
Tanpa Alex sangka, di balik sikap pasrah Mayang itu rupanya ia menyembunyikan rencana untuk membalas tindakannya. Alex berteriak kencang dengan tubuh yang mendadak menegang. Pria yang bertelanjang dada itu sontak bangkit untuk duduk dan langsung memegangi daun telinganya yang kesakitan. Rupanya Mayang telah menggigitnya tanpa ampun hingga daun telinga itu mengeluarkan darah.
Alex menggeram penuh kemarahan bukan kepalang melihat bercak darah di tangannya yang di dapat usai memegangi daun telinganya. Lelaki itu sontak melemparkan pandangannya ke arah Mayang. Namun rupanya gadis itu telah dalam posisi duduk dan menodongnya dengan senjata sambil menyeringai penuh kemenangan kearahnya.
Seketika wajah tegang Alex itu tiba-tiba melembut membalas tatapan Mayang. Ia justru menipiskan bibir dan tersenyum penuh kekaguman. Tak nampak lagi gurat kemarahan di sana. Apalagi sorot ketakutan, seolah-olah ancaman Mayang itu tak berarti apa-apa.
Reaksi Alex itu jelas saja membuat Mayang keheranan. Bagaimana mungkin seseorang begitu tenang menghadapi kematian? Jika seseorang menodongkan senjata bukan tidak mungkin orang itu akan benar-benar menembaknya. Tapi kenapa Alex terlihat biasa saja menghadapi ancamannya? Atau, atau ada yang salah dengan diriku? Apa mungkin ancamanku kurang meyakinkan hingga Alex meremehkan? memikirkan hal itu membuat Mayang menjadi kebingungan.
"Apa kau benar-benar ingin aku mati, heuumm?" pertanyaan Alex berhasil membuyarkan lamunan Mayang.
Mayang yang sejenak lengah karena pikirannya yang sedang melayang itu mengerjapkan mata penuh keterkejutan. Bahkan tangannya yang semula begitu kokoh memegang senjata itu tampak melemah dan bergetar. Dan kelemahan Mayang itu terbaca oleh Alex yang sejak tadi mengawasinya.
"J-jangan mendekat! Atau kau benar-benar aku tembak!" Mayang berseru dengan gugup saat Alex bergeming. Ia menarik mundur tubuhnya dengan sikap waspada, meski itu sia-sia karena ia sudah merapat pada kepala ranjang di belakangnya.
Posisi mereka yang masih sama-sama di atas ranjang dengan jarak yang hanya sejangkauan itu bukan tak mungkin jika Alex akan nekat menyerangnya secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Alex dengan nada meragukan. Matanya menyipit menatap Mayang setengah menyelidik. "Tapi, sepertinya kulihat kau hanya menggertakku saja. Jika kau benar-benar ingin membunuhku mengapa tidak kau lakukan sejak tadi?"
Ah sial! Benar juga dia bilang. Jika membunuh semut saja aku tidak tega, bagaimana aku bisa membunuh manusia? Ya tuhan, aku hanya wanita biasa, bukannya penjahat seperti dia. Sepertinya mereka salah telah membebankan tugas ini kepadaku. Ah sial! batin Mayang kesal.
Mayang yang terpancing oleh ucapan Alex terlihat lengah dengan pergulatan batinnya. Tak ingin membuang kesempatan, Alex segera bergerak ingin menguasai Mayang, namun rupanya wanita itu menyadari dan langsung bersikap penuh kewaspadaan.
"J-jangan mendekat!" lagi-lagi Mayang berteriak gugup. "Kumohon jangan mendekat atau aku akan membunuhmu!"
"Kau pikir aku takut mati?" tanya Alex sambil menaikkan sebelah alisnya. "Aku justru merasa senang jika harus mati di tangan wanita yang kucintai. Tembak saja aku sekarang, aku bahkan sudah lebih dari sekedar siap," tuturnya dengan nada menantang seraya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan memperlihatkan setiap inci tubuhnya, seolah-olah pasrah jika Mayang akan menghujaninya dengan seluruh isi peluru di dalam tembaknya.
