
"Jadi, bisakah kita makan dulu? Perutku sudah sangat lapar karena seharian ini kau belum memberiku makanan," pinta Mayang dengan nada manja nan menggemaskan, yang tak ayal membuat Alex melebarkan senyumnya yang begitu ceria.
"Semua permintaanmu pasti kuturuti, Sayang." Alex terang-terangan menunjukkan rasa bahagianya. Tanpa aba-aba ia bergerak menarik kursi di sisinya, lantas dengan sikap hormat dan elegan, ia mempersilakan Mayang untuk duduk di sana.
"Terima kasih," Mayang berucap ramah seraya menganggukkan kepala. Lantas menempati kursi yang Alex sediakan dengan sikap elegan.
Sementara Alex sendiri, ia menarik kursi kosong lain dan menempatkannya di samping Mayang, seolah tak ingin terbentang jarak di antara mereka. Alex menjentikkan jari dan salah seorang berpakaian pelayan yang berdiri siaga untuk memberi pelayanan datang mendekat.
Wanita berparas cantik dengan rambut di sanggul rapi itu dengan sikap elegan menuangkan anggur pada dua gelas kristal kosong di sana, lantas menyuguhkannya untuk Mayang dan Alex. "Silahkan Tuan, Nyonya," ucapnya ramah yang langsung dibalas anggukan oleh Mayang. Lantas menarik diri dan mengambil posisi sedikit menjauh dan berdiri dengan sikap siaga.
Alex meraih satu gelas dan menyodorkannya pada Mayang. "Untukmu, Sayang," ucapnya seraya menyunggingkan senyuman.
Tak langsung menerima, Mayang justru terlihat gelisah. Tangan kirinya secara spontan bergerak menyentuh perutnya dan meraba pelan tempat di mana bayinya berada. Rasa was-was langsung menyergap di hatinya jika sampai Alex memaksanya menenggak minuman itu. Bukankah ini akan membahayakan janin yang dikandungnya?
"Sayang," Alex menautkan alisnya.
"Ya," jawab Mayang sambil mengerjap terkejut. Tangannya lantas bergerak menerima gelas itu.
"Mari kita bersulang." Alex menuntun Mayang untuk menyatukan gelas mereka untuk bersulang.
"A-Alex," panggil Mayang dengan suara gugup. Tubuhnya pun bergerak salah tingkah seolah merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Ia meletakkan gelas yang dipegangnya ke atas meja. "Bisakah aku minum air putih saja? Aku tidak terbiasa meminum minuman seperti itu," ucapnya kemudian dengan suara pelan, sementara matanya menatap Alex sendu seolah tengah memohon.
Alex menipiskan bibirnya dan tersenyum lembut. "Tidak masalah, Sayang," jawabnya seraya meletakkan gelas yang dipegang, lantas melirik pada gelas berisi air putih dan kemudian meraihnya. "Kita akan bersulang air putih. Aku juga menyukai air putih."
Alex memberikan satu gelas untuk Mayang dan satu gelas untuk dirinya. "Mari bersulang, Sayang." Seolah tak patah arang, ia kembali menuntun Mayang untuk menyatukan gelas mereka.
Sumpah, Mayang benar-benar benci lelaki lain memanggilnya dengan panggilan kesayangan Brian. Namun ia harus berpura-pura senang demi kelancaran berjalannya misi ini.
__ADS_1
"Bersulang ,,," ucap Mayang sembari menyatukan gelasnya dengan hingga terdengar suara dentingan gelas yang beradu. Ia tersenyum saat beradu pandang dengan Alex sebelum kemudian mereka sama-sama meminum dari gelas masing-masing.
Alex kembali menjentikkan jarinya. Seorang pria yang berpakaian pelayan langsung bergerak cekatan memutarkan musik. Alunan suara yang terdengar mendayu merdu itu membuat Alex menyunggingkan senyum senang. Pria dengan balutan jas rapi itu bangkit dari duduknya.
Mayang mengerjap bingung saat Alex melangkah mendekati kursinya. Dan tanpa ia sangka, Alex mengulurkan tangannya dengan tatapan seolah memohon agar ia menyambutnya.
"Maukah kau berdansa bersamaku?" tanya Alex dengan pandangan penuh harap.
"Dansa?" tanya Mayang dengan mata membelalak tak percaya. Wanita cantik itu tersenyum kecut sementara tubuhnya bergerakan salah tingkah. "Tapi aku tidak bisa berdansa, Alex. Lebih baik jangan, ya," Mayang terkekeh saat menunjukkan penolakan secara halus. Sementara dalam hatinya memohon sangat agar lelaki itu percaya dan mengurungkan niatnya tanpa harus memaksa dirinya.
"Apa kau berniat membohongiku?" tanya Alex pelan, namun pertanyaan itu begitu kental akan sindiran. Lelaki berkulit kuning langsat itu bahkan memanyunkan bibirnya seolah tengah merajuk, hingga membuat Mayang mau tak mau harus bersikap seolah dirinya merasa tak enak hati.
"Membohongimu bagaimana Alex? Aku benar-benar tidak bisa berdansa," balas Mayang berusaha meyakinkan.
"Apa kau lupa, bukankah sebelumnya kita pernah berdansa bersama beberapa waktu yang lalu?" ucap Alex dengan mata yang menyipit. Sementara nada bicaranya terdengar seolah sedang mengingatkan Mayang.
