
Bukannya ketakutan, Alex justru menyunggingkan senyum penuh puja selagi menatap Mayang yang begitu gahar mengancamnya. Tatapannya berkilat penuh hasrat yang membara. Memindai seluruh tubuh Mayang yang hampir terlihat seluruh lekukannya yang begitu aduhai.
Di saat itulah Mayang tersadar telah membangkitkan gairah Alex meski tanpa ia sengaja. Wajahnya mendadak bersemu merah. Perasaannya bercampur aduk antara malu dan marah. Tanpa sadar fokusnya pun terbelah, hingga lengah dan melemahkan dominasinya atas tubuh Alex.
Seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Alex memanfaatkan lengahnya Mayang itu dengan baik. Dengan gerakan secepat kilat dan kelihaiannya Alex berhasil menukar posisi. Hingga tanpa sadar, Mayang yang semula mendesak Alex dengan ancamannya kini beralih peran menjadi seorang yang berada di bawah ancaman.
Tubuh Mayang kini terlentang di bawah, sementara tubuh Alex mendominasi di atasnya dengan tangan memegang pistol dan menggunakan itu untuk mengancamnya.
Pistolnya! Bagaimana bisa berpindah tangan tanpa aku sadar! Kapan Alex merebutnya dariku? Sialan! Mayang membatin heran tanpa bisa berkutik.
Bagaimana bisa berkutik jika tubuh Alex yang berada di atas itu memerangkapnya hingga tidak bisa bergerak, dengan lutut yang menopang tubuh berototnya, sementara tangan kirinya mencengkeram pergelangan tangan Mayang dalam satu genggaman. Hal itu memang tak membuatnya kesakitan. Namun ancaman Alex lah yang membuat tubuhnya seketika beku seperti membatu. Terlebih ujung pistol yang Alex pegang pada tangan kanannya itu menempel sempurna pada pelipis Mayang.
Mayang hanya bisa mengerjapkan mata sambil berpikir keras mencari cara. Jika saja Alex berbuat nekad, Ia bisa saja tiada hanya dalam satu tarikan pelatuk. Bagaimanapun juga ia belum siap jika lelaki itu ingin melenyapkannya saat ini.
"Apa kau ingin membunuhku?" Mayang pada akhirnya bisa bersuara meski tercekat di tenggorokan. "Tembak saja aku sekarang! Tembak! Kenapa kau diam saja dan hanya menggunakannya untuk mengancam?"
"Diam kau." Alex mendesis tepat di depan wajah Mayang. "Memangnya siapa yang ingin membunuhmu? Siapa yang ingin kau mati?" tanyanya kemudian dengan tatapan tajam diliputi ketidaksukaan.
Sedetik kemudian ia menyunggingkan seringai penuh kepuasannya. Menikmati ekspresi wajah Mayang yang berusaha mati-matian menutupi rasa ketakutan. Gadis itu tetap memasang wajah angkuh meski nyata-nyata bibirnya memucat dan bergetar. Bahkan keringat dingin tampak membasahi pelipisnya.
__ADS_1
"Apa kau takut mati, heum?" tanya Alex dengan nada menggoda. Senyum nakalnya pun mengembang senang, sambil memindai setiap inci wajah Mayang yang memerah padam.
"Aku lebih baik mati dari pada disentuh oleh manusia jahat sepertimu." Mayang menjawab mantap tanpa mengedipkan mata. "Bunuh aku sekarang! Maka aku akan pergi dengan tenang."
"Diam!" Alex membentak penuh kemarahan, hingga membuat Mayang tersentak penuh keterkejutan. Sejenak dua pasang manik itu saling beradu pandang dalam diam.
"Apa kau sudah gila," lanjut Alex lagi. "Memilih mati dari pada disentuh oleh diriku. Memangnya seburuk apa aku di matamu! Seharusnya kau sadar jika Brianmu itu tak lebih baik dari aku! Dialah penyebab utama diriku jadi seperti ini!" Alex bersungut-sungut penuh kemarahan dengan mata mendelik tajam.
"Jangan mengkambing hitamkan kejahatanmu pada orang lain!" Mayang menyahut cepat tanpa takut. "Suamiku orang baik! Dia beribu-ribu kali lebih baik dari dirimu. Dia--"
"Cukup!" bentakan Alex berhasil menghentikan perkataan Mayang yang belum terselesaikan. Mayang seketika mengatupkan bibir dan memalingkan wajahnya.
