
"Sayang, bagaimana kalau kita melakukannya disini?" Mayang yang tengah dalam posisi terlentang tampak melebarkan senyumnya. Netranya berkilau karena saking bahagia. Meski wanita itu tak bisa menutupi rasa malu dan canggung yang nampak dari bahasa tubuhnya.
Namun, karena begitu kuatnya rasa ingin membahagiakan sang suami, membuatnya terdorong untuk menjadi wanita yang agresif bagi Brian. Ia bahkan mengabaikan rasa malunya sebagai seorang wanita.
What! Di sini?
Brian terperangah seketika. Lalu menggeleng tak percaya dan kemudian tersenyum kecut sembari menatap sang istri yang nampak sangat bersemangat.
"Kau ingin kita melakukan apa disini?" Brian bertanya dengan wajah yang penasaran. Berpura-pura seolah tak mengerti dengan apa yang istrinya maksudkan.
Kenapa hanya menatapku seperti itu? Apakah cara menggodaku masih salah? Atau masih kurang membuatmu bergairah? batin Mayang
"Maksudku melihat bulan dari sini sepertinya lebih indah sayang, duduklah di sampingku." Mayang melirik tempat kosong di sampingnya, memberi isyarat pada Brian agar duduk di sana.
Namun, alih-alih menuruti keinginan sang istri, pria itu malah bergeming. Brian justru mengangkat kepalanya untuk melihat bulan di atas sana, lalu kemudian memfokuskan pandangannya lagi pada Mayang dengan wajah santai.
Tak mendapatkan respon yang memuaskan membuat Mayang harus memutar otak untuk menggoda suaminya. Ia bangkit dan duduk. Menggunakan dua tangan untuk menyangga tubuh. Tangan kirinya lalu bergerak menarik anak rambut, hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus dan menggoda.
Tak hanya itu, ia bahkan sedikit menggeliat dengan gaya erotis, menarik satu kakinya dengan posisi ditekuk sehingga memperlihatkan pahanya yang putih. Namun, sayangnya hal itu masih juga belum berhasil. Brian bahkan tampak biasa-biasa saja. Pria itu malah tampak fokus menatap rembulan.
Brian ... apa kau ini tidak tertarik pada wanita! Geram, pikiran Mayang mulai berpikiran yang tidak-tidak. Tak patah arang, ia mencoba cara lain.
"Ahh, kenapa tulang belakangku rasanya pegal begini ya? Perasaan aku tak pernah beraktivitas yang berlebihan." Mayang berucap sembari menengadah kepalanya. Sedangkan matanya terpejam rapat, dan dadanya membusung saat meregangkan otot.
Namun, tanpa Mayang sadari, Brian di sana hal tanpa sadar menggigit bibir. Setelah mati-matian menahan godaan, pertahanan pria itu akhirnya runtuh juga. Ia tak bisa lagi menahan gejolak yang datang karena pesona yang istrinya tebarkan.
Perlahan Brian menaikkan satu lututnya di tepi kasur itu. Tangannya membawa tubuhnya condong mendekati Mayang yang masih dengan posisinya. Matanya yang terpejam bahkan tak menyadari suaminya yang kini hampir merapat pada tubuhnya.
Hembusan udara hangat yang menyapu lehernya membuat Mayang terkejut dan spontan membuka matanya.
"Kau ingin aku memijat bagian belakang tubuhmu?" Mayang tersentak saat Brian membisikkan kalimat itu di telinganya.
Tangan kekar Brian menelusup dan merangkul pinggang Mayang. Brian lantas berdiri dengan kedua tangan menahan tubuh Mayang dalam posisi kayang.
"Lemas kan tubuh dan otot mu." Ucap Brian seperti mengarahkan.
__ADS_1
Mayang mengikuti ucapan Brian dan membiarkan lelaki itu melakukan apa yang dia mau. Entah berapa lama Brian menahan tubuh Mayang dengan posisi itu, namun yang Brian lakukan ini justru membuat tubuh Mayang merasa rileks dan nyaman.
Setelahnya Brian menurunkan tubuh istrinya secara perlahan dan meminta Mayang untuk balik badan dan tengkurap. Mayang menurut tanpa tau apa yang akan suaminya perbuat padanya nanti.
Brian lantas naik di atas tubuh Mayang yang tengah tengkurap dengan kedua lutut yang menyangga tubuhnya. Brian menekan - nekan kan tangan nya di punggung Mayang seperti memijat.
Dan kemudian menekan kedua telapak tangannya yang lebar ke arah punggung Mayang dengan kuat, tekanan kuat Brian itu ternyata menimbulkan bunyi di tulang belakang Mayang dan membuat wanita itu merasakan sensasi nyaman yang luar biasa karenanya.
Mayang membelalakan mata saat merasakan sensasi pijatan yang berbeda dari suaminya. Awalnya dia hanya berpura - pura merasakan pegal, namun tangan Brian yang sepertinya sudah ahli tampak bisa dengan mudah membuatnya tak bisa berkata - kata.
"Bagaimana rasanya? Apa masih pegal?" Tanya Brian sembari menyelidik sang istri yang masih mematung tanpa berucap sepatah kata pun.
"Sayang," Suara Mayang terdengar seperti menggumam. "Kau lakukan apa tadi, kenapa rasanya nyaman sekali?" Mayang membalikkan tubuhnya lalu bangkit dan duduk menghadap Brian yang juga duduk.
