
Menerima piring berisi irisan buah yang di berikan Kuswara, Mayang lantas membawanya menuju ranjang, tempat dimana sang suami tengah serius dengan laptopnya.
Meskipun tengah meliburkan diri dari kegiatannya di kantor, namun hal itu tak membuat Brian meliburkan diri dari pekerjaannya.
Naik ke atas ranjang dengan perlajan dan duduk merapat di samping Brian, Mayang menaruh piring itu tak jauh dari dirinya. Dipandangnya sang suami yang tengah serius itu dengan senyuman lembut.
"Sayang, mau buah?" tanyanya seraya menyodorkan sendok garpu yang telah tertancap buah semangk di ujungnya.
Menoleh pada sang istri, Brian tersenyum lalu membuka mulutnya menerima suapan sang istri. "Terima kasih, Sayang." ucapnya lembut sambil mengunyah.
"Sama-sama," balas Mayang sambil menunjukkan lesung pipinya. Menaruh garpu itu kembali ke piring, Mayang lantas memperhatikan layar berukuran empat belas inch tersebut dengan seksama. Dilihatnya pula sang suami yang tengah dengan lihainya menekan satu persatu tombol keyboard pada laptop itu.
"Sayang, ada yang bisa ku bantu?" Tanyanya dengan wajah serius.
"Hemmm," seketika Brian menoleh pada sang istri. "Apa kau bisa?" tanyanya dengan nada meragukan.
Seketika Mayang mengerucutkan bibirnya kesal. "Dari nadamu bertanya kau seperti meragukan ku. Kau lupa kalau aku memegang kartu as perusahaanmu?!" protes Mayang dengan nada memperingatkan.
"Astaga, maafkan aku Sayang." Brian merangkul Mayang dengan rasa bersalah. "Entah apa yang merasuki ku sampai-sampai lupa aku memiliki istri jenius." tuturnya sambil memeluk sang istri erat. "Tapi ini pekerjaanku Sayang, tanggungan ku. Aku tidak ingin kau kelelahan karena membantu ku," tutur Brian tak enak hati.
"Tapi aku yang mau, aku yang ingin membantu mu." Sahut Mayang setengah memaksa. Di dalam pelukan Brian gadis itu mendongak, meneliti ekspresi wajah suaminya. "Ayolah Sayang, boleh ya." Bujuknya dengan nada manja.
"Sayang, apa sih yang tidak buat kamu." Balas Brian sembari tersenyum.
"Benarkah??" Tanya Mayang dengan nada tak percaya. Ditatapnya sang suami dengan binar bahagia.
"Yup." Brian menggeser laptopnya ke hadapan Mayang. "Lakukanlah." Ujarnya mempersilakan.
"Aaaa terima kasih ...." Balas Mayang senang, lalu bibir mungil nan merah itu menghadiahi kecupan lembut di pipi suaminya. Setelah melempar senyuman termanisnya, gadis itu mulai menjamah laptop di hadapannya. "Tapi awasi aku juga ya, aku tidak ingin terjadi kesalahan." pintanya sambil memandang sang suami dengan ekor matanya.
"Tentu saja, Sayang. Aku akan mengawasi mu dari sini." Tutur Brian sambil beringsut dan mengambil posisi di belakang Mayang. Lelaki itu merapatkan tubuhnya dan mendekap sang istri dari belakang.
Tangan kekar itu mulai beraksi membelai dan menjamah area favoritnya di tubuh sang istri dengan gerakan begitu lembut. Disertai bibir yang bergerilya mencumbu mesra area leher dan pipi yang secara langsung menimbulkan sensasi merinding dan membuat tubuh gadis itu menegang merasakan senyar berbeda merambat di tubuhnya.
Menggigit bibir bagian bawahnya dengan sorot mata yang meredup, Mayang berusaha menahan hasrat yang tiba-tiba muncul dan membisiki batinnya menginginkan lebih. Bayangan akan kebaikan janin di rahimnya selalu berhasil menyadarkannya dari godaan lembut serangan sang suami.
Menggerakkan lehernya menoleh ke samping, di pandangnya sang suami yang tampak begitu menikmati serangannya dengan mata yang tertutup rapat.
