
"Sekretaris Billy?" gumam Mayang setengah tak percaya. Rupanya pria itu yang menyergapnya tanpa bisa dilawan. Ia menatap ke arah belakang dengan ekspresi panik, sementara Billy justru terlihat santai sambil menatap ke luar jendela. Pria itu memang selalu dalam pembawaan tenang.
Mobil sudah melaju dengan kencang, rasanya tak mungkin jika kedua orang itu bisa mengikuti mereka.
Mayang kembali menatap Billy dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya selain pasrah menerima takdir.
Ini sih namanya keluar dari kandang singa masuk ke mulut buaya, batin Mayang kesal. Ia kemudian mendengkus sambil membuang pandangan.
Bagaimana dia tahu aku disini? Bagaimana pula dia bisa secepat itu sampai? Bukankah dia ada di kantor bersama tuan muda? Mungkinkah dia mengawasiku setiap waktu? Sial. Bisa-bisanya aku meremehkan mereka. Lalu dimana juga tuan muda?
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Pertanyaan Billy sukses memecah keheningan dalam mobil.
"Sekretaris Billy," panggil Mayang dengan nada lirih usai menoleh. "Maafkan saya. Saya tidak bermaksud kabur dari rumah Tuan Brian." Mayang beringsut dan memutar duduknya tepat menghadap ke Billy.
"Saya tidak bermaksud untuk kabur, sungguh ...."
"Jelaskan nanti saja pada tuan muda, itu pun kalau beliau masih mau mendengarkan."
Tuh kan, tuan muda pasti bakal marah besar. Entah apa yang merasukiku tadi hingga lupa berfikir panjang sebelum bertindak. Apa yang harus kukatakan nanti sebagai pembelaan? Mungkinkah dia akan memaafkan atau justru benar-benar membuangku ke kandang singa.
Dua mobil sudah memasuki pintu gerbang, dan kemudian berhenti di pelataran. Billy segera turun untuk membukakan pintu Mayang, sedangkan gadis itu justru ogah-ogahan turun dari sana.
"Cepat masuk," titah Billy sambil mengedikkan dagunya ke arah pintu.
"Takut ...." Mayang menggelengkan kepalanya sambil menggigit bibir bawah.
"Ini adalah ganjaran karena kau telah menyalahi aturan. Cepat pertanggungjawabkan kesalahanmu di hadapan tuan."
Dengan menumpulkan sisa keberanian, Mayang mulai melangkah masuk di ikuti Billy dan beberapa pengawal. Ia hanya bisa pasrah saat mereka menggiringnya menuju ruang kerja.
Di sana, tampak Brian sedang duduk bersandar pada sofa dengan kedua kaki yang ia naikkan di atas meja. Matanya terpejam rapat, sedangkan jemari tangan kanannya menyangga pelipisnya.
"Saya sudah membawa Mayang kembali, Tuan Muda," Kata Billy dengan hati-hati.
Seketika Brian membuka mata dan mengubah posisi duduknya. Matanya langsung bersirobok dengan Mayang yang tampak kacau.
Sadar jika telah melakukan kesalahan, tanpa menunggu aba-aba lagi Mayang segera bersimpuh di depan Brian guna memohon pengampunan.
__ADS_1
"Tuan, ampuni saya, maafkan saya .... Saya tidak berniat untuk kabur. Sungguh." Mayang berucap penuh kesungguhan. Wajahnya juga terlihat sedih tanpa rekayasa.
"Benarkah?" tanya Brian sengit. Ia lantas menurunkan kakinya dari meja dan mencondongkan tubuhnya ke arah Mayang. "Lalu tadi itu kau sebut apa, heum? Kau sebut apa!" Bentak Brian begitu keras hingga membuat Mayang terlonjak.
"Maaf kan saya yang bodoh ini, Tuan. Saya tadi mendengar kabar dari adik saya kalau ibu saya sedang di rawat di rumah sakit. Saya ingin menemui ibu saya tuan. Sungguh!"
"Kau pikir aku bodoh! Kau gunakan alasan konyol itu untuk mengelabuhiku!" Brian benar-benar tak mau tau.
"Saya tidak bohong tuan, saya tidak bohong!"
"Diam!" Brian menggebrak meja dengan keras. Mayang berjingkat dan terlihat kian ketakutan. Bagi Brian, pengkhianat tetaplah pengkhianat. Tak ada ampun bagi orang yang berkhianat padanya. "Kau benar-benar manusia yang tidak tahu diuntung. Apa kau tidak sadar juga jika selama ini aku sudah bersikap baik terhadapmu!"
"Maafkan saya tuan, maafkan saya." Air mata Mayang mulai menetes meski tidak Mayang inginkan.
"Apa kau ingin tahu seperti bagaimana aku yang sebenarnya?" Meraih dagu Mayang agar lebih mendekat, Brian lantas melanjutkan kata. "Kau ingin tahu betapa jahatnya aku, hah!"
Mayang hanya bisa menggeleng lemah ketika Brian melepaskan cengkeramannya. Gadis itu terisak meratapi nasibnya. Menyesali pun percuma, perbuatan yang dia lakukan tadi telah membuat harimau ini marah.
"Bill"
"Ya tuan."
Kata-kata Brian bagai sebilah pedang yang menancap di jantung Mayang. Sakit tak berdarah. Tak ada yang lebih mengerikan dari apa pun selain menjadi mangsa buaya danau.
