
Mayang melihat mobil sport milik tuan muda sudah memasuki gerbang dan terus melaju menuju garasi. Sosok Brian kemudian tampak berjalan menuju teras rumah lalu masuk melalui pintu utama.
Mayang yang sedari tadi mengamati hal itu masih clingukan melihat ke luar rumah. Ia mengernyit heran. Pasalnya sempat berpikir tuannya itu akan pulang dengan membawa serta kekasihnya. Tetapi nyatanya pria itu sendirian saja.
Tak ingin larut dalam penasaran, Mayang memutuskan menghampiri Brian yang tengah duduk bersandar di sofa. Wajah pria itu tampak terlihat letih, tidak terlihat berbunga-bunga seperti manusia pada umumnya yang tengah dimabuk cinta. Sama sekali tak mencerminkan seperti orang yang baru saja pulang kencan.
Mendadak ragu, akhirnya Mayang menghentikan langkah di ambang pintu. Untuk apa juga ia terlalu mengurusi orang lain? Di sini ia bukan siapa-siapa. Jika bertindak terlalu jauh bisa saja ia membuat Brian merasa tak suka. Lebih baik mundur perlahan dan mengurungkan niatnya. Toh Tuan muda belum sempat melihatnya juga.
"Kenapa berdiri di situ?"
Mayang yang sudah berbalik badan seketika terkejut dan membelalak.
Apa dia melihat ku di sini.
Benar saja. Saat menoleh, Mayang mendapati Brian tengah menatapnya sambil menyipitkan mata. Ia tertangkap basah. Terpaksa, akhirnya ia mendekati Brian yang masih duduk di sofa.
"Kau mengawasi ku sejak tadi?"
Dia tau juga! Apa dia punya ilmu supra natural?Padahal aku tadi mengawasinya secara sembunyi-sembunyi.
"Tuan, apakah anda pulang sendirian?" Tak berniat menanggapi pertanyaan Brian yang membuatnya malu lantaran ketahuan, akhirnya ia memilih mengajukan pertanyaan.
"Memangnya aku harus pulang dengan siapa?"
"Saya pikir Tuan akan membawa kekasih anda pulang." Melihat wajah Brian yang diteliti membuatnya menerka jika mood pria itu sedang buruk. Ia memilih tak banyak bicara demi tidak menyinggung perasaannya. Niatannya untuk meledek sang Tuan juga terpaksa dibatalkan, daripada dirinya yang akan ditelan bulat-bulat, bukan?
Tiba-tiba ia teringat jika kemarin pria itu tidak mengisi perutnya dengan nasi. Sepertinya menawari dia makan itu akan lebih baik.
"Tuan, apa Anda lapar?"
Brian menggeleng. "Nanti saja. Aku belum lapar."
Mayang mengangguk. Kemudian ia memikirkan opsi lain. "Bagaimana dengan kopi? Apa tuan mau minum kopi? Saya bisa menyeduhnya untuk Anda."
Entah mengapa Brian merasa senang saat Mayang menawarkan secangkir kopi untuknya. Ia pun tak menolak. Dan malah meledek Mayang dengan kata-kata meremehkan.
"Memang kau bisa membuat kopi? Paling juga rasanya pahit."
"Yang pahit itu kalau tidak di kasih gula, Tuan. Tapi tenang saj. Selama ada saya di sini, kopi Anda akan selalu terasa manis sekalipun tidak ada gula di dalamnya." Mayang berucap mantap seperti meyakinkan.
Brian menautkan alisnya. "Kenapa bisa begitu?"
"Bisa lah." Mayang tersenyum bangga sambil mengibaskan rambutnya. Kemudian ia menambahkan sambil mengedipkan mata. "Asalkan, minumnya sambil lihatin saya. Saya kan udah manis."
Brian sontak tergelak. Ia menggeleng tak percaya. Gadis di depannya ini mampu menghiburnya di saat seperti ini. Saat semangatnya sedang surut.
"Ya udah. Mana kopinya?"
"Sebentar, ya. Tunggu beberapa menit." Amara lalu bangkit dan berjalan cepat meninggalkan Brian. Pria itu hanya mengekori langkahnya dengan pandangan.
Tak lama kemudian Mayang kembali dengan secangkir kopi hitam di atas nampan. Tak lupa membubuhkan gula pasir tentunya. Kalimat yang ia lontarkan tadi hanya candaan semata. Karena tidak mungkin kan kopi pahit akan jadi manis hanya karena meminumnya sambil lihatin cewek manis.
