
Sore hari, Mayang sengaja berdiri di balkon untuk melihat keadaan luar dari ketinggian demi mengusir kebosanan. Maklum. Menjadi tawanan tak banyak yang bisa ia lakukan.
Dari lantai tiga tempatnya berada, ia bisa melihat keindahan sebagian kota. Ribuan kendaraan lalu lalang memenuhi jalan raya. Berdesakan seolah-olah semuanya ingin berada di barisan paling depan.
Mayang mendesah pelan. Entah bagaimana ia harus memaknai nasib yang kini menimpanya. Hidup sebagai tawanan, tetapi tinggal di rumah mewah laksana istana. Diperlakukan baik dan disiapkan segala sesuatunya. Hanya saja ... ia merasa aneh dengan perlakuan dan sikap aneh sang tuan muda.
Kemudian, saat mata Mayang menangkap sesuatu yang indah yang ada di bawah sana.
"Bunga ... ada taman bunga di bawah sana! Benarkah?" Mata Mayang langsung berbinar senang.
"Aku ingin ke sana." Tanpa pikir panjang, gadis itu berlari menuruni tangga demi keluar dan mencari keberadaan taman yang ia lihat dari ketinggian. Mengabaikan pandangan serta peringatan para pelayan yang dijumpainya, ia begitu senang ketika menemukan taman bunga itu yang ternyata berada di halaman depan dan di sisi kanan dan kiri rumah.
"Sebenarnya taman ini cukup besar. Tapi kenapa berantakan dan terkesan tidak terawat?Kalau aku sedikit merapikannya, mungkin tak masalah bagi tuan muda. Benar, kan?" Gadis itu menggumam. "Sepertinya benar. Lagi pula dia kan lelaki, mana tau urusan bunga- bunga begini."
Mayang memulai kegiatannya, mulai dari mencabuti rumput liar yang tumbuh seenaknya, membetulkan posisi pot bunga serta menyiram dan sebagainya.
Ia gembira sekali. Ia sangat suka bunga. Melihat berbagai jenis bunga yang baru kali ini dijumpainya, benar-benar jadi angin segar di tengah kebosanan.
Sadar jika hari semakin sore, mau tak mau Mayang harus menghentikan aktifitasnya. Ia terlebih dulu mencuci tangan dan membersihkan diri sebelum memasuki rumah megah itu.
"Nah, kalau begini kan terlihat lebih rapi. Lebih sedap dipandang mata." Ia tersenyum puas sambil mengedarkan pandangannya. Sesaat kemudian ia berbalik badan, berniat untuk meninggalkan taman. Namun, tepat ketika itu sebuah mobil mewah tampak berjalan memasuki halaman. Ia tahu itu adalah mobil Brian, maka dengan segera ia memasang senyuman guna memberikan sambutan ketika mobil berhenti dan Billy turun untuk membukakan pintu sang presdir.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Brian sambil berjalan mendekati Mayang.
"Saya baru saja membersihkan taman, Tuan." Mayang menjawab sambil menunjuk area taman hasil makeovernya.
"Apa?" tanya Brian seolah tak percaya.
Awalnya ia tampak heran mendapati Mayang berada di taman. Namun, setelah ia mengedarkan pandangan dan menemukan tatanan taman telah berubah seratus delapan puluh derajat dari semula, sontak saja ia naik pitam dan hal itu sukses membuat Mayang keheranan.
"Siapa yang menyuruhmu merubah tatanan taman itu!" bentak Brian sengit dengan tatapan matanya yang menyorot tajam. Tangannya juga bergerak menggenggam lengan Mayang sangat kuat hingga Mayang meringis kesakitan.
"Jawab!" ulangnya, sebab Mayang masih diam membisu seribu bahasa.
"T–tidak ada, Tuan. Saya sendiri yang menginginkannya," jawab Mayang takut-takut sembari meringis menahan sakit.
