
Hari sudah lewat tengah malam saat Billy memutuskan untuk pulang. Pekerjaan kantor yang menumpuk menuntut untuk segera diselesaikan. Ditambah lagi dengan urusan mavia musuh Brian. Membuat ia terlupa jika di rumah ada yang sedang menantinya.
Usai memarkirkan mobilnya, Billy nampak berjalan seperti biasa menuju apartemennya. Namun begitu ia membuka pintu, pria berhidung bangir itu langsung terkejut saat mendapati lampu rumah yang menyala terang benderang, padahal biasanya ia selalu meninggalkan apartemen dalam keadaan lampu padam.
Ekspresi Billy pun seketika menegang dan langsung bersikap waspada. Terlebih saat lelaki itu melangkahkan kakinya perlahan memasuki ruang tamu, samar-samar ia mendengar suara televisi yang menyala. Namun ia tak melihat ada seorangpun yang nampak di sana.
Sial, siapa penyusup yang berani memasuki apartemenku?! batin Billy geram. Tangannya segera bergerak mengeluarkan pistol yang tersembunyi di balik jasnya, lantas melangkah mendekat dengan sikap waspada, namun sorot matanya begitu tajam penuh ancaman. Dengan senjata di tangannya itu, ia seolah siap menghujamkan timah panas yang ada di dalamnya.
Semakin mendekati ruang home teather yang hanya terhalang oleh sekat dinding, suara televisi semakin jelas terdengar di rongga telinga. Dan benar saja, di ruangan minim pencahayaan itu memang televisi sedang menyala. Bahkan dari posisi Billy yang berada di belakang sofa, ia bisa melihat sepasang kaki terlihat tak bergerak dengan posisi menggantung pada lengan sofa.
Seringai memangsa pun langsung tersungging dari lengkung tipis Billy. Sorot mata penuh ancaman pun tak terelakkan, seolah tak ingin melepaskan penyusup yang berani memasuki ranah pribadinya.
Sepasang kaki sudah pasti memiliki kepala, bukan? Baik, sekarang kita lihat kepala siapa pemilik kaki ini. batinnya penuh ancaman.
Dengan posisi kaki yang seolah tidak menunjukkan tanda-tanda pergerakan membuat Billy tampak begitu santai untuk menyergapnya. Seolah memang sengaja tak ingin mengejutkan, Billy melangkah lantas menodongkan senjatanya tanpa bersuara.
Namun perubahan mimik wajah pun terjadi saat rupanya sosok Milly yang tengah berbaring di sana. Billy membelalakkan mata saking terkejutnya, lantas menurunkan benda di tangannya itu seketika sebelum kemudian kembali menyimpannya dengan baik.
Menghela nafas dalam, tubuh Billy terlihat lemas, namun juga merasa lega karena rupanya sang istrilah orang yang ia pikir adalah penyusup. Entah bagaimana bisa ia terlupa jika gadis ini sekarang telah sepakat untuk tinggal dalam satu atap bersamanya. Beruntung ia tidak bertindak gegabah dan bisa mengendalikan diri, jika tidak, bisa jadi istrinya itu akan mengalami cidera karena ulahnya.
Billy menggeleng keheranan sambil melipat kedua tangannya di depan dada ketika mengamati wajah polos si gadis. Ia begitu lelap tertidur di sofa dengan posisi yang aneh menurutnya. Sebab bukanlah kepalanya yang berantalan, namun justru lipatan kakinya yang yang bertumpu pada lengan sofa. Gadis dengan balutan piyama motif bunga-bunga ini seperti memang ketiduran dan bukannya sengaja tidur, sebab di tangannya masih memegangi remote kontrol.
Sambil melepas jas dan menyisakan kemeja putih yang lapis rompi vest di tubuh kekarnya, Billy melangkah mengitari sofa lantas duduk mengambil posisi kosong di atas kepala istrinya. Gadis bersurai panjang itu bahkan tak terbangun meski terjadi pergerakan pelan saat Billy membenamkan pantatnya di sana.
Bibir Billy menipis saat melihat ke arah televisi yang tengah menyajikan acara musik dangdut, bahkan dengan volume yang terbilang kencang. "Bisa-bisanya dia tertidur dengan suasana seberisik ini. Apakah yang dia putar tadi lagu dangdut nina bobo yang terdengar mendayu-dayu? Makanya dia tertidur begitu." gumam Billy keheranan.
