Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Alergi


__ADS_3

Brian yang terkejut dengan ucapan Mayang segera mengamati dirinya sendiri. Karena menurutnya tak ada yang salah dengan pakaian nya. Namun setelah Brian teringat bahwa Karla lah yang menyiapkan nya, hal itu pun membuatnya jadi curiga.


Brian segera melepas kemeja dari tubuhnya. Saat dilihatnya noda merah dari lipstik di kerah nya membuatnya dengan spontan melempar kemeja itu jijik ke lantai.


Di toleh nya tubuh Mayang yang membelakanginya dengan rasa bersalah. Jemari Brian mengepal menahan amarah yang teramat terhadap Karla.


Iblis wanita itulah yang sengaja melakukan ini. Ia harus berusaha menahan amarahnya sampai besok saat dia bertemu dengan Karla di kantor.


Namun saat ini yang terpenting baginya adalah bagaimana caranya untuk membujuk sang istri agar mereda dari kemarahannya.


"Sayang apa kau cemburu?" Tiba - tiba Brian berucap dengan nada gurauan yang dia pikir itu bisa membuat Mayang bereaksi. Tapi ternyata yang Brian pikirkan salah besar.


Mayang bahkan tak bergerak saat Brian mencoba mengusik nya dengan menggelitiki tubuhnya. Ia seolah membekukan tubuh nya. Hanya isak tangisnya nya yang terdengar.


Melihat istrinya menangis benar - benar membuatnya frustasi. Terlebih lagi tangisan Mayang itu bersumber dari kesalahan fahaman yang di timbulkan iblis wanita sialan itu.


Brian lantas berbaring di belakang Mayang. Merapatkan tubuhnya pada tubuh Mayang yang yang masih meringkuk. Tangan kirinya menyelusup kebawah kepala Mayang menjadikannya bantal untuk kepala sang istri.


Sedang tangan kanannya melingkar di tubuh Mayang. Brian mencium puncak kepala Mayang agak lama sebelum berucap. "Sayang, maafkan aku karena telah mengenakan lagi kemeja kenangan ku bersama almarhum Lena."


Brian bisa merasakan gerakan tubuh Mayang yang seperti terkejut. Meski istrinya itu hanya diam dan tak menyuarakan apapun.


"Aku akan membuang nya agar kau tak sakit hati lagi. Atau kalau perlu aku akan membakarnya sekarang juga di depan pandangan mu." Ucap Brian tenang namun penuh ketulusan.


Ternyata alasan itu berhasil membuat Mayang terenyuh. Hal itu terbukti dengan Mayang menghentikan isak tangisnya.


Brian yang sadar dengan perubahan sikap sang istri membuatnya ingin meneruskan kata - katanya.


"Saat tadi aku minum kopi menggunakan tangan kanan ku, entah mengapa rasanya tiba - tiba perih dan membuat cangkir yang aku pegang oleng dan tumpah di dadaku. Kalau kau tidak percaya cobalah lihat dadaku sayang." Brian menarik paksa tubuh istrinya agar menghadap padanya dan melihat dadanya yang tanpa sehelai pakaian pun.


Mayang yang sudah dalam posisi menghadap pada sang suami pun mau tak mau harus melihat dada Brian yang tepat fi depan mata nya. Mayang bisa melihat jelas warna merah yang tertinggal di dada Brian itu akibat tumpahan air panas .


Entah mengapa timbul rasa bersalah yang menggelayut di hati Mayang. Rasa sesal karena pikiran buruk yang sempat melintas di kepalanya tentang penghianatan sang suami.


Mayang bisa merasakan perih nya dada Brian sekarang akibat kopi panas itu. Masih beruntung kulit putih suaminya itu tak melepuh.


"Sayang Maafkan aku." Lirih Mayang sembari melingkarkan tangan kirinya di tubuh Brian untuk memeluk lelaki itu.


Brian yang merasa terkejut pun membelalakan matanya tak percaya. Ia menundukkan kepalanya untuk menatap sang istri yang tampak membenamkan wajahnya di dada Brian. Lalu di belai nya kepala sang istri.


