
"Kau lihat dia Bill! Terang saja dia tidak punya pacar jika kelakuan nya seperti itu terus!" gerutu Brian setelah keluar dari kamar Mayang dan berjalan menuju kamar nya. "Aku heran, bagaimana bisa ada wanita seperti itu di dunia ini?"
Dunia ini luas tuan,, seperti kau baru mengenal makhluk bernama wanita saja? Apa anda ini tidak pernah melihat wanita?Mereka kan memang bermacam-macam sifat nya.. Billy.
"Tapi aku puas sudah membuat nya sangat ketakutan tadi." Brian tertawa puas.
Dia bahkan sadar Mayang mengucapkannya dengan terpaksa saat gadis itu memuji dirinya tampan. Bahkan teriakan gadis itu masih terasa menggema merdu menggelitik sampai ke hati. Brian benar-benar merasa puas saat ini.
"Tapi sepertinya anda sudah mencicipi tamparan nya kan tuan..?" goda Billy dengan nada seperti mengejek.
"Hey! Kau meremeh kan ku?!" bentak Brian tak terima sambil menendang kaki Billy yang membuat lelaki itu meringis. "Aku memang membiarkan nya menamparku tadi! Aku hanya ingin melihat sejauh mana dia bisa melindungi diri nya!"
Dia bukan hanya menampar ku Bill,,Tapi dia juga telah menggigit bibir ku,aku sampai tak bisa mengontrol diri ku karena dia tetap menggemaskan walau saat ketakutan.Ternyata dia juga cerdas,bisa memanfaat kan kelengahan ku.Aku semakin suka.Bukan hanya tubuh ku yang dia serang,tapi dia juga berhasil menyerang hati ku.Bahkan fikiran ku.Dia telah menggangu ku hingga isi kepala ku di penuhi dengan dia. Brian tersenyum sendiri membuat Billy agak mencemaskan nya.
"Tuan.." Billy mengguncang lengan Brian. Lelaki itu tersadar dari lamunan.
"Apa?!" Bentak Brian karena merasa terusik.
"Bukan kah anda harus segera bersiap?" Billy mengingat kan. "Hari semakin larut tuan muda."
"Oh ya ...?" Brian segera bergegas masuk ke kamar mandi. "Siap kan pakaian ku Bill!" teriak nya dari dalam sana.
Sepuluh menit kemudian Brian tampak keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian yang disiap kan Billy di ruang pakaian. Billy masih menunggu di ruangan lain di kamar.
Brian sudah berpakaian lengkap dan sedang membetul kan dasi nya.
Saat akan meraih jas nya,tiba-tiba Brian teringat akan kata-kata mayang yang mengatakan nya keren dengan hanya memakai rompi dan kemeja yang hanya di gulung sampai di bawah siku.
Dia suka penampilan ku yang begini.. dia bilang keren. Brian senyum-senyum sendiri dan meninggal kan jas itu begitu saja.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang langsung di buka oleh Billy. Pelayan yang membantu Mayang untuk bersiap tadi datang untuk melapor.
"Tuan.. nona Mayang mengunci diri di toilet dan tak mau keluar tuan."Kata pelayan itu panik.Brian secepat kilat berlari menuju kamar Mayang yang berada di lantai yang sama.
Di dalam kamar tampak bu Kuswara sedang memanggil-manggil Mayang di depan pintu toilet namun tak ada jawaban dari Mayang.
Bu Kuswara lantas menepi saat meliat Brian tiba dan memberi nya tempat.
"Mayang!!Apa yang kau lakukan di dalam!!Buka pintu sekarang atau ku dobrak!Kau tidak kabur kan!!Mayang!!!"
Kreek
Pintu terbuka dari dalam.Brian dengan sigap mendorong pintu itu dan melihat Mayang tengah tersandar di dinding dengan wajah yang pucat dan tegang. Brian terkejut setelah menemukan bercak merah di beberapa titik di lantai dan di tutup kloset.
Darah.. Gumam Brian dalam hati seketika itu melempar pandangan nya pada Mayang yang masih mematung di tempat nya tadi.
Dia tidak berniat untuk bunuh diri kan.. lalu ini darah apa?
Brian berjalan mendekati Mayang yang terlihat takut dan semakin terpojok saat Brian semakin mendekat."Darah apa ini?Tanya Brian dengan tatapan nya yang tajam."Jawab!"Ia tak sadar jika hal itu membuat Mayang semakin ketakutan.
"Sss saya sedang datang bulan tuan."Jawab Mayang dengan suara terbata.Tak ada pilihan lain selain mengakui hal ini pada lelaki bengis di hadapan nya itu.
Entah itu pilihan tepat atau tidak,karena lelaki dingin seperti dia mana mungkin mengerti dengan perkara wanita.Dia tak akan faham datang bulan itu apa.Dan seperti apa.
Brian Memang melihat darah yang tampak masih menetes di kaki Mayang.Dia tidak berbohong. Gumam Brian dalam hati.
