
Jam kerja belum lah usai namun hari ini Brian begitu ingin cepat pulang meski waktu masih menunjukkan pukul tiga sore hari. Entah mengapa semangatnya begitu membara saat sang istri memintanya membawakannya rujak buah pedas dan es kelapa muda saat dirinya pulang bekerja. Matanya berbinar senang saat membayangkan kabar baik itu akan segera ia dengar.
Istriku pasti sedang hamil, dan dia pasti sedang ngidam sekarang. Batinnya dalam hati.
Entah mengapa rasa bahagia ini begitu kuat dan memenuhi isi kepalanya. Hingga ia tak memiliki waktu lagi untuk memikirkan hal lainnya seharian itu.
"Sayang, aku datang!" Suara renyah Brian menggema di ruang kamar saat lelaki itu baru membuka pintu. Hening. Brian melangkah masuk dengan pandangan mengedar keseluruh ruangan. "Sayang! Aku pulang cepat cuma buat kamu loh," ulangnya saat masih belum juga terdengar suara sahutan sang istri.
"Kemana dia?" Gumam Brian heran.
Melangkah menuju ruang pakaian, lelaki yang mulai terlihat gelisah itu segera menanggalkan jas mahalnya. Menaruhnya di keranjang pakaian kotor dengan baik, ia lantas melangkah keluar sambil tangannya bergerak melipat lengan kemejanya hingga sebatas bawah siku.
Perasaan was-was dan khawatir mulai menggayut dipikirannya. Ia sengaja tidak memberi tahukan kepulangan nya pada orang rumah untuk memberikan istrinya sebuah kejutan. Namun ia terlihat kecewa saat tak mendapati keberadaan sang istri.
Mayang yang tubuhnya tampak berkering dengan pakaian zumba yang melekat ditubuhnya segera berlari setelah mendapat laporan dari seorang pelayan bahwa sang suami telah tiba.
Suara derap langkah kaki dengan sepatu kets itu terdengar jelas di telinga Brian sebelum akhirnya sang istri muncul dari arah pintu di ruang keluarga. Gadis itu menghentikan langkah dengan nafas yang terengah-engah.
Brian yang tengah duduk menyilang kaki sambil memainkan ponselnya pun segera menoleh ke arah pintu.
"Kau baru saja berlari-lari?" Meletakkan ponselnya di meja, lelaki itu bangkit dan menatap sang istri dengan keheranan.
Dengan perlahan wanita dengan rambut yang di ikat mirip ekor kuda itu pun melangkah mendekati Brian. "Maaf karena aku tidak menyambut kedatangan mu Sayang," ucapnya dengan menatap sang suami dengan ekspresi wajah penuh penyesalan.
"Tak apa Sayang, tapi bukankah lebih baik jika kau berjalan pelan-pelan saja?" Brian berucap pelan sambil meraih jemari sang istri. Ada sejejak kecemasan yang tersirat di matanya saat beradu tatap dengan sang istri.
Menghela nafas lega, Mayang menyunggingkan senyum saat Brian terlihat begitu mencemaskannya. "Lain kali aku akan berjalan pelan dan hati-hati, Sayang. Aku janji." Mayang berucap penuh keyakinan.
Brian tak menyahuti ucapan sang istri. Ia justru tampak memperhatikan penampilan sang istri dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Kau tampak berkeringat sekali," Brian mengusap keringat di pelipis Mayang dengan lembut. "Apa yang baru saja kau lakukan?"
"Oh aku baru saja berolah raga Sayang, zumba. Aku mengajak beberapa pelayan untuk menemaniku. Tak apa kan?"
"Zumba?!"
"Iya Sayang, zumba. Semacam senam atau aerobik. Seperti ini." Mayang memperagakan beberapa gerakan zumba di hadapan suaminya.
"Kenapa harus zumba sih Sayang ...!" Brian berteriak frustasi sambil mengusap kasar pelipisnya. "Seharusnya kamu jangan banyak-banyak gerak ...,"
__ADS_1
"Sayang kenapa khawatir begitu? Aku cuma zumba dan kekhawatiran mu begitu berlebihan seolah aku sedang--" Mayang menghentikan ucapannya. Lantas menatap Brian seperti menyelidik. "Sayang, aku mengerti arah pembicaraan mu." Lirihnya saat dirinya sudah bisa menelaah maksud ucapan Brian.
"Apa Sayang?"
"Pasti kau mengiraku--" Mayang menggantung ucapannya, dan menggigit bibir bawahnya. Lantas dengan mata berkaca-kaca gadis itu menggelengkan kepalanya. "Maaf telah mengecewakan mu Sayang. Tapi belum ada buah cinta kita di dalam sini." Mayang menunduk saat mengusap perutnya yang masih rata. Entah mengapa ia tak sanggup menahan bulir bening tanpa warna yang menetes dari pelupuk matanya.
Dengan cepat Brian pun meraih tubuh sang istri dan mendekapnya sangat erat. Berjuta sesal serasa memenuhi rongga dadanya. Andai saja ia tidak tergesa-gesa menyimpulkan sendiri jika sang istri hamil maka tangisan sang istri tak kan terjadi.
"Sayang, maafkan aku telah membuatmu sedih. Aku terlalu bersemangat saat bulan ini kau tak kedatangan tamu bulananmu Sayang, sehingga dengan begitu bodohnya aku menyimpulkan sendiri bahwa mungkin saja kau sedang hamil." Brian terkekeh pelan seolah sedang menertawakan dirinya sendiri.