"Cuma pijatan sederhana. Aku hanya menekan nya di posisi yang pas." Brian tersenyum senang saat melihat sang istri merasa senang.
"Sayang," Brian menoleh saat Mayang memanggilnya. "Terimakasih." Mayang berucap tulus.
Brian tersenyum sembari mengusap pipi istrinya lembut.
Brian yang awalnya tampak tersenyum tiba-tiba membelalakkan mata saat melihat setitik sinar berwarna merah muncul di dada sang istri.
Ia spontan terlonjak dengan wajah yang mulai pucat. Rasa panik mulai menjalar saat merasa istrinya kini berada dalam bahaya. Pandangan nya tajam tertuju pada dada sebelah kiri istrinya.
Mereka membidik tepat di jantung Mayang. Apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan istriku dari bidikan peluru ini?
Brian berusaha bersikap setenang mungkin agar tidak menimbulkan ketakutan pada istrinya. Ia juga berusaha agar pergerakan nya tak mencolok dan memancing penembak yang sepertinya memang mengincar istrinya.
Karena jika Brian salah dalam mengambil langkah, satu tarikan pelatuk saja sudah bisa membuat Mayang kehilangan nyawa.
Mayang tampak malu - malu saat pandangan Brian tertuju padanya. Wajahnya merona dengan senyum yang tertahan. Namun ia tak menyadari jika bahaya sedang mengancamnya.
Mayang terkejut saat tiba - tiba Brian bergerak cepat mengurung tubuhnya yang tengah terlentang, dengan menjadikan lutut dan siku sebagai tumpuan, hingga sama sekali tak membuatnya merasa sesak oleh tindihan.
Mayang hanya tersenyum pasrah saat Brian menggerakkan jemari dengan lembut menyusuri wajahnya. Menyibak anakan rambut yang menutupi sebagian wajahnya lalu menyelipkan ke belakang telinga.
__ADS_1
Namun sedikitpun Mayang tak tau jika suaminya Itu tengah mengorbankan dirinya untuk melindungi sang istri. Menjadikan dirinya tameng serta perisai yang akan selalu menjaga Mayang dari serangan apapun.
Brian menarik tubuh istrinya perlahan agar bangun dari baring nya. Membantu sang istri berdiri lalu merengkuh tubuh ramping istrinya itu kedalam pelukan nya. Dan secepatnya Brian membawa tubuhnya sang istri untuk masuk kedalam kamar.
Usai membaringkan tubuh Mayang di ranjang, Brian bukannya melanjutkan aksinya seperti yang Mayang bayangkan, lelaki itu malah menutup dan mengunci nya rapat serta menutup semua gorden di kamarnya.
Ia lantas masuk ke ruang ganti pakaian, tak lama kemudian keluar dengan mengenakan kaos dan jaket.
"Sayang kau mau kemana?" Tanya Mayang seketika dengan wajah bingung saat melihat sang suami tampak berkemas.
"Sayang aku akan keluar sebentar." Ucapnya sembari menyambar bibir sang istri dengan kecupan singkat nya. Lalu mengambil ponsel yang tergeletak di nakas. "Jangan beranjak selangkah pun dari kamar ini apalagi sampai ke balkon." Brian berbicara dengan nada penuh peringatan.
Setelahnya ia melangkah keluar kamar dengan tergesa seakan tak menghiraukan Mayang yang terpaku bingung.
"Bu Kus!" Teriak Brian sembari melangkah menuruni tangga.
Kuswara yang mendengar segera mendekat ke arah sumber suara.
"Jaga istri ku di kamar dan jangan biarkan dia pergi selangkah pun dari sana!" Instruksi Brian saat melihat Kuswara muncul yang langsung di jawab anggukan paham dari Kuswara.
Brian kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Menemui salah seorang penjaga kepercayaan nya lantas memberinya instruksi.
"Perketat penjagaan sekarang juga dan usahakan jangan sampai mencolok! Jangan sampai mereka tahu kalau kalian dalam keadaan siaga dan kirim orang untuk menyelidiki lantai teratas gedung yang paling dekat dengan rumah ini. Seseorang membidik istriku dengan senjata laser nya." Penjelasan Brian yang dengan cepat itu sempat membuat pengawal itu terkejut. Namun ia segera mengangguk faham dan kemudian segera bergerak sesuai perintah.
"Pastikan juga tidak ada bom atau pun teror dalam bentuk apapun di rumah ini!" Imbuh Brian lagi sebelum ia mengayunkan langkahnya untuk keluar.
"Tuan," panggilan pengawal itu membuat langkah Brian terhenti. "Di saat genting begini mengapa malah anda pergi keluar dan meninggalkan nyonya dalam pengawasan kami?" Tanya pengawal itu penasaran.
"Aku harus keluar jika ingin istriku aman." Jawab Brian tanpa menoleh. Selanjutnya ia meneruskan langkahnya keluar melalui pintu utama.
"Buka garasi mobil." Instruksi nya pada seorang pengawal sembari melemparkan kunci ke arahnya.
Brian membawa mobilnya melaju kencang keluar dari gerbang utama rumahnya. Brian memasang handsfree di telinganya saat melakukan panggilan telepon pada seseorang di seberang sana.
"Hallo Bill, kita harus bertemu sekarang!"
__ADS_1
Bersambung