
Brian memacu mobil nya dengan kecepatan penuh.Menembus keramaian kota yang semakin padat di sore hari,sudah menjadi hal biasa.Berbarengan dengan berakhir nya jam kerja di perkantoran,para buruh dan semua aktifitas rutin lain nya.
Semua berebut ingin segera sampai di rumah dan berkumpul lagi dengan keluarga dan untuk melepas penat setelah seharian berkutat dengan pekerjaan.
Di saat terik nya matahari semakin lengser ke ufuk barat.Dan sebentar lagi siang berganti malam.
Begitu pula dengan lelaki pengendara Sport car berwarna brown metalik ini.Kharisma yang tak pernah luntur meski ia jarang terlihat tersenyum. Kewibawaan yang di turunkan dari kakek dan ayah nya.Namun belum cukup membuatnya memiliki alasan untuk segera menikah.
Selama ini ia telah mempertahankan kesetiaan nya hanya pada seorang wanita yaitu Magda Lena. Namun, sungguh tak masuk akal jika ternyata dia setia pada wanita yang telah meninggal.
Wajah lelah tak mampu menutupi ketampanan nya setelah seharian ini begitu banyak tugas di kantor yang harus ia selesaikan. Rasa letih dan penat mendominasi tubuh membuatnya ingin segera pulang dan beristirahat. Bertambah kesal pula karena Mayang
belum kembali dari rumah orang tuanya.
Meski gadis itu bukan siapa-siapa, tetapi Brian selalu merasa tak tenang jika gadis itu tak berada di rumah.
Ciiiitt
Suara decitan rem terdengar saat Brian menghentikan mobil begitu sampai di kediaman orang tuanya.
Brian masuk dari pintu utama namun rumah terlihat sangat sepi. Entah kemana para penghuninya.
Brian menyusuri setiap sudut rumah besar itu,namun belum terlihat juga orang yang di cari nya.Brian reflek berteriak memanggil saat dilihat nya seorang pelayan sedang berlalu. Pelayan itu lalu mendekat.
"Dimana Ibu?" tanyanya pada pelayan yang masih menunduk sopan di depannya.
"Sedang berada di taman belakang bersama nona Mayang, Tuan Muda,"jawab pelayan itu lengkap. Masih dengan kepala tetap menunduk.
"Ya sudah." Brian mengibaskan tangannya mengisyaratkan pada pelayan itu untuk pergi.
Brian lalu mengayunkan langkah menuju taman belakang, ke arah dua pintu kaca besar yang terbuka lebar.
Semula Brian ingin langsung menghampiri Mayang dan segera mengajak nya pulang.
Namun setelah melihat pemandangan yang memperlihatkan kedekatan Mayang dan ibu nya ,membuat Brian mengurungkan niat nya.
Brian menghentikan langkah nya di ambang pintu.Seulas senyum terurai dari bibir nya
saat mendengar candaan di iringi tawa kecil dari mulut mungil Mayang dan juga ibu nya..Brian tak menyangka mereka bisa sedekat ini dalam waktu singkat.
Brian seharusnya tak perlu heran karena ibu nya memang wanita yang baik hati.Mudah bergaul membuat nya mempunyai banyak teman.Dan dengan status sosial yang di sandang nya,siapa si... yang tak mau dekat dengan nya.Bahkan tidak sedikit juga penjilat di sekitar nya.Tapi ibu nya tak pernah ambil pusing selama itu tidak mengganggu.
Ibu memang hanya memiliki satu putra yaitu Brian.Kenapa hanya satu? Bukan nya tak ingin.Bahkan sebenarnya ibu ingin banyak anak.
Dengan banyak anak rumah akan selalu
ramai dengan canda tawa anak-anak nya.
Tapi memang ibu tak bisa lagi mengandung setelah melahirkan Brian.Segala cara telah
di lakukan kedua orang tua nya agar dapat memiliki momongan lagi namun hasil nya nihil.