__ADS_1
Reaksi berbeda dari yang di prediksi Mayang justru di tunjukkan oleh Brian.Brian menggenggam jemari Mayang yang masih tampak malu dan takut dengan lembut seolah mengatakan Its okay,, semua akan baik-baik saja..
Mayang terperanjat saat Brian meraih jemari nya yang dingin.Ia menatap lekat pada lelaki yang tengah memandang nya dengan pandangan mata yang teduh.Lelaki yang tak pernah bisa ia terka isi hati nya.
Lelaki yang bahkan beberapa menit lalu membentak nya dengan penuh amarah.Kini dia datang lagi dengan wajah penuh kehangatan.siapa kau sebenar nya...??
Di pandangi nya lelaki itu dengan penuh tanda tanya di hati nya.
Entah berapa lama mereka bersitatap.Hingga Brian melepaskan genggaman tangan nya dan keluar dar tempat itu tergesa-gesa.Mayang mengikuti langkah kaki Brian dengan pandangan nya.
Brian keluar dari toilet, dan disambut cecaran pertanyaan oleh Billy dan Bu Kuswara yang masih setia menunggu di depan pintu toilet dengan penasaran.
"Apa ada yang punya pembalut?"Tanya Brian tanpa menjawab salah satu dari cecaran pertanyaan orang-orang di hadapan nya,yang kini tengah terbengong mendengar pertanyaan yang Brian lontar kan itu."Dia sedang datang bulan dan tidak punya stok pembalut."Jawab Brian tapa ragu dan malu."
"Saya akan segera mengambil nya tuan..."Jawab salah satu pelayan seraya pergi meninggalkan mereka.
"Bu Kus,Mayang harus cepat bersiap-siap.Hari semakin malam.Aku tidak mau mengecewakan mereka.Aku akan menunggu di ruang kerja."Kata Brian lalu pergi dan di ikuti Billy di belakang nya.
"Baik tuan muda..."Jawab bu Kuswara sopan.
Di ruang kerja Brian
Brian tampak duduk bersandar di kursi kerja nya.Mata nya tampak terpejam dan dahi nya mengkerut.Entah apa yang sedang di fikir kan nya,Billy pun tak berani menanyakan nya.
Sesekali Brian tampak memijat kening nya.Fikiran nya melompat pada kejadian beberapa tahun lalu.Di malam pengantin nya.
Di hari bahagia itu,Saat pesta telah usai.Brian membawa pengantin nya menuju rumah baru yang memang sudah Brian siap kan sebagai hadiah pernikahan untuk istri nya.Setelah lelah berkeliling melihat-lihat setiap sudut ruangan di rumah itu,Brian lalu menggendong pengantin nya dengan bahagia menuju kamar pengantin.
Mereka bercumbu rayu layak nya pengantin baru yang sedang di mabuk cinta.Saat itu Lena meminta izin membersihkan diri di kamar mandi.Semula Brian masih dengan sabar menunggu nya hingga Brian gelisah karena sang istri belum keluar juga dari sana.
Tapi ternyata itu hanya ketakutan istri nya saja,
Brian malah menenang kan dan memeluk nya dengan penuh kasih sayang.Bahkan Brian sendiri lah yang membelikan pembalut untuk istrinya karena rasa cinta nya yang besar
pada Magda lena..
Hingga sampai akhir hayat Lena,Brian pun belum menyentuh Lena dan merasakan indah nya malam pertama.pernikahan singkat namun menyisakan luka mendalam di hati Brian.
Dan kejadian barusan seperti dejavu saja bagi Brian.Jantung nya masih berdetak kencang mengingat hal itu.
Semua seperti terjadi lagi dan muncul di hadapan nya begitu saja. Brian sungguh tak mengingin kan hal ini.Fikiran nya sedang berkecamuk.Brian kembali melihat Magda Lena dalam diri Mayang lagi.
Suara ketukan pintu memaksa Brian untuk membuka mata dan melihat ke arah pintu yang sedang di buka oleh Billy.
"Maaf tuan, nona Mayang sudah siap."Seorang pelayan terlihat menyampai kan pesan dari bu Kuswara.Brian seketika bangkit dari duduk nya.
"Kita berangkat sekarang juga bill."Intruksi Brian yang langsung di sampai kan pada pelayan agar membawa Mayang menghadap Brian.
**********
Mobil yang di membawa Brian dan Mayang yang di kendarai Billy tampak sudah keluar dari gerbang rumah besar dan di ikuti satu mobil di belakang nya yang membawa beberapa orang pengawal untuk sekedar berjaga.
Jadwal yang sudah di rancang untuk acara makan malam ini meleset dari waktu yang telah di rencanakan.Namun tak membuat Brian membatal kan rencana begitu saja meskipun ingatan-ingatan tentang masa lalu masih menguasai fikiran yang membuat nya tidak merasa tenang.
Mayang hanya terdiam dalam kebisuan meski fikiran nya di penuhi banyak tanda tanya.Rasa sesal masih memenuhi di rongga dada hingga membuat nafas nya terasa sesak. Sesekali tangan nya mengepal menahan rasa nyeri di perut yang masih
__ADS_1
enggan untuk pergi.