Alex menjeda ucapannya sambil mengamati ekspresi Mayang. Gadis yang memiringkan kepala itu memejamkan matanya dengan rahang mengetat seolah-olah ia tengah berusaha keras menahan amarahnya.
Alex menggemertakkan giginya jengkel. Aksi pembelaan Mayang terhadap Brian itu benar-benar membuatnya naik pitam. Entah mengapa, meskipun Mayang bukanlah miliknya, namun ia cemburu bila wanita itu begitu memuja Brian, meskipun ia tahu jika mereka adalah suami istri yang sah. Sebab baginya, Mayang telah menjadi miliknya sejak saat ini sampai kapanpun juga.
"Kau harus ingat baik-baik," Alex memelankan suaranya. Ia lantas mencondongkan kepalanya mendekati wajah Mayang, dan mengembuskan napasnya yang hangat di sana. "Kau adalah milikku. Saat ini sampai kapanpun, kau tetap menjadi milikku."
"Kalau begitu aku pilih mati!"
__ADS_1
Alex tersentak mendengar perkataan Mayang dan seketika langsung menarik mundur mundur kepalanya. "Bodoh!" sambarnya cepat mengutuk Mayang. Ia nampak semakin murka. Entah sadar atau tidak saat ia melepaskan senjatanya, lantas menggunakan tangan kanan itu untuk mencengkeram dagu Mayang dan memaksa gadis itu untuk menatap wajahnya. "Kau tidak boleh mati! Aku tidak akan membiarkanmu mati sebelum engkau kumiliki. Kau akan selamanya hidup untuk diriku dan bukan untuk Brianmu itu!" tegasnya seperti sedang melafalkan sumpah.
"Suamiku akan datang menolongku sebelum kau berhasil melakukan itu," Mayang berucap lambat namun penuh penekanan. "Dia akan menyelamatkanku, kau tahu? Dia akan datang untuk menyelamatku. Brian suamiku tercinta akan datang untuk menolongku." Mayang sengaja mengulang-ulang kata itu seperti merapalkan mantra.
Mayang sengaja memancing trauma mendalam di hati Alex. Sebab saat lelaki itu terbayang akan masa lalunya yang menyedihkan, Alex akan melemahkan serangan saat mentalnya merasa tertekan. Dan Mayang ingin memanfaatkan itu sebagai cara untuk melepaskan dirinya.
"Diam! Diam! Diam!" Alex berteriak dengan pandangan berapi-api. Auranya semakin menggelap memancarkan kengerian. "Aku benci kau menyebut namanya! Aku benci kau menyebutnya suamimu! Aku benci kau mengatakan mencintainya! Aku benci dia! Maka jangan lagi-lagi kau menyebutkan apapun tentang dia di sini, aku tidak suka!" geramnya sambil mengebrak-gebrakkan tangan memukul kasur penyangga tubuh mereka dengan membabi buta, seolah-olah tubuh Brian ada di sana.
"Semakin kau tidak suka, maka aku akan semakin menyerukannya," ucap Mayang dengan menyeringai penuh kemenangan. Seolah tak ingin melewatkan kesempatan, Mayang menarik tangannya yang tanpa sengaja Alex lepaskan. Lantas dengan kekuatan penuh ia hendak mendorong dada lelaki itu. Namun rupanya usahanya gagal sebab gerak-gerik serta rencananya sudah lebih dulu terbaca oleh Alex.
Alex dengan sigap menangkap tangan Mayang dan mencengkeramnya. Ia menekan dua pergelangan Mayang pada kasur di sisi kanan dan kiri kepala gadis itu. "Jangan salahkan jika aku bertindak kasar kepadamu." Alex menebarkan ancamannya usai berhasil menguasai Mayang kembali.
"Lepaskan aku sekarang," pinta Mayang sambil menggerakkan tangannya, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Alex. Namun lelaki tertawa meremehkan. Semakin Mayang meronta justru ia semakin menggelora.
"Aku akan memakanmu sekarang juga," Alex mendesiskan ancamannya sebelum kemudian tergelak kencang.
"Jangan. Kumohon jangan Alex! Aku bukan istrimu kau tidak boleh menyentuh aku. Jangan!" Mayang berteriak dilanda kepanikan. Ia berusaha memberontak namun percuma, sebab tenaga Alex begitu kuat mendominasi tubuhnya, hingga pada akhirnya Mayang menyerah dengan memiringkan kepalanya dan membiarkan Alex yang berniat membenamkan bibir pada ceruk lehernya.
Bersambung
__ADS_1