
Tak mampu berkata-kata, Billy hanya bisa meraih tubuh Milly dan membawanya dalam pelukan. Sedangkan Milly justru mematung, diterpa keterkejutan luar biasa. Hanya kelopak matanya yang sesekali mengerjap-kerjap kebingungan.
Tanpa ia tahu, rupanya netra bening Billy berkaca-kaca. Perasaan haru dan bahagia memenuhi rongga dada. Ia benar-benar bahagia sebab secara tak langsung, Milly telah mengutarakan perasaannya.
Ah, tapi lagi-lagi Milly berusaha menepis kenyataan. Baginya, sikap manis Billy hanya tipu daya untuk membodohinya. Ia tetap berusaha bersikap waras dengan sadar diri, Upik abu tak mungkin mendapatkan cinta seorang pangeran. Milly sadar, orang tuanya tak lagi memiliki apa-apa.
Milly menghela napas dalam dan mengembuskan perlahan. Ia berusaha menghalau perasaan nyaman yang mendadak datang.
"Pak," lirih Milly sambil menepuk pelan punggung Billy. Alih-alih melepaskan, Billy justru kian mempererat pelukannya.
Milly mendelikkan mata. Dekapan Billy sangat erat, hingga membuatnya terasa sesak. Jika terus dibiarkan, bisa-bisa ia kehabisan napas.
"Pak, bisa tolong lepaskan saya? Pelukan Anda sangat kuat, saya jadi sesak. Apa Anda sedang berniat ingin meremukkan tulang-tulang saya!" ujar Milly penuh penekanan dengan suara yang tertahan.
Seperti baru menyadari suatu hal, tubuh Billy berjingkat. Ia membulatkan mata dan sontak melepaskan pelukannya. Ditangkubnya dua bahu sang istri sebelum kemudian memindai tubuh ramping itu dari atas hingga ke bawah.
"Apa kau terluka? Apa kau kesakitan? Apa napasmu terasa sesak? Maafkan aku, aku tidak sengaja." Panik, Billy memberondong Milly dengan pertanyaan. Wajahnya tak dapat menyembunyikan kecemasan.
Milly tersenyum kecil. Ekspresi Billy yang alamiah itu benar-benar menggemaskan. Sangat berbeda dengan sikap berwibawa yang selama ini dilihatnya. Andai, pria sempurna ini bisa benar-benar jadi miliknya ....
"Saya tidak papa," jawab Milly pelan.
"Tidak papa bagaimana? Aku mendengarnya sendiri, tadi suaramu aneh. Seperti menahan beban berat!" protes Billy. Tanpa peringatan lebih dulu ia memutar tubuh Milly demi untuk melihat tubuh bagian belakang sang istri.
Terang saja Milly terkejut hingga wanita itu membulatkan bola mata dan bibirnya seketika tenganga. Ia mendesah pelan, kemudian berbalik badan. Tangannya bergerak menepis lengan Billy yang tengah beraksi memeriksanya.
"Pak ...." Milly menangkap pergelangan Billy dan mencekalnya. "Sudah cukup. Tidak perlu bereaksi berlebihan. Saya nggak papa, saya baik-baik aja!" tegasnya penuh kesungguhan.
"Tapi tadi kamu–"
"Pak, saya begitu tadi karena Bapak menekan tubuh saya!" potong Milly dengan kalimat penjelasan.
Billy mengerjap kecil seolah-olah sedang berpikir. Pada akhirnya ia pun bisa mengingatnya. Karena tenggelam dalam euforia kebahagiaan, ia bahkan tak menyadari telah memeluk istrinya sangat kuat, seolah-olah tak ingin lagi melepaskan.
"Bapak kenapa malah bengong?"
Pertanyaan Milly berhasil menarik Billy dari kelana angan. Pria itu mengerjap kecil, dan menatap istrinya yang tengah memperhatikannya dengan mata menyipit, seperti menyelidik.
"Jangan bilang kalau Bapak cuma modus biar bisa peluk saya, ya!" tuduh gadis itu sambil mengarahkan jari telunjuk persis ke muka Billy.
__ADS_1
Terang saja jiwa kepemilikan Billy meronta-ronta. Peluk istri sendiri itu apa bisa dinamakan modus?
"Hey, jaga bicaramu, ya! Kau ini istriku, jadi kapan pun aku ingin memelukmu itu sah-sah saja!" terang Billy dengan intonasi tinggi.
"Tapi saya cuma istri siri, Pak. Dan lagian juga Bapak sudah usir saya!" ujar Milly membela diri. Ia bersedekap dada dan mengerucutkan bibirnya. Dengan gaya sok santai, ia melirik Billy yang ternyata tengah menatapnya dengan memicingkan mata.
Tanpa Milly duga, rupanya pembelaannya barusan memunculkan sebuah ide di otak Billy. Pria itu mengangguk samar. Menarik salah satu sudut bibirnya hingga membentuk sebuah seringai. Seringai yang membuat Milly bergidik ngeri.
"Okay. Kalau begitu sekarang juga kita pergi ke penghulu untuk nikah secara secara sah. Sah di mata agama dan sah di mata negara."
Milly sontak menatap Billy dengan melebarkan kelopak matanya. Pria di depannya ini memang bisa mendapatkan apapun dengan gampang. Namun, bukankah nikah itu membutuhkan persiapan matang? Baru juga hendak melayangkan protes keras, tapi Billy sudah lebih dulu meraih pergelangan tangannya.
"Ayo ikut aku," ajak pria itu sambil menariknya tanpa peringatan. Milly yang merasa belum siap tentu saja melakukan perlawanan.