"Sebenarnya apa maumu? Kenapa kau suka sekali mengusik ketenanganku!" Brian semakin erat meremas kedua lengan Mayang. Karena saking geramnya, ia bahkan mengguncang tubuh gadis itu dan sontak melepaskan dengan kasar hingga Mayang terhuyung ke belakang.
"Apa salah saya tuan? Kenapa Anda marah-marah? Saya hanya membersihkan taman, dan bukan merusaknya!"
"Diam!" bentak Brian seketika. Ia tak ingin mendengarkan apa pun penjelasan Mayang. Gadis itu sontak berjingkat, lalu mengatupkan bibirnya dengan rapat.
Tak bisa dipungkiri, kemarahan Brian kali ini benar-benar membuatnya ketakutan. Namun, lebih pada itu ia benar-benar dibuat kebingungan. Sebenarnya apa salah dia?
"Bawa dia ke kamarnya!" titah Brian pada pengawalnya. "Dan pastikan dia tidak keluar dari sana selama beberapa hari ke depan!"
Suara Brian terdengar seperti petir yang menggelegar. Tubuh Mayang gemetaran. Pria terlihat semakin mengerikan jika sedang marah. Ia hanya bisa menatap punggung lebar Brian dan Billy yang bergerak memasuki rumah terlebih dulu dengan mata berkaca-kaca.
Mayang hanya bisa pasrah saat pengawal menuntunnya untuk kembali ke kamar.
__ADS_1
Ia tak pernah menyangka karena niatnya membersihkan taman justru berakhir dengan hukuman.
********
Sudah dua hari lebih Mayang tak diizinkan keluar dari kamarnya. Segala sesuatu yang menyangkut kebutuhannya sudah tersedia di dalam kamar. Kuswara juga begitu pengertian terhadapnya, hingga membawakan beberapa buku untuk di baca untuk mengusir kebosanan.
Gila. Mayang bahkan sama sekali tak merasa dirinya sedang dihukum.
Suara ketukan pintu sore itu membuat Mayang yang hanya mengenakan handuk kimono mengernyitkan dahi. Selang beberapa saat pintu dibuka dari luar dan Kuswara muncul bersama dua orang pelayan.
"Bu Kuswara?"
"Apa nona sudah mandi?" tanya kepala asisten rumah tangga itu sebab melihat rambut mayang dalam keadaan basah.
"Benar, Bu Kus. Maaf saya keluar tanpa lebih dulu memakai pakaian. Sebentar ya, saya pakai pakaian dulu."
"Mayang."
Mayang yang hendak beranjak sontak berhenti ketika namanya dipanggil.
"Ya, Bu Kus?" tanyanya sembari berbalik badan.
"Bagaimana kalau saya pilih kan bajunya?"
"Maksudnya?" Tak mengerti akan maksud Kuswara, Amara bertanya sambil menautkan alisnya.
Kuswara lantas memilah-milah pakaian yang ada di setiap lemari. Kemudian mengambil selembar yang dinilainya cantik, lantas memberikan itu pada Mayang.
"Baju ini?"
Mayang seperti tak percaya melihat baju yang di pilihkan Kuswara itu. Ia merasa ragu, sebab baju itu lebih cocok dipakai untuk ke pesta atau acara formal, dan bukan untuk baju harian malam.
"Yang serius dong Bu Kuswara, saya kan ngga ke mana-mana."
"Memang benar. Tapi ... tidak masalah, kan kalau nona mencoba baju ini duluan."
"Ya, baiklah Bu Kuswara." Meski merasa aneh, tetapi Mayang pada akhirnya memilih patuh sebab Kuswara terus saja mendesak. Mau bagaimana lagi? Memang begitu, kan kapasitasnya di sini?
Mayang hanya bisa pasrah saat para pelayan itu membantunya mengganti pakaian dan merias wajahnya. Bahkan Kuswara yang beralasan mencoba make-up baru masih sulit dipercayainya. Wanita paruh baya itu sengaja mengubah kata-kata agar ia tak curiga. Namun, tetap saja, di benak Mayang masih terselip tanda tanya besar.