Hingga akhir nya kedua orang tua Brian menyerah dan pasrah.Mungkin tuhan hanya mentakdir kan mereka untuk memiliki satu putra saja.Tapi Brian memiliki banyak sepupu dari keluarga ibunya,sehingga dia merasa punya banyak saudara.Ibu juga sering membawa keponakan nya pulang bersama nya.
"Hai anak ibu datang..!"Ratih tersenyum sambil melambaikan tangan saat tak sengaja pandangan nya tertuju ke arah pintu belakang.Mayang langsung berputar karena posisi nya yang membelakangi Brian,kearah yang dituju Ratih.
Tampak Brian sedang berdiri dengan posisi
melipat kedua tangan dan menyilangkan kakinya,dengan bahu yang bersandar pada pinggiran pintu.Dia tampak Cool dengan pakaian kemeja hitam dan lengan digulung senada dengan rompi vest nya.
Jantung Mayang seketika berdesir.Lama-lama dia jadi merasa tersiksa dengan pemandangan seperti ini setiap hari.Mayang suka sekali dengan penampilan Brian yang seperti ini.Dia merasa ketampanan tuan semakin hari semakin bertambah level nya.
__ADS_1
Apa itu tuan Brian?Kenapa dia selalu terlihat tampan.... meski sifat nya terlihat arogan.
"Mayang udahan yuk... itu kamu sudah di jemput."Ratih berbicara seraya menunjuk ke arah putra nya.
Benar kah dia datang untuk menjemput ku.
Oh bahagia nya... aku benar-benar merasa seperti di jemput oleh pangeran saja... dia memang pangeran...
"Ayo..."Ratih menarik lengan Mayang.Gadis itu tampak terkejut merasa tangan nya ada yang menyentuh."Kamu melamun...?"Ratih sedikit heran.
"Tidak nyonya..."Mayang menyanggah.
Kedua wanita itu berjalan menghampiri Brian yang tampak tak bergeming dari tempat nya berdiri.
"Nyonya saya mau mencuci tangan dulu ke dalam"Pamit Mayang pada ratih.Yang dibalas senyuman oleh wanita paruh baya yang masih terlihat muda itu.
Jantung Mayang semakin berdebar tak karuan saat ia harus berjalan melewati Brian.
Karena lelaki itu tetap pada posisi nya di ambang pintu.Sedetik mereka saling bersitatap,karena di detik lain Brian berpaling
pada ibu nya.Menyapa dan mencium punggung tangan ibu nya.
"Brian,,sini duduk.Ibu mau bicara sama kamu."
Ratih mengisyaratkan pada putra nya untuk duduk di kursi kosong di samping nya saat memastikan Mayang sudah melangkah jauh dari tempat itu.
"Ada apa bu...?"Tanya Brian tetap sopan walau langkah nya sedikit alot.Memaksa kan kaki nya melangkah dan duduk di samping Ratih.Brian sudah bisa menebak apa yang ingin di bicarakan ibu nya.
"Brian kenapa kamu jadi pelit begini si?!"Ratih mulai melancarkan omelan nya."Kamu tidak memberi pegangan apapun pada Mayang.Kamu tau kan susah nya wanita itu tanpa pegangan."
"Maksud ibu pegangan apa?"Sok sok an tak mengerti.
"Jadi ibu membawa nya ke mall.Untuk apa bu??"protes Brian.Raut muka nya sudah berubah kesal."Aku memang sengaja tidak memberi nya kartu atau uang atau apapun itu supaya dia tidak pergi bu?!"
"Untuk apa?Apa kau mau mengurung nya seumur hidup nya?!Kenapa kau jadi jahat begini!"Menatap tajam pada putra nya yang tak mampu di balas oleh Brian.
"Ibu tahu sendiri alasan nya kan,,dia tidak bisa sembarangan keluar rumah.."
"Itu bukan alasan yang tepat Brian.."Ratih tersenyum kecut.Menatap lekat pada putra nya."Kalau begitu segera nikahi dia."
"Ibu maaf kan aku.Aku bukan nya tak ingin menikah."Brian menatap lekat pada ibu nya.Ibu dan anak itu saling bersitatap.