Menyadari jika sang istri tengah memperhatikannya, Brian pun menghentikan aksinya dan membuka mata. "Kenapa diam?" Tanyanya saat melihat wajah masam sang istri yang tengah menatapnya. "Lakukanlah. Kau bilang ingin membantu ku, kan?" bisiknya dengan suara parau dan sensual. Kemudian melanjutkan lagi aksinya tanpa rasa bersalah.
"Sayang ,,,," rengek Mayang tak tahan sambil tangannya bergerak membelai rambut sang suami. "Kalau kau terus begini mana bisa aku serius dengan laptop ini ...!" gerutunya dengan menampilkan mimik wajah kesal.
Tanpa menghentikan aksinya Brian pun menjawab. "Harus bisa Sayang. Aku saja bisa menahan hasrat ku meski aku sangat ingin."
"Aaaa mana bisa ...!" Gerutu Mayang lagi putus asa saat tangannya tak dapat menjangkau keyboard laptop.
Bagaimana bisa mengetik kalau begini. Memikirkan apa yang mau di ketik saja tidak bisa karena konsentrasi pecah.
Tak bisa berbuat apa-apa, Mayang hanya bisa pasrah membiarkan sang suami melakukan keinginannya.
__ADS_1
"Sayang ,,,," desahan lembut lolos dari bibir mungil Mayang tatkala Brian bertindak semakin jauh dan merebahkan tubuhnya di kasur. Seolah tak menghiraukan peringatan sang istri, lelaki yang tengah di kuasai nafsu itu justru semakin liar menikmati tubuh wanita yang begitu dicintainya itu.
Hingga ponsel yang tergeletak di sisi laptop itu berdering, Brian masih tetap enggan menghentikan kegiatannya.
"Sayang, ponselmu berdering. Apa tidak sebaiknya kau angkat dulu, barangkali itu telpon penting." tutur Mayang pelan berusaha menasehati.
"Semua panggilan yang masuk ke ponsel ku pasti penting Sayang." Bisik lelaki itu enteng tanpa menghentikan aksinya.
"Lalu kenapa tidak kau angkat?"
"Biarkan saja. Bagiku ini tidak kalah penting." jawabnya dengan seringai penuh arti di sudut bibirnya. Lantas menelusupkan tangan dan menjamah langsung dua gundukan kenyal milik Mayang.
Hasrat yang semakin memanas membuat Mayang berusaha menahannya sekuat tenaga dengan meremas kain seprei, kegalauan hati tak bisa membuatnya melawan atau memgimbangi serangan sang suami.
Ponsel terus menerus berdering hingga lama kelamaan berhasil mengusik ketenangan Brian yang tengah terbuai dalam mencumbu. Hingga membuatnya kesal dan tak bisa abai begitu saja.
"Sial!!" Umpat Brian kesal seraya bangkit. Di raihnya ponsel itu dengan kasar lalu mengangkatnya dengan penuh kemarahan. "Hey, kenapa menelpon ku di saat yang tidak tepat! Kau sengaja ingin mengganggu kesenangan ku, hah!" Bengaknya pada seseorang diseberang telepon. Kemudian ia diam sejenak untuk mendengarkan yang di seberang berbicara. "Apa?!" Brian membeliak tak percaya, membuat Mayang mengernyitkan dahinya bingung.
"Sayang ada apa?" Tanya Mayang tak bisa menutupi rasa ingin tahunya usai Brian memutus sambungan teleponnya.
"Entahlah Sayang. Billy tiba-tiba menelepon meminta bantuan ku. Rasanya aneh, biasanya kan dia yang menyelesaikan masalah ku. Entah segenting apa sampai-sampai dia berani memanggil ku." Papar Brian sembari memikirkan sesuatu.
"Bantu dia Sayang, dia pasti sedang dalam kesulitan dan begitu menginginkan kau datang." tutur Mayang lembut memberi nasihat sambil mengusap pipi suaminya.
Brian tersenyum lembut menatap istrinya. Billy hanya memiliki dirinya dan keluarganya yang bisa dianggap saudara, mana mungkin dia bisa abai begitu saja. Terlebih setelah semua yang lelaki itu lakukan padanya selama ini. Ia harus mengesampingkan urusan pribadinya saat sang sahabat sekaligus saudaranya tengah membutuhkannya seperti saat ini, seperti yang telah Billy lakukan selama ini. "Tentu Sayang. Bisa bantu aku siapkan pakaian ku?"
Dengan senang hati, Sayang." jawab Mayang lembut kemudian bergegas membantu suaminya. Dalam hati ia merasa lega. Setidaknya ia merasa aman tanpa rasa berdosa menolak keinginan suaminya.
