Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Buku Langka


__ADS_3

“Ini apa, Yah?” Mayang bertanya selagi menerima sesuatu yang diberikan ayahnya. Alisnya bertaut heran saat mengamati benda berwarna cokelat tua itu dengan seksama.


“Buku,” jawab Anwar. Pria yang baru saja tiba di rumah itu memang sudah tak sabaran ingin memberikan buku tebal yang ia dapat pada putrinya. Maka, kali ini ia begitu antusias menantikan reaksi bahagia gadis bertubuh semampai itu.


Mayang menatap ayahnya sebentar, lantas mengembalikan pandangan pada buku yang ia pegang. Jemari lentiknya bergerak membuka sampul dan membolak-balik halamannya dengan perlahan. Matanya juga tampak serius membaca isi tulisannya.


Setelah beberapa saat, ia kembali menatap sang ayah yang sejak tadi masih memperhatikannya, lalu bertanya, “Ayah beli buku ini di mana?”


“Itu buku langka, Nak. Ayah pikir tidak ada toko buku yang menjualnya lagi. Asal kau tau saja, Ayah menemukannya di bak sampah.”


“Hah?” Mayang terperangah. Matanya juga membola. Ia kembali menunduk demi mengamati buku itu. “Benar ini untuk Mayang, Yah?” tanyanya ragu.


“Tentu saja,” jawab Anwar serius.


Ada sedikit kekhawatiran di hati Mayang memiliki buku itu. Entah mengapa ia merasa buku ini begitu istimewa. Secara tampilan dari sampulnya saja sudah berbeda dengan buku-buku pada umumnya. Berbahan tebal dan berseni. Begitu pula dengan kertas yang digunakan, serta coretan dari tintanya.


Ia tahu betul buku itu bukanlah buku sembarangan. Benda itu terlalu berharga. Lantas, gerangan siapakah yang telah mencampakkan dan membuangnya? Ah, tiba-tiba Mayang merasa begitu beruntung mendapatkannya.

__ADS_1


“Kalau gitu Mayang bawa ke kamar ya, Yah.” Mayang terseyum semringah. Ia memutar tumit dan hendak beranjak. Namun, mendadak diam dan urung melakukan. Seketika ia berbalik badan dan berhambur memeluk ayahnya dan mengucapkan terima kasih. “Terima kasih untuk hadiahnya, Ayah. Mayang cinta Ayah,” tuturnya penuh haru sambil mendekap erat tubuh ayahnya tanda sayang.


Anwar tersenyum hangat, lalu mengusap rambut putrinya dengan penuh sayang.


“Sama-sama, Nak.”


 


***


 


“Ini benar-benar buku langka. Bagaimana mungkin Ayah menemukannya di kotak sampah? Atas dasar apa pula seseorang bisa begitu gampangnya membuang buku sebaik ini? Aneh,” gumamnya bermonolog.


Tiba-tiba gadis itu menguap, tanda rasa kantuk mulai menyergap. Karena saking asyiknya sampai-sampai ia tak menyadari jika hari telah menjelang pagi. Untuk alasan kesehatan badan, ia memutuskan menutup buku dan menaruhnya di atas nakas. Merebahkan tubuh miring menghadap kanan, ia melafalkan doa sebelum akhirnya menutup mata.


***

__ADS_1


Rasanya belum lama Mayang terbuai dalam dunia mimpi. Namun, tubuhnya terasa berguncang diiringi suara cempreng Weni yang begitu mengejutkan.


“Kakak, bangun! Jangan sampai aku guyur pakai air comberan lagi, ya!”


Membuka mata, punggung Mayang serta merta bangun demi menghindari Weni melakukan hal gila itu. Ia menguap lebar, mengucek-kucek mata lalu mengarahkan pandangan pada adiknya dengan mata yang masih berat.


“Jam berapa, sih? Masih pagi juga, udah ribut aja,” ujar Mayang dengan suara parau khas bangun tidur.


“Udah jam delapan, noh! Matahari udah di atas kepala!”


Mata Mayang mengikuti arah telunjuk Weni yang menuding langsung pada jam dinding. Benar saja, jarum jam menunjuk angka delapan. Panik, mata Mayang langsung melotot. Sadar jika sudah siang bolong Weni masih juga berada di rumah, ia bergegas menatap adiknya dengan sorot tajam sebelum kemudian mengeluarkan jurus seribu omelan.


“Sudah tau jam delapan ngapain masih nyantai di atas ranjang! Sekolah sana! Tuntut ilmu yang bener, jangan Cuma bisa pacaran dan bolos-bolos sekolah ngabisin uang jajan!”


Bukannya patuh dan beranjak, Weni justru mendengkus lirih dan memutar bola mata malas. Menepuk pelan pundak kakaknya, ia kemudian menjelaskan.


“Ini hari Minggu, Neng. Amnesia ya?”

__ADS_1


__ADS_2