Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Tukang kredit


__ADS_3

Sosok lelaki tampan berpostur tinggi dengan sweter dan celana jeans yang melekat di tubuh itu melangkah lebar mendekati tiga gadis yang sedang bersitegang. Tangan lelaki berkacamata minus itu mencengkeram tangan Lala yang masih kuat menempel di bahu Milly dan memaksanya untuk melepaskan.


"Lala lepasin Milly!" Pinta lelaki itu setengah menyentak.


"Ish, ini apa sih!" Lala melepaskan cengkeramannya, lantas menatap sengit pada Cowok yang datang-datang langsung pasang badan untuk melindungi Milly. "Cowok ikut-ikut urusan cewek aja! Minggir gih sana! Gaul sama sesama cowok sana! Ini malah nimbrung sama cewek-cewek lagi ghibah."


"Indra tau kalian nggak lagi ghibah, kamu lagi nindas Milly kan?!" Desak Lelaki bernama Indra itu penuh curiga. "Udah mendingan Lala pergi sana! Entar aku aduin sama Rektor loh, mau?!" Ancamnya dengan mata yang menyipit.


"Mentang-mentang Rektor nya Oom elo! Dasar tukang ngadu." Gerutu Lala, lantas menginjak kaki Indra sekuat tenaga untuk meluapkan kekesalannya. Menatap sengit terhadap Milly, tangannya pun bergerak meraih tangan temannya. "Ayo kita pergi! Di sini cuma buang waktu."


"Da-da ...!" Milly melambaikan tangannya pada punggung dua gadis itu. "Jangan kapok ya!" Imbuhnya dengan diiringi tawa ringan.


Indra yang berdiri di sampingnya menatap Milly dengan senyum penuh kekaguman. "Aku hebat kan?" Celetuknya membanggakan diri, membuat Milly seketika menoleh dan menatapnya risih.


"Ish," Milly memutar bola matanya malas. "Hebat apanya?! Modal ngancam aja di banggain." Ucapnya dengan nada meremehkan.


"Tapi aku kan berhasil ngusir mereka ...." Mengatupkan bibirnya, Indra menatap Milly dengan wajah kecewa. "Milly kenapa tiba-tiba berubah gitu sih? Biasanya Milly ramah setiap kali ngobrol sama Indra, tapi sekarang kok galak?"


"Milly lagi sebel sama Indra!" Merajuk, gadis mungil itu bersedekap dada sambil memalingkan wajahnya.


"Kok sebel, salah Indra apa?!" bertanya bingung, lelaki jangkung itu mengerutkan keningnya. Sambil sesekali membenahi kacamatanya, lelaki itu masih menunggu gadis di hadapannya untuk bicara.


Menoleh, Milly menatap Indra penuh curiga. "Indra punya niatan buruk ngasih dres ini ke Milly kan?! Ngaku!" Jari telunjuk gadis itu menuding ke arah wajah Indra.


"Niatan buruk apa sih, Milly? Indra nggak ngerti."


"Udah ah, Milly mau jualan lagi." memutar tubuhnya, tangan Milly bergerak meraih stang sepeda.


Indra dengan cekatan meraih pergelangan tangan gadis itu dan mencekalnya. "Indra belum selesai ngomong, jangan kabur gitu aja donk ...!"


"Indra, jualan aku masih banyak nih ya, jangan ganggu deh ,,,."


"Biar Indra yang borong." Putus lelaki itu cepat. Lalu ia melempar pandangan ke sekeliling. "Hey siapa yang mau rujak?! Aku yang traktir nih!" Teriaknya seketika membuat gadis di hadapannya itu membelalak tak percaya.


"Indra apa-apaan sih?!"


"Biarin. Biar Indra bisa ngobrol sama Milly." Bersikap acuh, Indra mengabaikan tatapan sebal gadis berambut lurus itu.


Ya-namanya juga gratisan. Siapa sih yang tidak suka. Begitu pula dengan para anak kampus yang tengah berebut mengambil rujakan cuma-cuma itu, hingga habis tak menyisakan satu mika pun di dalam box itu. Ya-walaupun sebenarnya mereka mampu untuk membelinya.


Mendengkus kesal, Milly mengerucut bibir mungilnya hingga beberapa senti maju kedepan. Ia mendudukkan pantatnya di kursi kayu yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


Sementara Indra, dengan senyum bangga, lelaki yang usianya lebih muda dari Milly itu pun segera melangkah menyusul sang gadis gan duduk di sisinya.


Dengan posisi menyerong, Indra menghadap pada Milly dan melempar senyum termanisnya. "Rujaknya sudah habis." Tuturnya senang, lalu tangannya bergerak mengambil dompet dari saku celananya dan mengambil lima lembar uang pecahan seratus ribuan dan memaksa memasukkannya ke dalam tas kecil milik Milly.


"Indra, apa sih!" Tangan Milly sudah bergerak hendak mengambil uang yang Indra selipkan, namun tangan lelaki itu dengan cepat menahannya.


"Biar aja Milly, segitu cukup untuk bayar rujakan tadi kan?"


"Segitu kebanyakan Indra ,,,!"


