
"Apa yang membuatmu malu Sayang?" Brian bertanya heran sembari menunduk menatap lekat wajak sang istri yang tengah menggigit bibir bawahnya.
"Aku gemetaran Sayang, aku tidak terbiasa dengan hal ini. Aku takut pingsan saat diatas panggung nanti."
Brian tersenyum sembari mengeratkan pertautan tangan mereka. "Kau bilang akan ikut kemanapun aku membawamu kan?" tanya Brian dengan nada menuntut. Alisnya pun terangkat seiring dengan seringainya yang muncul seolah sedang menagih janji.
Mayang hanya mendesah pelan lantas tersenyum masam. Menolak bukan lah hal yang tepat saat ini. Terlebih saat menatap wajah suami yang tampak begitu antusias, Mayang bisa memastikan bahwa sang suami telah menanti momen ini sejak lama.
"Ayo." Ajak Mayang dengan senyuman bahagia dan penuh keyakinan. "Aku sudah siap."
"Bagus." Brian tersenyum senang. Lantas mengeratkan pertautan tangan nya dengan sang istri dan melangkah menuju panggung dengan bangga dan penuh percaya diri.
Keduanya terlihat bahagia dan serasi dengan seragam sekolah yang mereka kenakan. Hingga mengundang decak kagum ribuan pasang mata yang melihat.
"Selamat siang Tuan dan Nyonya Brian," pembawa acara menyalami Brian dan Mayang secara bergantian. "Saya mewakili sekolahan ini mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas segala yang Tuan dan Nyonya berikan. Donasi yang anda berikan telah membantu banyak sekali untuk kepentingan sekolah ini. Serta bea siswa yang anda berikan sangat membantu murid - murid yang berprestasi disini dan membuat mereka semakin bersemangat untuk meraih prestasi. Mohon sambutan yang meriah untuk Tuan dan Nyonya Brian ,,,!" seru an itu di tujukan pada semua yang berada disana. Dan seketika tepuk tangan riuh pun bergema.
"Silahkan Tuan dan Nyonya untuk memberikan sambutan sepatah dua patah kata." ucap pembawa acara itu mempersilahkan dengan sopan.
"Baik, terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya." ujar Brian membuka pidatonya. "Selamat siang semuanya?!" sapa Brian setengah berseru pada semua orang yang berada di sana. "Panggil saja saya dengan sebutan Kakak ya, karena kita seumuran." ucap Brian dengan nada bergurau yang langsung mendapatkan tepuk tangan riuh dan gelak tawa lucu dari semua orang dengan seragam putih abu-abu tersebut.
"Di kesempatan yang berbahagia ini saya hanya akan bercerita sedikit mengenai masa lalu saya." Brian berbicara dengan tenang dengan senyuman yang selalu mampak dari bibirnya. "Curhat lebih tepatnya." Brian berkata sembari menoleh pada sang istri yang juga tengah menatapnya.
"Wah ada apa dengan masa lalu seorang Kakak Brian ya?" pembawa acara menyahut dengan nada memprovokasi. "Apa ada hubungannya dengan seragam yang anda kenakan saat ini?"
"Iya." Jawab Brian dengan penuh keyakinan tanpa menoleh pada si pembawa acara.
"Wow ...! Apa pertemuan pertama kalian terjadi disini?"
"Iya. Dia lah cinta pertama saya." Brian mengangkat tangan Mayang dan menghadiahi kecupan lembut di punggung tangan gadis yang tampak merona malu itu.
Sontak saja tepuk tangan serta sirak riuh bergema dalam gedung itu. Semua pasang mata tampak menatap dengan terkesima pada dua orang yang tengah di mabuk cinta.
Bagi mereka sosok Brian memanglah sudah tak asing lagi. Meski telah lulus, ia selalu menggelontorkan dana yang tak sedikit untuk pembangunan sekolah ini serta bea siswa untuk murid - murid yang berprestasi dalam hal pendidikan maupun olah raga.