"Saat melihat Mayang aku selalu melihat Lena pada diri Mayang bu,, aku tak ingin menyakiti gadis itu.Aku tak mau dia terluka saat tau dia hanya pelampiasan ku ibu.."Tatapan Brian tetap lekat.Matanya merah berkaca-kaca.Dia benar-benar sedang memohon agar ibu nya percaya.
Ratih mengalihkan pandangan nya.Menghela nafas panjang.Untuk beberapa saat hanya terdiam.Seperti merasakan apa yang sedang putra nya rasakan.Dia sangat faham anak nya sangat tak mudah di paksa.Dia harus memikirkan cara lain untuk ini.Setelah diam untuk beberapa saat,Ratih akhir nya bicara.
"Kamu tahu kan ibu tidak punya anak perempuan..."Ratih menitikkan air mata yang seketika membuat hati Brian iba."Ibu sudah terlanjur menyayangi Mayang.Apa kau bisa menjaga nya untuk ibu?"
"Ibu,,selama ini dia selalu ku jaga dengan baik.Penjagaan yang ketat,segala kebutuhan nya ku penuhi bu..."
"Tapi kau seperti memenjarakan nya jika caranya seperti itu.Kau bisa membuat nya menangis.."Protes ibu."Ibu tak mau kalau sampai dia menangis..."Ratih mulai menjalan kan ide nya."Turuti apa mau dia.. ibu tau kok,dia tidak neko-neko.Dan biarkan dia bersama ibu saat ibu rindu dia..."Ratih memasang senyum manis.Membuat putra nya tak mampu merusak kebahagiaan ibu nya.
"Iya baiklah.."Suara Brian terdengar melemah.
Mereka menghentikan pembicaraan saat suara langkah Mayang sudah terdengar.
Brian segera berpamitan pada ibu nya.Ratih lalu mengantar kan kedua nya sampai kedepan rumah.
"Ini apa nyonya besar?"Tanya Mayang penasaran saat menerima beberapa Paper bag dari tangan Ratih.
"Itu punya kamu.."Jawab Ratih singkat.
__ADS_1
"Tapi tadi saya tidak membeli apapun nyonya,, seperti nya ini bukan milik saya..."Mayang menyodor kan Paper bag itu bermaksud mengembalikannya.
"Itu buat kamu,,, aku yang membelikan nya."Ratih menegaskan."Terima saja,,, dan cepat masuk mobil sana.Brian sudah menunggu."Kata Ratih lagi sambil melirik putra nya yang sudah masuk mobil sejak tadi.
"Oh iya benar."Mayang juga melihat kearah Brian."Nyonya saya pamit dulu,terimakasih untuk semua nya..." Mayang tersenyum dan mengangguk sopan lalu berjalan menuju mobil Brian.
Apa aku tidak sedang bermimpi sekarang. Tuan mau menjemput ku sendiri tanpa menyuruh supir.Ah rasanya seperti mimpi aku bisa naik mobil ini..
Agak gemetar mayang membuka pintu mobil itu.Lalu pelan-pelan masuk dan duduk. Memang kalau mobil mahal rasanya pasti nyaman.
Brian menyalakan mesin mobil nya dan mulai melaju dengan kencang.Canggung.Tidak ada pembicaraan di dalam mobil selama beberapa saat.Brian tetap fokus menyetir dengan ekspresi wajah yang tak mampu Mayang tebak.
Mayang memilih menatap keluar menembus kaca mobil.memalingkan wajah nya membelakangi Brian.Dilirik nya tas belanjaan dari nyonya besar tadi.berisi gaun dan alat make-up serta barang-barang yang sama sekali tak di sentuh nya tadi.Tiba-tiba Mayang merasa terharu.Ia tak menyangka Mengapa nyonya sebaik ini... Mayang hampir saja menitikkan air mata karena terharu nya.