Berniat untuk mengecilkan volume televisinya, Billy pun menggerakkan tangannya berusaha mengambil alih remote dari genggaman Milly, dan dengan begitu berhati-hati ia melakukannya. Beruntung, gadis itu tak bergeming sama sekali seolah tak merasa terusik oleh gerakan tangan Billy, dan pada akhirnya membuat sekretaris Brian itu menghela napas lega dan tanpa pikir panjang segera menekan tombol pada benda di tangannya.
Tak ada acara yang menarik membuat Billy hanya mengganti-ganti channel televisi saja tanpa benar-benar menontonnya. Karena merasa bosan, ia pun memutuskan untuk mematikan televisi.
__ADS_1
Suara lenguhan pelan Milly yang disertai pergerakan pelan memaksa Billy seketika menoleh kepada istrinya. Entah mengapa, melihat wajah polos sang istri membuat ekspresi Billy seketika melembut. Bahkan seulas senyum tipis tampak tersungging di lengkung merahnya.
Wajah Milly tampak begitu cantik meski hanya dengan cahaya temaram yang ditimbulkan dari lampu meja yang terletak di sisi sofa. Dengan gerakan seringan kapas, Billy menggerakkan jemari kirinya untuk menyibak anakan rambut yang menutupi wajah Milly, agar tak menghalangi kecantikan yang terpancar dari wajah sang istri.
Namun tanpa ia duga, Milly bergeming seolah gerakannya batuan begitu mengusiknya. Namun bukannya terbangun, gadis mungil itu justru menaikkan tubuhnya dan menjadikan paha Billy sebagai bantalan kepalanya. Sontak saja hal itu membuat Billy membelalak kaget serta tubuhnya menegang tak berani bergerak. Sementara Milly masih menggerak-gerakkan kepalanya seolah tengah mencari kenyamanan di sana.
Sial! Kenapa menjadikan pahaku sebagai bantalan kepalanya?! Apa dia memang sengaja menjebakku agar aku tidak pergi dari sini?! umpat Billy dalam hati.
Billy masih mengawasi wajah di pangkuannya itu dengan kebingungan. Entah dia harus berbuat apa untuk menyikapi gadis tak sadar diri ini. Menggendong dan memindahkannya ke dalam kamar sepertinya tidak mungkin karena Milly bukanlah bayi yang masih harus ditimang- timang. Namun membangunkannya dengan paksa Billy pun merasa tak tega jika akan membuat gadis itu terkejut saja. Akhirnya ia memilih yang paling aman, yaitu pasrah. Sambil berdoa agar gadis itu segera siuman dan menyadari kelakuannya.
Tubuh yang lelah serta pikiran yang penat benar-benar menuntut Billy untuk beristirahat. Mata yang ia tahan-tahan untuk tetap terjaga akhirnya meredup juga, hingga akhirnya ia pun terlelap dengan posisi kepala bersandar pada punggung sofa.
***
Brian yang baru keluar dari dapur tampak membawa segelas susu coklat dengan sepiring potongan buah-buahan yang berada di atas nampan di tangannya. Pria tampan dengan sejuta pesonanya itu tampak begitu segar dengan balutan piyama dan rambut setengah basahnya.
Duduk di tepi ranjang di sisi sang istri dengan kaki kiri di tekuk di atas ranjang Brian tersenyum saat menyodorkan segelas susu itu kepada sang istri.
Dengan senyuman penuh haru, Mayang menerimanya dengan suka cita. "Terima kasih, cintaku." ucapnya penuh cinta sebelum mengenalmu meneguknya hingga tandas tanpa sisa. Lantas lagi-lagi tersenyum saat sang suami menyambut gelas kosongnya dan meletakkan di atas nakas.
"Apa, Sayang?" Mayang mengerutkan keningnya karena bingung saat Brian menggerakkan jari telunjuknya seolah sedang mengisyaratkan agar wajahnya mendekat. Sementara Brian, bukannya menjawab rasa penasaran istrinya, ia malah diam tanpa penjelasan namun memainkan alisnya naik turun dengan seringai nakal di bibirnya.
