Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Lempar mangga


__ADS_3

"Milly, kau kenapa?" Ratih Bertanya bingung saat mendapati Milly yang muncul dengan wajah pucat pasi. Sementara nafasnya pun terengah seperti baru saja berlari.


Ratih yang semula sedang mengiris buah pun segera menghampiri sang menantu dengan wajah penasaran. "Kamu kenapa?" tanyanya lagi dengan tangan kiri mengguncang-guncang bahu sang menantu, sementara pandangannya celingukan ke arah belakang Milly, seolah sedang mencari-cari sesuatu di sana. "Kamu baru dikejar-kejar hantu?" tebak Ratih asal. "Tapi rumah ini nggak angker kok, masa iya ada hantu." Terangnya kemudian dengan nada menyagsikan.


"B-bukan hantu kok, Bu. Saya c-cuma takut nyasar." jawab Milly cepat dengan suara yang tergagap.


"Nyasar?" Ratih terlihat semakin heran. "Kan bisa tanyakan sama pelayanan, Milly ,,, mereka ada di mana-mana kok."


"Ah iya, benar juga ...." Ucap Milly membenarkan sambil menunjukkan senyum kecutnya, sementara tangannya terkepal merutuki kebodohannya. Pakai salah bikin alasan lagi, jadi kentara bohongnya kalau seperti ini.


Mendesah perlahan, Ratih terlihat merasa lega. Wanita paruh baya itu lantas meraih jemari Milly dan kemudian menggenggamnya. "Minum dulu yuk, biar kamu merasa agak tenang." ajaknya sambil menarik tangan sang menantu. Menarik salah satu kursi yang berada di pantry, ia isyaratkan menantunya untuk duduk di sana. "Saking khawatirnya, Ibu sampai bawa-bawa pisau loh." tuturnya sambil menunjukkan pisau di tangannya sebelum kemudian meletakkannya dengan hati-hati di atas meja.


"He he he maaf." Ringis Milly sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Nggak papa ,,," Ratih menjawab dengan nada ringan sambil melangkah menuju kulkas yang tak jauh dari meja pantry, lantas mengambil sebotol air mineral dingin dari sana. Melangkah kembali mendekati Milly, wanita paruh baya itu begitu cekatan saat membuka botol dan menuangkan isinya kedalam gelas kaca bening. "Minumlah." Titahnya selagi menyodorkan gelas berisi air putih itu. Lalu duduk membenamkan bokongnya di kursi berhadapan dengan Milly.


"Terima kasih Bu." ucap Milly sembari menerima gelas itu dan kemudian menenggaknya hingga habis tanpa sisa.


Ratih terperangah keheranan. "Kamu haus banget ya?" tanyanya diiringi kekehan pelan yang lolos dari bibirnya. "Lagi?" Tanyanya sambil menyodorkan botol yang masih menyisakan air di tangannya.


Milly menggeleng sambil mengusap bibirnya yang basah. "Sudah kok Bu, sudah cukup." Tolaknya dengan nada halus.


"Oh ya sudah." Balas Ratih sambil mengangguk faham, lalu menutup kembali botol itu. Usai meletakkannya di atas meja, ia menatap Milly dengan wajah penasaran. "Milly ke dapur mau ngapain?"


"Mau bantu Ibu." jawab Milly cepat.

__ADS_1


Mengulas senyum bahagia di bibirnya, tangan Ratih pun bergerak mencubit gemas pipi menantunya. "Anak manis." Pujinya senang. "Boleh, deh dibantuin." Tuturnya sambil beranjak dari tempatnya. Mengambil cobek dari tempat penyimpanannya, Ratih pun menatap Milly sebelum akhirnya bertanya. "Milly bisa bikin sambal rujakan?"


"Bisa banget lah Bu, itu kan kerjaan Milly tiap hari." jawab gadis berbaju batik itu begitu bersemangat. Wajahnya pun tidak lagi menunjukkan ketegangan, sementara bahasa tubuhnya tak lagi canggung.


"Cakep." Ratih mengacaukan ibu jarinya.


Keduanya pun lantas bersama-sama menyiapkan bahan yang diperlukan untuk rujakan. Sambil mengobrol dan bercerita kesana-kemari, bahkan tertawa bersama saat obrolan mereka membahas sesuatu yang jenaka.


