Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Pakai masker


__ADS_3

Brian menarik tangan Mayang hingga terjerembab di pangkuannya. Gadis itu sedikit mengaduh karena Brian terkesan memaksanya.


"Kenapa akhir - akhir ini kau suka sekali membangkang sayang ,,,?!"geram Brian sembari mencengkeram lembut dagu sang istri. Lalu menanamkan bibirnya pada bibir sang istri yang sudah sedikit terbuka.


Menyesap rasa manis di bibir ranum itu. Lidahnya bermain dengan liar di dalam sana tanpa peduli akan Mayang mulai berontak akibat kehabisan nafas. Mayang menepuk - nepuk sekenanya tubuh Brian yang tampak lupa diri karenanya.


"Sayang, kalau aku pingsan bagaimana?!" Gerutu Mayang kesal dengan nafas yang terengah setelah Brian melepaskan pagutan mereka.


Brian hanya tersenyum sembari menggerakkan jemarinya mengusap dengan lembut bibir sang istri yang basah akibat ulahnya. Di kecupnya kening sang istri yang masih mengerut akibat kekesalannya.


"Maaf karena aku lupa diri." Ucap Brian kemudian. " Tapi ini juga salahmu!"


"Kok aku yang salah! Salah di mana nya coba?!"


"Siapa suruh punya bibir manis dan menggemaskan! Kau pikir aku tahan melihat bibir ini tanpa menciumnya?!"


Tangan Mayang yang sebelumnya sudah mengalung di leher Brian pun bergerak cepat memeluk lelaki itu di posisi leher. Menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Mayang tersenyum lebar di belakang Brian karena rasa bahagia nya. Agak lama, hingga membuat Brian merasa heran dan menarik tangan sang istri agar melepas nya.


"Sayang, apa kau ingin membunuh ku dengan mencekik leher ku seperti ini?!"


Mayang spontan melepaskan tangannya, lalu menatap Brian dengan wajah penuh rasa bersalah. "Sayang maaf ..., aku tidak sengaja."


"Cium dulu baru ku maafkan." Brian memanyunkan bibirnya pasrah agar sang istri lebih mudah saat menciumnya. Ia bahkan menutup mata nya rapat - rapat.


Bukannya segera mencium, Mayang justru tergelak sembari mencubit gemas pipi Brian. Yang di cubit pun segera membuka mata dan menatap istrinya dengan heran.


"Apanya yang lucu?"


"Kamu sayang, dirimu sangat lucu dan menggemaskan ...!" Mayang lagi - lagi mencubit gemas pipi Brian. Gadis itu masih tertawa tanpa menyadari sorot mata Brian yang sudah menatapnya penuh ancaman.


*Tertawalah sayang, tertawalah sepuas mu! Setelah ini apa kau masih akan mengatai ku menggemaskan lagi hah*!


Dengan cekatan Brian menjatuhkan tubuh Mayang hingga terbaring di atas sofa dengan lembut dengan kepala tepat di lengan sofa yang kekar dan empuk. Tubuh Brian lantas menindih tubuh sang istri yang tampak terkejut dengan lutut senagai tumpuan nya.


"Sayang kau mau apa?" Mayang mulai panik.


"Menurutmu?" Seringai Brian muncul dengan sorot mata seperti ingin menerkam. Tangannya secepat kilat membuka kaos yang membungkus tubuhnya dan melemparnya ke sembarang arah.


Mayang spontan menutupi matanya dengan jemari tangannya saat Brian sudah menanggalkan seluruh pakaiannya. Namun Brian meraih tangan istri dan membuat Mayang mau tak mau menatap tubuh sempurna itu.


Malu - malu tapi akhirnya mau juga, Mayang bersikap pasrah dan membiarkan Brian melepas handuk piyama yang masih melekat di tubuhnya. Lelaki itu tanpa rasa malu menatap tubuh sang istri dengan penuh kekaguman.


Dan kemudian terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Penyatuan antara dua cucu adam yang saling mencintai. Berbaur dalam kenikmatan yang hakiki.


Mereka tak akan tahu manisnya kebahagiaan tanpa pahitnya pengorbanan. Tak akan mengerti nikmat nya cinta tanpa perihnya luka. Satu hal yang pasti, kedua nya merasa sangat beruntung karena tuhan memiliki rencana yang indah dibalik misteri hidup umat manusia.


