Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Permohonan Milly


__ADS_3

Sontak saja perkataan Ibra membuat ekspresi Milly menegang dengan wajah penuh kecemasan. Memang benar apa yang lelaki itu katakan. Keluarganya masih memiliki harapan jika kepemilikan rumah serta pabrik orang tuanya masih dipegang Ibra, tapi jika sudah berpindah tangan?


"Apa maksudmu?" tanya Milly cepat saat merasakan firasat buruk mulai menggerayangi. Terlebih melihat ekspresi Ibra yang tersenyum penuh misteri, hal itu kian bergidik ngeri.


Milly lantas memutar tubuhnya menghadap tepat ke arah Ibra. Matanya melebar saat menatap lelaki beralis tebal itu penuh curiga. Bahkan bibirnya pun mulai gemetar saat rasa takut yang luar biasa kini berhasil melingkupi hatinya.


Milly menelan ludahnya susah payah. "Kau ... kau tidak berniat untuk menjualnya, bukan?" tanyanya kemudian dengan suara tercekat. Bahkan ekspresi wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang teramat.


"Emm, bagaimana ya ,,," Ibra mengarahkan bola matanya ke atas sambil mengetukkan telunjuknya pada dagu seolah sedang berpikir. Beberapa detik kemudian ia memutar bola matanya, dan melirik Milly yang masih menatapnya penuh harap menanti penjelasan.


"Menurutmu, apa yang akan kulakukan jika aku mendapatkan penawaran yang lebih menggiurkan? Heumm?" tanyanya dengan nada menggoda sambil memainkan alisnya naik turun.


Kesal, Milly tak sadar telah mencengkeram lengan jas yang Ibra kenakan. "Bra! Kau tidak bisa menjual pabrik itu, itu milik Ayahku!" geramnya sambil mengguncang lengan itu seolah ingin menunjukkan sikap tak terimanya.


"Hey, hey ,,," Ibra meraih tangan Milly lantas menggenggamnya dengan lembut. "Sayang, kau lupa? Pabrik itu sudah menjadi milikku, sekarang. Jadi terserah aku ingin menjadikan pabrik itu seperti apa," tuturnya dengan nada pelan, sementara matanya menatap Milly dengan sorot penuh gairah.


Milly yang menegang sempat tak menyadari jika tangannya tengah dalam genggaman Ibra. Gadis itu membelalak terkejut saat Ibra menyatukan jemari mereka sebelum kemudian menempelkan punggung tangannya pada pipi Ibra yang tengah tersenyum itu. Sontak saja ia dengan cepat menarik paksa tangannya dengan tatapan bergidik ngeri ke arah Ibra.


Ibra tergelak kencang melihat sikap penolakan yang baru saja Milly tunjukkan. Baginya gadis itu tetap membuatnya merasa tertantang seperti dulu sebelum ia menghilang.


"Kau jahat!" umpat Milly dengan wajah memberengut kesal.

__ADS_1


"Milly Sayang ,,," panggil Ibra dengan nada lembut seraya menatap mata Milly yang berkaca-kaca itu lekat-lekat. "Di sini, orang yang jahat itu, kau. Kau yang lari dari perjodohan kita."


"Bra ,,," panggil Milly dengan nada lemah serta tatapan memohon. "Sudah kubilang, kau tidak bisa memaksaku menikah denganmu. Aku tau kau hanya terobsesi kepadaku. Kau punya banyak wanita yang lebih cantik dari diriku, pilihlah salah satu dari mereka untuk menjadi istrimu dan berhentilah menggangguku ...."


"CK ck ck," Ibra berdecak sambil menggelengkan kepalanya pelan. Sementara matanya menatap Milly dengan sorot iba yang pura-pura. Tangannya bergerak membelai pipi Milly yang tengah menunduk sedih itu sebelum kemudian mengapit dagunya dan memaksa gadis itu agar menatap dia. "Kumohon jangan menangis seperti itu, Sayang. Kau benar-benar membuatku tak tega. Tapi cara yang kau gunakan untuk menyentuh hatiku ini sungguh-sungguh berhasil. Kau bahkan berhasil membuatku penasaran dan semakin ingin memilikimu seutuhnya, apa kau mengerti," ungkapnya dengan diiringi seringai nakal yang menggoda.


Kurang aja. Milly membatin kesal dalam hatinya sambil memalingkan wajahnya dengan kasar hingga cengkeraman tangan Ibra di dagunya terlepas. Dan lagi-lagi hal itu membuat Ibra tertawa geli.


Cafe yang mereka tempati sekarang adalah ruang VIP yang memang disediakan pelanggan spesial, sehingga tidak banyak orang di sana. Hal itu tentu saja membuat Ibra merasa leluasa bersikap seperti itu pada Milly tanpa mengundang perhatian orang-orang di sekitar.


