Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Jin penunggu


__ADS_3

Memasuki ruang makan dan menatap meja berukuran besar yang penuh dengan berbagai hidangan tersaji di sana, mata Milly terpana melihat begitu banyaknya makanan yang sepertinya terlalu berlebihan jika hanya untuk disantap enam orang saja, meskipun rakus sekalipun.


Milly bahkan meyakini hidangan ini cukup mengenyangkan bahkan untuk dua puluh orang yang sedang kelaparan, atau mungkin lebih.


Tiga pasang suami istri itu sudah berada di meja makan. Masing-masing pasangan duduk


bersisian, sementara beberapa orang pelayan tampak berdiri di sana, siap untuk melayani majikan mereka. Namun Ratih tampak tak mempedulikan dirinya sendiri, ia justru sibuk melayani orang-orang terkasihnya.


"Kau kepingin makaroni skutel buatan Ibu kan, hemm ,,,?" setengah mengiming-iming, Ratih lantas meletakkan piring berisi makanan yang terbuat dari makaroni, keju dan susu itu tepat di hadapan Mayang. Dengan penuh cinta, ia lantas menyuapkan sesendok untuk menantunya yang sedang hamil itu.


"Terima kasih, Ibu." dengan mulut penuh makanan Mayang melempar senyum pada mertuanya.


"Makan yang banyak supaya bayimu sehat." imbuh Ratih dengan nada menuntut.


Sambil mengunyah, Mayang hanya mengangguk mengiyakan.


Sementara sang suami yang sama sekali tak mengalihkan pengawasannya dari sang istri---bahkan sengaja merapatkan kursi agar posisi mereka lebih dekat--- itu tampak menggelang pelan, lantas meraih tisu dan segera mengusap sudut bibir Mayang yang menyisakan sedikit bercak makanan dengan begitu telaten. "Kau makan seperti anak kecil, Sayang." tuturnya dengan nada bergurau. Wanita hamil bersurai panjang itu hanya tersenyum membiarkan sang suami melakukan apa yang dia suka lantas nyengir menanggapi gurauannya.


Ratih yang masih berdiri di sisi Mayang tampak tersenyum bahagia memperhatikan tingkah polah putra dan menantunya. Melangkah mengitari Mayang dan Brian, Ratih lantas menyendok sayur capcay dari mangkuk kaca berukuran sedang dan menuangkannya di piring makan Brian. Wanita paruh baya itu melempar senyum pada putra semata wayangnya yang langsung menoleh begitu tau sang Ibu tengah mempersiapkan makanan untuknya. "Kau juga makan yang banyak." tuturnya sambil mengacak rambut putranya.


Brian melirik sang ibu sambil mendesah kesal karena merusak tatanan rambutnya, "Iya Cantik ,,," balasnya kemudian dengan nada menggoda. Sementara tangannya langsung bergerak menyentuh kepala, dan jemarinya menyugar rambut dan memperbaiki tatanannya hingga kembali terlihat rapi seperti sebelumnya.


Panggilan Brian itu tentu saja membuat Ratih tersenyum, namun melayangkan pandangannya menatap Brian penuh peringatan. "Jangan nakal ya. Mau di jewer Ayah kalau genit-genit sama Ibu?!" guraunya dengan nada ancaman sambil melirik sang suami yang tengah menatapnya penuh cinta.


"Yang benar saja Ibu, aku kan sudah milik istriku," balas Brian sambil menatap genit pada istrinya. Ngobrolnya sama siapa, yang dilihat siapa. "Jadi aku tidak akan genit pada orang lain lagi, termasuk pada Ibu." Di raihnya jemari Mayang lalu menghadiahkan kecupan

__ADS_1


lembut di sana. "Aku juga tak akan biarkan siapapun mengambilnya dariku." Dengan pandangan berbinar penuh cinta, Brian mengucapkan kata itu dengan nada penuh arti seolah ingin mempertegas bahwa sang istri adalah miliknya sendiri.


Wanita mana yang tak akan meleleh mendapatkan perlakuan istimewa dan selembut itu oleh seorang lelaki sesempurna Brian. Tak terkecuali Milly yang wajahnya tiba-tiba merona membayangkan panasnya kecupan bibir Brian di punggung tangan istrinya. Aaaa so sweet sekali. Mereka benar-benar pasanngan yang sangat romantis.


Jiwa irinya seketika meronta menyaksikan drama cinta nan sangat romantis tersaji nyata di depan mata. Bahkan lebih romantis dari drama korea yang ditontonnya meski kadang ia terpaksa harus menutup mata saat adegan ciuman tersaji di tengah-tengah drama. Merusak kepolisan jika ia biarkan mata perawannya melihat hal itu.


Menggeser sedikit pandangannya, Milly dengan ekor matanya melirik pada Billy yang tampak anteng di sampingnya. Miris. Pria dingin tanpa ekspresi itu bahkan tak menunjukkan reaksi apapun ketika melihat adegan romantis tersaji di depan mata. Apa dia sudah terbiasa melihatnya?


Pria Kalsibut ini justru lebih datar dari yang Milly perkirakan. Andai saja dia memperlakukanku seperti Tuan Brian memperlakukan istrinya, oh ,,, bahagianya hatiku. Segera memalingkan wajah, Milly mengalihkan pandangannya ke arah lain sebelum sang suami mengetahui jika ia


sedang memperhatikannya.