"Silahkan Tuan." Mayang meletakkan secangkir kopi itu tepat di hadapan Brian sambil berjongkok sopan, lalu berdiri sambil memeluk nampan yang digunakan untuk membawa kopi tadi.
Brian langsung mencicipi kopi itu dengan menggunakan sendok kecil.
"Bagaimana Tuan?" Mayang bertanya antusias meminta pendapat tentang rasa kopi buatannya. Sepertinya reaksi Brian tak begitu mengecewakan saat menyeruput tadi.
"Hemm lumayan," jawab Brian datar.
Yes akhirnya berhasil. Walaupun hanya lumayan, itu sudah cukup membuat Mayang senang. Itu artinya kopi buatannya tak terlalu buruk. Bisa dipastikan kopi itu akan Brian minum. Tapi jika Brian tidak suka, Mayang yakin cangkir itu akan melayang ke wajahnya.
Ternyata pengalaman membuatkan kopi untuk ayahnya di rumah berguna juga saat di sini. Ah, jadi rindu ayah.
__ADS_1
"Apa Tuan muda mau kue juga, biar saya ambilkan sebentar?"
"Tidak. Kubilang tadi aku tidak lapar."
Mayang hanya tertunduk kemudian mengangguk saat Brian meninggikan nada bicaranya. Namun, perintah tak terduga kemudian pria itu utarakan padanya.
"Kemarilah. Duduk disini." Brian menepuk sofa kosong di sampingnya agar Mayang tempati.
Awalnya Mayang terkejut. Namun, melihat tatapan penuh tuntutan Brian, ia pun tak bisa menolak. Mayang lalu duduk di sana dengan hati-hati sambil memangku nampan tadi.
"Memangnya kenapa kalau aku membawanya pulang?" Brian melontarkan pertanyaan itu setelah memastikan Mayang duduk dengan nyaman.
"Ah tidak, Tuan. Saya hanya penasaran dengan sosoknya saja. Apa itu salah?" Mayang balik bertanya.
Brian menggeleng. "Tidak. Sah-sah saja."
"Maaf. Dengan saya tinggal di sini dan duduk berdua begini, apakah dia tidak cemburu?"
"Tidak. Dia bukan tipe wanita seperti itu."
"Benarkah?" Mayang semakin antusias. "Berarti dia gadis yang luar biasa, Tuan. Anda beruntung mendapatkannya." Mayang tersenyum pada Brian yang tampak sinis menatapnya. Tiba-tiba ia merasa salah berucap dan telah menyinggung perasaan Brian. Maka buru-buru ia meralat ucapan. "Tapi yang jelas dia yang lebih beruntung karena mendapatkan pria seperti Tuan. Iya kan, iya kan? Woiya jelas." Mayang tertawa sumbang sambil menepuk pelan paha Brian. Tapi setelah itu ia merasa menyesal karena tangannya tidak bisa dikendalikan. Ia kini hanya bisa menyembunyikan muka sambil meringis.
"Kenapa kau mengurusi hidupku. Apa kau tak punya pekerjaan lain?"
"Memang tidak ada." celetuk Mayang dengan polosnya. Di rumah besar itu memang Mayang tak punya pekerjaan apa pun.Enak sekali kan hidupnya. Tinggal di rumah mewah gratis, lengkap dengan fasilitasnya. Makan enak dan apa-apa serba ada. Tapi dia hanyalah seorang tawanan yang tidak bisa keluar dari sangkar emasnya dengan bebas. Itu sungguh
menyiksa hati nurani Mayang yang suka akan kebebasan beraktifitas di luar rumah.
Benar juga. Brian jadi memikirkan perasaan Mayang. "Apa kau mau kalau kuberi pekerjaan?"
"Hah, kerja apa tuan?" Mata Mayang berbinar. Langsung terbayang di benaknya sebuah kehidupan indah dan bebas. Bergaul dengan orang baru, dan mempunyai banyak teman. Namun, setelah mengingat kejadian tempo hari, ia pun menciut dan seketika menggeleng. "Tidak Tuan, saya tidak mau?" ucapnya sambil tertunduk lesu.
"kenapa?" tanya brian penasaran sambil menegakkan posisi badannya.
