
Sejenak Milly hampir saja kehilangan akal saat Billy mulai melambungkan angannya ke atas awan. Namun sedetik kemudian ia kembali tersadar. Pergerakan pun mulai ia perlihatkan. Rontaan kecil menjadi bukti nyata atas penolakannya.
"Pak, tolong lepaskan saya," erang Milly dengan nada penuh peringatan. Namun Billy justru semakin mengeratkan pelukan, bahkan peringatan Milly tadi begitu mudah ia abaikan.
"Aku tidak akan pernah melepasmu lagi." Balas Billy dengan sikap acuh. Bahkan ia tak peduli andai saja Milly mengumpatinya sebagai lelaki tak tahu diri. "Kumohon maafkan semua kesalahanku. Aku janji akan berusaha membuatmu bahagia." Ungkapan seperti sumpah itu terlontar begitu lancar tanpa sejejak keraguan, seolah ingin memupuk kembali harapan Milly yang bahkan hampir-hampir mati.
"Benarkah?" lirih Milly. Namun pertanyaan itu terdengar seperti menuntut kepastian. Ia memutar kepalanya menoleh dengan posisi mendongak, lantas menatap lekat manik coklat lelaki yang pernah menikahinya itu dan berusaha mencari sejejak kebohongan di sana.
"Aku janji." Billy menjawab dengan nada penuh ketulusan. Dibalasnya tatapan si istri dengan sorot kelembutan penuh cinta. Hanya sedetik, sebab di detik lain Milly seolah sengaja buru- buru membuang muka.
"Aku mencintaimu," lagi-lagi Billy berbisik dengan suara seksi yang menggoda.
Oh no! Ini bahaya. Ini bahaya!
"Aku ingin kita bersama-sama membina rumah tangga yang bahagia. Kau mau kan?" lagi-lagi Billy bertanya dengan nada memohon. Melihat Milly yang masih diam, ia pun diam sejenak, seolah tengah memberi waktu kepada istrinya untuk berpikir sebentar.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" pada akhirnya Billy pun memutuskan untuk bertanya, sebab Milly tak kunjung buka suara. Mendesah pelan, Billy lantas dengan manja menyandarkan dagunya pada pundak Milly. Bahkan sengaja merekatkan pipi kirinya pada pipi kanan istrinya. "Apa kau sangat marah kepadaku?" kali ini ia bertanya dengan memasang mimik mengiba.
Ah sial, ini semakin berbahaya. Tapi anehnya kenapa aku suka? batin Milly sambil menggigit bibir bawahnya. Ia dalam dilema. Bingung harus bersikap bagaimana. Antara bersikap angkuh dengan menolak demi mempertahankan harga diri, atau goyah dan bertekuk lutut pada Billy. Dan persetan dengan harga diri, yang penting ia dan Billy bersatu kembali.
Namun perihnya hati karena pengusiran itu masih membekas hingga kini. Bukankah tak sepadan dengan sakit yang lelaki itu berikan jika Milly begitu mudah memaafkan? Bukankah setiap perbuatan harus menerima ganjaran yang sepadan?
"Pak, tolong lepaskan saya dulu. Malu dilihat orang." Milly berucap sambil menengok ke kiri dan kanan, melihat area taman yang menyajikan pemandangan malam. Sangat indah dengan dihiasi lampu-lampu besar hingga membuat taman kota itu terang benderang.
Terlihat banyak sekali muda-mudi tengah melewati malam bersama dengan pasangan, atau mungkin teman-teman. Mereka memilih tempat yang mereka suka, mengisi tiap bangku kosong yang tersedia di setiap titik yang berjeda.
Sementara Milly, ia terjebak dalam pelukan seorang lelaki. Berdiri terpaku dibawah terang benderangnya lampu. Tak ada yang peduli, karena semua orang tengah sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri.
__ADS_1
Kehangatan pelukan Billy memang sanggup menghalau dinginnya embusan angin malam yang meninggalkan sensasi gigil di kulit tipisnya. Namun tak bisa mencairkan kebekuan sebongkah merah di dalam dada.
"Aku tidak peduli pada pandangan orang lain, karena yang kupedulikan hanya pandanganmu terhadapku." balas Billy dengan sikap tak mau tahu.
