
"Hey! Memangnya apa yang telah kulakukan hingga kau mengatakan aku ini kejam?!" sentak Billy dengan nada memprotes saat Milly mengatakan dirinya kejam. Kejam dari mana coba?! Orang aku ini lelaki baik hati!
"Tuh kan, nggak kejam gimana orang Bapak marah-marah! Bapak bentak-bentak saya." Milly memberengut, sementara bibirnya yang terkatup itu berkedut, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menumpahkan air dari pelupuk matanya. Namun sentakan Billy rupanya membuat hatinya terluka hingga usahanya untuk bertahan pun sia-sia.
"Astaga ,,, kau benar-benar menangis ...!" lagi-lagi Billy menggeram frustasi. Tangannya yang semula memegangi pintu penumpang pun tanpa sadar bergerak membantingnya dengan kencang. Tentu saja hal itu bukannya membuat Milly diam, tapi justru membuat gadis itu semakin bergetar ketakutan.
Tangis Milly yang semakin pecah pun membuat Billy panik serba salah. Terlebih keduanya kini menjadi bahan tontonan orang-orang yang lalu lalang di parkiran.
"Astaga ,,," Billy mendesah kasar, lalu bergerak maju. Dengan posisi setengah membungkuk, tangannya bergerak menangkup kedua sisi bahu Milly dengan rahang menggemertak geram. "Bisakah kau diam dan menghentikan tangismu itu?!" desaknya dengan penuh penekanan sambil setengah meremas bahu istrinya.
Dengan sesenggukan Milly menggelengkan kepalanya. "Nggak b-bisa ...! Kalau lagi takut aku nggak bisa berhenti nangis ...." ujarnya dengan suara tercekat di tenggorokan.
"Ya Tuhan ...!" Billy melepaskan tangannya dari bahu Milly. "Apa yang harus aku lakukan supaya kau diam ...!" ucapnya sambil menggeram dengan gigi menggemertak jengkel. Sementara Milly yang masih sesenggukan hanya menggelengkan kepala karena tak bisa berkata-kata.
Billy memejamkan matanya erat-erat sesaat lalu mendesah berat. Berusaha mengembalikan lagi kesabarannya yang hampir menghilang. Sekian lama ia memfokuskan diri untuk bekerja, rupanya membuatnya lupa bagaimana cara untuk membujuk wanita.
Memutar tubuhnya, Billy berbalik badan dan membelakangi Milly. Menggunakan kedua tangan bertumpu pada body mobilnya. Diam sejenak ia berusaha menenangkan pikirannya. Persolan wanita benar-benar rumit, menguras banyak pikiran serta tenaga.
Apa sebegitu mengerikannya aku sampai-sampai dia ketakutan seperti itu? Tapi aku hanya bersikap tegas dan berusaha membelanya. Apa caraku salah? Tapi salahnya di mana? Memang pembawaanku begini, mau bagaimana lagi?! Oke, aku akan berusaha lebih sabar menghadapinya.
Berbalik badan dan mendekatkan tubuh lebih condong ke arah istrinya, Billy menghela nafas dalam dan berusaha melembutkan ekspresi wajahnya. Pria jangkung itu lantas setengah membungkuk untuk mensejajarkan posturnya dengan Milly. "Oke, aku minta maaf karena telah berucap kasar terhadapmu."
Milly yang semula menunduk dan masih terisak, mendadak berhenti dan mendongak dengan bola mata yang melebar sempurna. Lagi-lagi ia dibuat terpesona dengan sikap lembut dadakan suaminya.
"Apa kau mau memaafkanku?" tanya Billy lembut namun penuh kesungguhan.
Menyunggingkan senyum, Milly lantas mengangguk mantap.
"Bagus." Ucap Billy dengan senyum manis, sambil tangannya bergerak mengusap pipi Milly yang basah dengan jemari tangannya. "Kalau begitu ayo kita pulang." putusnya pelan. Lantas Billy pun menggerakkan tangannya hendak membuka pintu bagian penumpang namun terhenti saat Milly menahannya. "Apa lagi sih?!" Tanyanya kemudian dengan nada kesal.
"Minta maaf dulu."
"Kan sudah ...!"
__ADS_1
"Belum!"
"Astaga ...." Billy menggeleng seolah tak percaya. "Bukannya aku baru minta maaf kepadamu?! Jangan pura-pura amnesia lagi ya!" Billy menggeram dengan nada peringatan.
"Bukan sama aku, tapi sama security itu." Jawab Milly sambil melirik ke arah tempat penjaga Keamanan itu berada.
"Aku sudah meminta maaf tadi, kurang apa lagi sih?!" jawab Billy dengan tanpa sadar menaikkan volume suaranya.
"Bohong!"
"Ya Tuhan ...! Kau ini bertanya atau apa?! Sudah dijawab masih saja tidak percaya!"
"Kalau memang sudah mana buktinya coba!" Milly menadahkan tangannya seperti menuntut.