Namun, sadar jika Alex tengah memperhatikan mimik wajahnya, buru-buru ia meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hahaha benar juga. Kenapa aku lupa, ya?" ucapnya sambil tertawa geli seolah sedang menertawakan dirinya sendiri.
Sementara Alex, bukannya kesal atau marah, ia justru terlihat merasa gemas akan reaksi yang Mayang tunjukkan. Ia juga tertawa sambil menggelengkan kepalanya seolah tak habis pikir pada perempuan cantik di hadapannya ini.
"Tapi Alex ,,, aku memang benar-benar tidak bisa berdansa," suara Mayang terdengar melemah. "Kau tahu bukan, saat itu aku sedang kesal. Orang yang sedang kesal biasanya bisa bertindak di luar kendalinya, bahkan mungkin lebih ekstrim. Dan itulah yang terjadi pada diriku waktu itu. Aku bahkan bisa berdansa mengimbangi gerakanmu padahal basicnya aku nggak bisa berdansa. Apa kau mengerti maksudku ini?" tanyanya dengan nada pelan dan sangat hati-hati, seolah tengah berusaha keras agar tidak membuat lelaki di depannya itu merasa sakit hati.
Di luar dugaan Mayang, Alex benar-benar sama sekali tak menunjukkan marah ataupun sakit hati sama sekali. Entah pesona apa yang dimilikinya hingga membuat lelaki tempramental itu menanggalkan sikap arogan yang selama ini melekat pada dirinya dan menggantinya dengan sikap lembut serta pandangan mata dipenuhi perasaan cinta.
"Aku mengerti." Alex menjawab mantap. "Dan aku juga percaya," imbuhnya. Tangannya lantas bergerak meraih jemari Mayang dan mengisyaratkan wanita itu untuk bangkit. "Aku akan senang hati mengajarimu untuk berdansa."
Entah mengapa Mayang begitu patuh, hingga ia mau saja mengikuti langkah Alex yang menuntunnya melangkah menjauhi meja dan bersiap untuk berdansa.
__ADS_1
Entah Mayang harus merasa sedih atau senang, mesti menangis atau tertawa karena harus melakukan kontak fisik dengan lelaki seperti dia. Namun ia harus bersikap seolah dirinya senang agar Alex tidak menaruh curiga.
"Ikuti gerakan ku, ya," ucap Alex memberikan instruksi. Ia menyatukan jemarinya dengan jemari Mayang, lantas memberi pengarahan kepada istri Brian itu gerakan dasar dalam berdansa.
Sikap Alex yang begitu telaten dan sabar mengajarinya berdansa itu justru dimanfaatkan oleh Mayang untuk mengerjainya. Mayang bersikap seolah dirinya bodoh dengan berkali-kali menginjak kaki Alex. Ia seolah sengaja mencari masalah agar kesal dan terpicu amarah terhadapnya.
Namun nyatanya, perhitungannya salah. Alex begitu sabar dan menunjukkan perhatian berlebihnya terhadap Mayang.
"Eh, maaf, maaf," untuk ke sekian kalinya Mayang memasang wajah penuh sesal saat lagi-lagi dirinya berhasil menginjak kaki Alex. Namun lelaki itu justru tertawa gemas seraya meremas lembut jemari Mayang yang masih digenggamnya.
"Tak apa, Sayang. Jangan merasa bersalah seperti itu ,,,. Sekarang kita coba lagi, ya," ajak Alex dengan penuh kesabaran. Ia seolah tak peduli pada pandangan para anak buahnya yang masih setia berjaga di sana.
Dan untuk ke sekian kalinya mereka mencoba lagi. Lelah pura-pura bodoh pada akhirnya Mayang pun menyerah. Ia pura-pura tersenyum senang saat berhasil menirukan gerakan yang Alex ajarkan.
Namun pada saat Alex mengangkat satu tangannya dan menginstruksikan agar ia berputar, entah karena hak sepatu yang Mayang kenakan terlalu tinggi atau mungkin dirinya yang kurang berhati-hati hingga membuat kakinya terpeleset dan hampir-hampir saja membuatnya terjatuh.
Beruntung di saat yang tepat Alex berhasil menahan tubuh Mayang di dalam rengkuhannya hingga tubuh ramping itu tidak tersungkur ke lantai.
Adegan pelukan tanpa sengaja pun tak terelakkan saat tangan Mayang juga refleks bergerak mencari pegangan hingga tanpa sadar mengalung di leher Alex.
Untuk beberapa saat tubuh keduanya terpaku dalam posisi merapat seperti itu. Tangan Alex begitu erat menahan pinggang Mayang agar wanitanya tidak terjatuh, sementara tangan Mayang merangkul leher Alex dan menjadikannya sebagai pegangan agar tidak terjatuh. Deguban jantung pun seketika bertalu-talu kala pandangan mata saling beradu.
Sebuah adegan yang sama sekali di luar dugaan. Dua hati itu memiliki perasaan berbeda. Sang lelaki menatap si wanita dengan penuh cinta, sementara si wanita menatap sang lelaki dengan penuh kebencian.
Namun Alex yang juga memancarkan pesona yang luar biasa hampir-hampir saja membuat Mayang terhipnotis oleh pandangan matanya. Untuk sesaat keduanya terdiam dalam buaian, hingga akhirnya Mayang tersadar dan tersentak penuh sesal saat sekelebat bayangan wajah Brian melintas di kepalanya.
Bersambung
__ADS_1