"Pak, hentikan! Jangan gegabah, pikirkan dulu dengan matang!" pekiknya sambil berusaha menahan tarikan Billy meski sia-sia, sebab pria itu sangat kuat dibandingkan tenaganya.
"Kurang matang bagaimana? Jika orang lain hanya melakukan ijab qobul hanya satu kali bersama pasangan yang sama, aku malah hampir dua kali! Kau pikir aku ini kurang serius apa?"
Ada yang menghangat di hati Milly ketika mendengar penuturan Billy. Jujur, ia tak pernah sebahagia ini. Namun, ia berpikir bukan begini caranya orang mau menikah.
Sampai di teras depan Billy bahkan tak mau melepaskan tangan Milly. Tarik menarik pasangan itu pada akhirnya menyita perhatian para bodyguard yang berjaga di luar.
"Menikah ...?" tanya pemuda bertubuh kekar itu dengan wajah keheranan.
"Iya! Kenapa? Masih belum jelas yang kukatakan barusan!" bentak Billy marah.
Boy menggeleng cepat karena ketakutan. Ia pun segera menganggukkan kepala untuk menunjukkan kepatuhan. Namun, seketika ia sadar ada sesuatu hal yang perlu dipastikan.
"Tapi, Sekretaris, nikahnya sekarang atau besok?" tanyanya penuh kesungguhan.
"Tahun depan!" bentak Billy penuh kemarahan.
Boy lekas-lekas mengangguk meski masih agak bingung. Namun, ia yang menunduk tak menyadari tatapan Billy yang terarah kepadanya dengan begitu geram.
"Ya sekarang lah, Boy!"
Sontak Boy mendongak penuh keterkejutan mendengar teriakkan Billy.
"Nikah tahun depan itu kelamaan! Kamu mau tanggung jawab kalau dia diambil orang? Kamu mau kepalamu aku penggal!"
__ADS_1
Ancaman Billy membuat Boy bergidik ngeri. Pemuda itu sontak mendelik sambil memegangi tengkuknya yang merinding. Bayangan buruk langsung hinggap di otak, apa jadinya jika kepalanya lepas dari badan. Wajahnya yang tampan pastilah juga ikut hilang. Lantas, apa kabar para wanita pengagumnya yang jumlahnya ribuan itu di Instagram. Pastilah mereka akan merasa sangat kehilangan.
"Boy!"
Panggilan Billy lagi-lagi membuat Boy berjingkat. Pria itu berhasil menyeretnya dari dimensi mengerikan. Tak ingin hal buruk itu benar-benar terjadi, ia segera bersikap tegap dan memberi hormat demi menyelamatkan nyawanya.
"Bagus," puji Billy sambil menunjukkan seringai penuh kepuasan.
Jika Billy terlihat sangat antusias, beda cerita dengan Milly yang tampak belum siap. Gadis itu tiba-tiba meronta, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Billy. Namun, ternyata bukanlah hal mudah baginya untuk melepaskan diri dari Billy. Ketika terkejut pria itu malahan refleks kian mengeratkan genggaman.
"Pak, saya mohon lepas. Nikah itu butuh persiapan, bukannya mendadak seperti inspeksi. Mohon Bapak pikirkan lagi."
Billy terkekeh. "Pikirkan apa lagi?"
"Rencana Bapak ini! Plis, Pak. Saya mohon, lepas ...!" Tak patah arang, Milly memukuli lengan Billy dengan membabi buta, berharap pria itu melepaskannya. Namun, nahas. Pukulannya tanpa sengaja mengenai luka Billy, hingga noda pekat berwarna merah pun merembes dari kain perban.
"Darah?" lirih Milly dengan bola mata membulat sempurna. "Pak, tangan Anda terluka. Tangan Anda berdarah!" panik Milly.
Billy menatap tangannya sebentar, kemudian beralih memandang wajah Milly. Ia hampir saja membuka mulut untuk meyakinkan jika luka ini bukanlah hal serius, tetapi Milly sudah terlebih dahulu memberi perintah kepada Boy.
"Boy, batalkan acara nikah dadakan ini. Sekretaris Billy sedang terluka. Tangannya mengeluarkan banyak darah. Segera hubungi dokter untuk menangani luka Sekretaris!"
"Eh, tidak-tidak! Jangan batalkan acara pernikahan ini karena lenganku tidak apa-apa!" cegah Billy ketika Boy mengangguk mengiyakan perintah Milly. Sontak saja Boy langsung menatap Billy dengan sorot kebingungan.
"Jangan dengarkan dia, Boy! Apa kau mau bertanggung jawab andai terjadi sesuatu dengan Sekretaris Billy?" sahut Milly yang kian membuat Boy semakin bimbang.
"Boy dengarkan aku! Yang Bos kamu itu aku!" sahut Billy pula, dan kini membuat Boy frustasi.
Untuk sejenak Boy hanya bergeming. Pemuda tampan berkulit putih itu benar-benar bingung saat dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama berat. Jika ia mengikuti perintah nyonya Milly, itu sama saja dengan menentang perintah Sekretaris Billy. Namun, jika mengikuti keinginan sekretaris Billy, ia tentunya harus bertanggung jawab andai kata Billy kenapa-kenapa. Menatap keduanya bergantian, ia lantas menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jadi yang benar yang mana?" tanya Boy dengan nada lemah.
"Aku, Boy!
"Hey, aku!"
Seperti ditarik dari dua sisi dengan kekuatan yang sama, Boy hanya bisa membatu di tempatnya. Terasa sesak dan tak bisa berkutik. Sekian lama bekerja pada Billy ia merasakan kenyamanan. Namun, jika terus-menerus begini sepertinya ia tidak akan tahan.
Tuan, bisakah hari ini saya mengajukan pensiun dini?
__ADS_1
Bersambung