Tak hanya seorang diri, Brian bahkan datang dengan membawa beberapa orang bodyguard untuk menolong Billy sesuai permintaan sang istri.
Begitu banyak pertanyaan berkecamuk di kepala Brian, sebab Billy tak mengatakan secara gamblang tentang permasalahan yang tengah ia hadapi. Maka itu Brian membawa serta anak buah terkuatnya untuk mengatasi segala kemungkinan terpuruknya.
Setelah beberapa waktu mencari alamat yang diberikan Billy serta GPS dari ponsel Billy, mereka pun sampai di area kontrakan dimana mobil Billy terparkir di pelatarannya.
Tak ingin membuang waktu, Brian segera memasuki kontrakan yang ia duga Billy ada di dalamnya dengan di ikuti beberapa bodyguard di belakangnya.
Di dalam kontrakan kecil itu, tiga orang yang sudah berada di sana secara bersamaan menatap ke arah Brian seolah tengah menanti kedatangannya. Dengan sikap waspada, Brian memperhatikan mereka satu persatu.
"Oh, jadi ini perwakilan dari keluarga mu?!" lelaki paruh baya itu berucap seraya berdiri. Ucapannya ditujukan pada Billy, namun tatapannya menyalang tajam pada Brian, seolah lelaki itu telah berbuat kesalahan yang sangat fatal.
Tak lantas terpancing begitu saja, Brian menatap Billy yang memperlihatkan ekspresi wajah penuh kemarahan itu penuh tanda tanya. Karena Billy tampak masih enggan membuka suara, Brian lantas menggeser pandangannya kepada gadis yang tengah tertunduk malu, yang ia perkirakan sebagai akar permasalahan ini terjadi.
Lelaki dengan pakaian formal itu mendekat pada Billy. Berusaha bersikap netral dan bijaksana, ia mencoba mencari tahu duduk perkaranya.
"Apa yang sudah kau lakukan." Bertanya sengit, Brian mencengkeram kerah jas Billy, hingga lelaki yang semula duduk itu kini bangkit dan berdiri seiring tarikan tangan kekarnya. "Apa kau telah menodai gadis ini?" tanyanya masih dengan suara datar penuh rasa ingin tahu sambil menuding Milly dengan telunjuknya. "Jawab!!!" Bentaknya keras saat Billy masih kekeuh tak mau buka mulut, hingga membuat satu-satunya gadis yang berada di sana tersentak kaget.
"Aku tak seburuk yang kau pikirkan!!" Balas Billy tak kalah sengit seraya menepis keras tangan Brian hingga melepaskan cengkeramannya. "Aku hanya berniat menolongnya tapi mereka justru menjebak ku." Papar Billy sambil melirik sengit pada Milly yang hanya tertunduk diam seribu bahasa.
"Menjebak bagaimana?!" Sahut lelaki paruh baya yang ternyata asalah ayah Milly. "Jelas-jelas aku melihat mu menyentuh putri ku di kamarnya, dan beraninya kau masih berkelit?!" Perkataan lelaki itu membuat Brian membelalak dan Billy salah tingkah tak karuan. "Apa kau ingin lari dari tanggung jawab, hah!!" geram lelaki paruh baya itu penuh kemarahan.
__ADS_1
Brian menatap Billy dengan sorotnya yang tajam. Jika memang hal ini benar-benar terjadi, tentu saja Billy telah mencorengkan arang ke wajahnya dan seluruh keluarga akan mendapatkan malu karenanya.
Namun jika memang Billy adalah korban jebakan, tentu saja lelaki yang telah ia anggap sebagai saudara sendiri itu akan menerima malu serta deraan sesal seumur hidupnya.
Maka dari itu Brian tak bisa mengambil kesimpulan begitu saja atas masalah ini. Ia tak ingin salah mengambil keputusan yang kelak justru akan merugikan pihak yang tidak bersalah.
"Terserah kau akan percaya padaku atau tidak, yang jelas mereka telah bersekongkol untuk menjebakku." Desis Billy penuh kebencian. Lelaki yang biasanya selalu bersikap tenang saat ditimpa masalah itu justru memperlihatkan kebalikannya saat ini. Ia tampak frustasi dan putus asa.
