Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Rahasia yang terbongkar


__ADS_3

Masih berada di dalam kamarnya, Brian yang sedang bersantai sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari Mayang saat istrinya itu tengah menyisir rambut panjangnya yang masih setengah basah.


Kecantikan wanita itu senantiasa terpancar meskipun tanpa riasan, membuat Brian betah menatapnya berlama-lama. Namun bukan lah paras semata yang membuat lelaki itu tergila-gila terhadap sang istri, melainkan kecantikan hati yang terpancar dari diri istrinya.


Brian yang tengah setengah berbaring miring dengan menggunakan lengan kiri sebagai penyangga tubuhnya itu sesekali membelai lembut rambut Mayang, lantas menghirup dan menikmati keharuman yang menguar dari surai panjang berwarna hitam legam itu.


Menoleh saat merasa rambutnya ditarik, Mayang tak segan melempar senyum saat pandangan mereka bertemu. Saling mengungkapkan sayang walau hanya melalui pandangan.


Rambutnya yang sudah melebihi pantat memang membutuhkan waktu lebih lama dalam menyisir dan mengeringkannya. Meski begitu, gadis penyuka makanan pedas itu sama sekali tidak merasa kerepotan dalam merawatnya.


Disela senyum bahagianya, terselip kegetiran yang belakangan ini benar-benar mengusik pikiran Brian. Setelah beberapa lama berusaha menahan untuk tidak berbicara dan bertanya, hal itu tidak lantas membuatnya merasa tenang. Justru hatinya semakin di lingkupi kegundahan yang kian mengusik ketenangan jiwanya.


Sebagai seorang suami, tentu saja jiwa pelindungnya meronta-ronta saat mengetahui sang istri tengah dihadapkan dalam masalah besar, meski hal ini belum istrinya sadari.


Ditatapnya wanita yang paling ia cintai itu dengan penuh tanya memenuhi isi kepalanya. Menipiskan bibir dan menggeleng samar, lelaki itu seolah tak habis pikir dengan wanita spesial yang tengah duduk bersamanya dalam satu ranjang itu. Entah seperti apa masa lalunya hingga ia terbentuk menjadi seorang wanita yang tangguh seperti sekarang ini.


Jika wanita lain akan merasa sangat frustasi dan putus asa saat hidupnya merasa terkekang tanpa bisa melihat dunia luar, Mayang justru terlihat begitu menikmati kehidupannya.


Jika wanita lain akan ketakutan saat dirinya merasa terancam, justru sikap berani serta tenang yang selalu istrinya tunjukkan.


"Ehemm," berdehem kecil, Brian mencoba mencairkan suasana yang beberapa saat lalu terasa hening.


Seketika itu pula Mayang menoleh dan melempar senyum pada sang suami. Kedua alisnya pun terangkat seolah sedang bertanya melalui bahasa isyarat.


"Sayang ...." Panggil Brian ragu.


"Hemmm ...." Menggumam, namun tatapan Mayang tampak serius dan menunggu sang suami melanjutkan bicara.


"Boleh aku bertanya sesuatu pada mu?" Brian memulai pertanyaan dengan nada hati-hati.


"Tanyakan saja, Sayang. Kenapa harus meminta izin dulu? Aku kan istrimu, dan bukan bos di tempat kerjamu. Kau bertanya sangat hati-hati sekali, sudah seperti sedang meminta izin untuk cuti beberapa hari pada bos mu yang galak ini." Mayang terkekeh kecil usai menggoda suami dengan candaannya.


Namun sesaat kemudian ia pun memanyunkan bibirnya saat melihat sang suami sama sekali tak terpancing untuk tertawa. Bahkan ekspresi wajah tampak mengernyit bingung menautkan alisnya.

__ADS_1


"Haha lelucon ku garing ya? Benar-benar tidak lucu sama sekali. Bukan pelawak sok-sok-an mau melawak." Celotehnya bernada putus asa dan memasang wajah masam.


Tak ingin mengecewakan sang istri, Brian bergerak cepat meraih dagu sang istri lembut. "Kau lucu dan menggemaskan, Sayang ku," hiburnya seraya menyunggingkan senyum.