Maaf untuk apa sayang?" Tanya nya bingung.


"maaf karena aku telah berfikiran buruk padamu." Ucap Mayang dengan suara yang hampir tenggelam karena wajahnya yang terkurung di dada bidang sang suami. "Harusnya ku tanyakan dulu secara baik - baik tadi sebelum aku menuduh mu macam - macam." Sambungnya lagi dengan nada penuh sesal.


Brian lantas mendekap tubuh sang istri dengan penuh rasa haru karena kelembutan hatinya. Ia merasa beruntung memiliki istri sebagai Mayang.


Brian memang memiliki banyak mantan. Namun dari sekian banyak gadis yang ia pacari, belum ada kekasih Brian yang mempunyai hati sebaik Mayang.


Kebanyakan wanita yang merasa di cintai biasanya cenderung manja dan merasa di atas angin saat memergoki sang kekasih melakukan kesalahan.


Sehingga mereka melakukan aksi jual mahal agar sang kekasih mengemis maaf bahkan memberikan apapun yang mereka minta sebagai kompensasi.


Namun tidak dengan istrinya ini. Ia berfikir dengan rasonal nya dan pada saat ia menemukan fakta yang terjadi, dengan begitu mudahnya memberikan maaf. Eh bukan, malah dia yang meminta maaf.


"Sayang, kau tidak menuduh ku dengan tuduhan apapun tadi," Brian menyampaikan fakta. Kau tadi hanya bertanya.


"Iya, tapi di dalam hati aku sudah mencurigaimu." Kekeuh Mayang menyangkal.


Sayang, curiga dalam hati saja kau meminta maaf,


Brian mendongakkan kepala sang istri agar pandangan mereka beradu. "Jadi kau tak marah padaku?" Brian bertanya untuk meyakinkan dirinya. Mayang pun menggeleng cepat. Brian lantas mengecup kening sang istri agak lama dengan rasa bersalah.

__ADS_1


Sayang maafkan aku karena telah berbohong padamu. Tapi percayalah padaku sayang, aku takkan pernah berpaling dari mu sedikitpun.


Terimakasih padamu kopi panas, karena kau telah menyelamatkan ku.


"Aku akan segera membakar kemeja itu." Ucap Brian kemudian yang seketika membuat Mayang menolaknya mentah - mentah.


"Tidak sayang, jangan membakarnya. Simpan lah kemeja itu baik - baik. Aku tidak akan marah sayang."


Gila apa ya nyimpen bekas bibir Karla! Cih ogah! Brian.


"Tidak sayang, lebih baik kita bakar saja ya, agar tidak terjadi masalah di kemudian hari."


"Tapi itu benda kenangan mu bersama almarhum istri mu sayang..."


"Kau yakin ingin menyimpan bekas bibir orang yang telah mati di lemari pakaian mu?"


Iya, besok akan ku bunuh Karla.


Mayang tiba - tiba terlonjak mendengar ucapan Brian. Tiba - tiba bulu kuduk nya seperti merinding. Ia tak mungkin seberani itu menyimpan bekas bibir orang yang telah meninggal di lemari pakaian nya. Terlebih lagi itu almarhum istri suaminya. Kalau nanti dia cemburu dan mengacak - acak isi kamar ini bagaimana?!


"Emmm sayang," ucap Mayang kemudian setelah selesai dengan perang batin nya. "Seperti nya yang kau katakan itu benar. Kau benar - benar tak apa jika harus membakar kemeja itu?"


"Aku tidak apa - apa. Lagi pula itu hanya masa lalu." Brian meyakinkan sembari tersenyum pada sang istri.


"Kalau begitu bakar lah sekarang."


"Besok saja. Sekarang aku sedang tidak ingin beranjak dari sini." Brian mengeratkan pelukan nya.


"Tapi..." Mayang lantas sedikit beranjak dan mendongakkan kepalanya untuk melihat kemeja yang teronggok di lantai. "Tapi kemejanya masih berada di kamar kita," Mayang seperti merengek sembari kembali membenamkan wajahnya di dada Brian.


