
Alarm sebuah ponsel terus berdering sejak satu jam yang lalu, namun gadis yang masih meringkuk di bawah selimut itu tampak betah bergulung dalam kehangatan selimut tipisnya.
Hanya jemarinya yang sesekali menjulur keluar untuk menekan tombol mematikan saat alarm ponselnya kembali berdering. Lantas kembali terlelap saat benda pipih kotak itu kembali senyap.
"Abang Madun .... (Apa Sayang). Abang Madun .... (Iya Sayang). Katanya Abang punya pacar, di kota ... bagaimana nasip ku ini hooo .... Bagaimana nasip ku ini ...." Suara Bang Doyok dan Sheilawati lagi-lagi bersahutan nyanyi di ponsel milik Milly. Membuat gadis di bawah selimut itu menggeram kesal lalu menyingkap selimut motif bunga-bunga yang dipakainya dan kemudian melemparnya ke sembarang arah.
"Ya ampun ini hp nyanyi mulu dari pagi!" Gerutu Milly seraya bangun dan meraih ponselnya dengan mata yang setengah terbuka. "Gangguin orang lagi tidur aja. Minta dibanting, biar kamu diam?!" Omelnya pada benda pipih di tangannya lalu membanting benda yang masih bernyanyi itu tepat di atas kasur.
Dengan mata yang masih lengket, diliriknya ponsel yang masih setia melantunkan lagu itu. "Hadeeeh ... masih nyanyi juga!" Gerutunya kesal sambil mengusap kasar wajah ngantuknya. Lalu dengan malas tangannya bergerak meraih ponsel yang berada tak jauh dari tempatnya duduk. "Bener-bener minta di banting ya!" Sudah mengangkat tangannya hendak membanting, tiba-tiba ia pun mengurungkan niatnya.
Di liriknya tangan yang masih meremas ponsel yang posisinya sudah lebih tinggi dari kepalanya. Rupanya nyawa yang sudah terkumpul setelah bangun tidur membuat kesadarannya telah kembali seutuhnya.
"Astaghfirullah, ini kan ponsel aku! Ngapain aku banting!" Milly menurunkan tangannya dan mendekap ponsel itu di dadanya. "Untung kamu nggak pa-pa, coba kalau sampai kamu rusak! Mesti ngiris berapa kwintal bengkoang lagi buat nebus yang kayak kamu di Babang counter." Tuturnya sambil tersenyum pada ponsel pemberian orang tuanya itu.
Menaruh ponsel itu dengan hati-hati pada meja kecil di kamarnya, Milly lantas menyisir rambut panjangnya yang yang berantakan hanya dengan jemarinya. Gadis dengan piyama bergambar pisang yang melekat di tubuhnya itu celingukan saat tak menemukan ikat rambutnya.
"Ya ampun itu ikat rambut main kemana sih?! Bandel banget, sudah dibilangi suruh diam bentar di sini malah kabur entah kemana." Gerutunya sembari melepaskan cengkeraman tangan di rambutnya lalu berkacak pinggang.
Sesaat kemudian ia pun tersenyum saat teringat sesuatu. Gadis yang masih menggerai rambutnya itu lantas berlari kecil ke arah dapur dan menemukan sesuatu yang tergeletak di atas meja.
Menghela napas lega, gadis mungil itu pun berucap, "Untung aku masih memiliki mu," ucapnya pada tali karet berwarna merah muda bekas mengikat plastik cendol yang ia beli di pinggir jalan kemarin. "Ih si Babang cendol mah so sweet banget, masa kasih aku karet gelang yang warnanya pink." gumamnya bangga seraya mengikat rambut nya dengan karet itu.
Gadis yang sudah mengikat rambutnya sembarangan itu pun lantas melangkah menuju kamar mandi guna membersihkan diri dan menjalani rutinitas pagi.
Entah berapa lama dirinya berada di dalam sana, sebab selain mandi gadis penyuka lagu dangdut itu juga sekalian menggelar konser tunggal untuk mengusir kejenuhannya. Hingga gadis itu keluar dengan handuk yang melilit tubuh bagian tengahnya.
Di tengah-tengah ia mempercantik diri, gadis itu membelalak saat cacing-cacing diperutnya juga ikut bersenandung dan bernyanyi.
"Aaaa kenapa tiba-tiba aku rindu rice cooker ku. Sudah sejak kemarin aku tidak
menyapanya." Gadis yang sudah mengikat rambutnya ekor kuda itu berhambur menuju dapur.
