
Mayang yang sudah terjaga dari tidurnya merasakan ada yang berbeda pagi ini. Tangannya yang semula tertutup selimut itu tampak menjulur, meraba-raba tempat kosong di sisinya seolah sedang mencari-cari sesuatu di sana.
Wanita bersurai panjang itu segera membuka mata saat tak menemukan sosok suami di sampingnya. Mayang menghela napas panjang sebelum akhirnya beranjak duduk dan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Menatap pakaiannya yang masih utuh, ia menatap tempat kosong di sisinya dengan perasaan hampa.
Brian telah lebih dulu bangun dan beranjak dari sana, dan bangun tanpa membangunkannya. padahal biasanya ia selalu terjaga dalam kehangatan pelukan suaminya, lalu bersama-sama menjalani aktivitas di kamar mandi dengan suka cita.
Entah apapun maksud suaminya, yang pasti Mayang masih merasakan cinta dan perhatian suaminya, terlihat dari sikap perlindungannya yang masih menyempatkan untuk menyelimuti tubuhnya untuk melindunginya dari hawa dingin di pagi hari.
Segera beranjak dari tempatnya, Mayang lantas melangkah pelan menuju ruang ganti, yang ia yakini sang suami saat ini sedang berada di sana. Dan benar saja, Mayang yang sudah membuka pintu pun menemukan sosok Brian yang tengah mengenakan kemeja putihnya.
Wanita berlesung pipi itu tersenyum lembut sebelum kemudian berhambur dan memeluk tubuh suaminya dari belakang. Tangannya melingkar erat di pinggang Brian, sementara pipinya menempel hangat pada punggung suaminya.
Menatap bayangan diri dari pantulan kaca dan mengamati rangkulan istrinya, Brian mendesah pelan saat menghentikan kegiatannya. "Sayang ,,,." hardiknya dengan nada jengkel, sebab lengan Mayang yang memeluk ternyata menghalanginya memasang kancing baju kemeja.
Siapa sangka, jika gadis di balik punggungnya itu justru tengah tersenyum-senyum senang, setidaknya sang suami tidak larut dalam kemarahan.
"Ayolah Sayang, aku ada meeting pagi hari ini. Biarkan aku mengenakan pakaianku ya," ucap Brian dengan nada memohon, sambil menoleh ke belakang dan menatap puncak kepala istrinya.
"Biar aku yang pakaikan, ya." dengan nada manja Mayang mengucapkannya. Gadis yang masih mengenakan lingerie itu lantas menggerakkan tangannya dan memasang kancing kemeja suaminya dari belakang dan tanpa beralih posisi dari tempatnya semula. Setelah selesai, ia bahkan berjinjit dan menggelayut pada bahu Brian dengan sedikit tarikan hanya untuk mencuri kecupan suaminya.
Brian yang posisinya miring akibat tarikan sang istri pun hanya tersenyum samar usai mendapat kecupan pagi sang istri. Lantas hanya pasrah ketika wanita yang tengah mengandung calon putranya itu memeluk tubuhnya dari depan. Tak membalas ataupun menolak.
"Sayang sudah, ya. Aku harus cepat-cepat pergi ke kantor pagi ini." ucap lelaki yang rambutnya masih setengah basah itu dengan nada lembut sambil menunduk, berusaha menatap wajah istrinya yang tersembunyi pada dada kekarnya. Melihat Mayang yang tak bergeming, tangan Brian lantas bergerak menangkup bahu sang istri dan meremasnya lembut setengah mendorong untuk mengurai pelukannya.
Tangan Brian yang sedang memegang bahunya itu rupanya terlihat oleh Mayang, hingga membuat Mayang membelalak panik usai melihat bekas lukanya. "Sayang, tanganmu masih berdarah!" pekiknya dengan nada terkejut sambil mendongak menatap wajah suaminya. Lantas kembali menunduk memperhatikan luka di tangan Brian.
"Tak apa. Biarkan saja." Brian menjawab datar sebelum kemudian melepaskan diri dan meraih jas dan dasi yang sudah ia siapkan hingga akhirnya mengenakannya.
"Aku bantu perban, ya?" Pinta Mayang dengan nada lembut, sementara matanya berbinar penuh permohonan sambil memegangi lengan kokoh sang suami. Melihat reaksi Brian yang tak menolak atau mengiyakan itu membuatnya mengurai senyum usai menyimpulkan sendiri jawab si lelaki. "Mau kan? Duduk yuk." Ajaknya sambil menarik lengan yang ia rangkul itu ke arah sofa yang berada di sudut ruangan, lantas memaksa lelaki yang hanya diam patuh itu duduk di sana.