"Sudah, tak perlu merayu ku hanya untuk sebuah pertanyaan. Cepat tanyakan apa yang ingin kau tahu dari ku." Ujar Mayang setengah mendesak tak sabaran.


Diam sejenak, gadis berparas ayu itu pun menyipitkan mata sambil tersenyum, lalu mencondongkan wajahnya kearah wajah suaminya. "Kalau kau ingin tahu mengenai mantan ku, ku rasa akan percuma saja. Karena aku tak memiliki mantan sama sekali." bisiknya seraya melempar senyuman nakal sembari menarik tubuhnya menjauh.


"Ha-ha-ha ...!" Brian tergelak seketika. "Aku tahu kau hanya milikku seutuhnya, Sayang. Aku hanya ingin tahu bagaimana kegiatanmu sehari-hari sebelum Billy datang menjemput mu?"


"Oh, itu ...? Aku hanya menghabiskan waktu siang hari ku untuk membantu Ayah di perkebunan, Sayang. Lalu menghabiskan malam hari untuk beristirahat di rumah." Mayang menjawab ringan sambil melanjutkan lagi menyisir rambutnya. "Aku tidak seperti teman-teman ku pada umumnya yang menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dan jalan-jalan. Makanya aku tidak mempunyai banyak teman." Mayang menyebik usai menjelaskan, lalu menebar senyum pada Brian yang tampak antusias mendengarkannya.


"Kau pekerja keras rupanya." Puji Brian penuh kekaguman.


"Kau juga Sayang." Balas Mayang tak kalah kagum. Ia mencubit gemas pipi sang suami sebelum melanjutkan lagi menyisir rambutnya.


"Apa kau tidak pernah bermain-main di sekitar tempat tinggal mu? Emm, ke gedung tua misalnya?" Brian menyipitkan mata saat menangkap ekspresi wajah sang istri yang tampak terkejut mendengar pertanyaannya. Gadis itu tertegun sekejap, bahkan ia menghentikan kegiatan menyisirnya.


"B-bagaimana kau tahu di sana ada gedung tua, Sayang?" Mayang menoleh dan menatap Brian penuh selidik. "Bukankah kau baru sekali datang dan berkunjung ke sana, itupun hanya singgah di rumah orang tua ku saja untuk melamar ku?"


"Ha-ha, tentu saja aku tahu Sayang." memaksakan diri untuk tertawa, justru semakin memperlihatkan jika ia sedang pura-pura ceria. Ia pun lantas memalingkan muka menghindari adu tatap dengan suaminya. Entah mengapa seketika terbesit rasa cemas di hatinya saat bayangan tentang gedung tua itu kembali merangkul mesra ingatannya.


"Jadi untuk apa kau ke sana?"


Mayang mengernyit bingung membelakangi suaminya. Ia bahkan belum menjawab pertanyaan Brian mengenai gedung tua itu, tapi ia sudah bertanya begitu saja seolah tau jika memang dia pernah ke sana. Tapi bukanlah hal aneh jika memang sang suami sudah mengetahui, dia memang memiliki mata-mata di mana-mana.


Entah mengapa pertanyaan yang sengaja Brian layangkan padanya membuat hatinya merasa semakin tidak nyaman. Secara tiba-tiba jantungnya berdesir cepat, saat kegelisahan yang telah lama ini mati-matian ia tepiskan, seolah terkuak kembali oleh pertanyaan memancing yang tiba-tiba suaminya ajukan.


Melirik sekilas pada Brian, ia pun membatin. Suamiku tidak mungkin tahu mengenai rahasia yang selama ini ku tutupi bukan?


Melihat begitu antusiasnya Brian menanti jawaban, mau tak mau Mayang pun membuka mulut untuk berbicara dan memaksakan senyumnya.


"Aku hanya ke tempat itu sebentar, Sayang. Setelah itu aku pulang."

__ADS_1


"Dengan siapa kau ke sana?"


Tak langsung menjawab, justru Mayang menatap Brian penuh selidik.


