Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Kemarilah Sayang


__ADS_3

"Cepat jalan!" seru Bianca seraya menodongkan senjatanya. Lagi-lagi ia memakai alat itu untuk menekan Mayang agar mau menuruti perintahnya.


Mayang yang masih duduk di depan meja rias akhirnya bangkit dengan malas. Ia menyebik kala berlalu melewati Bianca yang tengah mengancamnya. Dengan balutan dress panjang model tertutup, ia terlihat cantik anggun dan begitu mempesona. Joy sengaja meriasnya tidak terlalu menor, namun hal itu justru membuat kecantikannya terpancar begitu natural.


"Eh tunggu!" Bianca meraih lengan Mayang dan menahan untuk menghentikan langkahnya. Ia lantas berjalan mengitari Mayang dengan pandangan tertuju penuh selidik ke arah perut yang agak buncit itu. "Lo hamil?"


Mayang sontak membelalakkan mata mendengar pertanyaan Bianca itu. Ia pun spontan menunduk, guna melihat sendiri seperti apa penampakan perutnya hingga menimbulkan kecurigaan Bianca.


Gaun dengan model ketat itu rupanya memperlihatkan dengan jelas perut Mayang yang membuncit. Pantas saja Bianca mempertanyakan hal itu, sebab perut Mayang yang terlihat manyun benar-benar tidak serasi dengan tubuhnya yang masih ramping.


"Ah, ini?" Mayang meraba perutnya sendiri. Ia sengaja menahan napas agar perutnya terlihat sedikit kempes. "Ini karena aku kekenyangan, Bi, kau tidak lihat tadi aku makan buah begitu banyak. Itu karena kalian tadi, yang mengabaikanku begitu lama."


Bianca hanya diam, namun pandangannya masih terarah penuh selidik. Mengamati gerak-gerik Mayang dengan seksama, seolah sedang mencari jejak kebohongan di sana.


"Kenapa? Masih tidak percaya juga? Apa kau perlu memanggil dokter kandungan hanya untuk membuktikan semua kebenaran?" Mayang bersedekap dada sambil memasang senyum semanis gula. "Tidak masalah. Aku akan bersedia dan dengan senang hati melakukan pemeriksaannya."


"Sialan." Bianca menggeram kesal. Bantahan mengenai kehamilan Mayang belum bisa ia terima, namun memanggil dokter kandungan hanya untuk membuktikan kebenarannya itu akan sangat memakan waktu, dan dia sendiri pun tahu jika Alex yang temperamental itu pasti akan menghukumnya jika ia dengan sengaja mengulur waktu pertemuannya dengan Mayang. Maka tak ada pilihan lain baginya untuk percaya dan segera menjalankan perintah tuannya.


"Cepat jalan!" Bianca akhirnya berseru memerintah. Ia kembali menaikkan senjatanya yang tadi sempat turun kala mengamati perut Mayang.


"Apa kau tidak bisa tanpa mengancamku dengan senjata mainanmu itu?" Mayang yang masih enggan beranjak menatap Bianca dengan wajah kesal. Ia menunjukkan protes kerasnya pada Bianca yang selalu menekannya dengan senjata.

__ADS_1


"Apa kau bilang? Senjata mainan!" seru Bianca yang mulai naik pitam. "Apa kau ingin aku membuktikan jika barang ini bukanlah mainan?"


"Tidak, tidak perlu. Aku khawatir nanti bos Alex mu itu akan menghukummu," balas Mayang seraya tersenyum meremehkan.


"Kurang ajar--"


"Bi, sudah lah!" sela Joy menengahi. Nampaknya dia sudah lelah mendengar keributan yang selalu terjadi diantara dua wanita itu. "Tidak baik terlalu menaruh curiga pada seseorang. Jika tidak terbukti kau sendiri yang akan rugi." Joy lantas melempar pandangannya ke arah Mayang. "Cepat jalan!" perintahnya dengan nada ancaman.


***


Mayang berjalan dengan tiga dara itu beserta dua orang berperawakan dempal melewati lorong sunyi dan seolah itu memang sengaja digunakan sebagai akses rahasia.


Meski sedikit rumit, namun Mayang berusaha mengamati tempat yang ia lalui dan mengingat seluk beluknya dengan baik. Sesekali ia melirik pada dua lelaki di sampingnya. Wajah mereka terlihat begitu sangar dan mengerikan, terlebih dengan senjata api laras panjang yang sama sekali tak terlepas dari genggaman.