"Nggak pa-pa lebih, yang penting nggak kurang."


"Milly mau balikin sisanya." Gadis yang masih merengut itu memaksa, namun lagi-lagi berhasil di tahan oleh Indra.

__ADS_1


"Jangan Milly, Indra ikhlas kok ,,,."


Mendesah pelan, Milly pun lantas mengurungkan niatnya. "Ya udah deh kalau kamu maksa. Tapi Milly tetep mau balikin baju yang Indra kasih!"


"Loh kenapa? Padahal Indra baru aja mau muji, Milly makin cantik pakai baju ini." Puji lelaki itu sambil tersenyum dan memalingkan wajahnya. Berusaha menyembunyikan pipi meronanya.


"Milly nggak suka! Indra pasti sengaja bikin mata para lelaki jelalatan ngeliatin Milly kan?!" Lagi-lagi Milly menuduh sambil meniding Indra dengan telunjuknya.


"Jelalatan gimana maksudnya? Milly kan memang cantik, jadi bikin mata lelaki


nggak tahan pengen mandang Milly terus." Tutur Indra halus, berusaha meredakan amarah si gadis.


"Mereka ledekin Milly pas naik sepeda tadi. Baju ini nggak nyaman buat ngayuh sepeda, kalau ketiup angin ininya langsung kebuka ,,,," jelasnya sambil memegangi ujung bawah gaun selututnya. "Nih ambil balik bajunya! Milly nggak mau."


Indra menautkan alisnya bingung saat menatap tingkah gadis itu. "Maksud Milly mau dibalikin sekarang ...? Kan masih di,--" Indra menggantung ucapannya, sementara bola matanya melirik ngeri pada Milly.


"Astaga." Refleks, gadis itu menyilangkan kedua tangannya menutupi dada dengan wajah merah padam karena malu.


Aku ngomong apa si?! Batinnya kesal.


Indra menyunggingkan senyum penuh arti. "Pokoknya nggak boleh di balikin, itu kan sudah jadi milik Milly." Tutur lelaki itu pelan namun bernada penuh tuntutan.


Tak menjawab, Milly hanya terdiam sebal. Bersikeras menolak pun percuma. Toh gaun itu sudah dipakainya juga. Untuk sejenak keduanya sama-sama terdiam. Milly hanya menunduk sembari menatap kakinya yang sengaja ia goyang-goyang. Sementara Indra tampak tak bosan mengamati gadis menggemaskan dihadapannya itu.


"Ngapain Milly pakai untuk jualan?" Sebuah pertanyaan pada akhirnya terlontar dari bibir Indra.


"Kan Indra yang suruh!" Balas Milly cepat. Matanya mendelik sebal pada lelaki yang tengah menatapnya bingung itu. "Masa Indra lupa?"


"Kapan?"


"Kemarin!"


Nanti di pakai pas kita kencan, ya.


Sedangkan Milly hanya mengangguk sambil menikmati bakso beranak di mangkuknya.


Sedetik kemudian Indra pun tersenyum sambil saat pandangannya kembali terarah pada gadis yang tampak sebal itu. "Indra kan suruh pakai gaun ini pas kita kencan, bukannya untuk jualan .... Pasti Milly yang nggak fokus ya, soalnya kemarin Milly lagi asik makan." Tutur lelaki brondong itu dengan bibirnya yang menyunggingkan senyum menggoda.


Milly melebarkan pupilnya saat mengingat kejadian semalam.


Astaga, benar juga. Aku telalu fokus menikmati bakso beranak sampai tidak mendengarkan yang Indra katakan. Batin Milly.


"Oh begitu ya," Milly tersenyum malu. "Maaf, kemarin bakso nya terlalu enak. Milly sampai nggak fokus dengerin omongan Indra." Akunya sambil nyengir serta jari menggaruk kepanya yang tidak gatal.


"Milly lucu deh kalau lagi salah paham." Puji Indra gemas sambil mencolek pipi Milly.


"Apa sih Indra, jangan pegang-pegang deh!" Di usapnya pipi bekas colekan indra. "Udah ah, Milly mau pulang."


"Jangan dong, tungguin indra sebentar. Indra masih ada kelas."


"Nungguin Indra buat apa? Kayak Milly nggak ada kerjaan aja."


"Indra mau main ke kost-an Milly."


"Ish, nggak boleh! Anak cowok nggak boleh main, nanti kena omel ibu kost loh."

__ADS_1


"Di teras doank kok, nggak pa-pa, ya?" berusaha membujuk, Indra tersenyum sambil menaikkan alisnya.


"Ih, tetap nggak boleh! Kalau Milly bilang nggak boleh ya nggak boleh! Indra masih nggak mau ngerti juga sih?!" Sentak Milly karena kesal. "Udah ah, Milly mau pulang." Ucapnya seraya bangkit dari duduknya. Namun kakinya yang sudah hampir melangkah terpaksa tertahan karena Milly merasa seseorang menarik gaunnya.


Milly tahu siapa pelakunya. Memutar bola matanya malas, ia pun berucap tanpa menoleh. "Indra, kalau aku bilang nggak boleh ya nggak boleh. Nggak usah maksa. Buruan lepasin rok Milly! Jangan ditarik-tarik gitu ah, kan malu di lihat orang!"


