
Mayang mengerjapkan mata saat ia mulai terbangun. Kepalanya masih sedikit pusing dan tubuhnya masih terasa lemas. Ia menarik tubuhnya untuk bersandar di kepala ranjang.
Entah berapa lama ia tertidur, hingga otot - otot di tubuhnya terasa kaku. Namun ia masih bisa mengingat saat Billy membangunkannya untuk meminumkan obat penurun panas dan anti nyeri karena ia demam.
Mayang menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan saat ia kembali teringat pada suaminya. Entah karena rindu yang terlalu dalam atau karena rasa benci nya hingga lelaki itu sampai terbawa ke dalam mimpinya. Bahkan mimpinya kali ini terasa seperti nyata.
Tangannya bergerak menyentuh bibir dimana ia merasa Brian seperti benar - benar menciumnya. Ia lantas menggigit bibir nya sendiri begitu menyadari kenyataan yang terjadi.
Pintu kamar yang terbuka memaksa Mayang untuk menoleh ke arahnya. Billy muncul dengan nampan di tangannya. Di atas nampan terdapat sebuah mangkuk dan segelas susu putih.
"Sudah bangun?" Billy yang sedang melangkah mendekat pun bertanya sembari tersenyum.
Mayang hanya tersenyum kaku sembari membetulkan posisi duduknya. Wajahnya bersemu malu, mana ada orang numpang yang malah dilayani tuan rumahnya. Merepotkan saja.
"Apa itu?" Tanya Mayang penasaran pada mangkuk yang sengaja Billy bawakan untuknya.
"Bubur sayur buatan ku sendiri."
"Hah serius?!" Mayang terbelalak tak percaya.
Billy hanya tersenyum sembari duduk di tepi ranjang dengan menghadap pada Mayang. Kemudian menyodorkan mangkuk bubur itu pada Mayang. "Makanlah agar kau mendapatkan lagi tenaga mu."
Mayang menggerakkan tangannya untuk menerima mangkuk itu dengan kedua tangannya. Lantas menaruhnya bertumpu pada kedua paha yang masih tertutup selimut, bukannya langsung menyantapnya.
Ia tertunduk dengan tatapan kosong.
"Ada apa?" Tanya Billy yang sejak tadi mengamati ekspresi yang Mayang tunjukkan dengan penasaran. "Kau tidak suka bubur?"
Mayang segera mendongakkan kepalanya menatap Billy dengan rasa bersalah. "Bukan begitu." Bantah Mayang cepat. Aku hanya merasa tidak enak hati padamu. Maaf sudah merepotkan mu."
"Aku tidak mau lagi mendengar kata itu terucap dari bibir mu. Kau adalah istri teman sekaligus bos ku. Jadi sudah sepatutnya aku melakukan ini padamu."
"Aku tidak mau mengingatnya lagi! Aku benci dia." Entah mengapa Mayang merasa malas mendengar suaminya di singgung - singgung kali ini. Ia bahkan cemberut dan memalingkan wajahnya sebagai aksi protesnya.
"Kau tidak tau betapa besar pengorbanan yang suamimu lakukan untuk kebahagiaan kalian nanti. Saran ku jangan pernah membencinya." Billy berucap tenang namun terlihat keseriusan di matanya.
Billy lantas beranjak dan berdiri. "Makan dan habiskan bubur itu agar sakit mu tidak bertambah parah." Ia berpesan terlebih dahulu sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan Mayang yang tampak tertegun bingung.
* * *
Mayang merasa tubuhnya lebih bugar setelah beberapa lama berendam air hangat di bath tub. Ia keluar dari kamar saat pemampilan nya sudah rapi. Pandangannya mengedar mencari - cari keberadaan Billy.
Mayang tersenyum saat dia menemukan sosok Billy membungkuk dengan kepala condong kedalam kulkas besar dua pintu yang terletak di dapur itu.
Mayang menyimpulkan senyumnya sembari berjalan mengendap - endap di belakang Billy dan berniat mengejutkan lelaki itu.
"Hai." Sapa Mayang sembari menekanz telunjuknya pada lengan Billy. Walau tidak terkejut namun Billy yang secara spontan mendongakkan kepalanya pun membentur bagian atas kulkas sehingga menimbulkan suara dan rasa nyeri di kepalanya.
Billy tampak meringis sembari mengusap bagian kepalanya yang terasa nyeri. Mayang yang panik pun segera berjinjit sembari mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Billy yang terbentur dengan berkali - kali berucap maaf dengan ekspresi wajah penuh kekhawatir dan merasa bersalah.