Entah berapa mereka menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, hingga mereka sampai di depan pintu lift dan kemudian menempatinya bersama-sama. Entah berhenti di lantai berapa lift itu membawa mereka. Yang jelas, saat pintu terbuka, mereka di hadapkan pada ruangan berukuran luas dengan tatanan ribuan kelopak bunga mawar serta lilin-lilin kecil menyala yang sengaja di tata berjejer pada lantai di sepanjang jalan menuju ke arah sebuah meja. Bahkan terus menjalar menghias mengelilingi meja berbentuk bundar dengan dua kursi tersedia di sana dengan posisi berhadapan.


Meja itu seolah sengaja disiapkan sebagai tempat untuk melakukan kencan makan malam untuk sepasang kekasih. Nampak di atasnya tertata begitu banyak hidangan mewah nan lezat beserta botol anggur dengan harga mahal serta dua gelas kristal kosong di sisi kanannya.


Mayang masih berdiri terpaku di tempatnya, dengan ekspresi shock yang menghiasi wajah cantiknya. Ia seolah sangat terkejut dan tak menyangka akan dihadapankan pada situasi seperti ini.


Sepasang netra beningnya mendadak membelalak kala mendapati punggung lebar berbalut jas warna senada dengan gaun yang dikenakannya, tengah berdiri di seberang meja dan menatap ke arah kaca jendela yang sangat lebar dengan posisi bersedekap dada.

__ADS_1


Meski dari jarak agak jauh dengan suasana remang karena minim pencahayaan, namun Mayang meyakini jika sosok yang berdiri membelakanginya itu adalah Alex. Lelaki itu tampak termenung menatap gemerlapnya lampu dan hingar-bingar suasana malam di ibu kota dari ketinggian gedung tempat mereka berpijak saat ini.


Sementara lima orang yang mengawalnya tadi masih berdiri mengelilingi, seolah tak memberi sedikitpun celah untuk Mayang berupaya melarikan diri.


"Tuan, kami sudah membawanya kepada anda." Salah seorang pengawal bertubuh gempal itu berbicara memecah keheningan yang sempat beberapa waktu tadi membentang.


Bergeming, Alex memutar kepalanya hingga sembilan puluh derajat hingga menampakkan sebelah kiri dari wajahnya. Lipatan tangannya pun terlepas lantas keduanya menelusup kedalam saku celana bahan yang ia kenakan. Berbalik badan, senyumnya pun terkembang manis mendapati sang pujaan hati datang dengan membawa sejuta harapan.


Mata elang itu menatap Mayang dengan penuh puja, bahkan seolah sudah begitu tak sabar untuk memangsa santapannya.


Alex sendiri terlihat begitu tampan dengan pakaian yang begitu pas di badan. Alis tebal, hidung mancung serta rahang tegas. Namun sayang hal itu sama sekali tak bisa meluluhkan hati Mayang, wanita yang saat ini begitu ia damba dan sangat dipujanya.


Tersenyum, Alex mengeluarkan dua tangan yang menelusup ke dalam saku tadi lantas merentangkannya. "Kemari lah, Sayang," ucapnya dengan nada menggoda seolah tengah mengundang Mayang untuk melabuhkan tubuh ke dalam pelukannya.


Belum sempat Mayang menyerukan penolakan, Bianca yang berdiri tepat di belakangnya sudah lebih dulu mengintimidasinya dengan senjata. Dan gerakannya begitu lincah dan samar sehingga tidak menimbulkan kecurigaan Alex jika ia tengah menekan Mayang dengan ancaman.


"Turuti perintahnya, atau ku tembak kau sekarang juga." Bianca mendesis penuh ancaman.


Sialan kau Bianca." Mayang menggeram kesal dalam hati. Namun ia tak berdaya melakukan perlawanan sebelum misi yang tengah dijalankan berjalan lancar.


"Cepat jalan." Perintah Bianca. "Datanglah padanya dan berikan pelukan terhangatmu untuk dia."

__ADS_1


Ingin rasanya menentang. Namun suara perintah yang mendadak terdengar sangat samar dari anting yang dikenakannya membuat Mayang mengurungkan niat itu dengan segera. Perwira wanita yang tengah mengawasinya dari kejauhan sana telah memulai memberikan instruksi yang tak mungkin ia bantah. Benar-benar menyebalkan. Batinnya kesal.


__ADS_2