Seperti hal nya mereka. Memiliki rasa cinta pada seseorang dan hampir menyerah oleh karena mustahil nya mereka akan kembali bersua. Setelah sebuah pertemuan di masa lalu yang memang tidak di sengaja.


Tapi rupanya takdir kembali mempertemukan keduanya meski dengan cara yang tak terduga. Sehingga pada akhirnya keduanya merasa bahagia karena telah memiliki cinta sejati mereka yang sesungguhnya.


"Sakit?" Brian bertanya setelah melepas penyatuan dirinya dengan sang istri. Hanya di balas gelengan pelan serta senyuman Mayang yang sudah mewakili jawabannya.


Tubuh kekar itu lalu berbaring di samping tubuh sang istri dan menariknya semakin merapat pada tubuhnya. Dua tubuh yang basah oleh keringat itu kembali bersatu dalam pelukan yang hangat.


Keduanya masih diam, berusaha menormalkan kembali tarikan nafas yang sempat menderu saat sama - sama di kuasai oleh hasrat yang membara. Pertautan tubuh yang membuat mereka merasakan kenikmatan.


Berbeda dengan semalam, karena Brian kali ini melakukannya dengan sangat berhati - hati dan penuh kelembutan. Dia benar - benar tak ingin membuat istrinya merasa kesakitan lagi.


Karena sejatinya hubungan suami istri berlandaskan saling memberi dan menerima. Dan Brian merasa tak adil bagi sang istri jika hanya dirinya lah yang merasakan kenikmatan itu. Sehingga membuatnya berusaha agar Mayang juga merasakan kenikmatan itu.


"Sayang," tanya Mayang ragu sembari mendongak menatap wajah Brian.


"Hemm ..." Brian yang tadinya terpejam pun langsung membuka matanya menunduk dan menatap sang istri.


"Kau yakin kita aman disini?"

__ADS_1


"Dari siapa?"


"Ayah Malik. Kau tahu kan Ayah melarang kita intuk bertemu? Tapi kau nekad menculik ku. Bagaimana kalau Ayah marah pada mu?"


"Apa kau pikir Ayah tidak tau kita disini?"


"Hah?! Maksudnya sayang?"


"Sayang, asal kau tahu ya,,, mata Ayah itu dimana - mana. Dia pasti sudah tau kita berada disini. Dan aku yakin,dia pasti sedang mengawasi kita secara diam - diam. Namun dia sengaja membiarkan kita bersenang - senang sebentar. Maka dari itu, jangan sia - siakan kebersamaan kita yang singkat ini ya,,," Brian tersenyum sembari menggesekkan hidung nya pada hudung Mayang dengan lembut. "Karena cepat atau lambat Ayah pasti datang untuk menjemputmu."


"Maksud mu kita akan berpisah lagi?!" Tebak Mayang terkejut sekaligus sedih. "Tidak mau! Aku tidak mau pisah dari mu lagi! Aku ingin selalu bersama mu!" Merengek sembari memeluk tubuh Brian semakin erat.


"Sayang, dengarkan aku." Brian menangkup wajah sang istri agar menatap dan mendengarkan nya bicara. "Aku masih harus menyelesaikan satu masalah lagi sayang, urusanku dengan Hans belum selesai."


"Kau mau melakukan apa?" Mayang bertanya dengan wajah penuh kekhawatiran. Pandangan nya seperti mendesak agar Brian mengatakan rencananya. "Kau tidak berencana melukainya kan? Bagaimana pun juga dia Ayahmu. Tapi aku juga tidak ingin kau terluka."


"Itu tidak akan terjadi sayang, tidak akan ada pertumpahan darah di antara kami." Brian berucap dengan yakin untuk memastikan.


"Lalu bagaimana dengan Karla?"


"Rahasia." Jawab Brian tenang sembari tersenyum. Sebuah senyum kepuasan saat dia berhasil merebut kembali apa yang sempat Karla ambil dari tangannya.


Gadis itu meracau mengatakan hal yang seharusnya tidak ia katakan. Membeberkan seluruh rencana yang seharusnya menjadi rahasia.


Brian tak bisa bayangkan jika hal ini terjadi padanya. Dia akan meracau tak karuan dengan membeberkan seluruh rahasia perusahaan, bahkan menyerahkan dirinya secara suka rela pada gadis iblis itu.


Dan pastinya kelak akan menjadi senjata bagi Karla untuk menekan dirinya sehingga menerima gadis itu dan mencampakkan sabg istri sebagai gantinya.