"Bu Kus, apa kita mau main salon-salonan?"
Pertanyaan polos Mayang itu nyaris membuat Kuswara tergelak. Beruntung ia masih bisa mengendalikan diri dan bersikap biasa tenang seperti biasanya.
"Benar, Mayang. Kita sedang main salon-salonan. Kamu suka, kan?" Sengaja Kuswara berkata demikian agar Mayang berhenti bertanya.
Mayang menatap dirinya sendiri melalui pantulan cermin dan hampir tak mengenali jika itu adalah dirinya.
"Cantik, kan," ujar Kuswara pada Mayang yang masih begitu mengagumi dirinya.
__ADS_1
"Iya Bu Kus. Make-upnya sangat bagus," sanjung Mayang dengan senyum yang mengembang. Ia lantas menoleh pada bu Kuswara, dan bertanya dengan penasaran. "Tapi Bu Kus, untuk apa saya berdandan secantik ini?"
"Cuma buat coba make-up baru, Mayang. Seperti yang sudah saya katakan tadi." Kuswara tetap pada penjelasannya semula, dan itu sukses membuat Mayang kesal. Tapi gadis itu hanya bisa menelan mentah-mentah rasa penasaran.
"Apa Mayang lapar? Bagaimana kalau makan makan dulu? Kebetulan hidangan makan malam sudah disiapkan di meja makan."
"Bu Kus, bukankah saya sedang dihukum tidak boleh keluar kamar? Lalu kenapa malah makan malam di meja makan? Apakah ini bukan pelanggaran?" Mayang bertanya dengan nada mengingatkan, dan itu berhasil membuat Kuswara tercekat.
"Benar, Mayang. Tapi berhubung tuan tidak ada di rumah, jadi tidak masalah kalau kau keluar kamar untuk beberapa saat. Kau pasti merasa bosan, bukan?"
"Hemm." Mayang mengangguk lemah.
"Mari kita ke ruang makan."
"Kalau gitu bajunya diganti aja ya. Udah kelar, kan, main salon-salonannya?
"Nanti saja setelah selesai makan, ya. Sekarang kita ke ruang makan dulu."
***
Di meja makan, semua hidangan telah tersaji di atas meja. Kuswara menarik satu kursi lalu mempersilakan Mayang duduk di sana.
"Apa cuma aku yang makan di sini?"
"Benar nona."
"Tapi kenapa hidangannya sebanyak ini? Oh ya, apakah tuan muda sudah pulang?"
"Tuan muda sedang di luar kota dan sepertinya beliau tidak pulang."
"Hemm. Bahkan tuan tidak mau pulang gara-gara aku." Mayang menggumam dengan mimik penuh rasa bersalah.
"Bukan begitu. Kebetulan beliau sedang ada urusan, jadi memang tidak bisa pulang."
"Oh begitu? Baguslah. Kalau gitu, ayo kita makan sama-sama. Aku tidak mungkin bisa menghabiskan semuanya sendirian, kan."
"Terimakasih nona. Tapi nona hanya akan makan sendiri." Kuswara membelai punggung Mayang. Ia nyaris kehabisan kata-kata demi menjelaskan pada gadis yang banyak tanya ini.
"Begini saja nona, bagaimana kalau nona membayangkan sekarang sedang makan bersama seorang pangeran."
"Pangeran?" Mata Mayang langsung berbinar senang. Sejak dulu ia memang memimpikan pangeran. Namun, kenapa tiba-tiba ia merasa janggal?
"Apa maksud Bu Kuswara, Anda ingin saya berhalusinasi tengah berkencan dengan seorang pria, begitu?"
"Tepat sekali."
"Aneh." Mayang menggumam. Di saat Weni begitu gencar menyadarkannya dari khayalan, Kuswara justru memintanya untuk berkhayal. Sebenarnya apa sih mau mereka?
Bersambung
__ADS_1