Brian atas nama perusahaan memberikan jaminan kesejahteraan pada siswa-siswa berprestasi serta kesempatan untuk mengembangkan bakat yang mereka punya dengan memberikan fasilitas serta pengajar dan pelatih yang terbaik.
__ADS_1
Lelaki tampan dengan perawakan yang sempurna itu selalu berhasil menghipnotis setiap mata yang memandangnya. Meski pernah terpuruk, tapi kini Brian bangkit dengan jiwa yang baru dan semangat baru. Ia bahkan menjalani hidup lebih baik dari sebelumnya.
"Kami bertemu sepuluh tahun lalu di sini, dalam sebuah event olah raga persahabatan yang diadakan di sekolah ini. Dan karena hal ini lah saya mendirikan event tahunan ini dan bertahan sampai sekarang. Dan semuanya karena dia." Brian meraih tubuh istrinya lantas merangkulnya dengan mesra. Di kecupnya dengan lembut pipi kanan gadis yang tampak dikuasai rasa terkejut itu hingga wajah Mayang merona malu.
Mayang di buat tak bisa berkata-kata oleh suaminya. Antara terkejut, terharu, bahagia dan merasa tak percaya. Brian benar-benar telah membuatnya bagai melayang di atas awan.
* * *
Seorang lelaki paruh baya yang tampak terbaring lemah di ranjang perawatan sebuah rumah sakit terlihat sedang terpaku menatap layar kaca yang menempel di dinding ber cat putih.
Wajah yang nampak pucat itu tersenyum tulus saat televisi itu menayangkan sebuah acara, di mana disitu nampak Brian yang tengah dengan bangga memperkenalkan istrinya pada khalayak ramai melalui media dan dihadapan ribuan siswa-siswi SMA dalam sebuah event yang dinaunginya.
Hans yang sedang terbaring lemah pasca peristiwa terjatuhnya dari balkon itu kini tampak benar-benar rela dan ikhlas menantunya itu hudup bahagia. Namun senyum lelaki itu kini terlihat getir mana kala dirinya mengingat bahwa kata maaf belum lah ia dapat.
Wajar. Hans menyadari dirinya begitu jahat hingga membuat menantunya itu kecewa dan murka. Hans bahkan tak merasa terluka meski Brian melihat permintaan maafnya hanya sebelah mata.
Sementara jauh di seberang sana.
Alex yang tengah dalam puncak lemarahan tampak mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.
Flas back on
"Maaf Alex, kami tidak bisa menerima donasi yang kau berikan. Sekali lagi kami mohon maaf." ucap seseorang yang menjabat sebagai kepala sekolah sembari menggeser sebuah amplop berwarna coklat berisi cek dengan nilai milyaran rupiah.
Alex terhenyak dan mencondongkan tubuhnya maju yang awalnya bersandar pada sandaran sofa. "Maksud Bu Rani?" Alex bertanya tak mengerti.
"Maaf Alex, tanpa mengurangi rasa hormat kami, kami tidak membutuhkan dana lagi untuk event ini, karena dana yang Brian berikan selama ini sudah lebih dari cukup." kepala sekolah wanita paruh baya itu berucap dengan tenang.
"Tapi kenapa mendadak begini Bu? Padahal sebelumnya tidak ada masalah kan?" Alex berusaha bersikap tenang meski raut wajahnya menunjukkan kekecewaan.
"Sekali lagi saya mohon maaf atas nama pribadi Alex, sebab kesalahan ada pada saya. Brian telah menaungi event ini sejak lama secara pribadi. Jadi dia tidak menerima campur tangan orang lain dalam hal ini. Saya harap kau mengerti Alex, ini sufah menjadi keputusan." ucap wanita berkacamata itu meminta pengertian.
Alex berdecih. "Sombong sekali dia." umpatnya dengan nada kesal.
"Alex, bukankah uang ini akan lebih berarti jika kau salurkan pada suatu badan amal yang lebih membutuhkan, dari pada kau gunakan untuk sesuatu dengan tujuan persaingan." meski berucap dengan tenang, namun kata-kata yang Rani ucapkan ternyata menohok Alex hingga lelaki itu tak dapat menyembunyikan kemarahannya.