Sungguh gadis itu benar - benar licik. Ia tak segan menggunakan cara keji hanya untuk melancarkan usahanya yang benar - benar sungguh di luar nalar manusia pada umumnya.


Brian memanggil anak buahnya untuk mengurus gadis tidak waras itu.


"Buat dia malu hingga se malu - malu nya karena telah melakukan ini padaku! Aku ingin dia mencapai titik terendahnya sebagai manusia dan menyesal karena telah mengenal ku. Aku ingin dia mati secara perlahan oleh penderitaan yang ia rasakan!"


Brian memberikan instruksi tak terbantahkan pada beberapa anak buahnya yang baru datang sesuai perintahnya. Lantas keluar dari hotel itu dengan perasaan lega seperti baru saja terlepas dari belenggu yang membuatnya tersiksa selama ini.


"Tidak mau! Aku malas mengingatnya." ucap Brian sembari memeluk istrinya semakin erat. "Sudah diam dan jangan bahas lagi mengenai hal ini. Merusak suasana saja."


Ponsel Brian yang berada di meja pun bergetar dan bergeser dari letaknya, memecah keheningan ruangan untuk beberapa saat tampak lengang itu.


Brian segera menggerakkan tangannya untuk meraih nya. Ada sebuah pesan masuk, dan ia segera membukanya. Senyumnya tersungging setelah ia membaca isi pesan itu.


"Sayang apa kau bisa bangun?" Brian menundukkan kepala menatap wajah Mayang. "Segera lah bersiap karena aku akan mengajak mu jalan - jalan."


"Hah yang benar sayang?!" Secepat kilat Mayang bangun dari baring nya dan menatap Brian sangat antusias.


* * *


Mayang sudah tampil cantik dengan pakaian casual nya. Celana jeans yang di padukan dengan atasannya, warna pakaian yang senada dengan yang Brian pakai.


Brian membawa Mayang berjalan keluar dari gerbang rumah itu tanpa menguncinya.


"Sayang kok pintunya nggak di kunci?" Mayang bertanya saat Brian hanya menutup pintu itu.


"Nggak apa - apa. Kita cuma sebentar saja meninggalkan rumah."


"Sayang, kau benar - benar mengajakku jalan kaki?" Mayang kembali bertanya saat ia tak mendapati satu kendaraan pun di luar gerbang.


"Iya. Aku ingin menghabiskan waktu dengan mu untuk bersantai sayang, apa kau keberatan?" Brian bertanya sembari menatap lekat wajah sang istri.


Sesat kemudian ia teringat akan sesuatu lalu menggeser pandangannya ke arah area sensitif Mayang yang masih terasa nyeri.


"Apa masih sakit?" Tanyanya dengan nada khawatir kemudian.


"Sedikit."

__ADS_1


Brian lantas tersenyum sembari menarik tangan Mayang mendekat ke wajahnya lalu menghadiahkan kecupan lembut di punggung tangan itu.


"Kita jalan pelan - pelan ya, atau mau aku gendong?"


"Ah tidak, aku bisa jalan kok." Mayang meyakinkan. "Emm kita mau kemana?


"Di sana depan komplek perumahan ini ada stand yang menjual berbagai makanan. Kamu pasti suka." ucap Brian sembari menarik tangan Mayang berjalan bersama nya. Namun tiba - tiba langkahnya terhenti.


"Kenapa tiba - tiba berhenti?"


"Pakai masker dulu." Brian menyodorkan masker penutup wajah pada Mayang.


"Harus di pakai? Apa kita sedang dalam.penyamaran?"


"Tidak. Aku hanya tidak rela wajah cantik mu jadi bahan santapan laki - laki lain." Jawabnya sembari menggunakan masker itu. Padahal di kepala mereka juga sudah melekat topi disana.


"Ish, siapa juga yang bakalan menyantap aku sayang ...? Harusnya aku yang cemburu padamu! Banyak wanita di luar sana yang tergila - gila padamu."


"Tapi kan aku hanya tergila - gila pada mu saja." Brian menjawab enteng. Tangannya lantas bergerak memakaikan masker itu pada Mayang yang tampak masih enggan memakainya.


Gadis itu tampak cemberut, karena bibirnya yang terlihat manyun. Entah mengapa Brian begitu gemas melihat istrinya merajuk begitu. Brian lsntas menurunkan maskerbya dan menyambar bibir itu dan mencium nya untuk beberapa lama.