Billy berdecak heran. "Hanya permintaan maaf saja kau butuh bukti?! Astaga ...! Apa kau pikir orang minta maaf itu harus diabadikan seperti selfie, atau disiarkan secara langsung atau semacamnya begitu?" Billy menggeleng tak habis pikir. "Maaf. Tapi aku tidak ada waktu untuk itu."
Milly kembali memberengut dengan mata yang berkaca-kaca. Entah mengapa hari ini suasana hatinya begitu buruk dan perasaannya menjadi sensitif.
Gadis itu menggeleng. "Tidak mau. Aku ingin pulang sendiri saja." tolaknya dengan nada pelan.
"Dengan keadaanmu yang seperti ini!" Billy menggeram kesal. "Cepat masuk atau ku lemparkan tubuh mungilku itu ke dalam sana." desisnya dengan nada ancaman, sementara pandangannya menyorot tajam.
"Jahat!" Milly mengumpat penuh kemarahan. Mengusap sisa air matanya dengan kasar, ia lantas masuk ke dalam mobil itu dengan perasaan terpaksa.
"Coba seperti ini dari tadi! Gampang kan. Entah kenapa kau suka sekali memancing emosi orang." Tutur Billy sambil menutup pintunya.
"Apa!" Tukas Milly sambil menatap Billy yang tengah berjalan mengitari mobil. Hingga lelaki itu duduk di sampingnya, ia masih saja mengawasi dengan wajah penuh kemarahan.
Billy yang sedang akan mengenakan sabuk pengaman itu seketika menghentikan kegiatannya saat menyadari jika Milly tengah memperhatikannya. Menatap si wanita dengan kening berkerut karena penasaran, ia pun bertanya, "Apa yang kau lihat?!"
"Ish." Milly mencebik menanggapi pertanyaan suaminya. Menatap suaminya jengah, gadis mungil itu lantas menyandarkan punggungnya dan mengarahkan pandangannya ke arah luar sambil bertopang dagu.
"Mau jalan nggak sih ini?" Billy yang sudah dalam keadaan siap tampak mengawasi Milly dengan wajah merengut.
__ADS_1
"Kalau mau jalan ya jalan aja! Ngapain pakai nanya!" ucap Milly bersungut-sungut tanpa rasa bersalah. Di tatapnya iris hitam milik Billy dengan pandangan menantang.
Siapa sangka, lelaki dengan rahang tegas itu justru membalas tatapan Milly sambil menyunggingkan seringai yang sulit Milly tebak isi hatinya, bahkan tubuhnya pun turut mendekat secara perlahan dan condong seolah sengaja ingin mendesak istrinya. Bukan Billy jika tak bisa meluluhkan gadis keras hati seperti Milly.
Bahkan dalam keadaan marahpun ia masih sempat-sempatnya terpesona dengan keindahan yang terpampang nyata di depannya. Dan lagi-lagi tubuhnya pun gemetar saat panasnya embusan napas Billy menyapu lembut permukaan kulit wajahnya. Jantungnya pun berdentum cepat.
Milly menutup matanya rapat-rapat saat Billy semakin dekat, seolah masih belum siap jika nanti Billy mendadak menciumnya. Ah entah pikiran gila apa yang kini merasuki otaknya.
Hingga beberapa detik ia terpejam, Billy sama sekali tak melakukan apapun terhadapnya. Namun saat terasa sebuah pergerakan di sisi kiri tubuhnya, Milly seketika membuka matanya lebar-lebar menatap lengan kokoh Billy yang sedang berusaha meraih sesuatu dari sana, lantas mata bulatnya mengerjap kecil saat menatap wajah Billy yang tengah meringis dari jarak sangat dekat.
"Kenakan dulu sabuk pengamanmu baru kita jalan." ujarnya sembari susah payah berusah meraih sabuk pengaman di sisi Milly dengan kondisi tubuhnya yang terbelenggu oleh sabuk pengamannya.
Aaaa ... bodohnya aku yang berpikir dia akan menciumiku. Sial, kenapa aku terlalu berharap kepadanya!
Plak! Milly memukul lengan Billy keras.
"Kenapa memukulku!" Billy refleks menarik tangannya.
"Aku bisa memakainya sendiri." ucap Milly yang kini wajahnya tampak memerah.
Menarik tubuhnya mundur perlahan, lengkung merah Billy tampak melebar hingga membentuk sebuah seringai yang hanya dirinya sendiri yang tahu.
"Sudah?" Tanya Billy sambil memperhatikan Milly, berusaha memastikan sebelum dirinya memulai perjalanan.
"Emangnya nggak kelihatan sudah beres begini?!" Milly menjawab kesal.
"Tinggal bilang sudah apa susahnya sih?! Kenapa wanita itu suka sekali membelitkan persoalan." gumam Billy sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Apa?!" Milly mengarahkan pandangan penuh peringatan.
"Tidak ada apa-apa." Pungkas Billy kesal. Sambil melajukan mobilnya, Billy mendesah kasar. Berurusan dengan gadis di hadapannya ini benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling. Namun ia juga tak dapat pungkiri jika kehadirannya memberikan warna tersendiri akhir-akhir ini.
Bersambung
__ADS_1