
"Bisa diam gak lo!" Brian mencengkeram kerah jas yang di pakai temannya yang bernama Andrew itu dengan kuat sementara tangan nya yang terkepal sudah siap untuk memukul. Namun ia menahannya karena Andrew terlihat tak berkutik.
"Lo ngapain marah? Salah gue apa?!" Andrew tampak kebingungan dengan reaksi Brian yang menurutnya berlebihan.
Karla yang tampak terkejut segera melerai keduanya. "Brian lepasin Andrew!" Karla menarik tangan Brian dan memaksanya melepaskan cengkeraman nya.
Ia mendorong mundur tubuh Brian agar berhenti menyerang Andrew. "Tahan emosi mu Brian, Kalian itu berteman!"
"Lepasin gue!" Brian menarik paksa tangannya dari genggaman tangan Karla. Ia menatap jengah pada wanita bermuka dua itu.
"Bray lo masih dendam sama Alex?! Sadar dong Bray, istri lo sudah meninggal...!" Andrew mencoba menenangkan Brian yang terlihat tak terkendali.
Dan beberapa teman yang melihat kejadian itu segera mendekat untuk melerai meski mereka masih bingung dengan penyebab yang mengakibatkan Brian tiba - tiba meradang.
"Lo mau tau siapa yang sedang berdansa dengan Alex?!" Brian mengarahkan jari telunjuknya kearah Mayang dan Alex yang masih berdansa, sementara pandangannya menatap Andrew dengan sirot mata tajam. "Dia istri gue," Desis Brian dengan penuh penekanan.
Pernyataan Brian itu sontak membuat teman - temannya terkejut. Brian memang tak mengundang mereka saat pernikahannya. Sehingga mereka mengira Brian masih single.
"Dan gue nggak akan biarin orang lain menyentuh istri gue! Terlebih lagi dia adalah Alex!" Brian lantas melangkahkan kakinya lebar menuju ke arah Mayang dan Alex yang terlihat tengah asik berdansa.
Brian bahkan mengabaikan panggilan serta larangan teman - temannya untuk tidak membuat keributan disini. Tangan Brian yang sudah terkepal rapat seolah telah siap melayangkan nya ke wajah Alex yang selama ini telah ia benci.
Mungkin inilah saatnya bagi Brian untuk menuntaskan amarah yang telah terjeda selama beberapa tahun ini. Amarah yang selama ini tertahan di dada kini terasa semakin meluap - luap.
Darah yang menjalar di sekujur tubuh nya terasa kian memanas seolah - olah mendidih akibat api dendam yang kembali menyala dan kian membara.Laksana gunung berapi yang siap memuntahkan lahar panas nya yang telah lama bergolak di dasar gunung yang berapi - api.
Sejujurnya Brian tak ingin mengingat kembali masa lalu yang menyisakan kenangan buruk yang hingga kini masih membekas dihatinya. Namun karena Alex yang seolah dengan sengaja membangkitkan kembali kenangan buruk itu membuat Brian tak bisa tinggal diam begitu saja.
Brian menggerakkan tangan nya untuk meraih pergelangan tangan Mayang begitu dia sudah berada diantara dua orang yang tak menyadari kehadirannya itu.
Brian menarik kuat lengan Mayang namun dengan cengkeraman tangan nya yang lembut sehingga tak menyakiti sang istri dan membuat wanita itu terjatuh ke dalam pelukannya.
Kilatan kebencian nampak jelas terlihat saat mata elang itu tengah memindai mangsa yang sudah berada dekat di hadapannya.
Brian melepas pelukannya pada sang istri, meremas kedua sisi bahu Mayang dengan sedikit dorongan sebagai instruksi agar ia bergerak mundur dan menjauh.
Namun tatapan Brian sama sekali tak bergeser sedikitpun dari predator wanita yang tengah berdiri dihadapannya itu.
Tangan tang sempat melemah saat menyentuh sang istri itu pun kembali menegang dan terkepal rapat.
Tanpa menunggu aba - aba Brian lantas melayangkan pukulan keras itu tepat di pipi kiri Alex hingga lelaki itu terhuyung namun berhasil kembali menguasai diri dan berdiri tegak kembali.
Alex menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipi yang terasa nyeri dan memerah. Dan dari sudut bibirnya tampak noda merah pekat karena darah yang mengalir dari sana dan pasti menyisakan rasa perih karenanya.