Kenapa aku merasa sedang di interogasi begini si? Batin Mayang penuh kegelisahan.


"Aku hanya sendiri, Sayang. Aku masuk hanya untuk mengejar kucing ku yang lepas ...!" Mayang sedikit meninggikan suaranya saat berbicara. Wajahnya pun tiba-tiba merengut tidak suka. "Waktu itu kucing yang aku minta dari temanku lepas saat aku bawa dia naik motor. Lalu aku mengejarnya dan tak sengaja masuk ke gedung itu. Tapi aku tidak menemukan kucing itu Sayang, jadi sku tinggal pulang saja dia di sana ...!"


"Hanya mencari kucing? Dan tidak melakukan apapun yang lain?" Desak Brian penuh rasa penasaran. Lelaki yang kini telah merubah posisi menjadi duduk berhadapan dengan sang istri itu terlihat mulai kehabisan kesabaran. Wajahnya yang terlihat sangat serius semakin menimbulkan kecurigaan Mayang jika ia tengah menginterogasi sang istri untuk sebuah penyelidikan.


Bingung antara harus jujur atau tetap menyembunyikan rahasianya yang selama ini tersimpan rapat untuk dirinya sendiri, Mayang memutuskan untuk mencari aman dengan tidak meneruskan pembicaraan.


"Sayang, tiba-tiba aku ingin makan buah. Apa kau ingin sesuatu? Biar ku ambilkan sekalian." ujar Mayang berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Tak menunggu jawaban dari suaminya, ia pun beringsut dan turun dari ranjang.


"Lalu bagaimana dengan brankas itu?!"


Deg.


Langkah Mayang seketika terhenti, dan tubuhnya tampak terpaku berdiri membelakangi sang suami. Mayang benar-benar merasa terkejut saat tiba-tiba Brian menanyakan suatu hal yang bahkan belum pernah ia ceritakan pada siapapun sebelumnya.


Gadis yang wajahnya tiba-tiba berubah pasi itu bahkan berjingkat saat sang suami menyentuh pundaknya dari belakang. Mendongakan kepalanya menatap sang suami yang kini berpindah ke hadapannya, wanita hamil itu meneguk slavinanya berat sementara tangan dinginnya terkepal kuat berusaha mengusai tubuh yang tiba-tiba bergetar hebat.


Brian menggerakkan tangannya menangkup dua sisi bahu istrinya. Meremas lembut di sana untuk menguatkan dang istri yang tampak berkaca-kaca menahan air mata yang mulai memenuhi pelupuk mata.


"Dari mana kau tahu semua ini?" lirih Mayang pada akhirnya mengakui sebuah kebenaran.


Brian membelalak seketika. "Jadi benar-benar kau gadis yang sedang Alex buru selama ini?!" Brian menggeleng tak percaya. Namun pada saat Mayang mengangguk pelan mengiyakannya, secepat kilat ia merengkuh tubuh sang istri penuh iba.


"Kenapa tak pernah kau ceritakan masalah mu kepada ku, Sayang. Kenapa?!" Brian menunduk menatap wajah sang istri yang terbenam di dadanya dengan linangan air mata. "Sampai kapan kau akan terus merahasiakannya dari ku?!"


"Maaf kan aku, Sayang. Aku bermaksud tidak ingin menyusahkan mu karena permasalahan yang ku bawa sebelum pernikahan kita. Aku tak ingin kau berada dalam kesulitan karena ku." tutur Mayang sedikit tersendat karena isakan tangisnya.


"Aku suami mu, Sayang. Aku akan bertanggung jawab penuh atas dirimu, entah seberat apapun masalah mu. Berjanjilah padaku untuk tidak merahasiakan lagi masalahmu dari aku." Ujar Brian pelan namun terdengar penuh tuntutan seraya mengusap lembut wajah Mayang dengan jemarinya dan menyapu air mata yang membasahi pipi sang istri.

__ADS_1


"Aku janji akan mengatakan semuanya kepadamu, Sayang. Aku berjanji." Ucap Mayang penuh keyakinan.


Bersambung


__ADS_2