Sedangkan si gadis yang sejak tadi hanya duduk fan tertunduk diam tampak mengepalkan kedua tangannya penuh kemarahan.
Sekian waktu terdiam karena ucapannya yang tidak digubris akhirnya berdiri karena tak tahan. Mendapatkan penghinaan yang tidak sesuai dengan fakta dari Billy membuat jiwa lara gadis itu meronta-ronta.
"Ayah ku mohon, berhentilah memfitnah orang tanpa tahu duduk perkaranya, Ayah."
Lirih gadis itu penuh harap pada lelaki paruh baya yang panggil ayah itu. Suaranya pun terdengar serak, tanda jika dia sedang bersusah payah menahan air matanya untuk tidak keluar.
Ucapan gadis itu berhasil menarik perhatian kedua lelaki yang sedang bersitegang itu menoleh padanya.
"Memfitnah bagaimana Milly! Ayah melihatnya dengan mata ayah sendiri!" Tegas Ayah Milly sembari memicingkan matanya.
Milly menggeleng samar seolah tak mengiyakan dengan ekspresi wajah sedih yang sama sekali tidak ia buat-buat. "Tapi yang Ayah lihat itu tidak benar. Ayah salah paham."
"Hah?!" Ayah Milly menggeram tak habis pikir melihat tingkah putrinya.
Milly menghela napas dalam lalu berbalik badan, menghadap kearah dua lelaki yang sama-sama sedang menatapnya dengan ekspresi wajah kebingungan.
"Tuan, maaf telah mengganggu waktu anda." Milly menangkupkan dua telapak tangannya sebagai wujud permohonan. "Silakan bawa saudara anda pergi dari sini dan biarkan saya menyelesaikan kesalahan pahaman ini bersama Ayah saya."
"Milly!!!" Bengak lelaki paruh baya itu dengan raut muka penuh kemarahan serta kecewa. Lantas di raihnya kasar lengan sang putri di susul tamparan keras mendarat di pipi mulus gadis mungil itu.
Bruggg! Seonggok daging bernyawa itu luruh menimpa lantai dengan tangan memegangi pipi kemerahan yang terasa nyeri. Dua lelaki yang sama-sama terkejut karena tak menyangka akan menyaksikan adegan tak mengenakkan ini saling melempar pandangan bingung.
"Kenapa Ayah kasar padaku? Apa salah ku Ayah?" Lirih gadis itu bertanya dengan derai air mata yang luruh begitu saja. Setelah sekian lama ia tahan meskipun hati lara karena hidup yang terlunta, pada akhirnya luruh seketika oleh goresan luka yang justru ia terima dari sang ayah.
Bukan sakit karena tamparan, melainkan perihnya luka karena sikap kejam sang ayah baru saja sang ayah tampakkan. Bahkan setelah seumur hidupnya selama ini tak pernah sekalipum ia terima. Entah atas dasar apa tiba-tiba sang ayah berubah sikap seperti ini.
"Kau yang kenapa seperti ini!" sentak sang ayah kasar. "Mau saja dilecehkan oleh lelaki tak memiliki sikap tanggung jawab seperti dia!" tuding Ayah Milly pada Billy sengit. Membuat yang di tuding mengeraskan rahangnya penuh kemarahan.
"Dia tidak melakukan apapun padaku, Ayah. Ku mohon percayalah ...." Lirih Milly disela isak tangisnya.
"Jangan melindungi orang yang jelas-jelas bersalah Milly!"
"Aku tidak melindunginya, Ayah. Aku hanya menyampaikan fakta."
"Terserah jika kau ingin Ayah tidak menganggap mu sebagai putri Ayah lagi Milly. Setelah selama ini kau kabur dan pergi dari rumah, inilah yang kau dapatkan? Menjadi pemuas nafsu lelaki ini dengan suka rela?!"
"Ayah!!!" Sentak gadis itu begitu tak tahan mendengar celoteh sang ayah yang terkesan merendahkannya. Tangis gadis itu pecah karena sakitnya hati yang ia rasakan. Gadis yang tengah bersimpuh itu menangis sedu sedan meratapi nasipnya.
"Ayah benar-benar malu memiliki putri sepertimu." Seolah belum puas dengan goresan luka yang ia sayat di hati putrinya, sang ayah kembali menyiramkan cuka dihati sang putri yang sudah remuk redam itu hingga luka itu terasa semakin pedih dan sangat pedih.
__ADS_1
Bersambung