Namun justru bukan ekspresi wajah kesakitan yang Alex tunjukan, ia malah menyeringai lebar penuh kebanggaan sebagai bentuk sikap menantang dengan gamblang terhadap Brian. Seolah dirinya sedang mengatakan bahwa itu belum lah apa - apa.
__ADS_1
Bagaikan daun kering yang telah tersiram penuh dengan bahan bakar, Brian yang mudah sekali tersulut emosi saat Alex berhasil memantik api dengan menantang penuh keangkuhan semakin membuatnya berhasrat untuk melahap pria itu dan menghancurkannya hancur sehancur hancurnya hingga tak tersisa lagi.
"Pembunuh kau!" teriak Brian sembari menghujamkan pukulannya berkali - kali hingga tersungkur. Brian yang sengaja memberi jeda atas serangan nya pada Alex berharap agar lelaki itu bangun dan mencoba memberi perlawanannya.
Namun saat Alex yang berusaha membalas pukulan nya, bisa begitu mudah nya di tangkis oleh Brian begitu saja.
"Kau sendirilah pembunuhnya! Dasar maling teriak maling!" Makian Alex pada Brian benar - benar membuat Brian semakin naik pitam dan membuatnya tak memiliki lagi belas kasihan.
Diarahkan nya kakinya ke atas dan tendangannya itu tepat mengenai uluhati dan telak membuat Alex tersungkur tak berdaya dengan rasa sakit yang tak terbantahkan.
Dan seolah belum terpuaskan saja amarahnya itu, Brian masih tetap memburu Alex yang bahkan tak mampu untuk bangkit dari posisinya berbaring apalagi untuk berdiri.
Brian membungkukkan tubuhnya kemudian melipat satu lututnya bertumpu di lantai dan meraih kerah jas yang Alex kenakan. Brian mengangkat tangannya hendak kembali memukul lelaki yang sudah tak berdaya itu.
"Stop!!!" Pekikan keras suara Mayang yang berteriak menahan melengking keras di telinga Brian sehingga lelaki itu menghentikan aksinya dan menggantung kepalan tangan yang sudah siap menghujamkan pukulan itu di udara.
Mayang berhambur kearah dua lelaki yang tengah bertarung itu dengan linangan air mata. Mayang mendorong tubuh Brian hingga terduduk di lantai lantas menatap bersimpuh di sisi Alex dengan tangis iba yang menyesakkan dada.
Sungguh pembelaan Mayang terhadap Alex yang ia tunjukkan secara gamblang benar - benar seperti menampar keras pipi Brian.
Membuat Brian merasakan malu yang teramat dan sakit hati yang begitu dalam karena sang istri lebih membela lekaki lain di banding dirinya.
Hal ini membuatnya menyadari bahwa hukum karma di dunia itu pasti berlaku. Ia telah merasakannya sendiri apa yang telah lebih dulu istrinya rasakan.
Di tatapnya dengan nanar sang istri yang tengah menyentuh pipi lelaki lain dengan rasa penuh iba. Sungguh Brian tak pernah merasakan hatinya seperih ini.
Mengangkatnya dengan paksa agar Mayang beranjak dari sana. Meraih blazer Mayang yang teronggok di lantai dan memakaikan nya pada punggung sang istri yang terbuka.
"Pulang sekarang!" Hardik Brian sembari menarik paksa lengan Mayang untuk melangkah meninggalkan tempat itu.
"Aku tidak mau! Lepaskan tangan ku." Brian tak menghiraukan penolakan Mayang terhadap dirinya. Ia tetap menyeret istrinya untuk keluar dari sana.
"Lepaskan aku ...," lirih Mayang memohon saat mereka telah berada di basement. "Kenapa kau sangat jahat sekarang, kau jahat Brian!" teriakan serta makian yang sengaja Mayang lontarkan berhasil membuat Brian menghentikan langkahnya.
Rasa sakit dihati semakin menjalar manakala ia mendengar sang istri kini telah berani memanggilnya dengan nama sendiri. Istrinya telah secara terang - terangan berlaku tak sopan terhadapnya.
Semua ini karena Alex sialan itu! Karena kelihaian nya ia berhasil memanipulasi keadaan seolah Brian lah orang yang jahat disini. Menipu mata istrinya dari hal yang sebenarnya telah terjadi.
Brian menyadari kelemahanhan nya karena begitu mudah sekali terpancing amarah tanpa memikirkan akibat yang terjadi di bekakang nya.
