
"Hahaha iya. Tapi jinnya berwujud Bapak ,,," ringis Milly menahan malu. Aaaa aku ingin sembunyi saja kalau begini ...! Segera ia mengembalikan gelas itu di tempat asalnya. Dan beruntung, noda gincu itu telah bersih tak tersisa.
"Oh ya?" Billy menipiskan bibirnya, mengulas senyuman menggoda yang tak ayal membuat jantung Milly mendadak berdetak tak karuan. Seolah semakin bersemangat untuk menggoda istrinya, ia lantas memutar tubuh dan merubah posisi duduknya hingga tepat menghadap pada Milly. Sementara kepalan tangannya menopang dagu dan siku bertumpu pada meja. Bola matanya berbinar ceria dan begitu antusias seolah tertarik untuk melakukan perbincangan lebih jauh. "Kuberi kau satu permintaan." ucapnya dengan tiba-tiba.
Terang saja hal itu membuat Milly membelalak terkejut karena senang namun juga sekaligus merasa curiga. Kenapa pria dingin ini mendadak lembut kepadaku? Apa ini hanya siasatnya untuk menutupi hubungan kami sebenarnya di depan keluarganya saja? Baiklah ,,, aku ikuti permainannya saja. Bukankah lebih baik aku manfaatkan saja momen langka ini. Kapan lagi akan diperhatikan lelaki sesempurna dia ....
"Kenapa hanya satu? Bukankah biasanya tiga?" Protes Milly penasaran.
Mendengkus, Billy menyeringai sembari membuang muka. Hanya beberapa saat, lalu pandangannya kembali menatap istrinya. "Minta saja sama jin yang ada diiklan TV sana! Benar-benar kau ini ya. Aku ini jin yang berbeda ...." jawab Billy dengan nada penuh penekanan diakhir kalimat sambil melebarkan senyumannya.
Diam sejenak, Milly mengamati Billy penuh selidik. Ada sejejak keraguan dari pandangannya, meski tanpa ia duga hal itu bahkan telah terbaca oleh Billy. Namun Milly tak menemukan jejak kebohongan dari sorot kedua netra suaminya, hingga pada akhirnya memupuk harapan dan keyakinannya.
"Benarkah? Aku boleh meminta sesuatu dari Bapak? Apa Bapak benar-benar akan mengabulkan apapun yang ku minta?" Milly mencecar Billy dengan pertanyaan seolah ia masih sulit untuk percaya. Bagaimanapun juga ia perlu memastikan hal ini lagi.
Terkekeh pelan, tawa Billy terdengar meremehkan. "Sepertinya kau takut sekali aku akan membohongimu."
"Ha-ha bukan gitu juga." Merasa gusar, Milly tersenyum kecut, sementara tangan kirinya bergerak mengusap tengkuk leher. "Tidak salah kan jika saya meminta kepastian? Karena tidak menutup kemungkinan Bapak akan ingkar dan membohongi saya." Sindirnya dengan nada penuh curiga.
Billy menarik sudut bibir sebelah kirinya hingga membentuk sebuah seringai, namun tak terlihat ketersinggungan di wajah tegasnya. Dengan sebelah alis yang terangkat, ia pun akhirnya bertanya dengan nada penasaran. "Memangnya apa yang kau inginkan dariku?"
"Saya minta Bapak mengabulkan tiga keinginginan saya lagi." milly menjawab cepat dengan pandangan penuh keyakinan dan tanpa berkedip.
"Apa?!" Billy membelalak tak pecaya. Matanya langsung menyorot tajam."Aku bilang kan hanya satu permintaan! Kenapa malah minta tiga keinginan? Kau sedang memanfaatkanku rupanya."
"Terserah Bapak, yang pasti saya sudah mengajukan permintaan saya." Milly menjawab dengan nada santai, sementara bibirnya tersimpul senyum penuh kemenangan. Memcondongkan tubuhnya sedikit ke arah Billy, ia lantas berbisik. "Kalau ingkar janji, ada dendanya loh Pak."
Ungkapan terakhir Milly seketika membuat Billy mendelik geram. "Apa-apaan ini?!"
"Milly, Billy, kok kalian ngobrol aja bukannya makan ...." Sela Ratih yang tiba-tiba sudah berdiri di tengah-tengah keduanya. Membuat Billy dan Milly yang saat itu tengah saling menatappun seketika menggeser pandangan mereka dan langsung memasang senyuman termanis mereka. "Ibu seneng deh lihat kalian rukun dan mesra seperti ini ,,,." pujinya dengan seulas senyum bahagia yang terkembang.