"Tidak apa, aku hanya terkejut saja." Ucap Billy meyakinkan bahwa dirinya baik - baik saja.
Keduanya lantas tertawa canggung dan salah tingkah. Mayang kemudian mengarahkan pandangsn nya kearah belakang Billy. Kulkas besar yang hampir kosong tanpa isi.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Mayang dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Kulkas nya kosong." Ucap Billy sembari mengarahkan ibu jarinya ke belakang. "Aku akan keluar sebentar untuk berbelanja."
Mayang seketika membelalakkan mata begitu antusias. "Apa kau mau berbelanja ke pasar?"
"Hah?!" Billy ternganga heran namun di detik lain ia tergelak kencang merasa lucu dengan pertanyaan Mayang. "Yang benar saja lah, masa iya aku kepasar!" Teriaknya di sela - sela tawa.
"Kenapa tertawa begitu?! Memang apa yang lucu? Siapa tahu kan!" Mayang mendengus kesal dengan wajah yang di tekuk malu karena Billy menertawakan nya.
"Di market - market kan banyak menyediakan sayuran, ngapain mesti jauh - jauh ke pasar, Nyonya Brian ..." Billy lantas menghentikan tawanya saat melihat Mayang yang tampak kesal karena ulahnya.
"Mau ikut?" Tawar Brian sembari menyelidik ekspresi wajah gadis itu. Dan benar saja, Mayang segera mengangguk cepat lalu kemudian menyembunyikan wajahnya yang tersenyum malu.
"Oke cuss!" Billy mempersilahkan Mayang untuk berjalan lebih dulu.
* * *
Keduanya sudah berada didalam sebuah supermarket terdekat. Billy mendorong troli belanja sedangkan Mayang berjalan di sisinya.
"Apa yang ingin kau beli?" Tanya Mayang sembari mengedarkan pandangan ke berbagai macam sayuran yang tampak masih segar itu.
"Memang apa yang ingin kau makan?" Billy malah balik bertanya.
__ADS_1
"Aku ini pemakan segala, jadi jangan minta pendapat ku kalau tidak ingin aku mengambil semuanya."
"Asal jangan makan hati." Celetuk Billy kemudian sembari melirik sekilas kearah Mayang.
"Hey, aku sudah puas makan hati selama ini karena ulah Tuan muda mu!" Mayang melirik kesal pada Billy karena telah memancingnya.
"Itu karena kau tidak tahu saja betapa baiknya dia." Billy berbicara acuh dan penuh percaya diri.
"Hey baik dari mana nya? Dia saja lebih percaya pada wanita lain di banding istrinya sendiri!"
Billy hanya mencebikkan bibirnya sembari berjalan mendorong troli dengan santainya.
"Memang salah jika aku mengatakan ini padamu. Kau kan sekretarisnya. Kau pasti akan membelanya mati - matian dari segi apapun juga bukan!" Ucap Mayang sembari berdecak kesal. Di tatapnya punggung Billy yang berjalan semakin jauh darinya.
* * *
Mayang menyimpan belanjaan mereka sepulangnya dari belanja. Memasukkan beberapa macam sayuran yang di belinya ke dalam kulkas dan menyimpan bahan - bahan kering lainnya ke dalam pantry.
"Kau ingin makan apa? Biar aku yang yang memasaknya." Ucap Billy sembari mengenakan celemek di tubuhnya.
"Tidak usah repot, aku bisa memasak sendiri makanan yang ingin ku makan nanti." Jawab Mayang sembari tetap melanjutkan kegiatannya tanpa menoleh kepada Billy.
Tanpa mempedulikan ucapan Mayang, Billy tetap melakukan apa yang ingin dia lakukan. Ia meraih pisau dari tempatnya dan mulai mengupas bawang. Setelah mencucinya, Billy lantas mengiris bawang itu di atas talenan yang berukuran lebar.
Suara yang di timbulkan dari hentakan pisau di atas talenan memaksa Mayang menoleh ke arahnya. Dan seketika ia tergelak saat melihat Billy dengan celemek di tubuhnya yang menurutnya lucu itu.
"Apa yang kau tertawa kan?!" Billy bertanya heran pada Mayang Yang langsung terpingkal begitu gadis itu menoleh padanya.
Di taruhnya pisau yang ada di tangannya di atas talenan lalu memutar tubuhnya menghadap Mayang sembari berdecak heran. "Apa nya yang lucu?!" Mengangkat dagunya namun dengan ekspresi wajah datar.
"Diri mu lah, memang apa lagi."