__ADS_1
Brakk!
Suara meja yang digebrak Alex membuat Rani terperanjat. Wanita paruh baya itu nampak ketakutan manakala Alex menatapnya dengan sorot mata tajam penuh ancaman.
"Saya pastikan anda akan menyesal karena telah meremehkan dan mempermalukan saya." desisnya dengan tatapan penuh kebencian. Diraihnya amplop berisi cek itu sebelum ia beranjak lalu pergi meninggalkan ruang kepala sekolah itu dengan semburat sinar acaman yang menakutkan.
Rani menghela nafas dalam usai teejebak dalam suasana tegang yang mencekam. Sifat mantan muridnya dulu itu tak berubah hingga sekarang. Sikap arogan yang menjadi tabiatnya sejak dulu ternyata tak berubah hingga kini.
Flash back off
Alex membanting stir nya dengan cepat begitu mobil sudah sampai di depan rumahnya. Turun dengan tergesa Alex mengabaikan para penjaga yang membungkuk sopan menyambut kedatangannya.
Sembari melangkah Alex membuka kancing jas yang ia kenakan lantas melepas dan melemparnya ke sembarang arah begitu Alex sampai di salah ruangan favorit di rumahnya.
Sebuah mini bar yang lengkap dengan berbagai jenis minuman keras dengan kemasan botol yang bermacam-macam tampak tersusun berjejer dengan rapi.
Minuman mahal kesukaannya itu selalu menjadi pelariannya saat ia merasa kesal. Minuman inilah yang selalu menemaninya menghadapi pahit getirnya kehidupan saat ia merasa kesepian. Meski banyak wanita yang selalu bersama fan menemani hari-harinya, namun entah mengapa Alex merasa hifupnya hampa dalam kesendirian.
Alex mengambil sebotol diantara dan membuka tutupnya dengan tergesa. Tangan nya pun bergerak meraih gelas kristal yang tampak tersusun tapi lalu menuangkan minuman yang warnanya hampir mirip dengan teh itu kedalamnya. Tampak buih-buih kecil memenuhi permukaan minuman itu setelah berada didalam gelas.
Diteguknya minuman dalam gelas itu hingga habis tanpa sisa dan menaruh gelas itu dengan kasar pada meja hingga menimbulkan suara nyaring di dalam ruangan yang hening itu.
Alex menuangkan lagi itu pada gelas kosongnya dan lagi - lagi meneguknya hingga tandas dan menaruh kembali gelas itu pada meja dengan kasar.
Alex mendudukkan dirinya pada kursi bar yang sedikit tinggi itu dan menaruh kedua sikunya bertumpu pada meja. Sementara jemarinya mengusap wajahnya dengan kasar lantas berpindah memijat kepalanya dengan kencang. Seolah sedang merasakan sakit yang teramat di bagian sana.
"Kenapa hidup ini begitu kejam! Kenapa dunia ini tidak adil! Kenapa aku yang selalu kalah sedangkan Brian selalu menang! Kenapa!!" Teriakkan Alex yang memekik menggema memenuhi ruangan kedap suara itu disusul suara pecahan gelas yang dengan keras menghantam tembok saat Alex melemparkannya tanpa ampun.
Deru nafas Alex terdengar memburu saat kembali mengingat luka-luka yang selama ini ia rasakan. Kegagalan yang terjadi berulang-ulang dalam upayanya mencoba balas dendam.
"Kenapa bisa dengan begitu mudah Brian memiliki dua yang sama, sedangkan aku hanya bisa tenggelam dalam kekalahan!" Alex menggeram dengan tangannya yang terkepal. Matanya yang merah menyalang tajam saat menyebut nama seseorang yang selama ini ia benci.
"Jika aku tak mendapatkan Lena, maka aku harus mendapatkan Mayang bagaimana pun caranya." desisnya dengan nada ancaman yang tak terbantahkan.
Bersambung
__ADS_1