Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Nggak suka, gelay!


__ADS_3

"Apa yang sedang kau pikirkan?"


Milly terlonjak saat Billy bertanya dengan posisi wajah yang sangat dekat dengan wajahnya. Gadis itu sontak menarik kepala lalu menyembunyikan wajahnya yang langsung merona merah. Tangannya pun bergerak menyentuh dada saat merasakan sesuatu bertalu-talu di dalam sana.


"Kenapa menghindariku? Apa kau takut aku akan memperlakukanmu sama seperti dia?" Billy mengernyitkan kening sewaktu menanyakan hal itu pada istrinya. Wajahnya bahkan menampakkan ekspresi setengah curiga.


Masih dalam posisi memalingkan wajah, Milly menggeleng cepat sebagai bentuk penyangkalan. Sungguh, ia sedikitpun tak merasa takut Billy akan menyakitinya hanya karena melihat kejadian tadi. Bukankah tadi Billy bersikap demikian juga untuk melindunginya?


"Lalu?" tanya Billy lagi dengan nada setengah mendesak. Rupanya pria itu masih menunggu jawaban Milly, dan lagi-lagi gadis itu hanya menggeleng.


Melirik sejenak, Milly dengan cepat kembali membuang muka dengan sikap gusar. Bagaimana tidak, jika pria di sampingnya ini sama sekali tak mau mengalihkan pandangannya dari dia.


Namun, ada yang sedikit berbeda dari Billy. Entah apanya, yang jelas Milly sedang menyelidiki hal itu. Ah iya benar. Binar ceria di matanya.


"Kenapa Bapak menatap saya seperti itu?"


Langsung membuang muka, Milly memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya.


Mengingat kejadian tadi, benar-benar membuatnya merasa malu. Entah atas dasar apa hingga ia bisa gelap mata. Layaknya harimau yang lepas dari kandang. Ia tiba-tiba memasang wajah garang, dan tanpa bisa dikendalikan mencabik-cabik muka orang.


Sungguh predikatnya sebagai wanita lugu musnah akibat kekalapan itu. Bahkan andai tak ingat dosa, Milly tak takut meskipun harus menghilangkan nyawa Milea.


Gadis itu benar-benar kurang ajar. Wanita mana yang rela suaminya digoda. Di depan mata, pula! Laki-laki ini juga! Apa dia sedang sengaja membuatku terbakar cemburu? Sampai-sampai membiarkan wanita itu menyentuhnya, batin Milly kesal hingga tanpa sadar menatap Billy dengan wajah merengut.


"Hemm?"


Milly terkesiap, lantas mengerjap-kerjap saat Billy menyentuh dagunya dan menarik wajahnya tepat menghadap pada pria itu. Apa pria itu tidak tahu, dengan jarak sedekat itu, Milly bahkan kesulitan untuk mengatur napas akibat deguban jantung yang susah di kendalikan. Sudah seperti genderang yang ditabuh kencang. Bahkan bukan tidak mungkin pula pria itu akan mendengar irama debaran jantungnya bila masih saja dalam posisi berdekatan.


"Tentu saja karena aku sedang bahagia." Tanpa canggung, Billy mengusap pipi basah Milly menggunakan ibu jarinya. Gerakannya begitu lembut hingga meninggalkan sensasi geli yang membuat bulu roma Milly berdiri merinding.


Seketika tubuh Milly menegang kaku sebab belum terbiasa dengan hal itu. Gadis itu langsung memejamkan mata seraya membuang muka hingga pipinya menyentuh bahu kanan.

__ADS_1


"Ahh, nggak suka ...! Gellay." Tanpa sadar Milly mengerang hingga membuat Billy tercengang. Sebab erangan gadis itu terdengar manja dan dengan nada yang seperti menggoda. Sontak saja hasrat kelelakian Billy meronta begitu saja mendengar suara syahdu tak biasa dari bibir istrinya itu.


Mengabaikan tangannya yang terluka, Billy menggunakannya untuk menarik tubuh Milly hingga merapat padanya. Gerakannya begitu agresif, dan dengan sikap ingin menguasai.


"Pak!" Milly yang terkejut secara spontan menggunakan kedua tangannya untuk menahan dada Billy, sedangkan tubuhnya meronta-ronta berusaha keras melepaskan diri untuk menjauh.


Kegugupan langsung merayapinya saat terjadi kontak fisik di antara mereka, sementara kedua pasang netra saling bertaut dengan jarak sangat dekat. Terlebih sorot mata Billy yang terlihat berbeda dari biasanya. Meskipun terlihat lembut dan begitu hangat, tapi pandangannya nampak berkabut penuh hasrat.


"Jika sekarang kau mengatakan tidak suka ... maka kelak kau juga akan terbiasa." Billy berucap lamat-lamat dengan maksud yang tersirat. Tersenyum penuh arti, pemuda itu lantas menangkup wajah istrinya sebelum kemudian menariknya semakin dekat.


Entah apa yang ada di benak Milly saat ini. Meski batinnya ragu bercampur malu, tapi nyatanya sikap perhatian serta kelembutan yang Billy tunjukkan itu berhasil membuat hatinya meleleh. Meski semula batinnya meronta dan menolak, tetapi fakta menunjukkan jika raganya justru berpasrah diri dan menyerah.


Melihat Milly yang tak meronta ataupun melakukan penolakan, Billy tampak tersenyum sebelum kemudian membenamkan bibirnya pada lengkung merah sang istri yang begitu ia inginkan sejak tadi.


Semula Milly agak tersentak saat pertama kali Billy menyentuh bibirnya. Namun, permainan Billy yang begitu lembut dan penuh cinta tak urung membuatnya menjadi larut dalam permainan indah yang Billy ciptakan.


