
Mendengar kalimat tuduhan yang Milly layangkan membuat Billy membelalak tak terima. "Hey, jangan sembarang kalau bicara ya! Semalam aku pulang dengan keadaan sangat lelah. Dan semakin lelah saja karena melihat ulahmu yang benar-benar tidak beretika! Bayangkan saja, seorang wanita tidur dengan posisi yang benar-benar tidak beradab. Bahkan seenaknya saja kau menjadikanku sebagai alas tidur kepalamu. Memang kau pikir pahaku ini sebuah bantal?!"
Tercengang, Milly mengerjap pelan saat beradu tatap dengan suaminya. Ia benar-benar terkejut mendengar fakta yang Billy ungkapkan barusan. Sebab ia sama sekali tidak pernah merasa telah menjadikan pangkuan Billy sebagai bantal.
Gadis beriris coklat itu lantas mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan alis yang bertaut, sementara jari telunjuknya bergerak menggaruk kecil pipinya seolah sedang berpikir keras. Atau mungkin berusaha mengingat-ingat kejadian semalam.
"Bagaimana? Ingat tidak!" Billy mendesak.
Bukannya bisa mengingat sesuatu setelah berpikir cukup lama, gadis itu justru menggeleng samar sambil menggigit bibir bawahnya. Sorot matanya memperlihatkan keraguan. Setelah beberapa saat terdiam, ia lantas menatap Billy dan memberanikan diri untuk melontarkan sanggahannya. "Tapi Pak, mana mungkin saya berani melakukan itu kepada Bapak. Saya nggak mungkin se-lancang itu."
"Cih. Kau tidur. Kau mana tau."
Milly memberengut menanggapi perkataan Billy. Ia memang tidur. Tapi ia benar-benar tidak yakin jika telah menjadikan pangkuan Billy sebagai bantal. Mendesah pelan, Milly pun memijit dahinya yang kini terasa pusing. "Entahlah, Pak. Kepala saya tiba-tiba pusing. Lebih baik saya mandi agar lebih segar." ucapnya pelan sebelum kemudian berlalu pergi meninggalkan Billy yang masih diam di tempat sambil menatapnya tak habis pikir.
"Hey, tunggu!" Billy segera melangkah cepat menyusul istrinya. Diraihnya kerah piyama bagian belakang milik sang istri hingga gadis mungil itu seketika menghentikan langkah. "Siapa yang menyuruhmu untuk mandi duluan, heumm?" tanyanya dengan bola mata membulat sempurna, seolah sedang menakuti Milly melalui pandangannya.
Menoleh ke arah suaminya, gadis mungil itu pun mendesah kesal. "Apa lagi sih Pak? Saya capek berdebat. Nggak perlu nunggu disuruh orang, hanya untuk mandi, kan? Saya lagi buru-buru, Pak. Jadi biarkan saya mandi, ya? Plis ...." Ucap Milly sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Nggak bisa, saya buru-buru mau ke kantor." Billy menjawab ketus tak mau tahu.
"Pak saya duluan, ya. Hari ini saya ada panggilan wawancara kerja. Jadi hari cepat. Saya duluan ya Pak." Milly lagi-lagi memohon.
__ADS_1
"Apa kau bilang?! Wawancara kerja?" Billy bertanya selagi tangan kirinya mencengkeram bahu istrinya, menatapnya lekat seolah menuntut penjelasan. Ia begitu terperangah seolah tak menyangka gadis di depannya itu memutuskan untuk bekerja.
"Iya, Pak ,,, betul, sekali." Balas Milly penuh keyakinan. Melirik jemari Billy yang masih menyatu di bahunya membuat gadis itu menatap Billy dengan mata yang menyipit, seolah tengah menyelidik. "Bapak dulu jualan lem, ya?"
"Hah?" Billy menautkan alisnya.
"Kok tangan Bapak lengket di bahu saya?"
Billy membelalakkan mata sebelum kemudian melepaskan cengkeraman tangannya pada bahu Milly dengan segera. Sial. Lelaki berperawakan tinggi itu terlihat kikuk, sementara Milly tampak mengatupkan bibir menahan tawa.
Menatap Milly dengan wajah geram, Billy tahu gadis itu sedang menertawakan dirinya. "Kenapa tertawa? Apa yang lucu?!" Sentaknya dengan nada kesal.
Billy membelalakkan mata setelah ia mampu menelaah maksud perkataan istri sirinya. Dan lelaki itu segera melesat menaiki anak tangga menyusul si wanita. Sampai di kamar, Billy mendapati pintu kamar mandi telah tertutup rapat dan terkunci dari dalam.