Ia duduk menepi hingga di ujung mobil dan menghimpit pintu. Agar tak terlalu dekat dengan lelaki yang menurut nya berkepribadian ganda ini.
Iya,,, begini rasa nya lumayan..
Mayang duduk sambil membungkuk,ternyata dengan posisi duduk begini membuat rasa nyeri nya berkurang.
Obat,,, dimana obat.Sungguh nyeri ini tak kan bisa hilang tanpa minum obat.
Mayang melirik lelaki yang yang duduk di sisi samping nya. Lelaki dengan sikap nya yang kasar namun juga bisa bersikap lembut itu membuat Mayang menyimpul kan sendiri kalau dia berkepribadian ganda.
Sejak mobil melaju tadi hingga kini dia masih tampak membeku. Tatapan nya hanya tertuju keluar menembus gelap nya kaca pintu mobil.
Entah apa yang sedang di pikirkan nya.
Dagu nya tertumpu pada kepalan tangan nya yang siku nya tersandar di kaca mobil.
Entah kemana dia akan membawaku pergi.Dengan pakaian semahal dan senyaman ini.Membuat ku terlihat secantik ini.Apakah dia akan menjual ku pada hidung belang?Atau kepada mavia? Aku bisa apa sekarang ini?Hanya pasrah menunggu kemana nasip akan membawa ku?
Apakah uang yang ia miliki kurang banyak hingga akan menjual ku?Memang nya berapa uang yang kau dapat dengan menjual ku?Uang segitu bahkan tidak ada apa-apa nya bagi mu.
Sementara di sebuah rumah besar lain,
Tampak sepasang suami istri paruh baya sedang terlihat gelisah menanti kedatangan seseorang yang belum ada tanda-tanda kedatangan nya.
Hidangan mewah yang sejak tadi sudah di siap kan berjejer di meja makan yang kehangatan nya sudah menguap terbawa angin.
Sang wanita tampak berdiri di teras rumah besar itu dengan wajah penuh kecemasan.Sesekali dia mengusap lengan karena dingin nya hembusan angin malam.
Seorang lelaki tampak mendekati nya, merengkuh bahu dan merangkul nya dengan kasih sayang."Kita masuk ya.."Bujuk lelaki itu dengan tutur kata yang halus."Udara nya semakin dingin,aku tidak mau kau sakit,,,"
"Kita tunggu sebentar ya,,,"Wanita itu memohon."Aku yakin dia akan datang.."
"Iya,,aku percaya.Kita tunggu di dalam saja ya.."Lelaki itu membimbing wanita nya untuk masuk ke dalam rumah setelah sang wanita menangguk pasrah.Belum sampai mereka masuk kedalam,dua buah mobil mewah terlihat memasuki gerbang dan berhenti di halaman depan rumah.
Kedua nya lalu berbalik badan setelah mendengar suara mobil datang."Kau lihat,,dia benar-benar datang kan.."Wanita itu tersenyum bahagia.
Mobil Brian sudah sampai di tempat yang di tuju.Billy dengan cekatan membukakan pintu mobill untuk Brian.Hingga lelaki itu tampak keluar dari sana.Mayang masih berada di dalam mobil,ia terlihat enggan untuk turun.
Brian membuka pintu mobil,dan mengulur kan tangan nya ingin membantu Mayang berdiri.Mayang enggan nenyambut uluran tangan itu,dan memilih keluar dari mobil tanpa bantuan.Brian lalu menutup pintu mobil itu dengan membanting nya keras.Hingga Mayang terperanjat.Tapi tetap diam seribu bahasa.
Mayang tampak terlihat bingung,pandangan nya menyapu keadaan sekitar dan terhenti pada dua sosok pria dan wanita yang seperti nya sedang menunggu kedatangan mereka.
Brian meraih jemari Mayang yang terkepal, membuat Mayang terkejut dan membuka kepalan tangan nya,menyatukan jemari mereka dan membawa Mayang melangkah bersama nya.Agak canggung,Brian merasakan telapak tangan Mayang sangat dingin.
"Apa kau takut?"Tanya Brian setengah berbisik sambil melangkah mendekati teras rumah itu."Tidak perlu takut,bersikap lah biasa saja."Pinta Brian pula.
Memang nya mereka siapa sehingga aku harus bersikap biasa? Gumam Mayang di sela langkah nya.Ia menoleh memandang lelaki yang berjalan bersama nya itu,, pandangan lelaki itu tetap lurus.Mayang merasakan kehangatan dan kelembutan tangan nya yang hangat nya seperti menjalar
sampai ke relung hati nya.Membuat jantung nya berdesir tanpa di minta.
Semakin mereka mendekat,semakin jelas terlihat oleh Mayang siapa lelaki yang tengah berdiri di sana.
Bukan kah itu tuan besar,ayah nya tuan muda,,, untuk apa tuan muda membawa ku ke sini?
__ADS_1
Bersambung