"Tuan, jangan bunuh saya, Tuan. Saya khilaf. Saya gelap mata karena terlalu mencintai orang tua saya. Mohon ampuni saya!" Mayang tersedu sambil bersimpuh dan memeluk kaki Brian. Namun, percuma. Titah pria itu adalah keputusan telak.
Brian mengibaskan tangan Mayang seolah memberi isyarat kalau dirinya tak ingin di sentuh.
''Tuan ...." Mayang tak meneruskan kata-katanya. Ekspresi penuh kemarahan Brian sudah sangat menunjukkan jika ia tak lagi memiliki harapan.
"Bill!"bentak Brian, seolah-olah mengingatkan Billy jika kata-katanya itu tidak main-main.
"Baik. Segera saya siapkan segala sesuatunya."
"Tuan tolong hentikan saya! Tarik ucapan Anda, tuan. Saya tak mau mati dengan cara mengenaskan.Tatap mata saya tuan, lihat air mata saya!"
Brian sama sekali tak menatap wajah Mayang. Ia malah memilih untuk berpindah duduk di kursi kerjanya dan meneruskan pekerjaan.
__ADS_1
Malam itu juga mereka bertolak dengan menaiki helikopter yang disiapkan Billy di atas rumah Brian. Semua berjalan begitu cepat, hingga kini Mayang sudah terbang dengan helikopter yang entah akan membawanya kemana.
Kini Mayang hanya bisa diam menantikan detik-detik terakhirnya. Memang dari tampilan luar ia tampak lebih tenang saat sesekali Billy mengamatinya melalui pandangan.
Sesekali Mayang masih terlihat menyeka sisa air mata yang sedari tadi tak mampu ia bendung.
Helikopter itu kini sudah mendarat, dan mesin pun dimatikan. Billy membantu Mayang untuk turun dari sana.
Dari tempat ia berdiri, tatapan Mayang tertuju pada rumah kayu namun dengan desain yang modern. Tidak terlihat besar tapi juga tak terlalu kecil. Rumah itu tampak seperti villa, sangat asri dan berada di daratan yang dikelilingi oleh danau. Ya, semacam pulau kecil.
Apakah itu villa yang di maksud tuan muda tadi? Lalu dimana kandang buayanya? Apakah mereka menghuni danau ini?
Bahkan perkataan Brian tentang buaya tadi masih saja mengganggu pikirannya. Kandang buaya yang bahkan tak pernah ada.
"Mari nona." Billy meminta Mayang untuk mengikutinya. Mereka berjalan mendekat ke villa itu. Dan ketika pintu terbuka, tampak beberapa pelayan dan penjaga berdiri menyambut mereka.
Para pelayan mengantarkan Mayang ke kamarnya dan mempersilahkan gadis itu untuk beristirahat. Kini hanya tinggal Mayang seorang diri di kamar berukuran sedang itu.
Bukan kah mereka membawaku kesini untuk di hukum, lalu kenapa meraka menyuruhku beristirahat? Apakah orang yang akan dihukum itu perlu diistirahatkan dulu.
Mayang berdiri di depan cermin. Ia melihat bayangan wajahnya yang pucat pasi. Penampilannya tampak kacau dan sembab sebab terlalu banyak.
Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia sangat lelah dan ingin segera tidur. Kejadian hari ini benar-benar menguras air mata dan energinya. Tak butuh waktu lama hingga akhir nya ia benar-benar terlelap.
***********
Di rumah besar.
Setelah kepergian Mayang beserta rombongan, Brian kini hanya sendiri di ruang kerjanya. Rasa sesak di dadanya masih terasa. Siapa yang sangka jika lelaki yang tampak bringas dan kuat itu ternyata memiliki hati yang rapuh. Ia merasa dirinya sangat jahat.
Di depan gadis tadi ia hanya berpura-pura meneruskan pekerjaannya. Dan itu hanya ia jadikan alasan agar gadis tadi tak berharap banyak padanya. Sekuat hati ia menghindari adu pandang, dan itu dia lakukan entah demi apa.
Untuk melampiaskan semua kegundahan yang berkecamuk di dada, ia memukuli samsak yang tergantung di ruang gymnya dengan membabi-buta. Ini adalah hal yang selama bertahun-tahun ini ia sebagai pelampiasan jika sedang tak ada lawan yang seimbang.
Meski sekuat tenaga berusaha melampiaskan, tetapi Brian justru dibuat kesal lantaran samsak itu tak melakukan perlawanan. Masih terasa nyeri di ulu hati. Bukan karena mengidap sakit magh, melainkan beribu-ribu rasa bersalah.
"Kenapa! Kenapa ini terjadi padaku, Tuhan ... kenapa! Aku sudah berusaha mati-matian melupakanmu!Tapi kenapa wajahmu muncul lagi di hadapanku! Menggangguku! Mengusik ketenanganku! Dan setelah semua yang kau lakukan padaku, begitu mudahnya kau ingin pergi meninggalkanku? Aku tidak akan biarkan ini terjadi. Tidak akan!"
__ADS_1
Brian terduduk lemas dilantai ruangan gym yang dingin. Ruangan yang terletak di salah satu sudut di rumahnya. Kepalanya tersandar di dinding tembok yang kokoh. Keringat bercucuran membasahi kulit putih bersihnya. Matanya menatap kosong ke arah depan. Walau sekuat tenaga ia berusaha mengalihkan, tapi bayangan wajah gadis itu tetap saja menari di ingatannya.
Bersambung