Jawaban Mayang lagi-lagi membuat Brian tergelak. Ia benar-benar tak menyangka pikiran Mayang berkelana jauh ke arah sana.
"Pasti benar kan tebakan saya? Tuan tak akan membiarkan saya hidup tenang. Lebih baik saya jadi pengangguran dari pada kerja jadi pembasuh mobil. Toh menganggur pun saya tetap kenyang disini."
"Enak jadi kamu ya." Brian meledek.
Mayang hanya tertawa kecil malu-malu sambil menutup wajahnya dengan nampan yang sejak tadi masih dimain-mainkannya.
"kenapa di tutupi segala? Ketawa ketawa aja kali gak usah ditutup-tutupi gitu." Brian menarik nampan yang dipegang Mayang agar wajah cantik yang memerah itu dapat dilihat jelas olehnya.
"Saya takut nanti tuan pikir saya menertawakan Tuan."
Brian terdiam.
"Tuan, kenapa tidak segera dinikahi saja kekasih tuan itu? Memang apa lagi yang tuan tunggu? Usia dan finansial tuan kan sudah matang."
Pertanyaan yang tidak ingin dijawab Brian terlontar dari bibir mungil Mayang. Brian sendiri bingung dengan jawabannya.
"Kau sendiri?" Eh dia malah balik bertanya.
"Tuan kan tau sendiri saya di sini seperti apa. semua kan tergantung dari tuan. Kalau sampai seumur hidup tuan muda tak melepaskan saya, bisa dipastikan saya akan jadi perawan seumur hidup saya." Lagi-lagi Mayang tertunduk sedih. Membuat Brian jadi menjadi iba.
Ternyata berat juga jadi kamu ya.Kamu jadi terkurung seperti ini. Kamu benar-benar gadis yang hebat.Kamu selalu tegar menghadapi semuanya.
"Kamu bisa kok menikah di sini."
"Apa? Dengan siapa?"
"Kamu bisa pilih salah satu dari pengawalku. Mereka itu hebat lho." Kata Brian setengah berbisik. "mereka juga ganteng."
__ADS_1
"Tidak Mau!" Mayang menolak tegas
"Kenapa?" Tanya Brian penasaran. Sempat terlintas di pikirannya Mayang ingin minta lebih dari seorang pengawal.
"Karena pengawal anda semuanya bisu dan tuli." celetuk Mayang lagi dan benar-benar kali ini membuat Brian terpingkal. "Mereka tak mau mendengar atau pun menjawab apa yang saya tanyakan! Bagaimana mungkin saya akan menikah dengan orang seperti itu?"
Mayang kau tau tidak, semakin ke sini kau semakin terlihat menggemaskan. Aku benar-benar ingin menggigit bibirmu karena saking gemasnya aku.
"Tuan tau, walaupun di rumah ini banyak sekali manusia tapi aku selalu merasa sendirian. Saya kesepian. Mereka tak ada yang bisa diajak bicara sebagai manusia. Hanya Bu Kuswara saja yang mau mendengarkan saya. Yang mau mendengar keluh kesah saya. Tapi dia terlalu sibuk sehingga kami tak bisa selalu bertemu. Dia sudah seperti ibu bagi saya karena ...." Kata-kata Mayang terputus. Ia tak mampu lagi meneruskannya. Air matanya sudah tidak mampu lagi ia bendung ... hingga jatuh dan menetes. Ia mulai terisak.
Entah kenapa Brian merasa hatinya teriris. Ia seperti merasakan apa yang saat ini Mayang rasakan. Sungguh, ia tak ingin melihat Mayang sampai menangis. Jiwanya sebagai manusia sudah kembali, Ia benar-benar tak tega melihat gadis ini menangis. Terlebih karena Brian lah penyeba nya. Iya, dialah penyebab Mayang sampai berada di sini.
Brian meraih tubuh langsing Mayang dan membenamkan kepalanya di pelukan. Tangis Mayang makin tersedu membuat dekapan Brian semakin erat.
"Menangislah, Mayang. Menangislah sampai kau puas. pukullah aku jika itu membuatmu puas. Maafkan aku." Brian membelai lembut rambut Mayang.
Dalam isak tangisnya Mayang masih bisa menggunakan akal sehat dan pendengarannya dengan baik.
Benarkah yang ku dengar ini.Apa benar tuan muda memiliki hati selembut ini.