Mayang yang kemudian meninggalkan Brian sendiri, kini tampak kembali dengan membawa kotak obat di tangannya. Dengan tersenyum tanpa rasa berdosa, ia membenamkan diri duduk di samping suaminya, dan melakukan pengobatan untuk luka sebagai mana mestinya.
Sambil sesekali meringis seolah merasa nyeri ketika membersihkan luka dan mengoleskan salep, Mayang pun memperhatikan raut wajah Brian. Ia hanya mengernyit bingung melihat suaminya yang hanya diam tanpa ekspresi itu.
__ADS_1
"Apa ini tidak sakit?" Tanyanya setengah menguji sambil memberikan sedikit tekanan pada luka dengan menggunakan kapas.
Brian hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Kalau begini?" Tanya Mayang dengan menambah sedikit tekanan tangannya saat membersihkan luka.
Dan lagi, Brian hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya.
Merasa geregetan, Mayang lantas meremas tangan suaminya. "Kalau seperti ini?" Tanyanya sambil menggemertakkan giginya.
Tingkah jail Mayang yang disengaja itu sontak saja membuat Brian mengarahkan tatapan tajamnya pada sang istri, namun bahasa tubuhnya masih terlihat tenang seolah benar-benar tak merasakan kesakitan. "Apa kau memang sengaja ingin menyakitiku?" tanyanya kemudian dengan nada kental dengan sindiran.
Ekspresi Mayang yang sebelumnya tampak kesal pun kini tampak menyunggingkan senyum masam. "Ah tidak, bukan begitu maksudku." kelitnya kemudian penuh sesal.
Mendesah pelan, Brian lantas mengalihkan pandangannya menatap ke arah lain seolah enggan memandang istrinya sendiri. Namun sikapnya tetap pasrah menerima perlakuan lembut Mayang saat merawat luka di tangannya.
"Aku tahu kau masih marah padaku." ucap Mayang lirih sambil membalutkan kasa putih itu untuk membebat luka di tangan suaminya. "Tapi aku juga ingin kau tahu, kulakukan semua ini hanya untuk kebahagiaan keluarga kita seutuhnya."
Mayang diam sejenak, menatap wajah suaminya yang masih tak bergeming. Lantas meraih tangan kiri si suami usai membereskan balutan pada tangan yang lain. "Di saat-saat seperti ini, hanya dukungan dan penyemangatmu yang kubutuhkan." sambungnya lagi. "Bukan sikap acuh dan kemarahanmu yang semakin menyurutkan semangat juangku. Aku membutuhkanmu untuk mengustkanku, bukan justru malah menarikku dan membuatku tenggelam dalam kegamangan." Nada bicara Mayang terdengar pedih kala mengucapkannya.
"Tapi jika kau ingin selamanya menjadikanku tawanan di rumahmu sendiri, aku tak masalah. Jika kau ingin membatasi ruang gerak putra putri kita untuk bersosialisasi dengan dunia luar, aku juga tak masalah. Biarlah mereka tumbuh dan besar dan melewati masa tumbuh kembangnya hanya di dalam rumah, dan terbelakang karena tak pernah tahu apa itu yang namanya dunia luar. Aku akan segera menghubungi mereka dan membatalkan semua rencana." Mayang berucap dengan suara bergetar. Lantas segera bangkit dari posisi duduknya berniat untuk mengembalikan kotak obat itu ke tempat asalnya.
Namun tangan Brian yang berbalut perban itu bergerak cepat mencekal pergelangan tangannya, hingga langkah kakinya pun terpaksa terhenti saat Brian berusaha menahannya.
"Kau mau kemana?" tanya Brian setengah menghardik.
"Tentu saja untuk menghubungi para polisi itu." jawab Mayang dengan nada sedih, tanpa menoleh menatap sang suami.
"Untuk apa?"
"Tentu saja untuk membatalkan semua rencana. Aku tak mungkin melakukan apapun jika tanpa restu suamiku." jawab Mayang dengan keras kepala.
"Kemari," pinta Brian dengan sedikit tarikan pada genggamannya.
__ADS_1
"Tidak mau." Mayang masih mempertahankan sikap keras kepalanya.