Billy menunduk memperhatikan dirinya sendiri. "Huh, biasa saja." Ucapnya acuh lalu kembali fokus pada pisau yang telah berpindah ke tangannya. "Apa kau tidak pernah melihat lelaki memakai celemek?"
"Pernah." Mayang menjawab cepat. Ia beranjak melangkah mendekati Billy. "Koki di rumah suami dan mertuaku kebanyakan laki - laki. Tapi melihat celemek itu menempel di tubuh mu yang berotot itu rasanya lucu." Mayang mengatupkan bibirnya rapat agar tawanya tak kembali meledak.
"Jadi suami mu belum pernah menunjukkan kebolehannya memasak?" Billy bertanya sembari tangan sibuk mengupas kulit udang.
Mayang membelalakkan mata mendengar ucapan Billy yang baru saja ia dengar. Mulutnya terganga seperti tak percaya. "Apa dia bisa memasak juga?"
"Apa kalian dulunya sekolah memasak?"
"Tentu saja tidak."
"Tapi dari mana kalian bisa memasak?"
"Dari perut yang lapar." Jawab Billy santai sembari menyalakan kompor yang di atasnya sudah ia siapkan wadah berisi air untuk merebus pasta. "Saat kuliah di luar negeri kami sengaja tidak menyewa asisten rumah tangga. Jadi semua pekerjaan rumah kami kerjakan bersama - sama."
Billy menggerakkan lehernya untuk menoleh Mayang yang kini tiba - tiba diam. Wajahnya yang tadi terlihat ceria kini berubah pias. Billy mendesah pelan menyesali kata yang telah di ucapannya. Tak sengaja ia membicarakan bos nya yang sepertinya hal itu membuat Mayang kembali teringat akan kesedihannya.
"Mayang," panggil Billy pelan sembari menundukkan kepalanya menyelidik gadis itu.
"Iya?" Mayang mendongak pelan.
"Kau duduk dan tunggu aku di sana ya," Billy melirik kursi di pantry. "Sepertinya kau kelelahan? Apa kepalamu masih pusing?"
"Tidak. Kau tidak butuh bantuan ku?"
"Tidak, duduk dan tunggu aku di sana."
Perlahan Mayang menyeret kakinya melangkah menuju kursi itu. Billy mengawasinya hingga gadis itu duduk disana dan menggunakan tangannya untuk menyangga dagunya. Entah apa yang sedang ia pikirkan hingga wajahnya terlihat sangat sedih.
Mayang terkejut saat suara piring yang beradu dengan meja marmer itu terdengar nyaring di telinganya. Billy seperti nya memang sengaja menaruhnya dengan sedikit tekanan agar Mayang tersadar dari lamunannya.
"Makan." Billy tersenyum sembari menunjuk spaghetti yang terhidang di hadapan Mayang dengan pandangannya.
Mayang menundukkan kepalanya menatap makanan yang tampilannya sangat menarik dengan di bubuhi beberapa udang besar di atasnya.
"Wah sepertinya enak." Mayang mengerlingkan matanya dengan sudut bibir yang tertarik sehingga semakin menperlihat kan lesung pipinya. Ia menggerakkan untuk tangannya menarik piring itu semakin mendekat padanya. "Punya sambal tidak?" Tanyanya kemudian sembari mendongak menatap Billy yang duduk di kursi seberangnya.
"Cicip dulu baru tanya sambal."
Mayang pun menyuapkan pasta itu kedalam mulutnya lalu mengecap rasanya. Beberapa detik kemudian sudut bibirnya kembali tertarik dan muncul seulas senyum di sana.
"Sudah pedas ternyata." Ucapnya malu - malu. "Tapi kenapa tidak ada biji cabainya?"
"Aku pakai cabai bubuk."
__ADS_1
"Oh begitu."
Lalu keadaan hening karena keduanya memilih fokus pada makanan di piring masing - masing hingga tandas.
"Terimakasih Billy, masakan mu enak... sekali." Puji Mayang setelah meneguk minumannya. Dan hanya di balas oleh senyuman dari lelaki itu.
Mayang lantas bangkit dari duduknya. Melangkah dengan membawa serta piring kotor itu menuju wastafel pencucian piring.
"Hey kau mau kemana?!"
"Cuci piring bagian ku. Aku tidak mau jadi orang yang tak tahu diri saat menumpang di rumah orang." Ucap Mayang sembari mengusapkan spons di piring kotor itu.
