
"Apa kalian yakin tak melewatkan satu tempat pun di rumah ini?"
Para pelayan dan pengawal yang berbaris itu menggeleng bersamaan menanggapi pertanyaan Brian. Pria itu sontak menggeram lalu mengacak rambutnya frustasi.
"Apa saja kerja kalian! Mencari satu wanita saja tidak becus! Benar-benar tidak berguna!" maki Brian penuh amarah. Hilang kendali, pria itu melayangkan tinjunya tepat mengenai meja kaca hingga pecah berhamburan di lantai.
Semua yang ada di sana sontak berjingkat karena terkejut. Ekspresi ketakutan begitu kentara di wajah mereka. Namun, tak ada seorangpun yang berani angkat bicara.
"Sayang, kau di mana!" Brian mengerang frustasi. Mengabaikan tangannya yang terluka, ia melangkah hendak meninggalkan ruang tamu yang menjadi tempat mereka berkumpul. Namun, seketika itu juga Kuswara berusaha menghentikannya.
"Tuan, Anda mau ke mana? Tangan Anda terluka dan berdarah, Tuan," ucap Kuswara dengan nada khawatir. Ia hendak mendekat, tetapi seketika berhenti saat Brian mengangkat tangannya seolah-olah memberinya isyarat untuk berhenti.
"Aku akan mencarinya sendiri sampai ketemu. Jika sampai terjadi apa-apa dengan istriku, kalianlah yang harus bertanggung jawab!"
Brian benar-benar tampak kacau. Ia seperti kembali pada dirinya yang dulu, yang begitu mudah marah. Wajar. Pria mana yang tak akan khawatir ketika tahu istrinya menghilang.
"Tuan," Suara Kuswara terdengar di sela keheningan malam yang semakin larut itu. Brian seketika menoleh kearah nya."Kami melewatkan tiga tempat yang terlarang untuk kami masuki tanpa perintah anda dalam pencarian ini."
Brian membulatkan matanya seketika. Hal yang tak sempat terpikirkan oleh nya sebelumnya dari tempat - tempat itu.
Brian merasa ada setitik cahaya terang yang seperti muncul dalam kegelapan. Di saat keputus asaan nya mencari sang istri,tiba-tiba kepala pelayan itu muncul dan berbicara dengan keberaniannya yang membuat Brian memiliki secercah harapan kembali untuk segera menemukan istrinya.
Tanpa pikir panjang lagi Brian pun segera beranjak dan melangkah lebar meninggalkan tempat itu. Ia memiliki tujuan yang kemungkinan besar menjadi tempat favorit istrinya saat merasa hatinya sedang terluka.
Brian telah sampai di depan sebuah pintu besar. Dan tanpa ragu ia segera membukanya untuk melihat keadaan di dalam ruangan itu.
Dan benar saja, Brian melihat Mayang tengah berjibaku dengan samsak yang tampak tergantung di ruang gym miliknya itu.
Brian melihat wanita nya tampak gahar dengan penampilannya yang tampak memakai kostum gym dengan sarung tinju di tangannya. Ia tampak memukul berkali - kali serta menendang samsak itu dengan kekuatan penuh nya.
Peluh keringat yang tampak menetes membasahi tubuhnya pertanda Mayang tidaklah baru saja melakukan kegiatannya itu.
Ternyata dia melampiaskan kemarahannya dengancara seperti itu. Dia memang wanita ku,
Atasan tanpa lengan yang Mayang kenakan semakin memperlihatkan otot keras di lengan ramping nya saat menghujamkan pukulan demi pukulan ke arah samsak yang hanya bisa pasrah tanpa melawan.
Saat dirinya merasa kelelahan, Mayang memeluk samsak itu dengan kedua lengannya dan menjadikannya tumpuan untuk menahan tubuhnya untuk beberapa lama. Nafasnya yang kian memburu oleh karena detak jantungnya yang bekerja dua kali lipat dari biasanya.
Mayang melepaskan pelukannya dari samsak itu, lalu menarik kakinya melangkah mundur dan kemudian merebahkan tubuhnya di lantai marmer nan dingin sehingga terasa nyaman saat tersentuh tubuhnya yang terasa memanas akibat pembakaran kalori dari gerakannya yang memacu adrenalin itu.