"Hai rice cooker ku Sayang, apa kabar dirimu? Kau rindu padaku tidak?" Milly membuka tutup rice cooker nya. "Astaga, nasi-nasi mu berteriak-teriak pada ku. Ciduk aku ... ciduk aku ...! Hai nasi, di mana teman-teman mu? Rendang daging, opor ayam, sambal goreng ati dan sebangsanya itu? Apa kalian sedang tak akur sampai-sampai tidak bersama-sama di sini? Kalau kau hanya sendirian, mana mungkin aku tega menyantapmu tanpa teman," gumamnya sambil duduk bertopang dagu di atas meja makan kosong itu.
"Astaga," Milly menjitak kepalanya sendiri. "Kenapa aku seperti orang gila begini. Bicara pada nasi dan benda mati." Milly terkekeh kecil seolah sedang menertawakan dirinya sendiri. "Menyedihkan sekali. Betapa hidupku ini hampa dan sepi." keluhnya seraya mengusap airmata yang menetes di sela tawanya.
__ADS_1
Siapa yang sangka, gadis yang selalu menunjukkan sifat ceria di hadapan orang lain itu ternyata menyimpan kegetiran di hidupnya. Hidup sebatang kara di kota besar bukanlah suatu hal yang mudah.
Kehilangan harta benda serta pegangan di awal kedatangannya di ibu kota benar-benar membuatnya merasa terpuruk kala itu. Merasa putus asa hingga sempat membuatnya merasa lebih baik jika kehilangan nyawa.
Namun di tengah dirinya dalam ketidak berdayaan, sesosok lelaki yang seolah menjelma seperti dewa datang di saat yang tepat menolong dan menyadarkannya. Ia bahkan dengan ikhlas memberikan sejumlah uang untuk Milly gunakan sebagai modal dan menyambung hidup di kota besar.
Mamun Milly tak ingin menjadi orang yang tak tahu diri pada seseorang yang telah menolongnya, hingga ia berjanji untuk mengembalikan uang itu saat tabungannya sudah mencukupi nanti.
Dan kini entah dengan dasar apa Tuhan kembali mempertemukannya dengan sang penolong di saat yang tidak ia duga. Meskipun pertemuan kali ini selalu berakhir pada ketegangan, namun Milly tak pernah melupakan kebaikan lelaki yang selalu ia panggil bapak itu.
Jatuh bangun dalam berusaha telah menjadi sahabat terbaiknya memulai hidup di ibu kota. Dicemooh orang, bahkan di hina saat mencari pekerjaan. Tidak ada teman, sekedar untuk mencurahkan perasaan. Sebab dia berada di lingkungan yang tidak tepat dan tidak bersahabat dengan dirinya yang tidak memiliki martabat.
Hingga ia menemukan sebuah tempat yang mau menampungnya tanpa melihat latar belakangnya. Lingkungan yang menerimanya dengan tangan terbuka hingga ia memiliki banyak teman yang sudah seperti saudara. Bahkan bisa berdagang kecil-kecilan demi untuk menyambung hidup dan makan.
Namun kepergiannya yang tanpa pamit membuatnya merasa tidak tenang walau kini telah merasa nyaman. Kerinduan akan keluarga serta kampung halaman membuat hidupnya merasa tidak tentram.
Ia tahu sang ayah pasti tidak tinggal diam dan tetap mencari keberadaannya. Namun beberapa bulan dalam persembunyian membuatnya merasa tak tega dan memutuskan menyerah dan menghubungi orang tuanya lebih dulu.
Air matanya tumpah saat pertama mendengar suara sang ibu dan ayah. Dia adalah anak gadis kesayangan mereka. Tentu saja kepergiannya menyisakan luka yang dalam untuk orang tua dan keluarga. Terlebih anak gadis mereka pergi tanpa membawa pegangan.
Dan karena desakan sang ayah, pada akhirnya membuat Milly luluh dan memberikan alamat lengkap tempat tinggalnya yang sekarang.
Sambil tersenyum getir, Milly mengusap lembut pipinya yang basah. Entah mengapa memikirkan orang tuanya membuat jiwa melankolisnya meronta-ronta.
Menatap nanar pada rice cooker yang hanya berisi nasi tanpa teman membuatnya seketika kehilangan selera makan. Ia lantas bangkit dari duduknya, dan berlalu seraya meraih satu-satunya pisang yang berada di meja makan.