Saat tangisnya mulai mereda, pelan-pelan Mayang melepaskan tubuhnya dari pelukan tuan muda. Ia sadar ia telah berbuat lancang dan melampaui batas.
Brian menyodorkan sapu tangan yang ia ambil dari saku. "Usap air matamu," titahnya pelan.
"Terimakasih Tuan. Maafkan saya sudah lancang pada Anda." Mayang menyeka air matanya.
"Jangan ngelunjak ya! Kau harus tau diri posisimu disini sebagai apa." Brian pura-pura mengingatkan lagi. Ia tak ingin jantungnya yang berdebar itu terdengar oleh Mayang.
"Saya mengerti Tuan. Makanya saya minta maaf."
"Masih bagus kau masih hidup sampai sekarang." Entah kenapa kalimat terakhir yang Brian ucapkan kali ini terdengar begitu ngeri. Mayang sampai merinding mendengarnya.
"Tuan ...." Takut-takut Mayang memberanikan diri untuk bertanya setelah diam beberapa saat untuk mengumpulkan keberanian. Brian pun menoleh ke arahnya. Masih menunggu apa yang akan Mayang katakan.
"Apakah suatu saat nanti anda benar-benar akan membunuh saya?" Mayang benar-benar menunggu jawaban itu. Ia ingin kepastian yang jelas mengenai masa depannya. Ia tak mau terus-terusan digantung seperti ini.
Brian masih bungkam, dia masih bingung harus mengatakan apa. Sedikit pun dia tak pernah ada niatan untuk membunuh Mayang walau sebenci apa pun dia pada gadis itu. Tapi demi menutupi perasaan yang masih bertentangan dengan harapannya, lagi-lagi ia harus mengelabui gadis ini dulu.
"Ya kita lihat nanti." Jawab Brian pendek sambil menyeringai licik agar Mayang tidak menganggap hal ini serius.
"Maksud tuan?" tanya Mayang tak mengerti.
"Aku ingin melihatmu senang dulu." jawab Brian sambil tertawa.
"Jadi maksud Tuan, Anda bawa saya melayang ke awan dulu, setelah itu Anda empaskan saya ke dasar jurang begitu saja! Anda mau buat saya senang dulu sampai terbang melayang, lalu pada akhirnya saya akan dibunuh juga begitu!" Mayang membelalakkan mata lalu menggeleng tak percaya. "Wah wah wah, Anda benar-benar jahat ya tuan muda! Sebelum Anda membunuh saya, lebih baik saya menghajar Anda lebih dulu!"
Dengan wajah garang, Mayang merapat pada Brian dan memukuli lengan pria itu. Jelas saja kelakuan Mayang ini membuat Brian tertawa terpingkal dan meminta ampun pada mayang agar menyudahi pukulannya.
"Stop! Sakit tau..."Kata Brian sambil memegangi lengan yang tadi di pukuli Mayang.
"Tuan yang jahat!" pekik Mayang kesal. Ia merapikan lagi posisi duduknya karena tadi sempat naik ke sofa saat dia menyerang Brian. Keduanya terdiam untuk beberapa saat.
"Mayang...." Brian menyebut nama itu dengan lembut dan menatap orang yang dipanggilnya itu lekat-lekat.
"Iya Tuan." Mayang memfokuskan perhatian pada Brian. Ia tak merasa jika mimik mukanya seperti itu malah terlihat semakin menggemaskan. Membuat jantung Brian semakin berdetak cepat.
"Kenapa kau melihatku seperti itu!" protes Brian karena bingung mau bicara apa.
"Loh bukannya Tuan tadi panggil saya, kalau saya tidak menjawab dan melihat kearah anda nanti tuan kira saya tidak mendengar panggilan Anda." Mayang menjelaskan ."Jadi tuan tadi mau bicara apa?"
"Ah tidak jadi, aku mau mandi." Brian bangkit dan berdiri.
"Aa tuan katakan dulu!" rengek Mayang sambil menarik lengan Brian yang belum benar-benar berdiri hingga ambruk dengan posisi menindih Mayang. Sungguh tiada jarak lagi diantara mereka saat ini. Suasana jadi hening seketika. Hanya suara deguban dua jantung yang tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya. Mayang melepaskan genggaman tangannya dari lengan Brian, dan lali-laki itu pun beranjak pergi meninggalkan Mayang yang masih terlentang di sofa.
__ADS_1
Bersambung