Mayang yang tadi sempat memejamkan matanya kini tiba - tiba membuka mata itu dengan cepat saat telinganya mendengar suara derap kaki yang semakin mendekat.
Ia memiring kan kepalanya dan menangkap dengan pandangannya sosok tubuh yang tampak menjulang tinggi jika dilihat dari tempatnya berbaring. Sosok pria itu masih samar terlihat muncul dari kegelapan karena minimnya pencahayaan di depan pintu.
Di ruangan seluas itu,Mayang sengaja hanya menyalakan satu lampu untuk penerangan di tempat yang sedang ia gunakan. Sehingga menimbulkan efek temaram di sisi lain di ruangan itu.
Seketika itu pula Mayang bangkit dan berdiri karena instingnya mengatakan ia dalam bahaya yang serta merta membuatnya meningkatkan kewaspadaan untuk melindungi dirinya sendiri.
Jemari yang terkepal terbungkus sarung tinju seolah siap menghujamkan pukulannya bila memang kemungkinan tiba - tiba dirinya dalam bahaya.
Namun seketika tubuh Mayang pun terpaku saat mengetahui bahwa suaminya lah yang muncul dari temaramnya ruangan itu. Brian tampak menunjukan senyum bangga nya sembari menatap Mayang dengan sorot mata penuh kekaguman.
Mayang seketika memalingkan wajahnya karena gusar. Tak seharusnya Brian melihatnya dengan kondisi seperti ini. Mayang merasa kurang percaya diri dengan penampilannya yang tampak amburadul. Rambut yang terikat alakadarnya dan tubuh penuh keringat.
Mayang segera membuka sarung tinju yang masih melekat di tangannya. Lalu menaruh nya di tempat nya semula. Tanpa menoleh pada suaminya sedikit pun, Mayang berencana untuk meninggalkan tempat itu.
Namun langkahnya terhenti karena tertahan oleh pergelangan tangan nya yang tiba - tiba sudah dalam genggaman tangan Brian.
"Mau kemana sayang?" Tanya Brian setelah berhasil menahan langkah istrinya agar tetap bertahan disana. "Aku datang kenapa kau ingin pergi?"
"Aku sudah selesai dengan urusan ku." Jawab Mayang dengan suara datar tanpa menoleh. Masih terlihat jelas sisa kemarahan yang masih tertinggal di wajahnya.
__ADS_1
Brian menarik lengan Mayang dengan kuat sehingga membuat tubuh Mayang merapat pada tubuhnya. Brian kemudian memeluk pinggang sang istri untuk menahan tubuh sang istri agar tak berusaha menjauh.
Namun Mayang spontan menekan dada Brian dengan kedua telapak tangan nya agar ada celah di antara mereka.
Brian memperhatikan wajah istrinya dengan seksama. Seolah sedang menyelidik bagaimana ekspresi wajah sang istri.
"Sayang, kau masih marah pada ku?" Brian berusaha bertanya dengan nada selembut mungkin agar tak melukai hati istrinya lagi.
Mayang Hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Brian. Ia masih tak menatap suaminya dan lebih memilih menatap kearah lain
Brian lantas meraih dagu Mayang dan memaksa istrinya itu agar mau menatap wajahnya. Dengan keras hati Mayang menolaknya sebagai bentuk nyata aksi membangkang nya.
"Luap kan kemarahan mu pada orang yang telah membuatmu marah. Bukan pada samsak yang tak berdosa itu." Brian menyuarakan isi hatinya. "Pukul lah aku sampai kau puas sayang," Brian memberikan wajahnya sembari memejamkan matanya dengan sikap pasrah.
"Lepaskan aku." Ucap Mayang dingin dengan nada menuntut. Namun kali ini ia menatap wajah suaminya dengan sorot mata tajam seperti menantang. Tangan nya semakin menekan dada Brian berusaha melepaskan diri.
"Tidak akan ku lepas sebelum aku kau maafkan."
Mayang menipiskan bibirnya, tersenyum sinis pada sang suami. Seolah mengatakan pada suaminya untuk tidak bermimpi.
Brian membalas tatapan sinis istrinya itu dengan senyuman hangat. Saat wajah Brian terlihat condong kedepan membuat Mayang tahu Bahwa lelaki itu sedang berusaha untuk menciumnya.