Brian terkekeh."Apa kau takut?" Tanya Brian kemudian dengan nada seperti mengejek.


"Tak apa sayang, kemeja itu takkan terbang dan menghampiri kita." Tanpa Brian sadari kalau ternyata ucapan nya itu membuat sang istri benar - benar takut.


Mayang mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya rapat - rapat berharap ia segera tidur walau matanya belum sepenuhnya mengantuk.


Namun kehangatan yang Brian berikan ternyata membuat Mayang merasakan kenyamanan di hati nya. Dan karena rasa nyaman itu membuat nya merasa tenang hingga menimbulkan rasa kantuk yang luar biasa. Hingga Mayang benar - benar tertidur dalam pelukan sang suami.


Brian yang merasakan hembusan nafas Mayang terdengar teratur tiba - tiba merasa curiga. Ia mendongakkan wajah sang istri untuk memastikan apakah dia dalam kondisi tidur atau hanya pura - pura tidur saja.


Dan benar saja, Brian di buat kecewa karena Mayang benar - benar tertidur dengan pulas nya.


"Sayang, sayang bangun jangan tidur dulu!" Brian menepuk - nepuk pipi sang istri agar dia terbangun.


Namun Mayang tetap tak bergeming dan tetap memejam matanya rapat.


"Sayang bangun!" Brian bahkan mencubit pipi sang istri. "Hey kau memiliki hutang padaku malam ini! Jangan seenaknya tidur begini!" Brian berteriak di telinga Mayang.


Namun Mayang hanya menggeliat sembari menggumam lalu kembali mengeratkan pelukannya pada Brian.


"Astaga, kau bahkan tertidur seperti bayi." Brian menggeleng kan kepalanya sembari menatap heran pada Mayang.


"Kau sudah menggoda ku hingga sejauh ini, malah sekarang kau mengabaikan ku seenak mu sendiri. Kau benar - benar menyiksa ku sayang," gerutu Brian kesal sembari menatap nanar tubuh sang istri yang terlihat sangat menggoda itu. "Jangan salahkan aku jika aku melakukannya tanpa seizin mu!"


Malam itu Mayang serasa bermimpi dirinya berada dalam kenikmatan yang luar biasa. Serasa Brian tengah membawanya terbang ke atas awan dengan kehangatan serta kelembutan nya.


Mayang seperti tengah berada di dunia lain yang belum pernah ia pijak sebelumnya. Yang menyuguhi nya keindahan serta kenikmatan yang belum pernah ia rasakan. Apa ini yang namanya surga?


"Tidaaaaaaak!!!" Teriakan Mayang dari ruang pakaian secara langsung mengejutkan Brian yang tengah tertidur pulas.


Lelaki itu seketika melompat menuju pintu ruang ganti pakaian yang tertutup rapat dan membukanya secara kasar. Matanya yang semula masih sangat mengantuk sebab baru sebentar ia terlelap seketika rasa kantuk itu pun hilang tak tersisa.

__ADS_1


Kini berganti rasa terkejut dan panik yang menguasai fikiran nya. " Sayang kau kenapa?" Tanya Brian bingung sembari mendekati istrinya yang tengah berdiri di depan cermin besar.


Dilihatnya pula sang istri yang terlihat panik dan dengan tubuh yang hanya terbungkus handuk yang melilit tubuhnya dari dada sampai ke lutut.


"Sayang ada apa dengan tubuhku?" Keluh Mayang panik dengan pandangan mata tampak Berkaca - kaca.


"Ada apa dengan tubuhmu sayang, apa kau terluka?" Tanya Brian sembari menyelidik setiap jengkal tubuh Mayang. " Tidak ada darah sayang," Ucap nya setelah tak menemukan yang ia cari.


"Bukan luka berdarah sayang, tapi lihatlah tanda - tanda merah di sekujur tubuhku ini... Apa aku mengalami alergi? Sebelumnya aku tak pernah begini...!" Mayang tampak ketakutan sembari menunjukan tanda merah yang terlihat di sekitar leher dan dada.