Tubuh ramping Ratih pun bergerak cekatan memindahkan beberapa jenis makanan dari masing-masing wadah ke dalam piring Billy dan Milly. "Dicicipin dong ,,, ini Ibu masak khusus buat kalian loh, sampai-sampa ibu rela tidak tidur saat memasak." tuturnya ramah sambil mengusap bahu Milly yang duduk disisi kirinya.
"Ya iya lah, Sayang. Kalau ditinggal tidur nanti masakannya gosong dong ...." sahut Malik yang duduk bersandar di kursinya dengan nada gurauan.
Cemberut, Ratih yang merasa kesal segera melempar pandangan penuh peringatan pada sang suami. "Ah Ayah kok tau aja. Gaga dong usaha Ibu buat nipu bocah-bocah ini ...!" Menggerutu, wanita paruh baya itu pun melangkah kembali menuju kursi kosong di samping suaminya. Lantas menjatuhkan membenamkan bokongnya di sana sementara pandangannya menatap sang suami penuh ancaman.
Meraih jemari lentik sang istri yang berada di meja makan, Malik pun meremasnya dengan lembut. "Sayang, anak-anak sudah dewasa sekarang, kau tidak perlu susah-susah menipu mereka untuk membujuknya makan ,,," imbuh lelaki paruh baya yang masih kuat dan tegap itu dengan nada mengingatkan.
__ADS_1
Membalas senyuman suaminya, Ratih lantas berucap, "Benar juga ya," wanita yang mengenakan blus berwarna gelap itu terkekeh kecil. Membalas genggaman tangan sang suami, ia ulas sebuah senyum dan menatap sang suami dengan penuh cinta. "Entah mengapa sebagai seorang ibu aku merasa mereka masih seperti bocah-bocah yang menggemaskan seperti dulu." Ratih menggeser pandangannya. Menatap satu persatu anak dan menantu yang terlihat begitu antusias mendengar ceritanya.
"Yang masih susah kalau di ajak makan." Sambungnya kemudian menatap Brian dan Billy bergantian. "Dulu Ibu bahkan harus mengejar dan menangkap kalian yang lebih suka main lari-lari dari pada makan. Ibu memakai segala cara untuk membujuk kalian. Ibu ingat betul, kalian itu dulu bandel, tapi juga pinter." Begitu berbunga-bunga saat Ratih menceritakan masa lalu Brian Dan Billy. Senyumnya bahkan terkembang begitu ceria.
Mendesah pelan senyuman itu berubah kegetiran. Nampak begitu jelas gurat kesedihan yang tersimpan rapi di balik senyumannya. "Tapi setelah kalian memilih hidup masing-masing, Ibu merasa sangat kesepian. Ibu benar-benar rindu masa-masa itu." Tak dapat menutupi kesedihannya, Ratih bahkan tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca. Tak seperti biasanya, wanita dengan rambut yang di cepol itu memperlihatkan sisi rapuhnya kali ini. Entah disengaja ataupun tidak, kesedihan Ratih benar-benar membuat trenyuh semua yang ada di ruang makan itu.
"Ibu ,,,,"
Ratih mendongak cepat dengan mata yang melebar saking terkejutnya ketika Billy memanggilnya begitu lembut, sementara jemari lelaki yang sudah ia anggap putra sejak ia masih kecil itu menggenggamnya erat, seolah sedang menyalurkan dukungan penuh kepadanya, begitu hangat.
"Sebentar lagi cucu-cucu Ibu akan meramaikan rumah ini lagi seperti halnya kami dulu." Imbuh Billy dengan suara parau yang seolah tercekat di tenggorokan, namun penuh keyakinan. Sorot matanya begitu teduh dan menyejukkan.
Meskipun selama ini ia selalu menunjukkan sikap formal kepada orang-orang yang telah mengangkat derajatnya, namun tak dapat dipungkiri jika Billy begitu menyayangi mereka selayaknya orang tua kandungnya. Tak ada yang membuatnya lebih bahagia selain melihat mereka bahagia.