"Pak ,,," lirih Milly dengan nada merengek. Sedang tangannya berusaha keras melepaskan jalinan tangan Billy yang bertaut erat. Ia sudah bertekad untuk menolak. Semangat Milly. Jadilah wanita kuat. Jadilah wanita hebat! Semboyannya dalam hati. Ia sudah mantap untuk menutup mata dan juga telinga, berusaha menghalau dan menepis setiap bujuk rayu yang datang dari syaitan berwujud lelaki tampan di belakangnya.
Tapi, Milly yang terpejam justru menikmati sentuhan lembut dari bibir Billy yang lagi-lagi mendarat dengan selamat di pipi kenyalnya. Ah sial! Kenapa rasanya asyik begini si? Ah, aku mau lagi! Aku mau lagi! batinnya sambil menggeliat manja saat Billy yang setengah membungkukkan badan itu tampak menipiskan bibir, lantas menggesekkan ujung hidungnya yang lancip itu dengan lembut pada pipinya yang merona.
Lagi-lagi Milly serasa diterbangkan menembus gumpalan awan, melewati lapisan demi lapisan tujuh langit hingga ia mendarat sempurna di bulan. Mumpung mampir di bulan ia numpang rebahan sebentar. Karena dalam imajinasinya sekarang ia tengah berada di atas gumpalan kapas nan lembut dan empuk. Jika memang ini adalah mimpi, ia tak mau membuka mata dan kembali ke dunia nyata. Namun sepertinya ini nyata, sebab tawa kecil Billy yang merasa gemas begitu nyata menggema di telinganya.
"Aku mencintaimu, Sayang." lagi-lagi bisikan lembut Billy serasa menerbangkannya menuju nirwana. Membawanya pada suasana yang sangat indah dan belum pernah ia rasakan sebelumnya. Padahal hanya pernyataan cinta, tapi perasaan Milly sudah sebegitu senangnya. Astaga, kenapa niat hati dan perasaan selalu saja tak sejalan?
"Jadi, kau memaafkanku?"
Hah? Maaf? Tersadar, jiwa Milly yang tengah melanglang buana di nirwana kini seolah kembali ke raganya. Ia mendadak membuka mata dan memasang wajah antagonisnya. Bukankah kata maaf itu baginya sekarang menjadi kata terlarang? Ah sial, gara-gara sebuah rayuan, ia hampir-hampir terperdaya bujukan syaitan.
"Pak, sesak. Saya susah napas," keluh Milly sambil meringis. Seolah tengah menunjukkan jika tubuhnya benar-benar merasa tersiksa. Namun yang jelas, usaha itu berhasil.
"Eh maaf, aku terbawa suasana," balas Billy sambil melonggarkan pelukannya.
Hanya melonggarkan? Sialan. Kenapa tidak dilepaskan sekalian? Kalau begini aku harus pakai cara apa agar terlepas dari belenggunya?
"Tubuhmu begitu hangat. Bahkan terasa pas saat kudekap. Sangat nyaman, hingga membuat aku betah berlama-lama."
"Masa?" Milly menyahut perkataan Billy begitu cepat. Bahkan wajahnya yang semula memasang mimik jahat seketika melembut tanpa sebab. Tanduk kecil yang tadi sempat tumbuh di kepala saat amarah mulai membakarnya kini lenyap entah kemana. Matanya yang semula berkilat penuh kemarahan kini menampakkan binar kebahagiaan.
"Benar," Billy mengangguk mengiyakan. Lagi-lagi senyuman semanis gula mewarnai lengkung tipisnya.
__ADS_1
Ah indahnya ,,,. Apa bahagia itu sesederhana ini, ya? Cukup dengan mendapatkan pelukan hangat penuh kasih sayang. Serta mendengarkan rayuan dari yang tersayang, entah itu kenyataan atau hanya bualan. Yang jelas itu benar-benar membuatku sangat senang, dan mampu meluruhkan amarahku yang sudah bergemuruh dan hampir saja menggelegar. Ehhh, tunggu. Bualan? Amarah? Bukankah aku tadi sedang marah ya? Tapi kenapa aku jadi luluh karena rayuannya? Sialan!