Seolah mengerti maksud sang suami, Mayang pun patuh mencondongkan wajahnya mendekat ke wajah Brian dengan senyuman yang seolah menantang. Seperti bisa menebak jalan pikiran lelaki di hadapannya, Mayang bergerak sigap mendahului Brian yang akan menciumnya. Dengan keberanian yang dimilikinya, Mayang yang tidak ahli dalam hal mencium itu bergerak begitu rakusnya menikmati bibir sang suami yang ternganga karena terkejut. Bahkan Brian sendiri yang sudah terlanjur menikmati seolah menyerahkan dirinya dengan suka rela untuk istrinya nikmati. Hingga kehabisan napas, Barulah Mayang melepaskan pertautan mereka dengan wajah yang merona merah menahan malu.
"Kenapa berhenti? Ayo lagi. Aku suka dirimu yang seperti ini. Kau pandai memberiku kejutan sekarang." tutur Brian dengan nada menggoda.
"Sudah, Sayang, jangan menggodaku begitu." balas Mayang tersipu malu. "Aku hanya ingin memberikan tanda terima kasihku untuk segelas susu tadi." tangannya bergerak meraih tangan si suami lantas mengusap punggungnya dengan lembut. "Terima kasih ya, Sayang. Tapi lain kali kau tidak perlu melakukannya lagi ,,,."
"Memangnya kenapa?" Tanya Brian dengan alis yang bertaut.
__ADS_1
"Tidak kenapa-kenapa. Aku bisa melakukannya sendiri, kok. Kesannya seperti aku sedang memanfaatkan kehamilan ini untuk mendapatkan perhatianmu. Aku merasa malu saja kalau setiap malam kau yang membuatkan susu untukku." Mayang memaparkan dengan nada sungkan.
" Siapa yang mengatakannya?" Brian bertanya seolah mendesak. Namun Mayang hanya menggeleng sebagai jawaban. "Siapa, Sayang?" Desak Brian lagi.
"Tidak ada, Sayang. Itu kataku sendiri."
"Mana ada seperti itu. Aku tidak merasa dimanfaatkan, karena aku suka melakukannya." Brian menjawab ringan namun penuh kesungguhan. "Aku akan tetap melakukannya selagi aku bisa. Tak ada yang bisa melarangku, bahkan meskipun kau yang melarangnya." desisnya sambil menunjuk Mayang dengan jari telunjuknya.
"Hemm??" Gantian Mayang menautkan alis. wanita beriris coklat itu menyipitkan mata menatap sang suami penuh selidik. "Aku mencium ada aroma balas dendam di sini, ya." ucapnya kemudian sambil mengendus-endus tubuh Brian, bertingkah seperti kucing yang sedang menghirup aroma yang menguar dari tubuh lelaki kekar itu.
"Hey apa yang kau lakukan? Kau mirip anak kucing yang sedang mencari induknya saja." tangan Brian yang sudah mendapatkan kepala sang istri lantas menangkup dan menatapnya gemas, lantas menghujani istrinya itu ciuman di seluruh wajah.
"Aaa Sayang, sudah lepaskan ...! Kau membuatku geli ...!" rengek Mayang dengan nada memohon. Tangannya pun bergerak menyentuh tangan suaminya yang masih menempel di kedua sisi kepalanya. Brian menghentikan kegiatannya, lantas menempelkan dagu keduanya hingga saling menyatu.
"Aku memang sengaja membuatmu geli, Sayang." Brian mendesis dengan bibir yang saling bersentuhan. Nada suaranya terdengar parau dengan pandangan yang sudah berkabut.
"Sayang ,,," lirih Mayang sambil mengurai tangkupan tangan suaminya, hingga tercipta jarak di antara mereka.
"Hemm?" Balas Brian dengan alis bertaut kebingungan.
"Emmm," Mayang menunduk penuh keraguan. Lantas mengangkat pandangannya menatap Brian penuh rasa bersalah.
"Kenapa, Sayang." dihinggapi rasa penasaran, Brian mendesak sang istri tak sabaran.
"Seharian tadi aku berlatih dengan keras. Dan sekarang aku,--" Mayang menggigit bibir bawahnya. Menatap suami yang masih menunggunya melanjutkan perkataannya. "Aku agak lelah, dan--" kata-kata Mayang terputus saat Brian menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.
"Aku akan memijatimu dengan penuh cinta, Sayang."
Bersambung.
__ADS_1