"Benarkah?" Ratih bertanya cepat berusaha memastikan. Pandangannya terarah pada kedua putranya, menatap Brian dan Billy secara bergantian. "Kalian tidak akan melarang mereka menemani Ibu?" tanyanya lagi meminta ketegasan.
"Tentu Ibu," Brian dan Mayang yang sudah bangkit dari tempatnya pun segera mendekati sang ibu, lantas memeluk wanita paruh baya itu dari belakang. "Ibu sudah memiliki calon cucu sekarang, jadi Ibu tak perlu takut kesepian lagi." tutur Brian dengan nada mengingatkan sambil mengusap perut sang istri dengan lembut.
Mendekap tangan Brian dan Mayang sambil memejamkan mata penuh haru, Ratih pun berucap dengan nada trenyuh. "Terimakasih Anak-anak Ibu, hari ini Ibu benar-benar merasa bahagia." Tersenyum penuh kebahagiaan, Ratih lantas menoleh pada Billy, "Billy, kamu nggak mau peluk Ibu, Nak?"
"Ayah ,,, ayo peluk Ibu juga ...." Ajak Mayang pada Malik yang masih betah duduk di kursinya sambil tersenyum penuh haru. Melebarkan senyuman, ia pun bangkit lantas berbaur dengan istri dan anak-anaknya berpelukan hangat seperti kartun anak-anak yang berjudul teletubbies.
Beberapa saat berpelukan bersama, tiba-tiba Ratih berjingkat seolah tersadar akan sesuatu yang terlupa. Wanita paruh baya itu merasakan ada yang kurang dengan formasi ini.
"Billy, istrimu mana?!" Pertanyaan Ratih seketika membuat Semua yang tengah memeluknya menyadari jika istri Billy itu belum ikut serta dalam kebahagiaan mereka. Serentak, pandangan mereka pun bergeser pada Milly yang masih duduk diam terpaku di tempatnya.
Tersenyum penuh haru, ia ikut merasa bahagia menyaksikan drama kehangatan keluarga ini di depan mata. Memang apa lagi yang bisa ia lakukan? Terjebak dalam situasi seperti ini membuatnya bingung, tak tahu harus berbuat apa. Sebagai orang luar ia pun cukup tahu diri, ini bukanlah ranahnya untuk ikut campur dan berbaur dengan orang-orang yang masih menganggapnya asing di mata mereka. Ia sudah cukup terbiasa terabaikan, layaknya daun kering di tepi jalan.
"Milly ,,," panggil Ratih sambil mengulurkan tangan kirinya. Seulas senyum penuh kehangatan tersungging di wajah cantiknya. "Sini peluk Ibu, Nak." ajaknya kemudian dengan suara penuh kelembutan.
Membulatkan bola mata lebar-lebar saking terkejutnya, Milly hampir-hampir tak percaya ketika Ratih memanggilnya untuk ikut dalam kehangatan mereka. Bahkan wanita paruh baya itu seolah menantinya dengan penuh harap. Sementara yang lain pun tampak antusuas menatapnya, kecuali--
Getir, Milly tampak menelan slavinanya berat saat beradu tatap dengan Billy. Lelaki yang jelas-jelas ia tahu begitu membenci. Benar-benar pilihan yang membingungkan. Jika mengiyakan ajakan Ratih, itu berarti ia harus secara langsung memeluk Billy juga. Namun jika menolaknya, itu pasti akan menyakiti hati wanita paruh baya itu dengan sengaja.
"Milly ,,, kau putri Ibu juga. Ayo kemarilah." Ajak Ratih lagi dengan penuh kesungguhan.
Merasa tak enak hati, pada akhirnya Milly pun memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Berjalan ragu-ragu saat mendekat. Jantungnya berdebar semakin kencang, sementara tubuhnya ikut bergetar. Ia bisa merasakan hawa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Menerima uluran tangan Ratih, ia berniat hanya untuk menggenggamnya saja. Namun siapa sangka, wanita paruh baya itu justru menariknya dengan kuat, hingga tubuhnya terseret dan mau tak mau ikut berbaur bersama mereka.
Beruntung saat itu Billy telah menarik diri, seolah memberi ruang padanya agar lebih leluasa saat harus bersinggungan secara langsung dengan Ratih. Tanpa harus melakukan kontak fisik dengannya, lelaki itu seolah mengerti kebimbangan yang kini tengah Milly alami.