Berdiri di sisi sang menantu sambil menyunggingkan senyum, Ratih memperhatikan Milly yang tampak cekatan dan lihai mengulek bumbu rujak.


"Sudah lama kamu jualan rujak?" Tanya Ratih memecah keheningan setelah beberapa saat keduanya sama-sama terdiam.


"Hampir tiga bulan, Bu. Berawal dari kepepet." Jawab Milly sambil tersenyum malu-malu.


Keduanya sama-sama saling melempar senyum saat pandangan mereka bertemu.


"Kamu gadis yang kuat Sayang, Ibu bangga sama kamu." Tutur Ratih tulus dengan penuh sayang.


"Terima kasih, Bu." Milly berucap dengan nada penuh haru. Lantas mimik wajah gadis itu seketika berubah serius. "Eh tapi, apa yang Ibu banggakan dari aku? Aku lagi nggak menang lomba loh. Dapat medali juga enggak. Udah gitu aku pendek, item, dekil, suka makan, suka kentut lagi." terang Milly dengan rentetan keburukan yang sengaja ia buat-buat.


Bukannya ilfil, Ratih justru tergelak kencang mendengar perkataan menantunya. Mana ada orang yang ngomongin keburukannya sendiri di depan mertua kalau bukan si Milly somplak ini. "Ibu suka anak banyak makan tau! Jadi Ibu punya kelinci percobaan saat ibu dapat resep baru. Berdoa aja supaya Ibu nggak pernah gagal praktek ya, biar kamu nggak sakit perut." Tuturnya di sela-sela gelak tawa.


"Bu, tega amat saya di jadiin kelinci?" mengatupkan bibirnya, Milly menatap Ratih dengan wajah miris.


"Hahaha, tapi kelinci yang Ibu sayangi." terangnya kemudian sambil merangkul menantu mungilnya, dan membawa gadis itu ke dalam pelukan. Dan adegan haru biru pun mewarnai dapur itu.

__ADS_1


Setelah selesai dengan peluk-pelukan kasih sayang, keduanya pun kembali pada misi utama, membuat rujak.


"Milly nggak lihat Ayah?" Tanya Ratih yang sejak tak melihat batang hidung suaminya.


"Enggak Bu." jawab Milly menggelengkan kepalanya.


"Kemana ya? Katanya mau nemenin, eh Ibu malah di tinggal loh. Tega nian si Ayah. Ibu jadi gemes pengen peluk dia deh." gumam Ratih pelan sambil menata buah di piring.


"Ibu romantis banget." Sahut Milly setelah mendengar gumaman mertuanya. "Lagi kesel aja pengen meluk, gimana kalau lagi sayang? Biasanya orang kalau lagi kesel kan bawaannya pengen nampil. Aku aja kalau marah rasanya pengen ngebantai orang lewat tau Bu ...."


"Ih kasian orang lewat dong! Kamu yang marah kenapa dia yang jadi korban? Nggak ada akhlak kamu, sama orang lewat."


"Kesel tau Bu, masa mereka ngatain aku kayak gini," gadis bersurai panjang itu meletakkan ulekan yang ia pegang di atas cobeknya. Lantas berdehem, memperagakan mirip bahasa tubuh seseorang yang tengah ia ceritakan. "Milly cantik, Milly manis ,,,," ucapnya dengan suara yang ia buat berbeda. "Tapi kok kamu kaya monyet lagi nongki ,,, gitu Bu ...."


"Apa?! Kamu dikatain monyet?!" Ratih naik pitam. Ia bahkan menyingsingkan lengan bajunya kemudian berkacak pinggang. "Siapa yang udah bilang gitu sama kamu Nak? Bilang sama Ibu siapa yang udah ngatain mantu Ibu seperti monyet nongki, memang dia pikir dia siapa?!"


"Sumpah aku pengen lempar tuh orang pakai mangga yang aku pegang kalau nggak sayang sama itu mangga Bu." Sahut Milly dengan nada sedih.


"Kok lempar mangga?" Ratih bertanya karena merasa ada yang janggal. "Memang kamu lagi apa?"


"Lagi manjat pohon mangga."


"Yassalam ...." Ucap Ratih sambil menepuk jidatnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2