Dia kembali menatap kaca.Brian mengurangi kecepatan mobil nya saat melewati jalanan yang padat.Membuat pemandangan jadi jelas terlihat.Keramaian di sore hari.Yang sudah lebih dari sebulan ini tak pernah Mayang rasakan.
Ada binar bahagia di mata Mayang.Entah mengapa pandangan mata Mayang terganggu dengan pemandangan hijau-hijau berduri yang tampak berjejer di pinggiran jalan sejak tadi.Menbuat Mayang gelisah dan tak tenang.
Berkali-kali duduk nya beringsut setiap kali melewati pemandangan itu.
Oh durian.. kenapa kau terus saja menggoda ku?!Bisa kah satu saja di antara kalian menggelinding kesini.kearah ku... ayolah... aku ingin memakan mu....
Mayang menggigit bibir nya.Air liur nya hampir saja menetes setiap kali melihat durian yang berjejer.
Mobil berhenti di lampu merah.Dabmn di seberang sana nampak jajaran durian yang semakin membangkitkan hasrat Mayang untuk memakan nya.Sudah cukup!Mayang tak tahan lagi.
"Tuan muda..."panggilan Mayang lembut membelai telinga Brian membuat nya langsung menoleh."Saya mau itu..."
"Apa?!" Entah mengapa fikiran Brian sudah menjalar kemana-mana.
"Durian..."Jawab Mayang dengan senyum.Tapi bagi Brian senyum itu terlalu menggoda nya membuat jantung Brian berdesir.
Awal nya Brian kekeh melarang Mayang membeli durian itu apalagi membawanya pulang ke rumah,tapi melihat raut wajah kecewa gadis itu membuat Brian tak tega.
Akhirnya Brian menepi kan mobilnya di toko yang menjual macam-macam jenis durian.
Bahkan Brian yang akan membeli nya sendiri dan melarang Mayang keluar dari mobil.
Mayang merasa diri nya melayang diperlakukan seperti itu oleh Brian.Mayang memperhatikan setiap langkah dan gerak Brian yang membuat Mayang menggigit bibir.
Tuhan benar-benar menciptakan nya dengan sangat sempurna.Aku merasa beruntung bisa setiap hari memandang wajahnya.Mengapa hatiku menerima saat kebebasanku terampas begitu saja,,itu karena dia...
Pandangan Mayang tak lepas sedikitpun dari Brian.Sebenar nya apa yang membuatnya lama sekali kalau hanya membeli durian saja.
Mayang jadi gelisah,saat melihat ada beberapa wanita tampak mengerumuni Brian.
Brian terlihat kesulitan melepaskan diri.Hal ini seperti menyulut emosi Mayang.Ia tampak geram.
Keterlaluan sekali wanita-wanita itu!Nyosor saja kalau lihat laki-laki tampan!Apa mereka tidak tau kalau tuan sudah punya kekasih!
Mayang mencari cara untuk menghadapi mereka namun tidak kekerasan.Diliriknya tas belanjaan dari nyonya tadi.sesaat kemudian..
"Aku sudah pantas kan untuk menjadi kekasih bohongan tuan..."Mayang berbicara sambil melirik kaca spion."Ayo kita beraksi.."
Mayang keluar dari mobil dan menutupnya dengan membanting dan menimbulkan suara yang nyaring.Sehingga membuat Brian dan para wanita yang mengerumuni nya itu memperhatikan Mayang.
Mayang berjalan dengan anggun kearah Brian dengan penuh pesona.Brian tak berkedip menatap nya."Minggir!"Mayang menepikan gadis-gadis itu lalu melingkarkan tangan nya di lengan Brian dengan mesra.
"Sayang,,, kenapa beli durian nya lama sekali..."Rengek Mayang manja pada Brian yang membuat semua orang melongo tak terkecuali Brian."Sayang... kok bengong..."Mayang menepuk pipi Brian lembut seperti menyadarkan Brian yang sedang larut dalam hayalan."Ayo cepetan,,aku sudah tidak sabar ingin menikmati durian nya bersama kamu...."Mayang bergelayut manja di tubuh brian.
Bersambung
__ADS_1