"Sayang kendalikan dirimu, ini di jalan!" Geram Mayang sembari celingukan mengawasi keadaan sekitar yang tampak lengang.


"Mencari siapa? Tidak ada orang disini!" Brian tertawa penuh kemenangan. " Sudah yuk." Ajaknya sembari menarik tangan sang istri.


Keduanya berjalan dengan santai menyusuri jalanan kompleks yang pemandangan nya nampak indah di sore hari. Sebab komplek perumahan itu selain mewah, namun juga asri.


Banyak pohon rindang yang menaungi mereka dari panasnya terik matahari, jiga bunga - bunga indah yang sengaja di tanam di setiap titik. Namun mereka tak berpapasan dengan seseorang pun selama dalam perjalanan.


"Sayang kenapa menatap ku seperti itu?" Mayang bertanya kikuk saat pandangan Brian tak lepas dari dirinya. "Apa aku terlihat lebih cantik saat menggunakan masker seperti ini hah?" Tanyanya lagi dengan nada menggoda.


Brian pun tergelak mendengar pertanyaan istrinya. "Iya saya, kau jauh lebih menggemaskan saat memakai masker."


"Ish, cantik dari mana nya coba! Yang ada muka ketutup semua!"


"Justru karena tertutup itu yang bikin aku tambah penasaran. kecuali kalau lagi puasa, nggak boleh pakai masker."


"Lho kok nggak boleh? Emang kenapa sayang?" Mayang bertanya dengan serius sembari menatap suaminya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.


"Siapa tau ngemut permen. Kan batal puasanya!" Brian tertawa saat melihat perubahan mimik wajah sang istri yang tiba - tiba kesal.


"Ish, sayang! Becanda ya! Aku pikir beneran nggak boleh! Kesel deh, aku nya udah serius juga!"


"Gitu aja kesel ..." Ucap Brian meraih pundak sang istri lalu merangkulnya. " Tuh stand udah kelihatan dari sini." Tangan Brian menunjuk ke arah depan. Dimana warna - warni stand dan tenda yang terpasang tampak indah dari dari kejauhan. Dengan kerumunan banyak pembeli di setiap stand nya.


Mata Mayang terlihat berbinar bahagia saat menatap Brian seperti tak percaya. Ia semakin bersemangat dan seperti sudah tak sabar ingin segera sampai di sana.


Bahkan ia melepaskan tangan Brian dan berlari tergopoh mendahului suaminya yang masih tampak berjalan dengan santai begitu mereka hampir sampai. Mayang segera menghampiri stand yang menjual makanan favoritnya.


Brian dengan sabar mengikuti dan selalu berada di samping sang istri dengan sabar. Mayang memakan apa pun yang ingin ia makan di tempat itu. Berpindah - pindah dari stand satu ke stand yang lain.


Brian pun membiarkan istrinya bersenang - senang dan melakukan apapun yang ia mau. Melihat sang istri bahagia, itu sudah cukup membuat Brian sangat bahagia.


"Sayang kamu mau makan apa?" Mayang bertanya namun pandangan nya tetap fokus pada bermacam - macam makanan di hadapannya seperti sedang memilih - milih.


Tak terdengar jawaban dari sang suami membuatnya menoleh ke belakang tempat dimana sang suami berdiri tadi. Namun seketika wajahnya berubah terkejut sekaligus bingung saat tak mendapati sang suami di tempatnya.


"Sayang kamu dimana?" Mayang mulai panik. Pandangan nya mengedar ke segala arah mencari sosok sang suami, namun pandangan Mayang tak menemukan suaminya diantara banyaknya orang yang lalu lalang.


Tangan Mayang merogoh ponsel dari tas nya, dan dengan cepat menghubungi nomor sang suami. Berharap Brian segera mengangkatnya. Namun bukanlah suara Brian yang ia dengar, melainkan suara operator sim card yang mengatakan nomor sang yang ia tuju berada di luar jangkauan. Tubuh Mayang lemas sembari memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas.


"Sayang, kamu dimana?" Lirih Mayang putus asa hampir - hampir saja meneteskan air mata. Sesaat kemudian Mayang merasa sesworang menyentuh bahunya dari belakang, membuatnya dengan spontan langsung menoleh ke belakang.


Mayang membulatkan bola matanya sempurna saat buket bunga yang indah dan besar menutupi wajah si pembawa nya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2