Tersenyum rikuh, Milly lantas setengah membungkuk dengan kedua tangannya merangkul tubuh ramping sang mertua dengan hangat. Tak bisa ia tahan, matanya yang berkaca-kaca tiba-tiba menitikkan air mata, ketika kehangatan ini berhasil melelehkan kebekuan yang telah lama melingkupi relung hatinya, saat kecupan hangat sang mertua mendarat di pipinya.
Brian yang menyadari gelagat Billy pun menatap saudara angkatnya itu dengan sorot mata tajam penuh ancaman. Ekor matanya yang berkali-kali melirik ke arah punggung sang ibu, seolah tengah memberi isyarat untuk melakukan hal ini untuk kebahagiaan ibu.
Upaya Brian pun berhasil. Sebab Billy pun tampak mendekat, meski tampaknya ia melakukan itu dengan setengah hati mendekat tepat di samping Brian.
Mendelik tajam, lagi-lagi Brian memberi ancaman. Mengisyaratkan agar Billy merangkulnya. Dan mau tak mau, tangan kanan Billy pun bergerak bergerak merangkul saudara angkatnya.
Mata Billy mengawasi dengan penasaran sang istri yang masih tampak membungkuk di sisinya, saling berpelukan dengan Ratih. Agak lama, hingga pada akhirnya mereka saling mengurai pelukan. Meski Milly menunduk, tetapi Billy bisa melihat dengan jelas saat si gadis tengah mengusap matanya dengan jemari.
Milly yang terkejut saat menyadari jika Billy telah berada di sisinya pun refleks mendongakkan kepalanya. Tak ayal, pertautan pandangan pun tak terelakkan dan Billy bisa melihat dengan jelas wajahnya yang basah oleh air mata meski hanya sejejap. Sebab di detik lain Milly dengan cepat membuang muka, berusaha menyembunyikan wajah basahnya.
Entah mengapa, Billy merasakan desiran aneh di dalam dadanya. Seolah sesuatu yang tak kasat mata telah meremas jantungnya begitu saja. Entah perasaan semacam apa, namun hal ini benar-benar menyesakkan rongga dadanya.
Menipiskan bibir, Billy memaksakan senyumnya saat Ratih tiba-tiba bangkit dari duduk dan berdiri menghadap padanya dan Brian.
"Hari ini Ibu sangat bahagia. Ibu ingin memeluk kalian semua." Ratih merentangkan tangannya, membawa Malik, Mayang, Brian dan Billy yang berada dihadapan kedalam pelukannya.
Sementara Milly yang sebelumnya memang menarik diri pun tak terjangkau oleh rengkuhan tangan Ratih. Hingga gadis itu hanya berdiri sambil tersenyum menyaksikan kehangatan mereka lagi.
Namun tanpa gadis itu duga, sebuah tangan kokoh terulur ke arahnya, seolah mengisyaratkan agar ia mendekat, dan menyambutnya. Gadis yang masih mematri senyum itu seketika membelalak tak percaya saat menyadari jika si pemilik tangan itu bahkan tersenyum begitu manis kepadanya.
Memang sulit ia percaya, namun itulah kenyataannya. Tangan Billy bergerak meraih jemarinya begitu lembut dengan disertai sedikit tarikan, dan membawanya berbaur dalam kehangatan keluarganya. Tangan kokoh itu bahkan tak canggung untuk merangkul bahu mungilnya.
Saling memandang, bibir keduanya hanya diam seribu bahasa. Namun sorot mata keduanya tak bisa pungkiri jika mereka tengah menikmati bahagia, semakin diperkuat dengan senyum ketulusan yang tersungging dari lengkung merah keduanya.
Kembali berkaca-kaca, Milly tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Meskipun ini hanya kebahagiaan semu yang sifatnya sementara, namun hingga nanti ia tak akan pernah menyesalinya.
Perasaannya yang semula hampa dan gersang, seolah kembali subur dan semakin berwarna dengan kehadiran mereka. Setidaknya ia pernah merasakan kebahagiaan dan kehangatan bersama keluarga suaminya.
Menyunggingkan sebuah senyum yang benar-benar tulus dari hati pada Billy yang juga tengah menatapnya, Milly seakan tengah mengucapkan rasa terima kasihnya yang begitu dalam. Dan seolah mengerti apa yang Milly maksudkan, Billy mengangguk dalam, tersenyum mengiyakan.
Bersambung
__ADS_1