Diraihnya gelas kaca berisi air putih yang terletak di sisi kanan piring makannya, lalu eneguk air putih itu hingga menyisakan setengahnya. Namun pada saat ia ingin mengembalikan gelas itu pada tempatnya semula, tubuhnya mendadak seperti beku saat menyadari lelaki jika lelaki yang duduk di sampingnya saat ini tengah memperhatikan dirinya.


"Apa kau ingin diperlakukan begitu manis seperti dia?" tanya Billy setengah berbisik dengan nada seperti menggoda.


Ya Tuhan, dia tahu apa yang aku pikirkan!Aaaa memalukan sekali. Aku harus bagaimana sekarang??? batin Milly miris. Gusar, Milly hanya bisa tersenyum kecut sambil menggigit bibir bawahnya. Merasakan panas wajahnya yang sudah bisa dipastikan kini merona akibat malu yang tak terkira.


"Mau kusuapi?" tanya Billy dengan lembut disertai senyuman semanis gula yang tersimpul di bibir kemarahannya.


Nada bicaranya sih selembut sutra, tapi lihat apa yang ada ditangannya? Kenapa pula harus satu gelas penuh air putih? Kalau dia malah mengguyurku bagaimana? Aaaa dia curang ...! Memilih air putih untuk disuapkan. Apa dia pikir aku ini sapi gelonggongan! Aaa sial, kenapa bukan sosis bakar yang enak itu saja. Hahh, terpaksa aku harus menolaknya demi keselamatanku sendiri. Aaa kapan lagi dia akan menyuapiku lagi ...! Padahal mau banget disuapi.... Batin Milly kesal.


Berusaha bersikap tenang, Milly pun menyunggingkan senyumnya. "Ah, tidak perlu Pak, saya sudah kenyang minum air putih kok." Jawabnya dengan nada setengah sindiran.


Tersenyum penuh kepuasan, Billy akhirnya meletakkan kembali gelas air putih itu pada tempatnya. Dengan pembawaannya yang begitu tenang, lelaki yang masih mematri semyumnya itu tampak memperhatikan satu persatu hidangan di atas meja, dan senyumnya pun melebar saat menatap sosis bakar yang kelihatannya sangat lezat itu. Dengan senyuman penuh arti, tangannya bergerak menusuk satu sosis dengan garpu.

__ADS_1


Sudah senyum-senyum, hati Milly serasa di terbangkan ke atas awan saat mengira Billy mengambil sosis itu spesial hanya untuknya. Pandangannya bahkan mengikuti sosis itu melayang di udara saat Billy mulai mengangkatnya. Namun yang terjadi justru ternyata ,,, sosis itu justru nyemplung di piring makan Billy.


Astaga, dia mikirin perutnya sendiri rupanya. Hadeuhhh, musnahlah harapanku, aku bisa apa? Selain menelan rasa malu. Dan lagi-lagi Milly meneguk air putih untuk mengalihkan rasa malunya. Ia pun sengaja membuang muka tak ingin lagi melihat suaminya. Namun sesuatu terjadi tanpa dia sangka.


"Buka mulutmu," titah Billy dengan suara lembut dan seulas senyum manis di bibir saat menyodorkan garpu dengan potongan sosis berniat ingin menyuapinya.


Membeliak kaget, bukannya mulut Milly yang mangap, justru dua bola matanya yang melebar sempurna. Antara percaya dan tidak ketika pria di sampingnya ini memperlakukan dirinya selayaknya seorang wanita.


Ini beneran dia mau nyuapi aku? Entar kalau malah ditimpukin ke muka aku gimana? Mangap nggak ya??? Aaaa aku deg-degan ...!


"Hei," Billy memanggil dengan dengan suara pelan, sementara kedua alis terangkat seolah menyadarkan Milly yang masih bengong, keasikan dengan pikirannya sendiri.


Gadis bermata bening itu mengerjap beberapa kali seolah sedang meyakinkan diri sendiri atas apa yang sedang terjadi. Menatap mata sang pujaan hati, lantas mengulum senyum sebelum akhirnya membuka mulut dengan malu-malu.


Ya Allah, aku tidak percaya ini terjadi, harusnya tadi aku selfi supaya momen ini tetap abadi, ah norak sekali aku ini. Ya ampun, dia malah ngeliatin aku gitu, gimana aku mau ngunyah. Masa iya langsung ku telan. Ini juga tangan, kenapa jadi gemetaran.


Usai menelan sosisnnya, Milly meraih lagi gelas air putihnya yang masih tersisa sedikit berniat untuk menghabiskan. Namun ia terkejut dan seketika membelalakkan mata saat melihat noda merah di gelas bening itu.


Astaga, kenapa gincuku tertinggal di gelas. Jadi ini maksud Ina memperingatkan aku tadi. Pantas saja dia tadi senyum-semyum nggak jelas. Rupanya ... awas entar ya! Geram Milly kesal.


Segera gadis mungil itu memangku gelas itu lantas mengusap noda lipstiknya di sana. Tak ingin orang tau, iapun bersikap biasa-biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Namun siapa sangka, lelaki di sampingnya itu ternyata lebih jeli dari yang ia duga.


"Kok gelasnya diusap-usap mbak, ada jin penunggunya ya?" Goda Billy dengan lirikan mautnya, sementara bibirnya menyunggingkan senyum penuh arti.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2