Brian menggemertakkan jengkel gigi dan menatap tubuh bagian belakang sang istri penuh ancaman. "Kemari Sayang." ulangnya dengan penuh penekanan. Sementara tangannya dengan kuat menyeret sang istri hingga terjerembab ke dalam pangkuannya. "Aku ingin lihat seberapa besar sifat keras kepalamu itu Mayang Sari Dewi." Tutur Brian dengan suara parau, sementara sorot matanya sayu dan berkabut. Tangannya mencekal kuat tubuh Mayang yang mencoba berontak dan ingin melepaskan diri.
"Lepaskan aku! Bukankah kau ingin aku patuh terhadapmu? Aku akan lakukan semua yang kau mau, aku akan menghubungi mereka sebelum mereka tiba dan memulai langkah pertama. Aku a--" kata-kata Mayang terputus saat Brian tiba-tiba memotongnya dengan nada tinggi.
"Dengarkan aku dulu!" bentak Brian yang membuat Mayang terdiam seketika dan mengatupkan bibirnya dengan rapat. "Memang siapa yang ingin menawanmu selamanya di rumah ini? Siapa yang ingin membatasi pergaulan anak-anak kita?"
"Kau ...! Kau yang melarang aku untuk mengakhiri semua. Kau yang ingin aku lari dari tanggung jawab, bukan? Baik, aku akan lakukan." Mayang memasang wajah sendunya. Tertunduk dengan sikap pasrah dan menunjukkan kalau dirinya kini telah menyerah. Bahkan netra beningnya tampak bagaikan kaca yang retak.
Menatap reaksi berlebihan sang istri membuat Brian menghela napas dalam. Ada goresan sesal di hati karena sikap egoisnya belakangan ini.
Menggunakan jemari berbalut perban itu, ia membelai wajah mulus Mayang. Menyibak helaian anakan rambut yang menutupi wajah ayu sang istri lalu menyelipkannya ke belakang telinga.
Dengan nada penuh sesal Brian pun berucap, "Maksudku bukan seperti itu, Sayang. Kau salah faham. Aku memiliki cara pandang sendiri untuk membuat keluarga kita bahagia. Aku tak bermaksud mengurung kalian di dalam rumah untuk selamanya, bukan itu ...!"
Mayang seolah tak mau mendengarkan ucapan suaminya. Ia justru memalingkan wajahnya dan memilih menatap ke arah lain.
"Sayang ,,, lihat aku." Brian menangkup wajah Mayang dan memaksa sang istri untuk menatapnya. Keduanya saling menatap dalam jarak yang begitu dekat. Semakin lekat hingga menyentuh relung hati yang hati yang terdalam. "Aku menyesal telah menyakiti hatimu, Sayang. Maafkan aku." bisik Brian dengan tiba-tiba hingga membuat Mayang pun terperangah tak percaya.
"A-apa?" Suara Mayang terbata saat bertanya. Seolah masih belum yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Aku, suamimu, mengizinkanmu menjalankan misi rahasia ini." ucap Brian dengan suara lantang dan penuh keyakinan, lantas tersenyum lembut pada sang istri yang masih ternganga tak percaya.
"Benarkah?" Lagi-lagi Mayang berusaha memastikan.
"Hemmm," Brian mengangguk mantap.
"Aaaa aku senang sekali ...." dengan suka cita Mayang mengalungkan tangan di leher suaminya lantas memeluk lelaki itu dengan hati bahagia. Mengurai pelukannya setelah beberapa saat, Mayang pun menyentuh pipi Brian. Lalu dengan segala keberaniannya, ia membuka mulut mungilnya sebelum kemudian mencium bibir suaminya itu.
Brian tampak terperangah karena tak menyangka jika Mayang akan menciumnya dengan tiba-tiba. Karena begitu senangnya, Brian pun membuka mulutnya seolah memberi kebebasan kepada sang istri untuk memimpin pertautan ini.
Lama keduanya saling menyesapi dengan lidah yang berpadu dalam kenikmatan. Dengan deru napas yang menyatu dalam hasrat yang kian berkobar seiring dengan semakin dalamnya pertautan bibir keduanya.
__ADS_1
Mata mereka sama-sama terpejam sementara tubuh mereka rapat saling berpelukan. Ketika Mayang melepaskan pertautan mereka, mata Brian yang yang tampak berkabut oleh hasrat seolah menuntut lebih dari pada ini. Tangan berbalut perban itu dengan segera menanggalkan jas dan dasinya lalu melemparnya ke sembarang arah. Menahan tubuh sang istri seolah tak ingin melepasnya lagi, ia pun berucap. "Aku ingin melakukannya di sofa ini, Sayang ...." Bisik Brian dengan nada menggoda penuh tuntutan.
Bersambung