pada tubuh Mayang yang semakin miring karena menahan beratnya tubuh Brian."Tuan jangan begitu,ada orang tua anda disini."
Tuan kumohon malu lah sedikit,ada orang tua anda disini.Jangan bilang kalau urat malu anda sudah putus gara-gara perempuan bernama Karla tadi.
"Biarkan saja,, mereka bahkan tidak peduli terhadap kita."Ucap Brian santai masih tetap dengan posisinya.Malah semakin menghimpit tubuh Mayang agar ia merasa lebih nyaman.
Eh benar saja,kenapa mereka bertiga terlihat asik begitu seperti tak mempedulikan kami.Apa memang benar mereka tidak melihat atau hanya pura-pura tak melihat?!
"Tuan,,, tubuh anda berat sekali,, saya tidak kuat.."Suara Mayang terdengar berbisik.Ia tak bisa bergerak.Kepala Brian bersandar tepat di leher samping nya. Mayang sedikit menggerakkan lehernya membuat kepalanya sedikit berputar agar bisa melihat wajah Brian.Namun hidungnya tak sengaja menyentuh rambut Brian.Mayang benar-benar mencium rambut Brian yang masih tetap wangi meski di luar sana matahari sangatlah terik.
__ADS_1
Hey kenapa dia diam saja?Apa dia tidur?
"Tuan,,,"Mayang menepuk pipi Brian denngan lembut karena tak ingin laki-laki itu terkejut."Apa anda tidur?"Tak ada jawaban namun Mayang merasa ada yang menggenggam tangan nya.
Brian menarik tubuhnya yang bertumpu pada Mayang untuk bangun dan duduk bersandar di punggung sofa.Namun belum melepaskan tangan Mayang dari genggaman nya.Mayang menarik tangan nya secepat kilat karena Brian sudah menarik tangan nya seperti ingin mencium saja.Lelaki itu tergelak melihat wajah Mayang yang ketakutan.
"Mayang apa kau sudah makan siang?"Ratih bertanya tanpa berpindah dari tempat nya duduk di kursi meja makan.
"Belum bu."Brian yang lebih dulu menjawab sebelum Mayang menjawabnya."Makan dulu sana.Aku tidak mau kamu kurus."Brian mendorong tubuh Mayang agar bangun dan makan bersama Ratih."Cepat.."Brian kembali menyuruh gadis yang masih belum beranjak itu."Ini sudah lewat jam makan siang."
Mayang akhirnya bangun dan berjalan tanpa memakai alas kaki menuju meja di dimana Ratih,Malik dan Billy berada satu meja.Ratih lalu menyuruh Mayang untuk duduk di kursi nya.Sementara Ratih dan Malik malah beranjak dari situ.
Mayang dan Billy saling melempar senyum saat Mayang sudah duduk di kursi dengan posisi mereka yang saling berhadapan.
"Lho ayah sama ibu mau kemana?"Tanya Brian keheranan.Bukan nya kalian lagi makan?"
"Kita udah selesai makan kok?"Ratih yang menjawab sambil tersenyum."Ke ruangan mu yuk?Ada berkas yang harus ayah mu ambil."Ratih sudah duduk di sofa du samping Brian.
"Ke ruangan ku?"Brian bengong.
Maksud nya ngebiarin mereka dinner berdua gitu?!No no no!Tidak akan pernah!
"Kenapa nggak Billy saja yang ambil?"Tanya Brian sambil melirik dua orang yang sedang makan sambil ngobrol dan tertawa itu.
"Billy kan lagi makan,,, biarin lah."Malik menyahuti dan didukung anggukan dari istrinya.
"Kalian ke ruangan ku dulu ya,nanti aku nyusul.Aa.. aku mau nyisir rambut dulu."Brian memberi alasan seraya menggaruk-garuk kepalanya supaya rambutnya semakin berantakan.
"Ya sudah kita duluan ya,"Ratih menepuk paha putranya sebelum bangkit lalu keluar dari ruangan itu.Namun sebelum nya ia juga tak lupa berpamitan dengan Mayang.
Brian mulai geram melihat tingkah dua orang yang sedang makan sambil ngobrol tanpa menghiraukan keberadaannya disitu.
Billy sialan!Padahal aku sudah mengancam nya tadi.Apa dia masih belum mengerti juga!
Brian hendak beranjak dari situ,namun ada sesuatu yang mengganjal di kakinya.Ia melongok ke bawah dan melihat sepasang heels.Di ambil nya heels Mayang yang tinggi dan runcing itu.Lalu muncul lah seringai jahat di bibirnya.
"Bill,kau tidak ingin kan benda keras dan runcing ini melayang ke kepalamu."Brian bicara sambil memainkan hells milik Mayang dengan seringai nya.
Astaga!Kenapa aku sampai lupa memakai nya. Mayang baru menyadari ia tidak memakai alas kaki.Mayang berusaha menelan makanan yang sudah ia kunyah dengan susah payah.Dan tak berniat melanjutkan makan nya lagi.
Meskipun ia berbicara dengan nada yang biasa namun cukup membuat Mayang merinding.Bagaimana jika Brian benar-benar melemparnya pada Billy namun melenceng ke arahnya.Bisa bocor kepalanya nanti.
"Cepat selesaikan makan mu sebelum heels ini aku lempar ke arah mu."Brian bicara dengan nada mengancam.
Billy meraih tisu dan mengusap mulutnya.Ia segera berdiri karena memang piring makan nya telah kosong."Saya sudah selesai tuan,"Ucap Billy kemudian setelah ia sudah berdiri siaga.
"Cepat susul ibu dan ayah di ruangan ku."Brian memberi instruksi pada Billy.Namun pandangan nya tertuju pada gadis yang tengah terlihat gusar itu.
"Baik tuan."Billy mengangguk sopan lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Bersambung