Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Mempertahankan


__ADS_3

Di sebuah ruangan berukuran kecil dengan suhu lembab dan pengap, seorang pria tengah terpekur di atas sajadah. Suasana berisik di sekelilingnya seolah-olah tak menjadi pengganggu pria itu berinteraksi dengan Sang Maha Pencipta. Ia bahkan terlihat menikmati aktivitas yang belum lama ini ia tekuni.


Suara derap langkah kaki berat dari arah ujung lorong terdengar mendekat. Meski mendengar, tapi pria itu dengan penutup kepala berwarna putih itu hanya diam dan tenggelam dalam kenyamanan aktivitasnya. Sampai ketika pria berseragam dinas yang baru tiba itu menyerukan namanya selagi membuka gembok dinding berjeruji besi itu.


"Alex! Ada seseorang ingin menemuimu."


Tangan Alex yang saat itu sedang lihat menggeser satu per satu biji tasbih langsung menoleh pada sang petugas tanpa mengentikan kegiatan.


"Siapa?" Kening Pria itu berkerut heran selagi bertanya. Ia bahkan tak bisa menebak siapa-siapa. Seingatnya polisi telah menangkap seluruh anak buah serta siapapun yang terkait dengan bisnis haramnya.


"Temui saja. Mereka sedang menunggumu di ruang besuk." Pria bertubuh gempal dengan seragam coklat melekat di badan membuka terali besi yang kokoh itu.


Sembari memikirkan siapa yang datang, Alex bergerak santai melipat sajadah sebelum kemudian menyimpannya dengan rapi beserta penutup kepalanya pula.


Pria yang mengenakan seragam tahanan itu mengikuti arahan sang petugas yang membawanya menuju ruang besuk.


Tubuh pria berperawakan tinggi itu seketika menegang dan mematung di ambang pintu. Ekspresi keterkejutan terpampang jelas di wajah pualam yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus di bagian dagu. Ia masih terpaku menatap tiga sosok yang sedang duduk di kursi tunggu dengan raut tak percaya.


Tiga orang--yang terdiri dari dua pria dan satu wanita--yang sudah sejak tadi sudah menanti seketika langsung berdiri melihat kedatangan Alex. Mereka kompak menunjukkan keramahan saat memberi penyambutan, bertolak belakang dengan apa yang saat ini tengah Alex pikirkan diam-diam.


Sungguh-sungguh mengejutkan. Alex bahkan berpikir mereka akan melampiaskan kemurkaan, tapi nyatanya ketiganya justru menunjukkan sebuah senyuman.


"Silahkan." Petugas menyentuh lengan Alex untuk menyadarkannya yang seolah membeku. Alex langsung menoleh dan menatap pria di belakangnya itu dengan wajah mengisyaratkan tanda tanya, dan polisi itu menganggukkan kepala seolah-olah mengatakan bahwa yang dipikirkan Alex itu benar adanya.


Alex pun mau tak mau bergerak mendekat dan berdiri di hadapan ketiganya dengan sikap berani. Meski gurat sesal terpampang nyata di wajahnya, tapi pria itu berusaha menegakkan wajah memberanikan diri menatap ketiganya. Bukan untuk menantang. Namun hanya sekedar menyapa sekaligus menanti reaksi ketiganya nanti bagaimana.

__ADS_1


"Brian," Pandangan Alex berhenti tepat pada Brian yang berdiri di tengah-tengah. Suaranya terdengar bergetar saat menyebutkan nama itu. Tak bisa menahan diri lagi, tubuh Alex langsung merosot dengan posisi bertekuk lutut dan menunduk. Tangisnya langsung pecah saat kata maaf yang mewakili penyesalan keluar dari lisan.


"Sudah, Alex. Berhenti memohon seperti itu, kataku!" Brian menaikkan intonasi suaranya untuk memperingatkan. Ia kemudian memegangi bahu Alex dan membantunya berdiri.


***


Bulir bening tak henti-hentinya menetes dari mata sedih Milly. Meski ia berusaha keras menahan serta berkali-kali mengusapnya dengan kasar, tapi air mata itu terus saja mengalir deras.


"Diam, dong .... Yang luka aku kenapa yang nangis kamu?" Billy yang membiarkan tangannya diobati Milly kembali berucap untuk kesekian kalinya. Meski telah mengatakan berulang-ulang hanya untuk meyakinkan kalau dirinya baik-baik saja, tapi tangis sang istri masih belum juga mau reda.