Milly sendiri datang ke kafe itu demi menghadiri undangan teman untuk merayakan pertemuan pertama mereka setelah berpisah lama, sekaligus untuk membicarakan masalah pekerjaan yang akan sang teman berikan kepadanya.


Tak ada yang menyangka jika mereka akan bertemu di sini, baik Milly ataupun Ibra sendiri. Mereka bahkan terlihat Sama-sama terkejut saat pertama kali bertemu pandang.


Namun sungguh hal ini tidak ia buat-buat atau hanya sekedar sandiwara. Milly benar-benar merasa sedih saat sekelebat bayangan kesulitan hidup keluarganya melintas tiba-tiba di kepala.


"Bra ,,," lirih Milly saat lelaki itu masih menunggunya melanjutkan kata. "Beri ayahku kelonggaran waktu. Aku juga akan berusaha keras mendapatkan uang untuk menebusnya. Kumohon, Bra ,,, beri kami sedikit waktu ,,," ucapnya memohon sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.


Melihat ekspresi Ibra yang seolah tak mau tahu dan terkesan meremehkan, Milly rela menjatuhkan harga dirinya dengan menjatuhkan tubuhnya dan bersimpuh di lantai di bawah Ibra. Gadis mungil nan cantik itu bahkan berderai air mata karena kesedihan yang sedang ia rasa.


Persetan jika Ibra akan menendangnya. Tak peduli jika lelaki itu menginjak harga dirinya. Asalkan hal itu bisa menyelamatkan jerih payah sang ayah, Milly rela.

__ADS_1


Namun di luar dugaan, Ibra justru bangkit dari duduknya lantas berjongkok tepat di hadapan Milly. Lelaki berdagu lancip itu menatap pada gadis di depannya.


"Bangun, Milly. Aku tidak ingin melihatmu menangis seperti ini." ditangkupnya dua sisi bahu Milly sebelum kemudian membantu gadis itu berdiri. "Duduklah," titahnya sambil memberikan sedikit tekanan di bahu ramping itu hingga Milly membenamkan bokongnya pada kursi.


Entah mengapa Milly yang sebelumnya begitu anti oleh sentuhan Ibra kali ini bahkan membiarkan lelaki berbadan atletis itu membantunya menyeka air mata. Bahkan merapikan rambut panjangnya yang sempat menutupi sebagian wajahnya saat ia tertunduk memohon tadi.


"Asal kau tahu, Milly, yang aku inginkan bukanlah usaha keras dari Ayahmu. Tapi aku ingin melihat seberapa besar perjuanganmu agar aku memberikan secara suka rela pabrik itu kembali kepadamu. Apa kau mengerti?" tanya Ibra lembut dengan nada tulus sambil menyelipkan rambut Milly ke belakang telinga. Sementara posisi lelaki itu menunduk, berusaha menatap wajah Milly yang tengah tertunduk.


Milly sendiri tak langsung membalas perkataan Ibra. Ia justru sibuk menelaah arti perkataan itu sebab meskipun belum mengerti, ia sendiri merasa enggan untuk menanyakannya.


"Baiklah," Ibra mendesah pelan sambil mengangkat pandangan. Ia lantas mengangguk samar seolah faham apa yang saat ini Milly rasakan. "Sepertinya kau membutuhkan waktu untuk memikirkan ini. Aku beri kau waktu dua hari Milly, jadi gunakan itu untuk memikirkannya dengan baik."


Milly sontak mendongakkan kepalanya dengan mata melebar penuh keterkejutan. Mata bening itu berbinar senang di antara riak air yang masih tersisa di sana. Mengetahui jika Ibra belum menjualnya sungguh membuatnya merasa senang bukan kepalang. Setidaknya ia masih memiliki harapan untuk bisa mendapatkan pabrik itu lagi.


"Jadi kau belum menjualnya?" tanyanya dengan senyuman sambil menyeka air mata.


Tak menjawab dengan kata, Ibra hanya tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata.


"Terima kasih, Ibra ,,, terima kasih," ucap Milly senang sambil memegang tangan Ibra tanpa sadar. Ia lantas cepat-cepat melepaskan saat melihat pandangan Ibra turun ke arah tangannya dengan seringai menggoda. "Eh maaf. Nggak sengaja." Ucapnya sambil meringis menahan malu.


"Tak apa. Justru aku malah suka," balas Ibra dengan senyuman nakal yang tidak tau malu. Dan tatapan itu lagi-lagi membuat Milly jengah.

__ADS_1


Mendekatkan bibirnya pada telinga Milly, Ibra lantas berucap, "Manfaat waktumu dengan baik, Sayang." Ibra tersenyum setelah mengatakannya. Lantas berlalu pergi begitu saja, diikuti oleh asistennya yang sejak tadi setia menunggunya.


Bersambung


__ADS_2