Mengernyit bingung, lelaki yang masih duduk di tempatnya itu lantas tersenyum sambil berucap. "Siapa yang narik rok Milly, ujung rok Milly nyangkut di kursi, tau ,,,,"


Sontak saja hal itu membuat wajah Milly merona malu saat tahu ternyata ujung bajunya tersangkut pada sebuah paku yang sedikit menonjol. Sambil tertawa Indra membantu melepaskan ujung baju yang tersangkut itu.


"Ketawa aja terus." Dengkus Milly kesal. Tanpa berterima kasih, ia pun meninggalkan lelaki itu menuju sepedanya.


Namun belum sempat ia beranjak dari sana, sebuah mobil mewah yang tiba-tiba muncul berhasil menyita perhatiannya. "Mobil siapa itu ya? Kayak pernah lihat. Tapi di mana?" Tanyanya pada diri sendiri.


Milly masih diam di tempatnya sembari menunggu siapa penumpang yang keluar dari mobil yang berhenti tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri itu dengan wajah terlihat begitu penasaran.


Namun seketika ia pun mengerjap tak percaya saat melihat sosok yang turun dari mobil itu.


"Astaga. Ada angin apa hingga membuat lelaki itu terdampar kemari. Aku harus sembunyi." Gumamnya seraya memejamkan mata dan menutupi wajah dengan dua telapak tangannya.


Namun sedetik kemudian ia pun tersadar dan membuka matanya. "Eit dah, mana ada orang sembunyi kayak gini." Kebingungan, gadis itu mencari-cari tempat berlindung. Ia lantas berjongkok di samping kaki Indra.


Indra pun tampak kebingungan saat melihat Milly yang tiba-tiba bersembunyi dengan wajah yang mendadak pucat pasi. Persis seperti pada saat dirinya ditagih abang tukang kredit panci.


"Milly ngapain nyumpel di situ?" Tanya Indra setengah membungkuk dengan ekspresi wajah bingung.


"Sssttt." Milly menempelkan telunjuk pada bibirnya, memberi isyarat pada Indra untuk tetap diam.


"Ada apa sih?"


"Diam dong Ndra, nanti aku ketahuan sama Abang tukang kredit itu ...." bisiknya pelan namun penuh penekanan. "Kalau ada yang nyari aku, bilang aja aku nggak ada di sini."


"Ya ampun," Indra terkekeh pelan. "Kamu ini kredit apaan sih Milly. Baju? Daleman? Berapa sih, biar aku yang bayarin."


"Ish Indra! Masa iya beli daleman pakai di kredit. Nyebelin!" Karena merasa tak aman, akhirnya Milly pun beranjak dari sana dan berlari kecil menuju bak sampah yang berada tak jauh.


Ukuran bak sampah yang agak besar mampu melindungi tumbuh mungil Milly yang meringkuk di baliknya.


"Ya Allah, rasanya begini amat ya kalau di kejar-kejar hutang. Jantungku jadi deg-degan." Gumamnya lirih. Berkali-kali ia menarik napas dalam dan menghelanya perlahan, berusaha menenangkan diri.


Sementara Indra yang mendadak di dera penasaran segera mengalihkan pandangan ke arah lelaki dengan stelan jasnya yang rapi. Lelaki bertubuh tegap itu tampak terlihat semakin keren dengan kacamata hitam yang bertengger di atas hidung bangirnya.


Lelaki dengan earphon yang terpasang di telinganya itu tampak memperhatikan sekeliling seperti sedang mencari-cari seseorang. Indra meneguk slavinanya berat sembari melirik kearah bak sampah tatkala lelaki itu tampak melangkah ke arahnya.


Mengabaikan begitu banyak pasang mata yang menatapnya penuh puja, Billy melangkah santai mendekati lelaki yang tampak sedang menatapnya dengan wajah gelisah. "Permisi," sapa Billy dengan nada sopan pada Indra sembari melepas kacamatanya. "Apa kau melihat gadis yang,--" Ucapan Billy terpotong saat Indra tiba-tiba menyela.


"Milly maksudnya?!" Sambar Indra cepat. "Dia nggak ada di sini." Indra menjawab angkuh.


"Tapi tadi ku lihat dia,--"


"Tapi Milly pesan suruh bilang dia nggak ada! Oops." Tersadar telah salah bicara, Indra lantas membungkam mulutnya.


Dengan wajah datar, Billy melangkah menuju bak sampah itu dengan tenang setelah tak sengaja melihat pincak kepala yang menyembul dari sana.


Berhenti tepat di samping bak sampah itu, Milly bahkan bisa melihat dengan kelas sepatu mengkilat yang dipskai Billy. Tanpa Milly duga, suara keras hentakan yang dihasilkan bak sampah saat Bilky tendang berhasil mengejutkannya hingga membuat jantungnya senam mendadak.

__ADS_1


"Keluar sekarang, atau kau ingin aku memasukkan mu kedalam bak ini seperti sampah?!"


Bersambung~~~


__ADS_2