"Aaa!" jerit Milly saat ia meneteskan obat pada luka di tangan Billy sampai-sampai membuat pria itu membelalak. Dengan wajah panik ia langsung menatap Billy. "Pasti sakit, kan? Pasti perih, kan!" Billy yang terluka tapi kenapa dia yang kesakitan? Benar-benar aneh.


Melihat Billy hanya berdecak heran, Milly kembali melanjutkan pengobatannya. Usai membersihkan luka, lantas membalut tangan suaminya dengan perban.


"Apa kau baik-baik saja?"


Milly yang masih tak percaya dengan apa yang dia lihat langsung terkesiap saat Billy menanyakan keadaannya.


"A' a-aku baik-baik saja."


Billy tampak menghela napas lega usai memastikan keadaan istrinya. Mengangguk samar, ia pun berkata, "Bagus."


Keduanya saling menatap dalam diam untuk beberapa saat. Namun sorot mata keduanya seolah-olah tengah berbicara. Milly kemudian tertunduk malu-malu. Rasanya masih belum percaya pria dingin di depannya ini melindunginya hingga sedemikian rupa.


Namun pada saat itu ekor mata Milly menangkap ada pergerakan dari sisi kanan. Ia sempat membulatkan mata penuh keterkejutan melihat Milea sudah mengangkat guci dengan tatapan geram tertuju terhadapnya.

__ADS_1


Sontak saja jiwa ketakutan Milly meronta-ronta dan meneriakkan alarm penuh waspada. Tak bisa lagi berlari menghindar, gadis itu seketika menutup mata seraya menempatkan tangan menutup wajah.


Prank!


Suara benda pecah jelas sekali menggema di telinga Milly. Ia yakin guci itu yang pecah. Namun ajaibnya, ia sana sekali tak merasakan kesakitan.


Penasaran, Milly pun segera membuka mata dan langsung terkejut melihat pemandangan di depannya.


Tanpa ia sangka, rupanya Billy menggunakan lengannya untuk menghalau guci itu agar tak mengenai dirinya. Namun nahas, guci itu justru pecah dan melukai lengan Billy hingga kulitnya tersayat.


Milly yang terbelalak sontak menutup mulutnya yang ternganga. Ia panik melihat noda pekat berwarna merah menetes dari lengan suaminya.


Di sebelah sana, tampak Milea menangkubkan kedua tangan di kepala sambil menarik langkahnya mundur perlahan. Ia tak berbeda dengan Milly yang panik. Milea bahkan meremas kepalanya sambil menggeleng frustasi. Ia salah sasaran. Niatnya menyerang Milly tapi Billy bergerak cepat untuk melindungi. Dan kini, pria itu bahkan terluka oleh karena tindakannya.


Melihat itu sisi bar-bar Milly pun keluar. Tanpa pikir panjang ia mendekati Milea, mendorong gadis itu lalu menghadiahi tamparan keras di pipinya berulang-ulang.


"Siapa kau berani menyakiti suamiku! Apa salahnya sampai kau berani melukainya!" Milly menindih tubuh Milea yang terkapar di lantai sambil terus mengajarnya dengan geram. Bahkan dengan ganas tangannya dengan kuat menjambak rambut Milea, membuat gadis itu bahkan sampai tak bisa berkutik untuk melawan.


"Sekali lagi kulihat kau menggodanya, maka aku tak segan-segan membunuhmu!" Ancam Milly kemudian.


Meringis sambil memegangi tangan Milly yang masih menjambaknya, Milea pun berkata, "Lepaskan aku! Apa kau tidak tahu siapa aku!"


"Yang kutahu, kau hanyalah wanita penggoda suami orang! Kau seperti kuman yang harus dimusnahkan!" Milly menjawab dengan lantang tanpa sedikitpun rasa takut. Ia bahkan tak peduli dengan kasta yang dimiliki Milea. Melihat Billy terluka, entah mengapa ia benar-benar murka.


Billy yang semula ingin memisahkan tiba-tiba mengurungkan niatnya. Ia bahkan melarang para bodyguard yang masuk kedalam berniat untuk melerai. Entah mengapa, melihat Milly yang mengerahkan tenaga untuk melawan Milea membuat hatinya berdesir senang. Senyumnya pun terkembang melihat begitu gahar dan berwibawanya sang istri saat berusaha mempertahankan miliknya.

__ADS_1


__ADS_2