Billy melangkah mendekat berniat untuk mencuci tangannya. Ia mengambil sabun lalu mengusapkan nya keseluruhan telapak tangannya.
"BTW apartemen mu nyaman ya," Mayang melirik pada Billy yang sedang berdiri di sampingnya. "Boleh tidak aku tinggal disini untuk selamanya?"
"Maksudnya?" Billy mengerutkan keningnya.
"Apa kau mau menikahi ku?"
Tanpa sadar Billy membelalakkan matanya. Entah ekspresi apa yang ia tunjukkan saat ini. Yang jelas pikirannya melompat pada kejadian yang mereka lalui semalam.
Apa dia merasakan semuanya? Jadi Mayang benar - benar sadar saat dia mencium ku?
Mayang benar - benar menangkap wajah Billy yang tampak panik terkejut. Wajahnya yang putih tampak bersemu merah dan matanya nampak terbelalak menatapnya kaku.
Mayang tergelak sembari memukul lengan Billy untuk menyadarkan lelaki itu. "Aku hanya bercanda Billy! Jangan menatapku seperti itu!" Ucap Mayang di sela tawanya yang membuat Billy tampak bernafas lega. " Kau pikir aku wanita macam apa hah! Mana mungkin aku akan berpaling hati semudah itu."
Billy memilih diam sembari mencuci tangannya yang di penuh busa itu. Ia berusaha menutupi jantungnya yang tiba - tiba berdebar dengan ekspresi wajahnya yang datar.
"Billy, apa kau punya kekasih?" Mayang kembali bertanya sembari menatap Billy dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Tidak."
"Bohong!"
"Tidak percaya ya sudah." Ucap Billy santai sambil berlalu pergi.
Mayang yang sudah selesai dengan aktivitas nya segera melangkah mengikuti lelaki itu.
"Tidak mungkin lelaki sesempurna dirimu tak memiliki kekasih?" Tanya Mayang dengan nada tak percaya. Ia lantas duduk di sofa di samping Billy yang tampak asik mengganti chanel TV.
"Apa menurut mu memiliki lelaki sempurna saja sudah cukup? Kalau tak pernah ada waktu untuk berkencan bagaimana?"
"Apa pacar mu pergi karena kesibukan mu?"
Billy seolah tak menghiraukan pertanyaan yang Mayang ajukan. Pandangannya malah tertuju pada Layar kaca yang sedang menyajikan film kartun itu sembari tersenyum. Membuat Mayang berdecak sebal padanya.
Ish bukannya jawab malah asik nonton kartun si! Nggak tau apa orang lagi penasaran.
"Ganti chanel nya sekarang! Aku mau nonton acara infotainment." Pinta Mayang dengan wajah kesal.
"Jangan lah! Aku mau nonton ini."
"Ish ganti nggak! Pantesan aja pacarmu pada kabur! Kamu nya yang cuek si! Mana ada pria dewasa yang masih suka nonton kartun!"
"Biarin aja." Ucap Billy acuh sembari melirik sekilas pada Mayang lalu menyembunyikan remot TV ke belakang tubuhnya.
"Kasih nggak remot nya sekarang!"
" Enggak!"
Mayang mendengus kesal sembari berdiri. Matanya sudah menyorot tajam dengan tatapan mengancam memindai keberadaan remot itu.
Tanpa aba - aba tubuhnya pun bergerak membungkuk sembari menelusupkan tangannya ke belakang tubuh Billy untuk meraih remot yang tersembunyi disana. Billy yang terkejut pun tak tahu harus bereaksi bagaimana.
Tanpa sadar pandangan Mayang menangkap sesosok tubuh tinggi yang entah sejak kapan berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini. Tubuh Mayang terasa membeku seketika dengan posisi dirinya yang berada di atas Billy dengan posisi tangan yang seperti sedang merangkul.
Billy yang baru tersadar pun segera meloloskan diri dari kurungan Mayang. Gadis itu lantas terduduk di sofa dengan wajah memerah malu.
"Tuan muda, sejak kapan anda disini?" Billy tampak salah tingkah saat menyapa.
Namun Brian tak menjawab ataupun menanggapi pertanyaan Billy. Pandangannya tertuju pada Mayang yang masih terduduk pasrah dengan ekpresi wajah yang tampak siap menerima apapun yang akan suaminya lakukan padanya.
Mayang tak bisa berbuat apa - apa selain pasrah saat Brian melangkah mendekat padanya. Menjelaskan pun percuma karena Brian sudah melihat bagaimana posisi dirinya saat lelaki itu menangkap basah dirinya.
Bersambung
__ADS_1