"Sial! Dia berhasil mengelabuiku rupanya." sambil berkacak pinggang, Billy mendesis kesal. Diliriknya arloji yang melingkar di pergelangan, sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Biasanya jam segini dia sudah siap dan berkemas. Namun rutinitas paginya hari ini harus terganggu karena kehadiran gadis itu. Benar-benar menyebalkan.
Berhubungan dengan wanita membuatnya jadi berantakan. Semua rencana yang telah tersusun rapi harus bisa kacau balau oleh kehadiran wanita. Itulah yang membuatnya tidak suka. Billy yang perfeksionis dan menginginkan semuanya terjadi dengan sempurna seperti rencana. Ia akan menyingkirkan siapapun yang berusaha mengacaukan urusannya. Termasuk gadis yang sedang di dalam sana.
Mendekati pintu yang tertutup rapat itu, Billy mulai mengetuknya. "Hey yang di dalam sana! Aku memohon dengan sangat, keluarlah segera!" ucapnya dengan suara datar, namun terdengar penuh tuntutan.
Tak terdengar sahutan dari dalam membuat Billy kembali berbicara. Namun kali ini ia sedikit meninggikan suaranya. "Hey, dengar tidak! Aku sedang buru-buru sekarang! Ada meeting penting pagi ini, dan aku bisa terlambat. Kau tahu kan, lelaki hanya membutuhkan waktu lima menit untuk mandi, sedangkan wanita! Dia bisa menghabiskan waktu seharian untuk berdandan! Mengalah lah sebentar dan beri aku waktu lima menit saja!"
__ADS_1
"Sebentar, Pak ... lagi tanggung ...! "
Yang di luar berteriak panik, sedangkan yang di dalam hanya menyahut santai. Benar-benar membuat kesal.
Billy mengetuk pintu itu lagi. "Hey cepat keluar!" Teriakannya terdengar begitu mendesak. Bahkan tangan kanannya bergerak menggedor pintu dengan kasar. Lelaki itu diam sejenak selagi menempelkan daun telinga pada daun pintu untuk mendengarkan yang di dalam berbicara. Suara Milly terdengar samar dari dalam, bahkan artikulasinya pun sama sekali tidak jelas. Membuat Billy bertanya-tanya apa yang sedang gadis itu lakukan di dalam sana.
"Hey, kau belum tahu siapa aku ya!" Billy berteriak lagi begitu kencang. Teriakannya menggema di seluruh ruang kamar. Ekspresinya menggelap seolah sudah dipenuhi dengan amarah.
"Hahaha marah dia." Milly tergelak geli di dalam sana. "Gedor saja terus pintu itu. Ancam saja aku, memangnya kau kira aku takut?" Milly menggumam kesal. Matanya melirik ke arah pintu yang mengeluarkan suara berisik oleh gedoran Billy. Sambil tersenyum ia mencuci tangannya di wastafel dan melumuri odol pada sikat giginya.
Milly melirik lagi ke arah pintu. Senyumnya melebar mendengarkan ucapan Billy yang seolah mengancamnya. "Hahaha, terus saja berteriak! kau yang di luar sana bisa apa, hah?! Sok-sok-an mengancamku." Milly tergelak dalam hati sambil tangannya bergerak menyikat giginya.
Sementara itu, Billy yang berada di luar tampak semakin kehilangan kesabaran. Lelaki itu mundur beberapa langkah dari pintu. Sambil berkacak pinggang, Matanya begitu teliti mengawasi pintu seolah sedang mengira-ngira. Sebuah seringai iblis tampak tersungging dari lengkung merahnya. Dan ....
Braaakkk! Suara hentakan keras yang disusul jatuhnya daun pintu yang terlepas dari engselnya begitu mengejutkan Milly yang berada di dalam sana. Bagaimana tidak terkejut jika hanya dalam satu kali tendangan saja Billy mampu menjebol pertahanan pintu kamar mandi.
Tangan Milly yang masih memegang gelas berisi air putih itu bergetar hebat. Matanya membulat sempurna saat mendapati tubuh menjulang milik Billy tengah berdiri dengan gagahnya sambil menginjak daun pintu yang tergeletak mengenaskan. Bahkan seringai mengerikan itu tersungging di bibirnya.
Masih di dera keterkejutan yang teramat membuat tubuh Milly seolah membeku dengan pipi yang menggembung menampung air kumur yang belum sempat ia buang, dan, "Glek." Tanpa sadar air itu tertelan.
Bersambung
__ADS_1