Namun di tengah rasa takut yang semakin menghimpitnya, sekelebat peristiwa yang sempat terjadi tadi mendadak terlintas di kepalanya. Sesuatu hal yang membuat Alex sempat merasa tak rela sepertinya patut untuk dicoba.
"Diam di tempatmu atau aku akan menarik pelatuk ini!"
Alex seketika membulatkan matanya lebar-lebar, dipenuhi keterkejutan serta kemarahan. Ia benar-benar tak menyangka jika Mayang akan menodongkan senjata itu pada dirinya sendiri. Dengan mantap Mayang menempelkan ujung pistol itu tepat di kepala sisi kanannya.
__ADS_1
"Jangan lakukan itu! Sudah kubilang kau tidak boleh mati sebelum kumiliki!" Alex berteriak frustasi. Ia menatap Mayang dengan wajah dipenuhi ketakutan. Sedetik kemudian ia bergerak cepat merebut pistol itu dari tangan Mayang sebelum kemudian melemparkannya jauh-jauh dari jangkauan.
Tanpa ampun lagi, Alex menjatuhkan tubuh Mayang hingga berbaring tak berdaya di atas ranjang sebelum kemudian kembali memerangkap gadis itu hingga tak bisa berkutik.
Untuk ke sekian kalinya Mayang mengambil keputusan yang salah. Lagi-lagi ia tak berdaya di bawah tekanan Alex.
"Lepaskan aku! Kumohon lepaskan aku, Alex ,,,!" Mayang dengan nada memohon sambil berupaya sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Meronta, menendang dan segala bentuk perlawanan ia lakukan untuk menyerang Alex namun sia-sia. Lelaki itu justru semakin kuat menekannya. Bahkan di bagian perut di mana tempat janinnya bersemayam tak luput dari tekanan Alex.
"Diam dan berhenti meronta atau aku tak segan-segan membuatmu menyesal seumur hidupmu!" bentak Alex dengan kejam sambil menatap Mayang dengan nyalang tajam. Ancaman itu sepertinya tak main-main ia lontarkan. Hal itu tak ayal membuat Mayang menghentikan aksi perlawanannya seketika. Selain karena kehabisan tenaga dan kelelahan, iapun terlihat ketakutan oleh aura gelap yang kini telah melingkupi diri Alex.
Mayang yang melemah karena tenaganya terkuras habis, hanya bisa menggunakan matanya untuk menatap Alex penuh kebencian. Dadanya terlihat naik turun dengan napas terengah-engah. Namun tatapan Alex yang begitu dipenuhi hasrat padanya benar-brenar membuatnya jengah, hingga ia memiringkan kepala demi untuk menghindari bersitatap lebih lama dengan lelaki itu.
Melihat penolakan Mayang terhadapnya tak lantas membuat Alex tersinggung ataupun marah. Ia justru menipiskan bibir dan mengulas sebuah senyuman. Lelaki yang menindih Mayang itu lantas Membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada wajah Mayang. "Dengarkan aku baik-baik," Alex mendesiskan ucapannya tepat di telinga Mayang penuh ancaman. "Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan cepat. Bahkan aku tidak akan membiarkanmu merasa kesakitan. Kau adalah milikku, dan selamanya akan tetap menjadi milikku. Meskipun sekarang kau membenciku setengah mati, tapi aku bisa jamin kelak kau akan bertekuk lutut dan mencintaiku sepenuh hati." Ucapnya seolah tengah merapalkan sumpah.
Mendengar perkataan Alex yang seolah tak mau tahu itu membuat geraham Mayang menggemertak jengkel. "Aku tidak mau!" teriaknya dengan keras.
__ADS_1
Bersambung.