Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Geli


__ADS_3

"Sial." Umpat Mayang, lantas mengakhiri komunikasi jarak jauh mereka. Bangkit dan berdiri, Mayang merapikan penampilannya sebelum kemudian melangkah menuju pintu dan membukanya.


Setelah pintu terbuka Mayang mendapati Tiga dara itu tengah berdiri di depannya dengan tatapan penuh selidik kepadanya.


"Dengan siapa kau bicara?" Bianca dengan wajah garangnya bertanya pada Mayang dengan tatapan penuh curiga. Sementara Kim dan Joy memilih tak banyak suara. Namun dengan sikap waspada menerobos masuk begitu saja. Bahkan senggolan bahu mereka saat masuk membuat Mayang yang berdiri di tengah pintu itu bergerak menepi. Pandangan dua wanita itu bergerilya menyisir ke seluruh ruangan. Memeriksa jika ada sesuatu yang mencurigakan.


Menoleh menatap Kim dan Joy yang tengah menggeledah ruangan walk in closet itu, Mayang memutar lehernya kembali menatap Bianca dan cepat-cepat menggelengkan kepala. "Aku tidak bicara dengan siapa-siapa. Tidak ada siapapun di sini, percayalah ...," ucapnya berusaha meyakinkan. Sebisa mungkin ia bersikap tenang, agar misi rahasia ini tidak sampai ketahuan.


"Jangan coba-coba membohongi kami." geram Bianca dengan nada penuh kemarahan. Seolah ingin menunjukkan jika ucapannya itu tak main-main, diraihnya pula rambut Mayang yang tergerai bebas lantas menghadiahinya jambakan yang menyakitkan di sana, sementara matanya mendelik, menatap istri Brian itu penuh ancaman.


"Aku tidak membohongi kalian. Yang kukatakan ini benar, tidak ada siapapun di sini." Mayang kembali menegaskan meski dengan suara yang sedikit tercekat. Kepalanya mendongak akibat tarikan itu, sementara wajah yang cantik itu tampak meringis menahan sakit.


"Tidak ada siapapun di sini, Bi. Kita sudah periksa, tapi nggak ada siapa-siapa di sini," Joy yang tak menemukan apa-apa tampak mendekat dan berucap penuh keyakinan. Bersama Kim yang juga turut serta memeriksa keseluruhan ruangan itu.


"Apa kalian sudah memeriksa ke tempat-tempat terkecil sekalipun? Di dalam laci, misalnya."


Kim dan Joy saling memandang, lantas menatap Bianca dengan wajah heran.


"Lo stres ya, Bi. Kita ini lagi nyari manusia. Mana ada manusia biasa yang ngumpet di dalam laci. Kira-kira dong kalau halusinasi." Kim pada akhirnya mengutarakan isi hatinya.


"Heh *****," Bianca melepaskan cengkeramannya pada rambut Mayang, lantas menonyol kening licin Kim. "Bisa saja kan, dia menyembunyikan sesuatu di dalam laci. Ponsel atau alat komunikasi lainnya mungkin."


Kim dan Joy saling memandang, lantas mengangguk-anggukkan kepala bersamaan.

__ADS_1


"Benar juga," Joy menggumam pelan.


"Periksa saja. Periksa semuanya!" Mayang berseru lantas tersenyum meremehkan sambil bersedekap dada. "Bukankah kalian tahu mereka membawaku kemari tanpa membawa apa-apa. Lalu bagaimana bisa aku menyembunyikan sesuatu di sana!"


"Bukankah benar yang dia katakan, Bi." Kim menyahut, seolah meyakini perkataan Mayang.


"Jangan semudah itu percaya padanya, Kim!" tegas Bianca mengingatkan sambil menatap Mayang penuh peringatan. Lantas mengembalikan pandangannya pada Kim dan Joy selagi dirinya memberikan penjelasan. "Kau lupa kau dia itu tawanan? Bisa saja dia melakukan berbagai cara demi bisa melarikan diri dari sini."


Lagi-lagi Kim dan Joy saling memandang kemudian menganggukkan kepala mereka bersama, seolah membenarkan alasan yang Bianca sampaikan.


"Baik. Sekarang mulai periksa semua tempat yang ada di sini, dan jangan sampai ada yang terlewat. Bahkan meskipun aku harus masuk ke lubang semut, sekalipun. Semangat!" sambil mengangkat tangan yang terkepal itu setinggi dada, Kim berucap penuh semangat.