* * *
"Cepat turun." Perintah Brian sembari berdiri di sisi pintu mobil yang terbuka pada Mayang yang sepertinya masih enggan untuk beranjak turun dari mobilnya. "Cepat turun, jangan buat aku memaksa mu."
Karena Mayang sama sekali tak mempedulikan ucapan nya, akhirnya Brian meraih lengan Mayang dan menariknya memaksa untuk turun.
__ADS_1
Tanpa sepatah katapun Brian lagi - lagi menyeret lengan istrinya dan memaksanya masuk ke dalam rumah Hans. Menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar tempat tidur mereka.
Dengan sekali tarikan tangan Brian saja tubuh Mayang pun terlempar ke atas ranjang. Gadis itu beringsut mundur hingga tubuhnya menempel di sandaran ranjang saat tiba - tiba Brian melepas satu persatu kancing jas yang ia kenakan.
Melemparnya tepat di atas sofa begitu juga dengan dasinya. Menarik lengan kemejanya hingga di bawah siku dan kemudian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang membuat Mayang seketika terlonjak kaget.
"Kemari." Perintah Brian dengan nada suara tenang. Tangan nya mengisyaratkan agar Mayang mendekat di sampingnya.
"Tidak mau." Mayang enggan. Ia semakin menarik dirinya untuk menjauh.
"Jabgan menolak ku! Aku ini suamimu!" ucapnya dengan menekan kata suami dalam kalimatnya.
"Suami?!" Ucap Mayang dengan nada protes diiringi tawa getir dari mulut mungilnya yang seketika membuat Brian merasa terkejut tak menyangka.
"Sekarang baru ingat kalau kau itu suamiku? Kemarin - kemarin kemana saja?! Bahkan tadi saja kau masih lupa kalau aku itu istrimu! Apa kau amnesia atau hanya pura - pura lupa?!" Mayang meluapkan amarahnya yang selama ini tertahan.
"Kalau kau tidak mencintaiku lebih baik kau lepaskan aku dan jangan menggantung ku seperti itu!"
"Berhenti mengatakan hal itu padaku!" Brian tiba - tiba saja sudah naik ke atas ranjang dan mengurung Mayang disana. "Karna sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan mu." Desis nya dengan nada penuh ancaman.
"Kau sudah berubah. Kau bukan lagi suamiku yang dulu." Lirih Mayang sembari tertunduk. Isak tangisnya semakin mengeras terdengar memilukan. Membuat Brian semakin terenyuh karenanya.
"Maaf kan aku sayang," Brian meraih tubuh Mayang dan memeluknya sangat erat.
"Lepaskan!" Mayang memberontak berusaha melepaskan diri.
"Tidak akan." Brian semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan bibirnya di ceruk leher sang istri. Menghisap wangi nya aroma tubuh sang istri yang menenangkan nya.
"Siapa Alex?!" Tanya Mayang dengan rasa ingin tahu.
Seketika tubuh Brian menegang mendengar Mayang menyebut nama itu. Dan pelukannya pun terlepas.
"Jangan pernah sebut nama itu lagi dihadapan ku!" Teriaknya memperingatkan Mayang dengan wajah penuh amarah.
"Kenapa?! Kau membencinya?" Mayang tersenyum remeh. "Kau menghajarnya habis - habisan bukan karena untuk mempertahankan ku, tapi karena dendam kesumat mu kan!!" desak Mayang dengan mata menyiratkan kemarahan dan rasa sakit hati yang semakin tak mampu ia tahan.
Disaat suasana kamar yang semakin menegang akibat perdebatan yang tak berujung, suara ketukan pun terdengar dari arah luar pintu.
"Siapa sih mengganggu saja!" Gerutu Brian sembari melangkah menuju pintu dan membukanya.
"Maaf Tuan," ucap seorang pelayan yang tengah menunggu di depan pintu saat pintu sudah terbuka. " Tuan besar sudah sadar dan sekarang ingin bertemu dengan anda."
"Aku akan segera turun kebawah." Ucap Brian mengisyaratkan agar pelayan itu turun lebih dulu.
Bersambung
__ADS_1
Hai readers tercinta, kunjungi juga karya author yang lain yang berjudul Amara ya,,
jangan lupa tinggalkan jejak kalian like komentar favorit supaya dapat notifikasi up nya. voting sebanyak - banyaknya untuk dukung author dan kasih rating bintang lima juga. Terimakasih 🙏🙏🙏