"Alhamdulillah ada pisang." Ucapnya bersyukur seraya mengupas kulit pisang. Memasukkan kedalam mulut dan mengunyahnya penuh kenikmatan, ia pun berkata, " Pisang jatah burung nya pak Somad ternyata enak. Haha pisang dapat minta memang nikmatnya tiada tara." Ucapnya lagi sambil mengunyah gigitan terakhir dan melempar kulitnya ke sembarang arah. Dan siapa yang sangka bahwa kulit pisang itu akan merubah jalan hidupnya.
Berjalan keluar menuju teras kontrakannya, Milly melihat kesekeliling yang tampak lengang. Tak ada satu pun batang hidung teman-temannya yang muncul keluar dari sarangnya.
Diambilnya peluit yang tersimpan di etalase kosong tempatnya menyimpan buah. Lantas di tiupnya dengan kencang hingga beberapa kali dan menimbulkan suara nyaring dan melengking.
Rupanya usahanya pun berhasil, sebab teman-temannya tampak muncul dengan segala rupa saat mendengar suara peluit tanda bahaya.
"Ngapain sih Mil?! Pagi-pagi udah berisik aja!" Tanya seorang teman yang rabutnya masih basah dan hanya melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya itu dengan penasaran.
__ADS_1
"Ghibah yok! Sepi nih!" Ajak Milly setengah berteriak.
"Ya ampun Mill, ini masih pagi! Gue kuliah dulu lah! Lo sendiri kagak jualan?!"
"Kaga, lagi malas!" Jawab gadis yang sudah rapi itu sambil nyengir. "Jadi pada kuliah semua hari ini?" Tanyanya kemudian ditujukan pada yang lain.
"Iya Sayang, ghibahnya entar sorean aja ya, ini masih kepagian." Jawab gadis dengan balutan celana jeans dan atasan kaus berlengan panjang itu.
"Yah, nasip gue jadi pengangguran." desahnya seraya melangkah masuk ke dalam rumah.
Dan di dalam rumah, ternyata ponselnya yang ia letakkan di meja berdering. "Iya, iya sebentar!" Teriaknya sambil berlari-lari kecil kearah kamar.
"Hallo," sapa Milly saat sudah menaruh ponsel di telinganya.
"Milly, ini Ayah." jawab lelaki bersuara berat di seberang telepon.
Membelalakkan bola matanya sempurna, gadis yang mengenakan celana jeans dan atasan kemeja putih itu tergagap. "A-Ayah,--" Milly panik dan menggigit bibir bagian bawahnya.
"Kemana saja kau, sudah dua puluh kali lebih Ayah menelpon mu tapi tak kau jawab." Protes sang Ayah di seberang sana.
Gadis yang wajahnya tiba-tiba pasi itu pun melihat layar ponselnya untuk memastikan. Lalu kembali menempelkan ponselnya di telinga. "Maaf Ayah, tadi Milly meninggalkan ponsel di kamar."
"Baiklah, tunggu Ayah ya Nak, sebentar lagi Ayah sampai di kontrakan mu."
"A-apa?!" Lagi-lagi Milly didera kepanikan. "Ayah,--" Tut-tut ... sambungan terputus. "Astaga, apa-apaan ini? Kenapa Ayah datang tanpa pemberitahuan sebelumnya?!" gerutunya kesal. Sambil meremas ponselnya, Milly mondar-mandir kebingungan.
Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Aku belum ingin pulang, aku masih ingin bebas. Aku tidak ingin menikah dengan lelaki yang tidak aku cinta. Milly membatin lara.
Suara decit rem mobil membuat Milly tersentak dan semakin panik. "Kenapa secepat ini Ayah sampai," keluhnya lemah seraya mengusap bulir bening yang tak sengaja mengalir.
Gadis itu lantas menyeret langkahnya malas menuju keluar, berniat untuk menyambut kedatangan sang ayah. Namun ia membelalak kaget saat bukanlah sang ayah yang justru datang, melainkan lelaki tegap dengan earphon di telinga serta kaca mata hitam yang bertengger di atas hidung bangirnya.
Memutar tumit seketika, Milly berniat lari dan sembunyi. Namun tanpa ia sadari, kakinya menginjak kulit pisang yang ia buang sembarangan tadi hingga membuatnya terpeleset dan terjatuh dengan posisi terduduk. Gadis itu memekik saat merasakan sakit di bagian pinggul dan bokongnya.
Bersambung
__ADS_1