Tersadar, Milly kembali memasang wajah iblisnya. Aku benci dia. Aku benci dia. Aku benci dia. Batinnya dalam hati seolah sedang merapalkan mantra untuk menguasai diri. Entah mengapa wajah tampan dengan sejuta pesona ini selalu berhasil membuatnya oleng dan kesulitan mengimbangi diri. Wajar karena dia memiliki sejuta pesona, coba kalau cuma satu, mungkin sudah habis saat Billy mengusirnya waktu itu. Dan sisanya masih sangat banyak hingga Milly merasa kesulitan untuk menghindari sisa pesonanya. Eh, ini author nulis apa sih, nggak jelas. Mulai gaje.
Milly yang tengah bergelut dengan batinnya sendiri, baru menyadari jika kini ia telah berbalik badan dan saling berhadapan dengan lelaki di depannya. Entah bagaimana kejadiannya, yang jelas gerakan Billy begitu lincah namun menghanyutkan, hingga ia terbawa arus dan tenggelam dalam lembah ketidakberdayaan.
Spontan Milly mendongak saat jemari Billy dengan lembut mengapit dagu dan memaksanya bersitatap, membuat wajah tampan itu semakin jelas terlihat dari jarak yang begitu dekat.
Tubuh mungil itu mau tak mau bergerak merapat, kala jemari Billy yang melingkari di pinggang ramping Milly menariknya dengan agresif. Sementara Milly yang gelagapan menggerakkan tangannya menekan dada bidang Billy, seolah berusaha menahan agar ia tak terjerembab semakin dalam di pelukannya.
Dan sekali lagi, senyuman semanis madu itu berhasil melumerkan hati Milly yang sekeras gula batu. Semakin kuat ia berusaha menghindarinya, tapi justru rasa cinta semakin menguat di dalam dada.
"Aku hanya ingin bersamamu selamanya, sampai kapanpun juga." Suara Billy terdengar lirih saat mengucapkan. Tanpa izin, jemarinya bergerak menangkup wajah Milly, lantas mendekatkan wajahnya. Menempelkan dahi dengan dahi dengan penuh kelembutan. Bahkan ujung hidung mereka pun bersentuhan, hingga pertukaran udara untuk pernapasan pun tak terelakkan. Jangan tanya seperti apa kabar deguban jantung Milly di dalam sana. Bertalu-talu tak karuan, sudah seperti genderang mau perang.
Milly memejamkan mata kala bibirnya tak mampu berkata apa-apa. Lidahnya mendadak kelu. Bahkan tubuhnya terasa kaku seperti membatu. Lagi-lagi ia dalam dilema. Lelaki ini benar-benar meluluh lantakkan pertahanannya.
Mendesah pelan, Milly berusaha menetralkan perasaan. Sekarang bukan saatnya mencintai orang yang tak menganggapnya ada. Ia harus teguh pada pendiriannya. Berani menolak saat merasa hati tak ingin terikat. Kini saatnya ia untuk menentukan sendiri masa depannya. Bebas tanpa tersiksa rasa cinta yang tak terbalaskan. Ia tahu lelaki di depannya ini sangatlah pintar, bisa jadi saat ini ia tengah memanipulasi perasaannya sendiri.
"Pak, maaf. Tapi--"
"Tapi kenapa, Mill?" Billy memotong perkataan Milly dengan sikap tak sabaran. Ditatapnya manik bening istrinya itu dengan ekspresi penasaran. "Apa kau meragukan permintaan maafku? Tak percaya akan perasaan cintaku kepadamu?" Billy mendesak penuh rasa keingintahuan. Diraihnya jemari Milly yang masih tertahan di dadanya, lantas sedikit menggeser ke bagian kiri. "Rasakan deguban jantungku ini Milly. Dia bertalu-talu setiap kali aku bersamamu. Terlebih saat kita berada dengan jarak sedekat ini."
Terdiam, Milly mengamati dada yang tengah ia raba dengan perasaan yang tak bisa ia ungkapkan. Dada itu benar-benar menunjukkan desiran yang sama persis dengan dadanya.
"Haruskan aku membelah dada dan menunjukkan hatiku yang telah terukir namamu di sana?" imbuh Billy lagi yang membuat Milly membelalakkan mata tak percaya.
Bersambung
__ADS_1