"Aku sudah melakukan tes pada air kencing ku, tapi hasilnya masih negatif." Ucapan Mayang terjeda saat gadis itu terisak. "Maafkan aku Sayang, aku sudah mengecewakanmu."
"Tidak Sayang, aku tidak kecewa. Kumohon jangan katakan itu lagi." Entah mengapa dada Brian rasanya begitu sesak saat dirinya dirundung rasa bersalah. Sikap khawatirnya yang berlebihan ternyata menimbulkan kesalah fahaman, hingga membuat istrinya berderai air mata saat harapan tak sesuai dengan kenyataan.
Brian menangkup wajah sang istri hingga membuat sang istri mengangkat pandangannya. Dua pasang iris dengan binar sedih itu saling beradu. "Kau marah padaku?" Lirih Brian dengan menahan sesak penuh rasa bersalah.
Tak bisa berkata-kata Mayang hanya bisa menggeleng saat isaknya kembali terdengar. Gadis itu kembali tertunduk untuk menyembunyikan buliran air mata yang meluncur begitu bebasnya.
Mengecup kening sang istri agak lama, Brian kembali mendekap tubuh sang istri penuh cinta. Membenamkan wajah gadis itu kembali ke dada. Meski tak bisa mengahapus luka, tapi dia tidak ingin sang istri menderita batin karena ulahnya.
"Sayang," panggil Brian lembut. "Aku berjanji mulai hari ini tak akan membahas mengenai kehamilan lagi. Pernikahan kita baru seumur jagung, tapi malah si bodoh mengira istrinya hamil. Maafkan suamimu yang bodoh ini Sayang."
* * *
"Sudah rapi." Sambil tersenyum, Mayang mengusap lembut pundak Brian usai memsangkan dasi pada suaminya. Sebuah kegiatan rutin yang di lakukannya saat sang suami berkemas sebelum berangkat ke kantor.
"Terima kasih Sayang," ucap Brian seketika dendan lembut. Dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya, lelaki itu tak berkedip saat menatap sang istri dengan rasa bersalah.
"Kita turun sekarang? Mungkin Sekretaris Billy sudah datang."
Mengangguk pelan, Brian meraih jemari Mayang dan menggenggamnya erat. "Ayo." Ajaknya sambil mengisyaratkan agar mereka berjalan beriringan. Sebuah kecupan lembut ia hadiahkan di punggung tangan sang istri saat keduanya melangkah menuju ruang makan yang berada di lantai bawah.
"Silakan Tuan, Nyonya, sarapan sudah siap." Bu Kuswara menyambut saat keduanya muncul di ruang makan.
"Terima kasih Bu Kuswara." Jawab Mayang dengan senyum hangat seperti biasa. Dengan cekatan tangan Mayang pun bergerak mengambilkan sendiri menu sarapan untuk sang suami.
"Terima kasih Sayang."
__ADS_1
"Habiskan ya," kata Mayang dengan nada perintah sambil duduk di kursinya. "Bu Kus, apa Sekretaris Billy sudah datang?" Mayang melemparkan pandangan pada wanita paruh baya yang berdiri di sampingnya.
"Sudah Nyonya, beliau sedang menyiapkan mobil untuk Tuan."
"Baguslah. Terima kasih Bu Kus," ucapnya saat kepala pelayan itu mengisi piring makannya tang masih kosong.
"Anda juga harus sarapan Nyonya," tukas Kuswara dengan nada menuntut namun tetap menjunjung tinggi kesopanannya.
Untuk beberapa saat suasana di ruang makan itu pun hening. Hanya dentingan suara sendok dan piring yang beradu.
Berkali-kali Mayang melirik pada sang suami yang tengah fokus pada sarapannya. Melihat sang suami yang begitu tampak segar dan terlihat begitu ceria membuatnya begitu ingin menanyakan sesuatu yang selama ini berusaha ia redam.
"Sayang," panggil Mayang lirih dengan nada suara yang terdengar kaku.
"Heumm?" Brian mengangkat pandangannya dan menatap penuh tanya pada sang istri.
"Boleh aku bertanya?"
"Tanyakan saja Sayang." Melirik sekilas pada istrinya.
"Janji kau tak akan marah?" Tanya Mayang meminta ketegasan.
"Iya Sayang, aku janji. Sekarang tanyakan lah." Brian menatap lekat sang istri untuk meyakinkan bahwa dirinya siap menjawab semua pertanyaan.
"Sayang," Mayang mulai membuka suara untuk bertanya. "Sebenarnya Alex itu adalah teman atau musuh bagimu?"
Bukan sebuah jawaban yang terlontar dari bibir Brian. Namun justru dentingan nyaringlah yang terdengar saat dengan sengaja Brian menghentakkan sendok di atas piring makannya.
Mayang menautkan alisnya, heran menatap suami yang tiba-tiba teelihat begitu marah mendengar pertanyaannya.
"Aku tidak ingin kau menyebut nama itu lagi dihadapan ku, Sayang." Ucap Brian dengan nada penuh kemarahan. Lelaki itu lantas membuang muka menghindari tatapan penuh keingin tahuan sang istri.
"Tadi kau sudah berjanji untuk tidak akan marah bukan? Tapi kenapa sekarang marah?"
"Aku mohon hentikan sekarang Sayang. Aku tak mau mendebat masalah ini lagi." Ucap Brian dengan nada penuh peringatan.
Mayang hanya bisa tertunduk menelan kekecewaan. Jika hanya mengungkit nama saja Brian sudah semarah itu, lantas bagaimana ia akan memberi tahukan kegundahan hatinya saat ini.
__ADS_1
Bersambung