Tanpa sadar, Milly memejamkan mata dan memasrahkan diri sepenuhnya terhadap prianya. Mengimbangi permainan lidah Billy dan membalasnya. Geliat kenikmatan berpadu seirama dengan hasrat yang membara.


Seulas senyum penuh kepuasan tersungging indah di bibir Billy sewaktu memandang wajah Milly yang merona malu. Diusapnya kemudian bibir basah sang istri akibat ulahnya itu. Ia buru-buru mencupit dagu Milly saat gadis itu hendak menyembunyikan wajah malunya.


"Apa kau marah?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Billy kala Milly enggan membalas tatapannya.


Bibir Milly sedikit ternganga sebab bingung harus menjawab apa. Gadis itu memilih menurunkan pandangan untuk menghindari pertautan mata yang bisa jadi akan memicu Billy untuk melakukan yang kedua. Ia masih sangat malu karenanya, sebab peristiwa barusan adalah pengalaman pertamanya baginya.


Namun, di saat ia menundukkan kepala, Milly baru menyadari jika yang ia remas tadi adalah lengan Billy tepat di tempat yang terluka. Sontak saja ia membelalak sebab darah segar kembali keluar dari sana.


"Pak, tangan anda!" Panik, Milly menatap Billy sesaat sebelum kemudian memegangi tangan pria itu dengan wajah penuh sesal. Ia lah penyebabnya. Jika bukan demi melindunginya, Billy tak akan mendapat luka ini. Namun ia justru kembali meremasnya meskipun tanpa sadar hingga luka itu kembali berdarah.


Merasa terenyuh dan tak enak hati, Milly mengarahkan pandangan kepada Billy dengan mata berkaca-kaca, bahkan nyaris meneteskan air mata. Dengan ekspresi wajah penuh sesal yang dalam, ia pun berucap, "Saya benar-benar minta maaf, Pak. Sungguh ... saya tidak sengaja melakukannya ...."


"Hey, hey ... apa yang kau katakan? Kenapa tiba-tiba minta maaf?" Billy menyeringai selagi memindai ekspresi wajah Milly, lantas memainkan alisnya naik turun dengan maksud untuk menggoda.

__ADS_1


Bukannya tersenyum, Milly justru menatap Billy penuh peringatan dengan wajah memberengut dan sisa-sisa air mata. Bibirnya berkedut seperti sedang menahan tangis sekaligus kesal oleh godaan Billy itu. Ia betul-betul mencemaskan, sedang Billy malah menyeringai menggodanya.


Tanpa disangka Milly, Billy malahan tertawa seperti gemas menanggapinya. Tawa renyah pria itu seketika membuat gadis itu terbengong sejenak. Ini pertama kalinya ia melihat tawa Billy terkembang begitu senang. Terlihat tulus tanpa nada ejekan yang terdengar. Sungguh hal itu membuatnya merasa bahagia sebab bisa melihat sisi lain dari pria dingin itu.


Milly terkesiap saat Billy lagi-lagi menggunakan ibu jari untuk mengusap wajahnya. Lagi-lagi karena belum terbiasa membuatnya terkejut oleh tindakan sang pria yang tidak disangkanya.


"Katakan." Billy berkata selagi membelai wajah istrinya. "Apa kau sedang mencemaskanku?" tanyanya kemudian dengan nada menggoda yang kental.


Melihat wajah Billy begitu dekat dengan wajahnya, seketika pipi Milly merona merah dan panas. Bayangan ciuman Billy tadi langsung hinggap di kepala dan itu membuatnya malu bukan kepalang. Ia masih takut laki-laki itu agan bergerak menyambar, maka ia memilih segera membuang muka untuk menyembunyikannya seraya berkata, "Tidak ...!"


"Bohong!" sahut Billy cepat sambil menarik wajahnya Milly untuk menghadap padanya. "Katakan kau mencemaskanku," ucapnya kemudian dengan nada penuh tuntutan.


"Luka Bapak kembali berdarah dan harus segera diobati. Saya bukannya khawatir, tapi saya takut Bapak akan pingsan di sini."


Billy terseyum memandang Milly yang berbicara tanpa menatapnya. Entah mengapa sikap malu-malu Milly itu justru membuatnya semakin bersemangat untuk menggoda.


"Aku pernah mengalami yang lebih-lebih parah dari ini. Jadi, kau tidak perlu terlalu mencemaskanku seperti ini Nona Milly."


"Sudah saya katakan, saya tidak mencemaskan anda. Saya hanya tidak ingin anda pingsan, jadi stop besar kepala. Karena saya tidak mau anda tak berhenti cengengesan sampai bulan depan!"


Sungguh pernyataan Milly barusan membuat Billy membelalak gemas. Gadis ini benar-benar memiliki cara tersendiri untuk membuatnya kesal. Namun sekarang rasa kesal di dadanya berbeda dengan yang semula. Begitu pula tindakannya untuk memberi hukuman sebagai luapan kekesalan.


Tanpa pikir panjang, Billy segera menangkup wajah Milly dengan sikap posesif yang kental hingga membuat terkejut gadis itu dan sontak membelalakkan mata saat wajahnya bergerak mendekat.


Namun di saat yang bersamaan, seseorang bodyguard muncul di ambang pintu hingga mengejutkan keduanya dan langsung menoleh ke sana secara bersamaan.


"Maaf, Sekretaris Billy. Saya hanya ingin menyampaikan jika tamu anda sudah datang." Pria itu berucap tanpa menatap dengan kepala menunduk sopan.


"Bagus. Bawa dia kemari."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2