Mayang pun dengan sigap melakukan gerakan menghindar dari serangan ciuman Brian hingga lelaki itu memperoleh kegagalannya.
Bukan nya menyerah begitu saja, Brian justru merasa semakin terpacu adrenalin nya untuk menaklukan hati sang istri.
"Bagaimana kalau kita duel?" Tantang Brian sembari tersenyum dengan alisnya yang tampak terangkat satu.
"Aku tidak mau." Mayang menolak nya mentah - mentah.
"Kau takut?"
"Kau takut." Brian berusaha memancing kemarahan Mayang lagi.
"Aku tidak takut! Aku hanya tidak mau." Mayang memaksa melepaskan diri dari Brian.
"Kalau sampai aku berhasil mencium mu maka kau harus memaafkan ku." Ucap Brian dengan nada memaksa.
Mayang Mendengus, "kenapa harus duel, kalau mau cium ya cium saja aku!" Mayang Mendongakkan wajahnya tepat di hadapan wajah Brian seperti pasrah.
Brian yang tanpa curiga karena berpikir akan mendapatkan ciuman dengan mudah pun segera merengkuh dagu Mayang dan akan segera menciumnya, namun ternyata Mayang bukannya pasrah.
Mayang ternyata sedang mencari titik kelemahan Brian dengan membuat nya dalam kondisi lengah. Maka akan dengan mudah dia bisa menjatuhkan Brian.
Tanpa Brian duga, Mayang justru meraih lengan Brian dengan kuat menggunakan kedua tangannya memutar tubuhnya nya dengan susah payah untuk menarik tubuh Brian kebelakang.
Lalu di disaat bersamaan ia juga menahan kaki Brian dengan kakinya untuk menjatuhkan tubuh lelaki itu.Brian yang dalam kondisi tak siap pun akhirnya tumbang ke lantai.
"Tapi tidak semudah itu." Ucap Mayang merujuk pada ciuman itu dengan penuh bangga karena telah berhasil menjatuhkan tubuh lelaki itu. Nafasnya pun terdengar memburu karena telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan tubuh tinggi Brian.
Dan Brian pun bukannya kesakitan ia malah menunjukkan seringai nya. Tersenyum puas kearah Mayang yang masih memasang kuda - kuda nya.
"Kau berhasil mengelabui ku rupanya." Ucapnya sembari berdiri. "Ayo serang aku lagi." Brian kembali menantang Mayang.
Karena telah tersulut emosi, tanpa pikir panjang Mayang pun melayang kan kakinya untuk menyerang Brian. Namun dengan santai nya lelaki itu pun menangkap kaki kanan Mayang dengan tangan kanan nya, sementara tangan kirinya menahan tubuh Mayang agar pada saat tubuh istrinya jatuh ke lantai ia tak merasakan sakit.
Dan benar saja,tubuh Mayang pun tersungkur dengan bertumpu di tangan kiri Brian yang menahan nya. Mayang tak merasakan sakit di bagian belakang tubuhnya yang jatuh ke lantai.
Brian yang berjongkok di samping tubuh Mayang yang terlentang pun tampak menunjukkan seringai nya. Dan perlahan membantu sang istri untuk bangun dan berdiri.
Tapi Mayang dengan wajah angkuh nya menatap Brian sengit dan menepis dengan keras tangan Brian yang sudah membantunya tanpa melihat kondisi tangan itu. Lalu Mayang memutar tubuhnya dengan cepat dan mengayunkan kakinya hendak melangkah pergi daei situ.
__ADS_1
Brian yang semakin gemas pun menarik jepit rambut Mayang hingga rambut panjang itu pun tergerai dengan bebasnya. Mayang yang terkejut pun memutar tubuhnya seketika hendak meraih jepit itu dari tangan Brian.
Namun karena postur tubuh Brian yang lebih tinggi darinya membuat Mayang kesulitan untuk meraih nya. Mayang yang memang sudah merasa kesal sedari tadi pun akhirnya menyerang dengan memukul perut Brian berkali - kali sebagai pelampiasan kekesalan nya.
Mayang benar-benar memperlakukan perut Brian seperti samsak dengan tak berperasaan. Dan Brian pun bukannya merasa kesakitan, ia malah terlihat pasrah dengan membiarkan sang istri memukul nya untuk meluapkan segala amarah nya.