Bahkan di bagian dalam juga banyak, namun tak mungkin Mayang menunjukkan nya pada Brian karena gadis itu sangat pemalu.


"Bagaimana ini sayang, aku juga tidak salah makan sesuatu yang kau larang."


Astaga sayang, apa kau sepolos itu? Bahkan stempel kepemilikan semacam ini saja kau tak tau,


"Sayang kenapa hanya diam dan menatapku seperti itu! Katakan sesuatu..." Desak Mayang sembari mengguncang tubuh Brian.


"Itu stempel kepemilikan sayang," Brian menjelaskan.


"Stempel kepemilikan apa sayang?" Mayang malah terlihat semakin bingung.


Untuk beberapa saat Brian sempat bingung mencari cara bagaimana menjelaskan nya pada Mayang. Tapi setelah ia pikir, gadis polos ini pasti akan lebih mengerti melalui praktek langsung dari pada hanya teori kan?


Brian lantas meraih tubuh Mayang dan mencengkeram kedua sisi bahu istrinya. Lantas tanpa canggung Brian pun menanamkan bibirnya pada bahu Mayang yang tampak terlewat oleh stempel itu.


Brian mengisap kulit Mayang di sana sehingga menimbulkan rasa sakit dan membuat Mayang memekik. Dan pada saat Brian melepas bibirnya, tertinggal bekas tanda merah disana.


"Nih seperti ini." Tunjuk Brian pada tanda merah yang baru ia buat.


"Sayang sakit," keluh Mayang dengan wajah yang di tekuk.


"Apa? Sakit?" Brian mengangkat alisnya. " Kalau sakit kenapa semalam kau tak bangun?!" Ucap Brian kemudian dengan wajah yang terlihat kesal.


"Benarkah?" Mayang terlihat ragu.


"Apa kau tidak percaya dengan banyaknya bukti yang kau temukan pagi ini?!"


Wajah polos Mayang terlihat merona malu. Bagaimana bisa ia tidur se pulas itu. Ia pasti sudah sangat mengecewakan suaminya. Di lihat nya pula sang suami yang tampak membelakangi nya dengan wajah kesal.


Tiba - tiba timbul rasa bersalah yang teramat sangat dari relung hati Mayang yang terdalam. Ia lantas menelusupkan kedua tangan nya di pinggang Brian dan memeluk tubuh suaminya dari belakang.


"Sayang maafkan aku," lirik mayang sembari membenamkan wajahnya di punggung sang suami.


Hati Brian seketika luluh dengan rasa bersalah yang istrinya tunjukkan. Karena sebenarnya ia tidak dalam kondisi benar - benar marah.


"Tak apa sayang, kita bisa melakukan nya nanti malam." Ucap Brian sembari tersenyum. " Sekarang lepaskan aku atau kau ingin aku melakukannya pagi ini juga?!"


"Ah tidak!"


***


Pagi itu Brian tampak menebar senyum saat melangkah masuk dari lobi menuju ke ruang kerjanya. Termasuk pada saat dirinya berpapasan dengan Karla.


Brian tampak melempar senyuman terhadap iblis wanita itu. Memang dia sengaja. Ua merubah rencananya untuk menyakiti wanita itu dan menggantinya dengan bersikap baik padanya.


Brian tampak menikmati saat Karla menunjukkan ekspresi kekalahannya melalui wajahnya yang tak suka melihat Brian merasa bahagia. Ternyata usahanya untuk membuat hubungan sepasang suami istri itu rusak melalui kecemburuan Mayang yang sengaja ia rancang telah gagal.


Brian merasa hanya perlu meningkatkan kewaspadaan nya terhadap Karla dalam diam dan senyap. Ia juga ingin menyelidiki bagaimana bisa wanita itu masuk dalam keluarga Ayah mertuanya dan bahkan di anggap sebagai anak.


Entah mengapa Brian merasa ada yang tak beres dari semua ini.

__ADS_1


__ADS_2