Mendengar ungkapan penuh tekad Kim itu, Joy dan Bianca hanya bisa berdecak sambil menggelengkan kepala.


"Kenapa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" gusar, Kim menatap Bianca dan Joy bergantian dengan mimik wajah kebingungan.


Sementara Joy tampak menggeleng tak habis pikir. Gadis tomboi itu memutar bola mata malas sebelum kemudian mengikuti Bianca yang mulai memeriksa setiap jengkal dari kamar itu.


"Hei, mau sampai kapan kau akan berdiri di situ?" Bianca yang mulai jengkel berteriak pada Kim yang masih saja melongo di tempatnya. "Mau aku kutuk jadi batu!"


Membeliak kaget, Kim yang mendadak bergidik ngeri segera berhambur mengikuti jejak teman-temannya. Entah mengapa, baginya ancaman Bianca itu selalu terdengar mengerikan. Lebih horor dari dari hantu macam apapun di dunia.


Sementara Mayang, ia memilih duduk di sofa dengan sikap santai dan elegan. Diambilnya buah apel yang tersedia di meja. Diusapnya dengan tisu terlebih dulu lantas menggigitnya dan mengunyah dengan penuh penghayatan. Tak lupa juga ia mengamati tingkah bodoh tiga wanita menyebalkan itu sebagai hiburan.

__ADS_1


***


"Maaf, Pak. Saya nggak bisa." Milly berucap mantap. Ia memutar tumit dan berbalik badan setelah menolak. Baru dua langkah kakinya bergeser meninggalkan pria berbalut jas rapi itu mendadak terhenti, karena sesuatu terasa berat menahannya.


Milly tertegun mendapati sepasang tangan memaksa meneulusup masuk melalui celah pinggang, dan tanpa izin melingkar dan memeluknya dengan erat dari belakang. Tubuhnya mendadak terpaku dan seperti beku saat bagian depan tubuh kekar itu merapat pada bagian belakang tubuhnya.


Bahkan sejuknya embusan napas si pria terasa hangat menyapu ceruk lehernya. Hanya dua netranya yang masih dapat bereaksi dengan mengerjap-ngerjap beberapa kali.


Bingung, ia masih belum dapat mencerna maunya lelaki di belakang ini apa? Setelah tanpa perasaan mengusir dan membuang dirinya begitu kejam dari kediamannya, kini ia datang dan tanpa malu memohon maaf dan mengemis agar cinta kembali tumbuh dari hatinya yang telah patah dan terluka.


Benar-benar tak punya malu. Milly membatin kesal.


"Ku mohon, kembalilah kepadaku, istriku." kata-kata penuh rayuan dan bernada sensual terlontar lirih dari lengkung merah dan tipis itu. Bahkan pelukan itu terasa semakin erat dan hangat, namun anehnya Milly seakan menikmati dan enggan menolak.


Kembali? Huh jangan mimpi.


Meski hatinya direjam kekecewaan, namun tak dapat dipungkiri jantungnya kini berdentum tak karuan. Inilah yang selama ini dia nanti. Pernyataan cinta dan sebuah permohonan agar dirinya menjadi milik yang sejati. Namun kenapa semuanya terjadi di momen yang tidak tepat seperti ini??


Benar-benar sial! Kenapa aku mendadak lemah seperti ini hanya karena sebuah gombalan busuk yang datangnya bukan dari hati. Aku tahu dia tidak serius mengucapkan ini. Lalu untuk apa aku peduli dan berpaling mengingkari hatiku sendiri. Bukankah sejak keluar dari rumahnya aku sudah bertekad untuk membenci dan melupakan semua perasaan di hati? Milly merutuki dirinya sendiri.


Menghela napas dalam, Milly berusaha menetralkan perasaan. Sebisa mungkin ia berusaha agar tak terbawa perasaan. Entah setampan apa pria ini, sebanyak apapun pesonanya, kali ini ia tak akan lagi tergoda. Cukup satu kali saja, dan tak akan pernah lagi mengulangnya.


Milly menggerakkan tangannya, berusaha melepaskan tangan yang melingkari pinggangnya. Namun pelukan itu begitu erat, hingga ia merasa kesulitan. Dan ini, astaga--

__ADS_1


Milly justru menggeliat saat bibir Billy menyentuh pipinya. "Geli," gumamnya lirih.


Bersambung


__ADS_2