Tubuh Mayang pun terduduk di lantai lalu ia menangis keras di sana. "Kenapa kau jahat sekali..." Lirih Mayang di sela tangisnya. "Kau ingin membuang ku kan!"
"Sayang itu tidak Benar!" Bantah Brian dengan wajah sendu. Brian kemudian menekuk lututnya di hadapan sang istri."Aku benar - benar menyesal telah mengatakan itu. Maafkan suamimu yang bodoh ini sayang. Yang tak tahu mana lingerie dan mana baju pesta." Ucap Brian jujur menyadari kesalahan nya.
Mayang hanya terdiam dengan isak tangisnya dengan kepala yang tertunduk. Namun bola matanya membulat seketika saat pandangan mata nya terarah pada tangan Brian yang sedang memegangi jepitan rambutnya.
"Sayang tangan mu kenapa?" Tanya Mayang tanpa mengalihkan pandangannya dari tangan Brian tang berdarah itu. "Sayang kenapa tangan mu terluka?!" Desak Mayang dengan nada penuh kekhawatiran.
"Tidak apa sayang, ini hanya luka kecil." jawab Brian dengan tersenyum sembari menarik tangannya berusaha menyembunyikannya dari pandangan sang istri.
"Apa yang kau pukul sayang?!"
"Tidak ada! Aku hanya merasa frustasi karena tidak berhasil menemukan mu dimana - mana tadi."
"Kenapa kau mencari ku kemana - mana! Aku kan disini. Melihat ku menangis bukannya menghibur kau malah meninggalkan ku." Mayang kembali terisak saat mengingat hal itu.
"Sayang, aku meninggalkan mu sebentar untuk menelpon ibu. Saat aku kembali kau sudah tak ada dikamar. Aku takut kau kabur dan melarikan diri dariku." Brian meraih tubuh Mayang lalu memeluk nya. "Dan lagi pula kau yang mengusir ku dari kamar bukan?!"
"Itu karena omongan mu yang terlalu kasar!" Ucap Mayang sembari memukul dada Brian karena kesal.
* * *
Mayang yang sudah membersihkan diri kini terlihat sedang duduk di sofa kamar bersama Brian sembari membersihkan luka di tangan lelaki itu. Mayang melakukan nya dengan hati - hati sekali. Setelah sekesai membersihkan nya, Mayang kemudian membalut tangan itu dengan kain perban.
"Sayang, apa yang kau pukul hingga membuat tangan mu terluka seperti ini?" Mayang kembali bertanya dengan pelan untuk mengusir rasa penasaran nya.
"Tidak ada sayang," Brian yang sejak tadi tak henti mengamati istrinya yang dengan cekatan mengobati lukanya hanya berucap santai sembari tersenyum.
"Sayang, jawab aku dengan jujur!" Ucap Mayang dengan nada menuntut.
"Sayang ini tidaklah penting. Yang terpenting bagiku saat ini adalah kau sudah memaafkan ku." Brian menarik tubuh istrinya dan membawanya kedalam pelukan.
Mayang hanya tersenyum pasrah merasakan kehangatan yang Brian salurkan melalui pelukannya.
"Sayang..." Lirih Brian dengan suaranya yang parau berbisik di telinga Mayang.
"Iya," Jawab Mayang sembari mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Brian.
"Pakai lingerie itu lagi."
"Tidak mau!" Bantah Mayang seketika.
"Kenapa?" Tanya Brian dengan nada kecewa.
"Aku benci lingerie itu. Karena baju itu membuat mu merendahkan ku dengan mengatai ku wanita mura..." Ucapan Mayang terpotong karena secara tiba - tiba Brian membungkam bibir Mayang dengan bibirnya.
Memberikan istrinya ciuman hangat yang semakin lama semakin dalam. Tangan Brian yang terluka pun kini bergerilya ke tempat yang ia suka membuat Mayang merasakan sensasi yang berbeda dari sebelumnya.
Namun suara panggilan telepon Brian mengusik kegiatan keduanya. Brian melepaskan pagutan nya saat Mayang tersengal akibat kehabisan nafas.
Brian segera merogoh ponsel dari sakunya. Ia tampak tersenyum dan segera mengangkatnya begitu melihat Hans lah yang sedang menelepon nya.
"Halo Ayah,"
Bersambung
__ADS_1